Tampilkan postingan dengan label gereja katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja katolik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Desember 2023

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II

Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang kini telah menjadi seorang Santo dalam Gereja Katolik Roma. Beliau adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat antara tahun 1522-1523.

Selama masa kepausannya, beliau aktif memerangi Komunisme, Kapitalisme yang tidak terkendali dan Penindasan Politik. Secara signifikan, beliau juga meningkatkan hubungan antara Gereja Katolik dengan Yahudi, Islam dan Gereja Ortodoks Timur.

Saya pribadi, walaupun tidak pernah bertemu atau terlibat langsung dengan bapak gereja kita ini, merasa sangat dekat dengan beliau karena karya-karya kerasulannya terasa nyata dalam hati semua orang, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Jadi blog ini akan sangat panjang dan banyak isinya.

Masa Muda

Karol Józef Wojtyła adalah nama asli Paus Yohanes Paulus II. Beliau terpilih sebagai Paus di usia 58 tahun, dan menjabat sejak 16 Oktober 1978 hingga wafatnya pada tanggal 2 April 2005. Beliau memilih nama 'Yohanes Paulus' untuk menghormati pendahulunya, Paus Yohanes Paulus I, yang wafat 33 hari setelah Konklaf Kepausan Agustus 1978.

Karol lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia Selatan. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Karol Wojtyla yang adalah seorang Opsir Tentara Austria Hungaria dan Emilia Kaczorowska, yang merupakan seorang keturunan Lituania.

Ibu Karol meninggal pada saat ia masih berusia delapan tahun, dan kakak perempuannya Olga, meninggal ketika masih bayi, sebelum Karol lahir. Sehingga Karol dekat dengan kakak laki-lakinya, Edmund, yang lebih tua 14 tahun. Karena pekerjaannya sebagai dokter, Edmund meninggal karena demam Scarlet pada 1932, hal ini sangat mempengaruhi kehidupan Karol. 

Karol menerima Komuni pada usia 9 tahun. Masa remajanya, Karol adalah seorang atlit sepakbola. Di masa ini, kehidupan Karol terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi. Pertandingan sepakbola sering diadakan antara tim Yahudi dan Katolik. Ia sering menawarkan diri sebagai penjaga gawang bila tim Yahudi kekurangan pemain.

Pada pertengahan tahun 1938, Karol dan ayahnya pindah ke Krakow, disana ia menjadi mahasiswa di Universitas Jagiellonian. Sambil belajar Filologi dan berbagai bahasa, ia menjadi pustakawan sukarela dan ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infantri ke-36 Polandia.

Karol juga tampil di berbagai teater serta menjadi penulis naskah drama. Selama masa-masa itu, kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, ia menguasai 12 bahasa asing, 9 diantaranya dipakai terus sampai ia menjadi seorang Paus.

Tahun 1939, pendudukan Nazi di Polandia membuat universitas tempat ia belajar ditutup. Sejak tahun 1940-1944, Karol harus bekerja keras untuk menghindar dari diangkut ke Jerman sekaligus menopang hidupnya. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari pelayan restoran, pekerja tambang, hingga buruh di pabrik kimia.

Pada tahun 1941, ayah Karol meninggal dunia. Hampir 40 tahun kemudian, ia menceritakan kisahnya bahwa di usia 20 tahun ia telah kehilangan semua orang yang dikasihinya, dan ketika mereka meninggal ia tidak ada disamping orang-orang terkasih itu. 

Menjadi Pastor

Menyadari akan panggilannya untuk menjadi seorang Imam sangat besar, pada Oktober 1942, Karol menemui Uskup Agung Krakow dan menyatakan keinginannya menjadi Pastor. Ia kemudian mulai belajar di Seminari yang dijalankan secara rahasia oleh Uskup Agung Krakow, Kardinal Adam Stefan Sapieha.

Setelah perang dunia II berakhir, Seminari Agung Krakow dibuka kembali. Karol menyelesaikan studi disana dan Studi teologinya di Universitas Jagiellonian, hingga pentahbisan imamatnya pada tanggal 1 November 1946, pada hari raya Semua Orang Kudus.

Setelah ditahbiskan, Kardinal Sapieha mengirim Karol ke Roma untuk belajar di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas. Disana ia mendapat gelar Doktor Teologi Suci. Selama hari-hari liburnya, Karol menjalankan pelayanan pastoral di antara orang-orang Polandia yang bermigrasi ke Perancis, Belgia dan Belanda.

Karol adalah murid yang sangat cerdas, ia menulis banyak artikel penelitian, tulisan religius dan literatur asli selama periode Doktoratnya di Roma. Tahun 1948 ia kembali ke Polandia dan menjadi pastor pembantu di beberapa paroki di Krakow serta pastor mahasiswa di Universitas Krakow hingga 1951.

Menjadi Uskup dan Kardinal

Pastor Karol Wojtyla ditahbiskan menjadi Uskup pembantu di Krakow pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel oleh Uskup Agung Baziak. Ia menjadi Uskup termuda di Polandia pada usia 38 tahun. 

Setelah Uskup Baziak wafat, Wojtyla ditahbiskan oleh Paus Paulus VI menjadi Uskup Agung Krakow pada tanggal 13 Januari 1963. Kemudian tanggal 26 Juni 1967, Paus yang sama mengumumkan promosi Uskup Agung Karol Josef Wojtyla menjadi Kardinal.

Pada masa ini, Kardinal Wojtyla berperan penting dalam Konstitusi Gaudium et Spes, Ensiklik Humanae Vitae yang berkaitan dengan masalah pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran dalam KB. Ia juga mengambil bagian dalam persidangan Sinode para Uskup.

Menjadi Paus Yohanes Paulus II

Setelah wafatnya Paus Paulus VI, Kardinal Wojtyla menghadiri Konklaf Paus, yang memilih Albino Luciani, Kardinal Venesia, sebagai Paus Yohanes Paulus I. Namun tanpa diduga, 33 hari setelah menjabat, Paus Yohanes Paulus I wafat.

Konklaf kedua pata tahun 1978 diadakan pada tanggal 14 Oktober. Kardinal Karol Wojtyla memenangkan pemilihan sebagai kandidat kompromi pada putaran kedua. Untuk menghormati pendahulunya, ia mengambil nama Paus Yohanes Paulus II.

Ketika asap putih muncul di langit lapangan Santo Petrus untuk memberitahu umat bahwa seorang Paus telah terpilih, ia menerima pemilihannya dengan kata-kata: "Dengan ketaatan dalam iman Kristus, Tuhanku, dan dengan kepercayaan kepada Bunda Kristus dan Gereja, meskipun dalam kesulitan yang besar, Saya menerima".  

Karol Josef Wojtyla menjadi Paus ke-264 dalam kronologis daftar Paus, dan menjadi Paus non-Italia pertama sejak 455 tahun. Di usia 58 tahun dia menjadi Paus termuda sejak Paus Pius IX, yang dilantik pada usia 54 tahun. 

Ia meniadakan penobatan Kepausan Tradisional yang seperti pelantikan kerajaan dan mengambil pelantikan Gerejawi yang sederhana pada 22 Oktober 1978.  

Karya Kepausan dan Perjalanan Pastoral

Paus Yohanes Paulus II telah menyelesaikan 104 Kunjungan Pastoral di luar Italia dan 146 di dalam Italia. Sebagai Uskup Roma, dia mengunjungi 317 paroki dari 332 paroki yang ada di Roma.

Dalam pengajaran, ia membuat berbagai dokumen penting termasuk 14 ensiklik, 15 himbauan apostolik, 11 konstitusi apostolik dan 45 surat apostolik. Sri Paus juga menyelesaikan 5 buah buku: "Menyeberangi Ambang Pintu Harapan (1994); Anugerah dan Misteri: Pada Ulang Tahun ke-50 Tahbisan Imamatku (1996); sebuah buku puisi "Meditasi-meditasi Triptik Romana" (2003); "Marilah Kita Berada Pada Jalan Kita" (2004); dan "Kenang-kenangan dan Identitas" (2005).

Yohanes Paulus II dalam masa Pontifikatnya telah memimpin 147 Upacara Beatifikasi dan 51 Upacara Kanonisasi. Dia telah menyelenggarakan 9 Konsistori dengan mengangkat 232 orang Kardinal, mengadakan 6 pertemuan kolegio para kardinal serta memimpin 15 Sinode Para Uskup.

