Tampilkan postingan dengan label karismatik katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karismatik katolik. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 September 2023

Santa 'Kecil' Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Bagi orang Katolik, Para Kudus Allah adalah orang beriman yang telah meninggal dan sikap hidup mereka adalah contoh keteladanan, ketaatan serta pengharapan penuh pada kasih Allah Bapa yang sudah mencapai titik heroik. 

Dalam iman Katolik, orang Kudus dipercaya telah dikaruniai kehidupan kekal bersama Allah Bapa di surga, sehingga mereka sering dijadikan sebagai perantara doa kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, tanpa mengabaikan peran Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan. Para Kudus ini diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik melalui beberapa fase.

Fase pertama, diberikan waktu 5 tahun bagi ketenangan jiwa setelah meninggal. Fase kedua, adalah waktu penyelidikan gereja terhadap cara hidup mereka, hal ini merupakan tanggapan bagi permohonan kaum beriman atas diri calon orang kudus tersebut. 

Proses ini dibuat untuk menyatakan apakah yang bersangkutan sudah benar-benar memenuhi kriteria hidup suci dan penuh kebajikan. 

Dalam fase ini ada sebuah proses Bernama Declaration “non-cultus” atau pernyataan bahwa tidak ada pemujaan berhala pada orang kudus tersebut. 

Semua saksi akan dikumpulkan dan dibuat penyelidikan. Jika pada fase ini semua hal tersebut sudah bisa diterima, uskup akan membuat rekomendasi kepada paus, sehingga yang bersangkutan akan disebut ‘Hamba Allah.”

Fase selanjutnya, adalah meyakinkan akan mujizat-mujizat yang terjadi melalui Hamba Allah ini. Jika tahap ini dapat dibuktikan dan diakui oleh Paus, calon Santo atau Santa ini akan disebut “Terberkati”. Fase terakhir adalah Proses Kanonisasi yaitu pernyataan bahwa orang tersebut diangkat menjadi Santo atau Santa. 

Banyak proses yang harus dilewati untuk mencapai fase ini, termasuk akan diadakan misa untuk membacakan Sejarah hidup yang bersangkutan, serta mujizat yang sudah terjadi dengan perantaraan doa kepadanya. 

Tentu saja keseluruhan proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa Allah sungguh berkenan mengangkat hambanya menjadi orang Kudus pilihannya. 

Dalam kasus tertentu, tahap-tahap ini bisa dipercepat oleh Paus apabila semua informasi dan penyelidikan yang diperlukan sudah lengkap. Seperti yang terjadi pada Santa Theresa dari Calcuta dan Paus Yohanes Paulus II.

Masa Kecil. Santa Theresse de Lisseux atau yang biasa disebut juga Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, terlahir di Alencon, Perancis pada tanggal 2 Januari 1873, dengan nama kecil Marie Francoise Therese Martin. Ayahnya seorang pembuat jam yang sukses, bernama Louis Martin dan ibunya Marie Azelie Guerin, seorang pembuat renda. 

Theresia adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Kakak Pertamanya, Marie menjadi suster Marie Hati Kudus Karmelit di Lisieux. Kakaknya yang kedua, Pauline, juga menjadi suster dan ibu Agnes dari Yesus, dari Karmelit di Lisieux. Kakak Theresia yang nomor 3, Leonie, tidak diterima di Karmelit Lisieux, ia kemudian menjadi suster Klaris dan Visitasi di Caen, dengan nama suster Francoise Theresia.

Kakak-kakak Theresia yang berikutnya, Marie Helene, Marie Joseph Louis dan Marie Joseph Jean Baptiste, meninggal di usia yang masih balita. Kemudian putri yang ketujuh, Celine, menjadi suster Karmelit Lisieux, dengan nama suster Genevieve dari Wajah Kudus. Kakak yang kedelapan di atas Theresia, yaitu Marie Melanie Theresia, meninggal pada usia 7 minggu.

Theresia terlahir sebagai anak yang manja, kesayangan ayahnya. Ia biasa dipanggil ratu kecil. Karena kasih sayang dan dimanja dalam keluarga, Theresia menjadi pribadi yang tidak bisa bergaul, cepat merajuk dan marah. Saat Theresia berusia 4 tahun, ibunya meninggal karena sakit kanker payudara, Louis Martin kemudian memutuskan pindah ke Kota Lisieux dimana banyak keluarganya tinggal. 

Theresia kemudian belajar di sekolah Benediktin Notre Dame Du Pre. Di usia 10 tahun, Theresia juga harus melepas kakaknya Pauline, yang selama ini mengurus dan merawatnya sepeninggal sang ibu. 

Hal ini semakin membuatnya sangat kesepian dan sedih, ia kemudian jatuh sakit yang sangat parah. Namun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Ayah dan kakak-kakaknya berdoa di sekeliling tempat tidurnya, hingga suatu hari Theresia melihat Bunda Maria tersenyum padanya, dan seketika sakitnya sembuh.

Theresia kemudian berusaha memaksa masuk ke ordo Karmelit, tempat Pauline berada, namun ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Theresia sangat menderita karena sedih dan depresi. Untuk menghiburnya, ayahnya mengajaknya berziarah ke Roma. 