Ia menjadi satu-satunya Paus yang telah bertemu dengan banyak tokoh di dunia dan lebih dari 17.600.000 orang peziarah telah mengambil bagian dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus pada setiap hari Rabu. 

Jumlah itu bahkan belum terhitung dengan Audiensi Khusus lain, Upacara Religius serta Kunjungan-kunjungan Pastoral yang telah diadakannya di Italia dan seluruh dunia.

Paus Yohanes Paulus II terkenal memiliki hubungan dekat dengan Kepemudaan Katolik. Sebelum menjadi Paus ia sering melakukan perkemahan dan perjalanan mendaki gunung dengan para pemuda Katolik, hal ini terus dilakukannya setelah menjadi Paus.

Ia menggagas 'Hari Pemuda Dunia' pada tahun 1984 untuk mengajak pemuda-pemudi Katolik di seluruh dunia merayakan keyakinannya. Pertemuan selama seminggu ini berlangsung setiap 2 atau 3 tahun sekali dan menarik minat jutaan kaum muda dari seluruh dunia.

Ia sangat memperhatikan pendidikan untuk Imam Baru dan melakukan kunjungan ke seminari-seminari Katolik Roma. Perhatiannya kepada keluarga-keluarga juga diungkapkannya pada Pertemuan Keluarga Dunia pada tahun 1994.

Jika sahabat Kristus sempat membaca biografinya di Wikipedia, kalian akan mengetahui betapa ia sangat gencar mengusahakan Perdamaian Dunia dan mengambil peranan penting pada setiap hal yang menyangkut di dalamnya. Sri Paus melakukan banyak perjalanan dan kunjungan kepada pemimpin serta penganut agama dan kepercayaan lain.

Ia menjalin komunikasi yang baik dan berjuang menemukan dasar yang sama dalam doktrin dan dogma. Pada hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 1986 di Asisi, ledih dari 120 wakil agama dan kepercayaan serta berbagai denominasi Kristen meluangkan waktu sehari bersama untuk berpuasa dan berdoa.

Percobaan Pembunuhan dan Akhir Hidupnya

Pada tanggal 13 Mei 1981, Sri Paus hampir kehilangan nyawanya setelah ditembak oleh seorang ekstremis Turki di Lapangan Santo Petrus. Dua hari setelah Natal, 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara.

Percobaan pembunuhan kedua terjadi di Fatima, Portugal yang dilakukan oleh seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras, warga negara Spanyol. Adapula satu serangan terorisme massal di Manila dan sebuah bom bunuh diri yang berhasil dicegah.

Sebagai mantan olahragawan sejati dan pemain bola, beliau terkenal sebagai Paus yang Sehat. Meskipun mengalami berbagai macam cidera karena percobaan pembunuhan dan kecelakaan kecil, ia selalu terlihat bugar dalam setiap pelayanannya.

Di hari-hari terakhir kehidupannya, cahaya lampu tetap dinyalakan di lantai atas Istana Apostolik. Puluhan ribu umat berkumpul di lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan, untuk turut mendoakan serta memberi sang pemimpin kekuatan. 

Santo Yohanes Paulus II wafat pada tanggal 2 April 2005, jam 9:37 malam, di Vatikan setelah mengatakan: "Biarkan aku pergi ke rumah Bapa". Pemakamannya dihadiri jutaan umat, ratusan kardinal dan banyak pemimpin negara dari seluruh dunia, di Lapangan Santo Petrus.

Santo Yohanes Paulus II dibeatifikasi oleh penerusnya, Paus Benediktus XVI pada tanggal 1 Mei 2011 dan dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 27 April 2014. Pestanya dirayakan setiap tanggal 22 Oktober.

Sahabat Kristus, saya termasuk salah seorang yang sangat menghormati dan mengagumi Sri Paus yang satu ini bukan hanya karena sosok beliau yang luar biasa tapi juga karena devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria sejak dari masa mudanya. 

Dalam bukunya, ia menyebutkan bahwa Doa kesayangannya adalah Doa Rosario, sebuah Doa yang sangat mengagumkan karena kesederhanaan dan kedalamannya. Baginya Bunda Maria dan Doa Rosario memegang peranan penting dalam kehidupan Rohaninya. 

Ketika menulis blog ini, saya merasa sangat terharu dan bangga, bahwa sangatlah beralasan saya menaruh hormat dan kagum yang tinggi padanya. Semoga kita semua memperoleh hikmat dari kisah ini ya... Salve sahabat Kristus...

Senin, 27 November 2023

Mengenal Para Kudus yang Menjadi Pendoa Setia bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian

Sahabat Kristus, bulan November bagi umat Katolik Roma di seluruh dunia adalah bulan penutupan tahun Liturgi Gereja, sekaligus merupakan bulan bagi kita untuk berdevosi bagi keselamatan jiwa-jiwa yang masih berada di Api Penyucian dan semua Orang Kudus.

Api Penyucian adalah suatu keadaan atau proses pemurnian bagi mereka yang sudah meninggal, khususnya jiwa-jiwa yang meninggal dalam keadaan rahmat, tapi belum mendapatkan hukuman sementara atas dosa-dosa semasa hidupnya. Sebelum akhirnya mereka mencapai kegembiraan surga.

Api Penyucian berasal dari bahasa Latin: "Purgatorium"; merupakan sebuah istilah dalam Teologi Katolik. Dengan demikian mereka tidak akan selamanya berada di sana, melainkan kelak, untuk waktu yang tidak kita ketahui, mereka semua akan memperoleh surga kekal.

Santo Alfonsus Liguori mengatakan; Hukum Alam akan membantu orang-orang yang malang, bahkan mereka yang terasing. Tetapi, kewajiban kita yang masih hidup, untuk mendoakan jiwa-jiwa malang di Api Penyucian jauh lebih besar.

Karena di antara jiwa-jiwa itu terdapat jiwa yang berhubungan dekat dengan kita, yang sangat kita kasihi, keluarga, orang tua, mereka yang pernah berjasa atau berbuat baik pada kita, yang mungkin saja sedang menderita. 

Santo Alfonsus mengatakan; upacara pemakaman yang besar dan mewah hanyalah penghiburan bagi yang masih hidup, tapi tidak berarti bagi yang sudah meninggal. Doa-doa dan silih, menjadi suatu pengorbanan yang bisa kita lakukan bagi jiwa-jiwa ini.

Para Kudus

Saya mengenal beberapa orang Kudus, yang selama hidup, mereka berdevosi penuh dengan perantaraan Bunda Perawan, bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian, ada di antara mereka yang memperoleh karunia melihat langsung surga, neraka dan api penyucian, bahkan merasakan penderitaan jiwa-jiwa malang itu.

Mari mengenal dan mencontohi cara hidup serta ketaatan mereka;

1. Santo Alphonsus Marie 'de Liguori

Santo Alfonsus de Liguori lahir di Marianela, Italia pada tanggal 27 September 1696. Ia adalah seorang uskup, pujangga gereja dan pendiri Konggregasi Redemptoris. 

Ia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Don Joseph merupakan seorang perwira angkatan laut dan Komandan Kapal Perang Kerajaan, sementara ibunya adalah seorang wanita saleh berdarah Spanyol.

Alfonsus dan saudara-saudaranya dibesarkan dalam keluarga yang sangat taat beragama. Ia memperoleh gelar Doktor Hukum dari Universitas Naples, pada usia 16 tahun dan pada usia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pengacara terkenal.

Pada tahun 1723, Alfonsus meninggalkan kehidupan pengacaranya karena suatu masalah dan sepenuhnya mulai mendedikasikan dirinya dalam kehidupan religius. Sebagai akibatnya, Alfonsus mendapatkan perlakuan buruk dari keluarganya. 

Setelah ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 21 Desember 1726, Alfonsus menjadi misionaris selama enam tahun dalam pelayanan di seluruh wilayah Naples. 

Pada tahun 1723, berkat persahabatan seumur hidupnya dengan Uskup Thomas Falcoia (Pendiri Konggregasi Pekerja Taat), serta seorang biarawati suci, Suster Mary Celeste yang berjasa mengarahkan jalan hidup religiusnya, Alfonsus berhasil mendirikan Konggregasi Redemptoris atau Sang Penebus Mahakudus. 

Santo Alfonsus menjalani tugas imamatnya dengan banyak memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia selalu menekankan pentingnya kesadaran umat akan cinta kasih Tuhan dan iman mereka.

Ia menulis lagu puji-pujian dan buku-buku rohani, dimana dalam bukunya ia menjelaskan banyak hal tentang kewajiban kita mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian, serta Devosinya yang amat mendalam kepada Bunda Perawan.

Pada tahun 1798, Paus Pius VI hendak mengangkatnya menjadi Uskup, namun Alfonsus menolaknya dengan halus. Di usia tuanya ia menderita banyak penyakit, kehilangan pendengaran, mengalami banyak kekecewaan serta pencobaan.

Santo Alfonsus de Liguori, seorang pribadi yang rendah hati ini, wafat pada tanggal 1 Agustus 1787, pada usia 91 tahun, dan dikanonisasi pada 26 Mei 1893, oleh Paus Gregorius XVI. Pestanya dirayakan setiap tanggal 1 Agustus.

2. Santa Katarina de Genoa

Santa Katarina Fieschi atau Santara Katarina dari Genoa, merupakan seorang Santa yang dihormati sebagai pelindung kota Genoa dan rumah sakit di Italia. Ia lahir dari keluarga bangsawan, pada usia 16 tahun, Katarina dijodohkan dan dinikahkan dengan seorang pemuda oleh keluarganya.

Ia dilahirkan di Genova, Italia pada tanggal 5 April 1447. Selama lima tahun pernikahannya, Katarina menanggung penderitaan batin yang luar biasa karena ulah suaminya, Yuliano Adorno. Mereka hidup berkelimpahan dan foya-foya namun batinnya tidak tentram.

Pada usia 36 tahun, Katarina melepaskan kesenangan duniawinya dan memulai pertobatan. Hal ini ternyata kemudian diikuti oleh suaminya. Keduanya pindah ke rumah yang lebih sederhana dan berkarya di sebuah rumah sakit. Katarina dan Yuliano hidup dalam pengabdian dalam cinta dan pengabdian penuh kepada Tuhan.

Pada tahun 1497, Yuliano meninggal dunia, Katarina tetap tekun melanjutkan karya amalnya, serta menjalin hubungan yang erat denga Tuhan dalam doa dan matiraga. Tuhan memberikan banyak karunia istimewa kepadanya dan kehidupan mistik yang tinggi.

Santa Katarina, mencurahkan perhatian yang besar terutama kepada Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Menurutnya, penderitaan mereka jauh lebih besar karena dianggap belum berkenan kepada Tuhan secara sempurna. 

Santa Katarina menulis banyak kutipan mengenai jiwa-jiwa malang di api penyucian. Katanya; Hidup bersama Tuhan di Surga merupakan kelanjutan dan kesempurnaan hidup bersama Tuhan yang dimulai di bumi. 

Santa Katarina Fieschi de Genoa, wafat pada tanggal 15 September 1510 di Genova, Italia dan dikanonisasi oleh Paus Klemens XII pada tahun 1737. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 September.

3. Santa Maria Magdalena de Pazzi

Santa Maria Magdalena de Pazzi adalah seorang suster dan Mistikus Karmelit Italia. Lahir sebagai putri tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya terkemuka di Renaissence Florence, Italia, pada tanggal 1556. Ayahnya bernama Gery de Pazzi dan ibunya Maria Buondelmonti.

Sejak masa kanak-kanak, Katarina de Pazzi, nama kecilnya, sudah menunjukkan hidup yang luhur dan religius. Di usia sembilan tahun, ia bermeditasi tentang Sengsara Kristus dan melakukan praktek penyiksaan daging dengan mencambuk dirinya serta mengenakan pakaian dari kain kasar juga mahkota duri yang ia buat sendiri.

Pada usia 10 tahun, Katarina masuk sekolah asrama biara, disana ia mulai mencintai kehidupan religius dan menerima Komuni pertamanya dengan penuh cinta kepada Tuhan. Namun ayahnya berniat menikahkan dia.

Pada tanggal 30 Januari 1583, Katarina menerima jubah biara Karmel, Santa Maria dari Para Malaikat, dan mengambil nama Maria Magdalena. Ketika seorang pastor meletakkan salib di tangannya, wajah Maria Magdalena bersinar dengan cahaya yang aneh dan hatinya dipenuhi semangat untuk menderita selama sisa hidupnya bagi Sang Penyelamatnya.

Pada masa Novisiat, Magdalena diijinkan untuk mengucapkan Kaul Religius lebih cepat dari peraturan pada umumnya, karena ia sakit parah dan menderita sangat berat. 

Dalam kesakitannya, Magdalena tidak pernah mengeluh, ia berkata bahwa, Tuhan Yesus yang menderita di salib karena kasih-Nya pada manusia, telah memberikan kekuatan yang sama dalam kelemahannya.

Sepanjang hidupnya, Santa Maria Magdalena mengalami banyak serta pencobaan yang berat. Namun ia mempersembahkan semua penderitaan itu kepada Yesus dan Bunda Maria, sebagai silih bagi para pendosa dan orang-orang yang tidak percaya.

Allah membalas kasih Magdalena dan pengorbanannya dengan memberikan berbagai macam karunia, ia mampu membaca pikiran orang lain dan meramal masa depan. 

Santa Maria Magdalena sering menampakkan diri kepada orang-orang di tempat yang jauh dan memberikan penyembuhan. Ia juga sering mengalami ekstase. 

Santa Maria Magdalena de Pazzi wafat dengan penderitaan yang sangat berat pada tanggal 25 Mei 1607, pada usia 41 tahun. Jasadnya yang masih utuh disimpan di gereja biaranya di Florence. Santa Maria Magdalena dikanonisasi oleh Paus Klemens IX pada tahun 1669. Pestanya dirayakan setiap tanggal 25 Mei.

4. Sister Josefa Menendez

Suster Yosefa Menendez lahir pada tanggal 4 Februari 1890 di Madrid, Spanyol. Sejak kecil ia mengalami banyak penderitaan hidup. Pada usia 20 tahun, ia hendak bergabung dengan Ordo Hati Kudus, namun karena situasi ekonomi keluarga hal itu tidak terjadi.

Pada tanggal 5 Februari 1920, Yosefa bergabung dengan Serikat Hati Kudus di Poitiers, Perancis. Seluruh hidupnya di biara dilakukan dalam pelayanan dan ketaatan pada otoriter Ordonya. Ia sangat pendiam, lemah lembut, tidak bisa bahasa Perancis dan lebih suka menyendiri di tempat yang sunyi.

Dalam kesederhanaannya, Allah menganugerahkan rahmat Spiritual berupa penglihatan akan situasi neraka disertai penderitaan fisik yang ia rasakan juga akan penyiksaannya, dan komunikasi mendalam dengan Tuhan Yesus

Yesus Kristus sendiri menyampaikan pesan melalui Suster Yosefa, yang ia tulis dalam buku catatannya, dan kemudian diterbitkan dengan judul 'Jalan Cinta Ilahi'. 

Melalui tulisannya, suster Yosefa menunjukkan kepada dunia kekuatan Kerahiman Tuhan bagi mereka yang benar-benar mau bertobat. Hal itu membuatnya sangat dibenci oleh iblis, karena banyaknya jiwa yang diselamatkan karena tulisannya. 

Kehidupannya di biara yang penuh kerendahan hati dan kesederhanaan, membuat semua pengalaman itu tidak diketahui teman-temannya, sampai kematiannya. Misinya justru benar-benar terlaksana setelah kematiannya.

Suster Yosefa Menendez, wafat pada tanggal 29 Desember 1923, pada usia 33 tahun, 3 tahun setelah ia bergabung dalam biara Hati Kudus. Proses Beatifikasinya telah dibuka secara resmi pada tanggal 26 November 1948, dan diberi gelar 'Hamba Tuhan'.

5. Santo Stanislaus Kostka

Santo Stanislaus adalah Santo yang sangat terkenal di Polandia dari Serikat Yesus. Ia dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1550 di Rostkowo, Polandia. Stanislaus adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Kakaknya, Paul Kotska, masih hidup pada upacara Beatifikasi Stanislaus pada tahun 1605. 

Ayahnya Yohanes Kotska, adalah seorang Senator Kerajaan dari keluarga Bangsawan Zakroczym, dan ibunya bernama Margareth Kryska. Dua bersaudara ini dididik dalam keluarga yang sangat taat dan saleh. Stanislaus tumbuh menjadi pribadi yang sangat saleh, rendah hati, sederhana dan penuh ketaatan.

Ia mempersembahkan dirinya sepenuhnya pada kehidupan spiritual yang tinggi, menurut kesaksian Paul, hal ini membuat Stanislaus sering tidak sadarkan diri. 

Sikap hidup ketaatan Stanislaus yang luar biasa ini, membuat kakaknya jengkel dan sering  memperlakukan dia dengan kasar. Stanislaus menderita akibat cacian dan pukulan Paul, kakaknya. 

Namun di mata teman-teman dan pimpinan biaranya, Stanislaus adalah contoh pribadi yang sangat sempurna karena keramahan, keceriaaan dan sangat religius. Seluruh hidup dan penderitaannya, dia persembahkan kepada Bunda Perawan Maria.

Pada tanggal 25 Oktober 1567, Stanislaus, bergabung dengan Pusat Serikat Jesuit di Kota Roma. Jarak ribuan kilometer antara Wina dan kota Roma, ditempuh Stanislaus dengan berjalan kaki. 

Ia memakai pakaian seperti pengemis, berjalan tanpa bekal, kendaraan ataupun seorang pemandu. Perjalanan berbahaya itu ia tempuh demi niatnya bergabung dengan Serikat Jesuit. Devosinya yang sangat mendalam kepada Bunda Maria, banyak memberinya tanda Ilahi dan mujizat.

Pada hari Perayaan Santo Laurentius, beberapa hari sebelum wafatnya, Santo Stanislaus demam tinggi. Ia menulis surat kepada Bunda Maria, meminta-Nya membawanya ke atas langit, agar bisa bersama merayakan Pesta Maria Diangkat ke Surga.

Pada tanggal 15 Agustus 1568, sekitar pukul empat dinihari, saat Stanislaus sedang berdoa, jiwanya meninggalkan tubuhnya, wajahnya bercahaya dengan penuh ketenangan.

Santo Stanislaus Kotska, dikanonisasi pada tanggal 31 Desember 1726, dan digelari sebagai Santo Pelindung Para Novisiat oleh berbagai institusi religius di Polandia. 

Ia sering digambarkan sedang menerima komuni suci dari tangan para malaikat, digambarkan sedang menerima tubuh bayi Yesus dari tangan Bunda Maria atau ia digambarkan sedang berada di tengah peperangan untuk mengusir para musuh dari tanah airnya. 

6. Santa Gertrudis de Helfta

Santa Getrudis de Hefta atau Santa Gertrudis Agung, adalah seorang Santa yang hidup pada abad ke-13, beliau terkenal sebagai seorang Santa yang rajin mendoakan keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian. Ia terkenal dengan devosinya yang sangat dalam kepada Hati Kudus Yesus yang terluka, karena menurut pemahamannya, dari situlah bersumber penebusan bagi umat manusia.

Santa Gertrudis, mendapatkan sebuah doa untuk jiwa-jiwa malang itu dari Tuhan Yesus sendiri, yang mengajarkan kepadanya dalam sebuah penglihatan mistik. Tuhan Yesus berjanji kepadanya, bahwa 1000 jiwa akan dilepaskan dari Purgatorium setiap kali doa ini didaraskan.

Santa Gertrudis lahir pada hari raya Epiphany (hari raya penampakan Tuhan), 6 Januari 1256 di Eisleben, Thuringia, Jerman. Pada usia 4 tahun, Gertrudis bergabung dengan sekolah religius biara St. Mary di Helfta. Banyak kisah mengatakan bahwa pada masa ini, Gertrudis sudah menjadi seorang yatim piatu.

Pada usia 10 tahun, Gertrudis resmi bergabung dengan komunitas biara Benediktin. Ia terkenal sangat rajin belajar, suka menulis dan pandai berbahasa Latin. Gertrudis bergaul akrab dengan Kitab Suci serta para Bapa Gereja, terutama Santo Agustinus dari Hippo dan Santo Gregorius Agung.

Pada tahun 1281, di usia 25 tahun, Gertrudis mengalami penglihatan pertamanya dari seluruh rangkaian penglihatan sampai akhir hidupnya, dan pengalaman itu merubah jalan hidupnya.

Sejak itu, Gertrudis mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari Kitab Suci dan Teologi. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan meditasi pribadi, serta mulai menulis hal-hal spiritual untuk kepentingan sesama biarawati.

Santa Gertrudis menjadi Mistikus terbesar abad ke-13, bersama teman-teman dan gurunya dalam biara, mereka memperaktekan Spiritualitas yang disebut "Pernikahan Mistis", yakni melihat diri sebagai mempelai Kristus.

Santa Getrudis de Hefta atau Santa Getrudis Agung wafat pada tanggal 17 November 1302, dalam usia 46 tahun, di Helfta dekat Saxony, Jerman. Dikanonisasi oleh Paus Innosensius XI pada tahun 1677 dan diberi gelar Agung oleh Paus Benediktus XIV. 

Pestanya dirayakan setiap tanggal 16 November, Santa Gertrudis Agung sering digambarkan sebagai seorang biarawati yang sedang membaca sebuah buku besar dan di dadanya tergambar bayi Yesus memegang hatinya yang bercahaya.

7. Santa Anna Schaffer

Santa Anna Schaffer lahir di Mindelstettan, Bavaria, Jerman pada tanggal 18 Februari 1882, anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang tukang kayu sederhana. 

Pada usia 14 tahun, setelah ayahnya meninggal, Anna putus sekolah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menopang ekonomi keluarga. Kerinduannya untuk menjadi biarawati untuk sementara ia kesampingkan karena kebutuhan keluarga.

Pada tahun 1898, Anna mendapatkan penglihatan tentang Kristus, dimana ia diberitahu bahwa ia ditakdirkan untuk menanggung penderitaan yang panjang dan menyakitkan selama hidupnya. Sejak usia 16 tahun Anna memiliki hubungan yang sangat intim dengan Bunda Allah, yang memberinya kekuatan untuk bertahan.

Pada tanggal 4 Februari 1901, Anna mengalami kecelakaan kerja, saat sedang menangani cucian. Anna terpeleset dan jatuh ke dalam ketel yang mendidih, ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang sangat parah. Berbagai operasi dilakukan untuk mengatasi luka bakar yang menyakitkan, bahkan pencangkokan kulit, namun kakinya tidak kunjung sembuh, Anna dipulangkan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Anna tidak bisa bergerak sama sekali, untuk membalut luka-lukanya pun terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit awal sejak kecelakaan tidak pernah menghilang, lubang-lubang terbuka pada kakinya mulai membusuk secara permanen. Anna menderita sampai akhir hayatnya, berbaring di atas tempat tidur dan harus dirawat oleh ibunya.

Di tengah penderitaanya, Anna sangat sabar dan ceria. Ia memiliki devosi mendalam kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan Bunda Maria. Sikapnya yang ceria membuat Anna sangat terkenal di kotanya. Orang-orang sering datang mengunjunginya untuk mendengarkan kata-kata imannya yang memberi penghiburan.

Ia menghabiskan waktu untuk berdoa, memberi kekuatan kepada orang yang datang mengunjunginya, merajut pakaian untuk teman-temannya dan menulis banyak surat kepada siapa saja yang membutuhkan penguatan.

Sejak tahun 1910, Anna semakin sering mengalami fenomena mistis berupa stigmata dan penglihatan, yang di kemudian hari diketahui dari tulisan-tulisannya. Bunda Maria selalu datang mengunjunginya sampai pada akhir hayatnya.

Santa Anna Schaffer wafat pada tanggal 5 Oktober 1925, setelah menerima komuni Kudus terakhirnya. Ia dikanonisasi pada tanggal 21 Oktober 2012 oleh Paus Benediktus XVI. Pesta perayaan Santa Anna Schaffer dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.   

8. Beata Anna Maria Taigi

Anna Maria Taigi bukanlah biarawati melainkan seorang ibu rumah tangga, istri dari Domenico Taigi, seorang kepala pelayan di rumah bangsawan Chigi, yang berwatak keras. Anna Maria lahir di Sienna, Italia tanggal 28 Mei 1769. 

Ayahnya, Luigi Gianetti, adalah seorang apoteker di kota kecil Sienna, namun pada tahun 1774 usahanya bangkrut. Luigi kemudian membawa keluarganya pindah ke Roma, dimana ia bekerja sebagai pembantu. Disana Anna Maria bersekolah di sebuah sekolah yang dikelolah oleh Suster-suster Filipini.

Pada usia 21 tahun, Anna menikah dan dikaruniai tujuh orang anak. Ia merawat rumah tangganya dengan sangat sabar dan setia. Dimana ia harus merawat 15 anggota keluarga sekaligus, ibunya, suaminya, 7 orang anak dan 6 cucu dari anaknya Shopia, yang cepat menjadi janda dan kembali tinggal bersamanya.

Anna Maria menjadi malaikat pelindung dalam rumah tangganya, seluruh pekerjaan rumah ia bereskan dengan sabar dan senang hati. Pada hari beatifikasi, Domenico menceritakan betapa ia sering memperlakukan Anna dengan buruk, namun ia sangat mengasihi istrinya itu karena merasa bahwa keluarganya seperti Firdaus, dan hatinya sungguh berbahagia.

Anna Maria mengalami rangkaian ekstase sepanjang hidupnya dan penglihatan. Ia memperoleh karunia dari Tuhan kemampuan membaca batin dan masa depan orang serta karunia menyembuhkan. 

Dalam kesibukannya merawat keluarganya dengan kasih sayang, Anna menjadi anggota Tritunggal Sekuler di gereja San Carlo Fontane. Ia mengunjungi rumah sakit dan menyembuhkan pasien tanpa bayaran, semua itu ia lakukan dengan sukacita. 

Ia menjalin persahabatan dengan beberapa tokoh penting dan menjadi penasihat spiritual yang baik bagi mereka, termasuk Kardinal Carlo Maria Pedicini.

Santa Anna Maria Taigi menjadi orang Kudus Allah bukan hanya karena ekstase dan penglihatan yang dialaminya, tapi juga karena kebaikan hati, kerendahan hati, kesederhanaan serta kerelaannya untuk menderita bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Santa Anna Maria Taigi wafat pada tanggal 9 Juni 1837, dalam usia 68 tahun di Roma, Italia. Proses beatifikasi Anna Maria Taigi dibuka pada tahun 1863 oleh Paus Pius IX. Dan dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XV pada tanggal 30 Mei 1920.

 

Sahabat Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran penting dari cara hidup para Kudus Allah ini. Cara mereka menanggapi

saya sungguh berbahagia memiliki waktu dan kesempatan untuk mengenal dan menceritakan kisah para santo dan santa ini, saya berjanji akan menceritakan kisah mereka dengan lebih detail pada kesempatan lain.

Rabu, 15 November 2023

Santo Padre Pio dari Pietrelcina

Santo Padre Pio

Sahabat Kristus, di Blog ini, saya berbagi kisah tentang Orang Kudus Allah dalam Gereja Katolik yang disebut sebagai Santo dan Santa. Para Kudus ini adalah mereka yang sudah meninggal, dipercaya sudah berada di surga, dan telah terbukti menjalani cara hidup dengan kebajikan yang heroik atau suci.

Doa-doa yang disampaikan melalui perantaraan para Orang Kudus ini, telah diakui mendatangkan banyak mujizat dan penyembuhan. Dengan mengenal mereka, kita juga didorong untuk mengikuti cara hidup yang kudus, penuh ketaatan dan pengorbanan bagi Allah Bapa.

Detail mengenai bagaimana mereka semua diproses menjadi orang-orang pilihan Allah melalui Gereja Katolik sebenarnya sudah sering saya jelaskan, tapi mungkin saya akan mengambil sebuah judul tersendiri mengenai proses itu.

Saat ini kita akan membaca kisah tentang seorang Mistikus Besar yang menerima karunia Stigmata (stigmata; (yunani) luka-luka penderitaan Kristus yang muncul secara tiba-tiba pada seseorang), hampir sepanjang usia hidupnya. Hal ini mendatangkan banyak minat dan kontroversi di sekelilingnya, beliau adalah Santo Pius atau Santo Padre Pio.

Kita telah menonton dan membaca banyak kisah fiksi tentang Stigmata, terakhir saya menonton film Korea yang diperankan oleh Park Seo Jin tentang seorang atlit yang menerima karunia stigmata pada tangan kirinya. Namun kisah ini, bukan kisah fiksi, melainkan sungguh nyata terjadi.

Masa Muda

Santo Pio lahir di Pietrelcina, Italia Selatan, tanggal 25 Mei 1887 dengan nama Francesco Forgione. Ia adalah anak kelima dari delapan orang bersaudara, dari sebuah keluarga petani pasangan Grazio Forgione dan maria Giusseppa de Nunzio, atau biasa disebut mama Pepa.

Bagi ibunya, Francesco adalah anak yang sangat berbeda dari anak lain sejak kecil, ia sangat religius. Pada usia 9 tahun, Francesco pernah mencambuki dirinya sendiri agar serupa dengan Yesus Kristus. Francesco kecil sering melihat penampakan Tuhan Yesus, Bunda Maria bahkan setan.

Pada usia 16 tahun, di tahun 1903, Francesco meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan biara Kapusin. Ia menjadi Novis di biara itu dan diberikan nama Pius atau Pio. Aturan ketat biara membuat frater Pio sering sakit. Ia kemudian ditahbiskan lebih cepat karena pertimbangan kondisi kesehatannya.

Karunia Stigmata

Padre Pio mendapatkan stigmata pertama pada tanggal 7 September 1911, namun karena takut ia menemui pastor Paroki Pietrelcina, Monsigneur Salvatore Panullo untuk mendoakannya. Ajaibnya, semua luka-luka itu sembuh.

Pada hari Jumat pagi, tanggal 20 September 1918, saat Padre Pio sedang berdoa sendirian di depan salib Kristus dalam sebuah kapel tua, Padre Pio tiba-tiba melihat penampakan sosok-sosok seperti malaikat yang kemudian memberinya luka-luka stigmata yang tinggal tetap ditubuhnya selama setengah abad, segar dan berdarah.

Luka-luka itu terdiri dari, luka pada telapak tangan kanan dan kirinya, luka pada kedua kakinya dan lambungnya. Semua luka itu terbuka, segar dan mengeluarkan banyak darah. Hal itu membuat Padre Pio tidak bisa merahasiakannya, ceceran darah yang tumpah ke lantai membuat kepala biara mengetahuinya.

Seorang dokter yang dipanggil untuk mengobatinya mengatakan bahwa itu bukan luka-luka biasa. Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakannya, namun berita cepat sekali tersebar.

Setiap pagi, sejak pukul empat dinihari, ratusan atau ribuan orang datang ke biara terpencil itu menunggunya. Ada yang sekedar ingin tahu atau memang orang saleh yang datang untuk berdoa. Padre Pio tidur tidak lebih dari 2 jam sehari dan tidak pernah mengambil cuti sepanjang 50 tahun imamatnya.

Padre Pio terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk  mempersiapkan misa Kudus, selesai misa ia akan melewatkan seluruh harinya dalam doa dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia karismatik termasuk kemampuan membaca batin dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengalir dari luka-lukanya mengeluarkan bau yang harum mewangi seperti harum bunga-bungaan.

Penderitaan

Padre Pio mempersembahkan seluruh hidupnya, seutuhnya, untuk tugas imamatnya. Ia mendirikan kelompok-kelompok doa dan rumah sakit moderen yang ia sebut "Wisma untuk Meringankan Penderitaan".

Selama tahun-tahun itu, selain menanggung penderitaan fisik akibat luka-luka stigmata ditubuhnya yang terus menerus mengeluarkan darah segar, Padre Pio juga menderita karena perbuatan sesama manusia.

Pada tahun 1923-1931, Pater Agustinus Gemmeli, seorang ahli dari Fransiskan sekaligus pendiri Universitas Katolik "The Sacred Heart" menyerang Padre Pio. Ia menulis surat kepada vatikan dan menyebutkan bahwa apa yang dialami Padre Pio diakibatkan oleh kehidupan spiritual yang rendah. 

Beberapa Pastor di San Giovanni Rotondo, meyakinkan uskup Manfredonia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa Padre Pio dikuasai oleh iblis dan menipu semua saudara sekomunitasnya.

Menanggapi hal ini, pada tanggal 31 Mei 1923, Vatikan mengumumkan bahwa kejadian-kejadian yang berhubungan dengan Padre Pio, bukan berasal dari kekuatan spiritual. Vatikan memerintahkan untuk menghentikan semua bentuk komunikasi yang dilakukan kepada Padre Pio. 

Mei dan Juni 1923, vatikan mengeluarkan perintah yang sangat keras, melarang Padre Pio merayakan misa, memberi kotbah dan pengakuan dosa. Semua ini terjadi sampai tahun 1931.

Mujizat

Padre Pio adalah seorang imam yang rendah hati, di tengah semua pengalaman itu ia menulis surat kepada pembimbing rohaninya bahwa ia merasa sungguh tidak layak menerima karunia sebesar itu. 

Dalam proses kanonisasi, terdapat daftar kesaksian tentang mujizat yang terjadi atas namanya. Seorang wanita yang menjadi anak rohani Padre Pio bernama Nyonya Cleonice menceritakan; pada masa perang dunia kedua, keponakannya menjadi tawanan perang.

Selama setahun seluruh keluarga tidak mendengar kabarnya sama sekali sehingga mereka beranggapan ia telah tewas. Ibunya datang kepada Padre Pio, dengan berlutut dan menangis meminta bantuan imam itu untuk mengetahui apakah anaknya masih hidup.

Padre Pio merasa iba kemudian mengatakan pada ibunya, berdirilah dan pergilah dalam damai. Nyonya Cleonice kemudian mendatangi Padre Pio dan memintanya melakukan sebuah mujizat. 

Dengan penuh percaya diri ia mengatakan kepada Padre Pio, bahwa ia akan menulis sebuah surat kepada ponakannya itu, Giovannino, namun ia hanya akan menulis namanya saja pada sampul surat, sebab ia tidak tahu dimana alamat ponakannya. Ia mengatakan, ia mempercayakan kepada Padre Pio dan malaikat pelindungnya untuk membawa surat itu kepada Giovannino dimanapun ia berada.

Sore hari sebelum tidur, ia menulis surat itu dan meletakkan di meja samping tempat tidurnya. Keesokan hari, ia terkejut, takut dan heran karena melihat surat itu tidak ada lagi disana. Ia pergi menemui Padre Pio dan berterima kasih, imam yang rendah hati itu mengatakan "Berterima kasihlah kepada Santa Perawan".

Lima belas hari setelah surat itu menghilang, keponakannya Givannino mengirimkan balasan surat. Maka bergembiralah hati semua orang dalam keluarga itu. Mereka sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan juga Padre Pio.

Menjadi Seorang Santo

Santo Padre Pio adalah seorang Imam Biarawan Kapusin dari San Giovanni Rotondo, Italia yang sangat istimewah dan rendah hati. Ia adalah tokoh yang sangat terkenal di abad ke-20, khususnya di Italia.

Meskipun berbagai rintangan dan penderitaan menimpah, ia tetap sabar dan berserah kepada kehendak Allah Bapa. Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968, di usia 81 tahun. Kemudian dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma Italia, pada tanggal 2 Mei 1999.

Dan dikanonisasi oleh Paus yang sama pada 16 Juni 2002, hanya tiga tahun setelah beatifikasinya. Jasadnya yang sampai sekarang masih utuh, disemayamkan di San Giovanni Rotondo, Italia, tempat ia mengabdi sampai akhir hayatnya.

Santo Padre Pio menjadi pelindung sukarelawan pertahanan sipil dan para remaja. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

Nah, sahabat Kristus, saya pribadi mendengar banyak hal Santo Padre Pio sejak saya masih kecil. Banyak foto-foto beliau juga beredar di media massa. Saya bersyukur Tuhan selalu punya cara untuk memuliakan umatnya yang setia dan taat pada rencana-Nya.

Terima kasih sudah membaca sampai selesai, Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan.... 

Senin, 04 September 2023

Santa 'Kecil' Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Bagi orang Katolik, Para Kudus Allah adalah orang beriman yang telah meninggal dan sikap hidup mereka adalah contoh keteladanan, ketaatan serta pengharapan penuh pada kasih Allah Bapa yang sudah mencapai titik heroik. 

Dalam iman Katolik, orang Kudus dipercaya telah dikaruniai kehidupan kekal bersama Allah Bapa di surga, sehingga mereka sering dijadikan sebagai perantara doa kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, tanpa mengabaikan peran Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan. Para Kudus ini diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik melalui beberapa fase.

Fase pertama, diberikan waktu 5 tahun bagi ketenangan jiwa setelah meninggal. Fase kedua, adalah waktu penyelidikan gereja terhadap cara hidup mereka, hal ini merupakan tanggapan bagi permohonan kaum beriman atas diri calon orang kudus tersebut. 

Proses ini dibuat untuk menyatakan apakah yang bersangkutan sudah benar-benar memenuhi kriteria hidup suci dan penuh kebajikan. 

Dalam fase ini ada sebuah proses Bernama Declaration “non-cultus” atau pernyataan bahwa tidak ada pemujaan berhala pada orang kudus tersebut. 

Semua saksi akan dikumpulkan dan dibuat penyelidikan. Jika pada fase ini semua hal tersebut sudah bisa diterima, uskup akan membuat rekomendasi kepada paus, sehingga yang bersangkutan akan disebut ‘Hamba Allah.”

Fase selanjutnya, adalah meyakinkan akan mujizat-mujizat yang terjadi melalui Hamba Allah ini. Jika tahap ini dapat dibuktikan dan diakui oleh Paus, calon Santo atau Santa ini akan disebut “Terberkati”. Fase terakhir adalah Proses Kanonisasi yaitu pernyataan bahwa orang tersebut diangkat menjadi Santo atau Santa. 

Banyak proses yang harus dilewati untuk mencapai fase ini, termasuk akan diadakan misa untuk membacakan Sejarah hidup yang bersangkutan, serta mujizat yang sudah terjadi dengan perantaraan doa kepadanya. 

Tentu saja keseluruhan proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa Allah sungguh berkenan mengangkat hambanya menjadi orang Kudus pilihannya. 

Dalam kasus tertentu, tahap-tahap ini bisa dipercepat oleh Paus apabila semua informasi dan penyelidikan yang diperlukan sudah lengkap. Seperti yang terjadi pada Santa Theresa dari Calcuta dan Paus Yohanes Paulus II.

Masa Kecil. Santa Theresse de Lisseux atau yang biasa disebut juga Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, terlahir di Alencon, Perancis pada tanggal 2 Januari 1873, dengan nama kecil Marie Francoise Therese Martin. Ayahnya seorang pembuat jam yang sukses, bernama Louis Martin dan ibunya Marie Azelie Guerin, seorang pembuat renda. 

Theresia adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Kakak Pertamanya, Marie menjadi suster Marie Hati Kudus Karmelit di Lisieux. Kakaknya yang kedua, Pauline, juga menjadi suster dan ibu Agnes dari Yesus, dari Karmelit di Lisieux. Kakak Theresia yang nomor 3, Leonie, tidak diterima di Karmelit Lisieux, ia kemudian menjadi suster Klaris dan Visitasi di Caen, dengan nama suster Francoise Theresia.

Kakak-kakak Theresia yang berikutnya, Marie Helene, Marie Joseph Louis dan Marie Joseph Jean Baptiste, meninggal di usia yang masih balita. Kemudian putri yang ketujuh, Celine, menjadi suster Karmelit Lisieux, dengan nama suster Genevieve dari Wajah Kudus. Kakak yang kedelapan di atas Theresia, yaitu Marie Melanie Theresia, meninggal pada usia 7 minggu.

Theresia terlahir sebagai anak yang manja, kesayangan ayahnya. Ia biasa dipanggil ratu kecil. Karena kasih sayang dan dimanja dalam keluarga, Theresia menjadi pribadi yang tidak bisa bergaul, cepat merajuk dan marah. Saat Theresia berusia 4 tahun, ibunya meninggal karena sakit kanker payudara, Louis Martin kemudian memutuskan pindah ke Kota Lisieux dimana banyak keluarganya tinggal. 

Theresia kemudian belajar di sekolah Benediktin Notre Dame Du Pre. Di usia 10 tahun, Theresia juga harus melepas kakaknya Pauline, yang selama ini mengurus dan merawatnya sepeninggal sang ibu. 

Hal ini semakin membuatnya sangat kesepian dan sedih, ia kemudian jatuh sakit yang sangat parah. Namun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Ayah dan kakak-kakaknya berdoa di sekeliling tempat tidurnya, hingga suatu hari Theresia melihat Bunda Maria tersenyum padanya, dan seketika sakitnya sembuh.

Theresia kemudian berusaha memaksa masuk ke ordo Karmelit, tempat Pauline berada, namun ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Theresia sangat menderita karena sedih dan depresi. Untuk menghiburnya, ayahnya mengajaknya berziarah ke Roma. 

Pada saat itu, ia berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XIII. Theresia kecil meminta pada Paus untuk mengijinkannya masuk biara, namun Paus mengatakan, anakku, ikutilah keputusan pastur pemimpin.

Diterima menjadi Biarawati. Pada April 1888, Theresia diterima menjadi postulant karmelit di Lisieux, oleh Uskup Bayeux. Pada tahun 1889, ayahnya menderita stroke dan dibawa ke sanatorium Bon Sauveur di Caen. 

Ia tinggal selama 3 tahun disana kemudian kembali ke Lisieux. Ayah Theresia meninggal pada tahun 1894, pada tahun itu juga Celine masuk biara karmelit di Lisieux dan menjadi suster Genevieve dari Wajah Kudus. 

Theresia sangat mencintai Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Itu sebabnya ia memilih biara karmel, agar seluruh harinya dihabiskan hanya untuk berdoa dan bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat dan belum mengenal Tuhan Yesus. 

Ia berkata: “Tuhan tidak ingin kita melakukan apapun, ia hanya ingin kita mencintai-Nya.” Ia melakukan segala sesuatu dengan senyum dan kesabaran. 

Ia melayani suster-suster tua yang sakit dan suka mengeluh tentang sakit mereka, ia mengurus dan melayani mereka seolah ia melayani Tuhan Yesus. Ia percaya bahwa mencintai sesama berarti mencintai Tuhan Yesus. Menurut Theresia, mencari kesucian diri tidak perlu dengan melakukan tindakan kepahlawanan atau jasa besar, cukuplah dengan mencintai Tuhan.

Setelah 9 tahun menjadi biarawati, Theresia menderita penyakit TBC. Di masa itu, TBC belum ada obatnya. Sehingga penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada 30 September 1897, di usia 24 tahun. Theresia meninggal dengan penuh cinta kepada Tuhan Yesus. 

Pada 29 April 1923, Santa Theresia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 2 tahun kemudian yakni pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasi Theresia menjadi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia si Bunga Kecil. 

Ia mengajarkan kepada kita bahwa mencapai kesucian tidaklah terlalu rumit, cukuplah hidup dengan penuh cinta kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, seperti yang dicontohkannya dalam cara hidupnya. 

Hal ini juga tergambar dalam doa-doanya. Santa Theresia mengatakan: “Bagiku, doa berasal dari hati. Ini merupakan tatapan sederhana ke surga. Doa adalah permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan dalam satu kata, yang kemudian menyatukannya dengan Tuhan. 

Aku tidak ingin mencari doa-doa dengan kata-kata yang indah. Aku melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca. Aku menceritakan semuanya pada Tuhan yang aku inginkan dan Dia mengerti.”

Autobiografi. Theresia menuangkan semua dalam buku Autobiografinya yang berjudul “Story of a Soul”, “Percakapan Terakhir” dan “Puisi dari Santa Theresia”. Ia menulis semua itu dalam pengawasan kakaknya Pauline, atau ibu Agnes dari Yesus dan juga pemimpin biara. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi pelindung para Penderita AIDS, pelindung penerbang, Toko Bunga, Pelindung Penyakit dan Karya Misi. 

Bahkan ia diangkat menjadi pelindung Rusia. Ayah dan ibu Theresia juga menjadi Beato dan Beata karena cara hidup dan ketaatan mereka. saat ini tubuh Santa Theresia yang masih utuh itu disemayamkan di Carmel of Lisseux Perancis. Pada Oktober 1997, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi wanita ke-3 yang mendapat gelar Doktor Gereja.



Selasa, 08 Agustus 2023

Santa Maria Goretti, Pelindung Kemurnian dan Pengampunan

Shalom sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria…

Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa keberadaan para Santo dan Santa, yakni mereka yang menjalani hidupnya dengan kebajikan yang heroik atau suci dan telah melalui berbagai proses Kanonisasi bertahun-tahun, adalah untuk menjadi perantara kita kepada Bapa Putera dan Roh Kudus, serta Bunda Maria sebagai ibu Tuhan Yesus. Cara hidup mereka dicatat dan menjadi contoh bagi generasi berikut untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah Bapa.

Ada lebih dari 1000 Para Kudus yang tercatat dalam Gereja Katolik. Namun ingatlah bahwa sekuat apapun cara hidup mereka mempengaruhi kita, tetaplah tujuan utama adalah tiga pribadi dalam Tritunggal Mahakudus beserta sang Bunda. Jangan membiarkan kecintaan kita pada orang kudus merubah Devosi kita yang sesungguhnya ya… kerinduan terbesar saya dengan membuat Vlog dan Channel Youtube tentang para Kudus ini adalah agar semakin banyak orang percaya akan betapa Besar dan Mulia cara Allah bekerja dalam diri orang Beriman yang Taat dan hidup sesuai dengan Kehendak-Nya.

Masa Kecil. Kali ini saya akan menceritakan kisah tentang Santa Maria Goreti. Terlahir dengan nama Maria Theresia Goreti atau Marrieta, di Corinaldo Provinsi Ancona, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Ayahnya Bernama Luigi Goretti dan ibunya Assunta Carlini. Marietta lahir dalam sebuah keluarga petani, sebagai anak ke-3 dari 7 bersaudara.

Ketika usia Marietta menginjak 6 tahun, keluarganya jatuh miskin dan harus kehilangan pertanian mereka. Keluarga Luigi Goretti kemudian pindah ke Desa Nettuno, sebuah Desa berawa, lalu menetap disana dan bekerja bersama para petani lainnya. Di desa itu, keluarga Marietta tinggal di sebuah rumah pertanian dimana mereka tinggal berbagi dengan keluarga lain, yakni keluarga Serenelli. Dalam kehidupan sederhana yang keras dan berat, keluarga Marietta adalah keluarga yang periang, karena mereka adalah orang-orang beriman yang sungguh mempercayakan seluruh hidup mereka kepada Tuhan. Itulah yang membuat hubungan setiap anggota keluarga itu sangat erat satu sama lain.

Ayah Meninggal. Ketika Marietta berusia 9 tahun, ayahnya meninggal karena sakit Malaria. Sepeninggal sang ayah, hidup mereka semakin sulit. Untuk membantu keluarganya, setiap hari Marietta mengerjakan berbagai tugas rumah, seperti memasak, mencuci, menjahit serta menjaga adiknya, Theressa yang masih kecil. Sementara ibu dan saudaranya yang lain bekerja di ladang, Marietta dengan sabar dan telaten bekerja di rumah dan menjaga adiknya.

Gadis yang Saleh. Di Tengah berbagai kesulitan hidup, Marietta tumbuh menjadi gadis yang saleh, beriman dan tekun berdoa. Meskipun hidup semakin sulit, semangat iman keluarga Marietta tidak pernah luntur. Marietta tetap bersemangat dan penuh kerinduan menyambut Komuni Pertamanya. Walau setiap hari, ia harus berjalan kaki bermil-mil jauhnya ke kota untuk mengikuti Pelajaran agama. Ia menjalani hidupnya dengan doa dan kerja keras.

Dalam hatinya, Marietta berjanji untuk menjaga Kemurniannya, ia tidak akan pernah menghina dan menodai Yesus yang dicintainya dengan berbuat dosa. Ia berkata pada ibunya, “Lebih baik mati seribu kali dari pada berbuat dosa satu kali.”

Ujian Marietta. Ujian bagi kesucian hatinya, datang pada suatu siang, tanggal 5 Juli 1902, pada usianya yang ke-11 tahun. Saat itu, Marietta sedang menjaga adiknya yang sedang sakit, ibu dan saudara-saudaranya sedang berada di ladang. Putera keluarga Serenelli, yakni Alessandro, yang sudah sejak lama menaruh hati pada Marietta, berusaha memaksakan niat jahatnya pada gadis itu. Berkali-kali Marietta telah menolak dan mendorongnya, namun Alessandro tidak menyerah dan terus memaksa.

Melihat betapa gigihnya Marietta mempertahankan diri, Alessandro mengambil pisau dan mengancam. Namun ancaman itu tidak mempengaruhi Marietta. Dalam hatinya ia berdoa meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Karena kalut, Alessandro menusukkan pisau itu sebanyak 14 kali ke tubuh Marietta. Ketika melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Alessandro melarikan diri. Keluarga yang datang kemudian menemukan Marietta dalam kondisi buruk, segera membawanya ke rumah sakit. Karena luka-lukanya sangat parah, para dokter menyerah mengoperasinya.

Pengampunan. Keesokan hari, tanggal 6 Juli 1902, setelah menerima Sakramen Komuni dan mendapatkan pengampunan dosa, Maria Theresia Goretti meninggal dunia. Dalam Sakratul maut, ia memberikan pengampunannya kepada Alessandro dengan berkata, “aku ingin agar kelak ia berada di dekatku di surga.” Seorang Jurnalis Bernama Noel Crusz, mencatat semua kejadian itu secara rinci. Dalam tulisannya ia mengatakan: “Marietta ditikam menggunakan mata pisau sepanjang 10 inchi sebanyak 14 kali. Tikaman itu menembus tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Para ahli bedah di Orsenigo terkejut karena Marietta masih hidup ketika tiba di rumah sakit.”

Dalam kondisi sekarat, Marietta menceritakan tentang kekerasan dan upaya pelecehan yang ternyata sudah beberapa kali ia alami. Ia tidak pernah berani menceritakan pada keluarganya, karena Alessandro mengancamnya. Alessandro kemudian ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1985, seorang sejarawan Italia Bernama Giordano Bruno Guerri melaporkan, bahwa ia bertemu Alessandro di penjara. Pemuda itu menceritakan padanya tentang serangan yang dilakukannya pada Marietta. Alessandro mengakui telah beberapa kali berusaha melecehkan dan mengancam membunuh Marietta. Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah menuntaskan niat jahatnya pada Marietta, gadis itu meninggal sebagai seorang perawan.

Karena dianggap belum dewasa serta berasal dari keluarga miskin yang melalaikannya, Alessandro yang semula dihukum seumur hidup diringankan menjadi 3 tahun. Beberapa anggota keluarganya menderita gangguan jiwa dan ayahnya seorang pecandu alkohol. Setelah dibebaskan, Alessandro menemui Assunta, ibu Marietta dan mendapatkan pengampunan. Ia bertobat dari semua dosa-dosanya dan kemudian menjadi seorang bruder. Setiap hari ia berdoa memohon ampun atas perbuatannya kepada Marietta, yang ia sebut sebagai “Santa kecil-ku..”

Menjadi ORANG KUDUS. Santa Maria Goretti kemudian dibeatifikasi pada tanggal 27 April 1947 oleh Paus Pius XII, perayaan itu dihadiri ibu Assunta di Basilika Santo Petrus. Melihat kehadirannya, Paus mendekati ibu Assunta dan mengatakan: “Ibu yang berbahagia, ibu dari seorang yang terberkati.”

Tiga tahun setelah Dibeatifikasi, pada tanggal 24 Juni 1950, Paus Pius XII mengkanonisasi Maria Goretti sebagai Orang Kudus. Upacara itu dihadiri oleh ibu dan semua saudaranya yang masih hidup serta Alessandro. Santa Maria Goretti adalah seorang Martir perawan Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Jenasahnya disemayamkan di ruang bawah tanah Basilika Nostra Signora dele Gracia di Nettuno.

Pesta Peringatan Santa Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli. Dia menjadi Santa pelindung Kemurnian, pelindung Korban Perkosaan, pelindung anak-anak Perempuan, Kaum Muda, pelindung para Gadis Remaja, pelindung Kemiskinan dan Pengampunan. Santa Maria Goretti sering digambarkan sebagai seorang gadis muda berambut gelombang merah, memakai baju petani berwarna putih dan memegang bunga lili. Warna putih dan bunga lili sering dijadikan sebagai lambing kemurnian dan keperawanan.

Sebagai orang muda kesukaan Allah, Santa Maria Goretti berhasil menahan berbagai serangan terhadap kemurniannya dengan bantuan Rahmat Allah. Ia mengajarkan pada kita untuk taat pada perintahnya dan mengikuti apa yang sangat Allah kehendaki, yakni Mengampuni. Karena Mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita sesungguhnya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk membebaskan diri kita sendiri dari rasa benci, dendam, kemarahan dan kehancuran. Dan kemudian akan membawa kita kepada sukacita, kedamaian dan berkat yang berlimpah dari Allah Bapa. Kita diminta Tuhan Yesus sendiri untuk mengampuni 70 kali 7 kali (Matius 8:21-22), yang artinya tidak terhingga. Dengan Mengampuni kitapun akan diampuni.

Matius 6:14-15 berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Bayangkan jika Bapa di surga tidak mengampuni dosa kita, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat dan tetap tinggal dalam diri kita? Yesus mengajarkan kita untuk melihat dari cara pandang Allah melampaui ego dan kepentingan diri kita. Lukas 6:27-38 mengatakan: “Hendaklah kitapun bersikap murah hati, seperti Bapa kita di surga adalah murah hati.”

Tentang mengampuni saya punya pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya dan keluarga alami. Karena keegoisan dan ketidaksukaan beberapa orang, suami saya diturunkan dari jabatan dan adik-adik saya harus kehilangan pekerjaan. Sebagai bawahan atau pegawai biasa, tentu saja hal seperti ini wajar, kapan saja kedudukan ataupun jabatan bisa diambil dari kita. Tapi sebagai teman atau orang yang dipercaya hal ini sungguh menyakitkan, di saat mereka sebenarnya punya kesempatan untuk membantu, malah tidak perduli sama sekali dan lebih memilih untuk menyelamatkan diri dari pada harus berkorban dan kehilangan kesempatan mereka. Tapi saya dan keluarga lebih memilih untuk mengampuni serta melihat semua kesulitan ini sebagai proses untuk diangkat Tuhan lebih tinggi lagi, tentu saja tidak mudah tapi harus melalui berbagai drama dan air mata, hehehe…. Tapi kami berhasil melaluinya, tidak membenci dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

Biarlah DIA yang memutuskan apa yang terbaik buat kami dan mereka. Tuhan Yesus berkata, Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun mengasihi juga orang yang mengasihi mereka, (Lukas 6:32). Walaupun sulit, saya yakin kita semua mampu melakukannya. Butuh kemurnian dan keberanian seperti yang dimiliki oleh Santa Maria Goretti, seorang gadis kecil tapi memiliki hati yang sangat besar. Kata seorang teman, memelihara kemarahan, kebencian dan dendam sama seperti kita menerima menerima untuk minum racun yang diberikan oleh orang lain. Ketika kita menolak meminumnya, artinya kita terbebas dari semua itu. Karena pada dasarnya orang yang berbuat salah kepada kita sendiri sudah tersiksa dengan rasa bersalah dalam dirinya, biarlah dia menanggung semua itu sendiri tanpa kitapun harus terlibat di dalamnya.

Seperti Santa Maria Goretti, kitapun pasti tidak ingin kesucian dan kemurnian cinta pada Allah ternoda oleh karena tidak bisa mengampuni orang yang bersalah pada kita. “Kita harus menolak semua kompromi terhadap kejahatan,” pesan Santa Maria Goretti. sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, trima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga menjadi berkat untuk sahabat semua… Shalom, Tuhan memberkati….

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...