Pada saat itu, ia berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XIII. Theresia kecil meminta pada Paus untuk mengijinkannya masuk biara, namun Paus mengatakan, anakku, ikutilah keputusan pastur pemimpin.

Diterima menjadi Biarawati. Pada April 1888, Theresia diterima menjadi postulant karmelit di Lisieux, oleh Uskup Bayeux. Pada tahun 1889, ayahnya menderita stroke dan dibawa ke sanatorium Bon Sauveur di Caen. 

Ia tinggal selama 3 tahun disana kemudian kembali ke Lisieux. Ayah Theresia meninggal pada tahun 1894, pada tahun itu juga Celine masuk biara karmelit di Lisieux dan menjadi suster Genevieve dari Wajah Kudus. 

Theresia sangat mencintai Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Itu sebabnya ia memilih biara karmel, agar seluruh harinya dihabiskan hanya untuk berdoa dan bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat dan belum mengenal Tuhan Yesus. 

Ia berkata: “Tuhan tidak ingin kita melakukan apapun, ia hanya ingin kita mencintai-Nya.” Ia melakukan segala sesuatu dengan senyum dan kesabaran. 

Ia melayani suster-suster tua yang sakit dan suka mengeluh tentang sakit mereka, ia mengurus dan melayani mereka seolah ia melayani Tuhan Yesus. Ia percaya bahwa mencintai sesama berarti mencintai Tuhan Yesus. Menurut Theresia, mencari kesucian diri tidak perlu dengan melakukan tindakan kepahlawanan atau jasa besar, cukuplah dengan mencintai Tuhan.

Setelah 9 tahun menjadi biarawati, Theresia menderita penyakit TBC. Di masa itu, TBC belum ada obatnya. Sehingga penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada 30 September 1897, di usia 24 tahun. Theresia meninggal dengan penuh cinta kepada Tuhan Yesus. 

Pada 29 April 1923, Santa Theresia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 2 tahun kemudian yakni pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasi Theresia menjadi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia si Bunga Kecil. 

Ia mengajarkan kepada kita bahwa mencapai kesucian tidaklah terlalu rumit, cukuplah hidup dengan penuh cinta kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, seperti yang dicontohkannya dalam cara hidupnya. 

Hal ini juga tergambar dalam doa-doanya. Santa Theresia mengatakan: “Bagiku, doa berasal dari hati. Ini merupakan tatapan sederhana ke surga. Doa adalah permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan dalam satu kata, yang kemudian menyatukannya dengan Tuhan. 

Aku tidak ingin mencari doa-doa dengan kata-kata yang indah. Aku melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca. Aku menceritakan semuanya pada Tuhan yang aku inginkan dan Dia mengerti.”

Autobiografi. Theresia menuangkan semua dalam buku Autobiografinya yang berjudul “Story of a Soul”, “Percakapan Terakhir” dan “Puisi dari Santa Theresia”. Ia menulis semua itu dalam pengawasan kakaknya Pauline, atau ibu Agnes dari Yesus dan juga pemimpin biara. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi pelindung para Penderita AIDS, pelindung penerbang, Toko Bunga, Pelindung Penyakit dan Karya Misi. 

Bahkan ia diangkat menjadi pelindung Rusia. Ayah dan ibu Theresia juga menjadi Beato dan Beata karena cara hidup dan ketaatan mereka. saat ini tubuh Santa Theresia yang masih utuh itu disemayamkan di Carmel of Lisseux Perancis. Pada Oktober 1997, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi wanita ke-3 yang mendapat gelar Doktor Gereja.



Sabtu, 16 November 2019

Kisah Hidup Santo Silvanus, Martir Kristus

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, dalam blog ini saya ingin menceritakan kisah hidup 25 orang Santo dan santa yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah meninggal berpuluh2 bahkan ratusan tahun yang lalu. 

Mungkin kisahnya tidak mendetail ya, karena ada yang hidup di zaman yang sama sekali belum ada alat atau apapun yang menunjang orang untuk mencatat sejarah. 

Tapi banyak sekali contoh hidup mereka yang bisa kita ikuti ya geng’s... betapa mereka sangat taat dan mencintai Allah lebih dari hidup mereka sendiri. Banyak orang menyangsikan hal ini dengan mengatakan bahwa jasad mereka memang sengaja diawetkan. 


Tetapi kalau ditelurusuri secara nalar hal itu juga tidak mungkin, fenomena ini juga tidak serta merta diterima oleh para pembesar Gereja Katolik ya gengs... Butuh penyelidikan bertahun-tahun dengan proses yang rumit dan panjang.



Para santo dan santa ini sudah wafat dan dikuburkan tapi kuburnya digali kembali bertahun-tahun kemudian. Saya rasa alasan penggalian adalah untuk proses Kanonisasi dan disaksikan oleh pejabat gereja yang menyelidiki proses tersebut. 


Tuhan mengijinkan tubuh para orang Kudus-Nya tidak binasa untuk menunjukan kebesaran kasih dan rahmat-Nya yang mampu mengatasi maut dan kebinasaan. Soal ini, sebagai orang Katolik, kita juga diyakinkan dalam 


Mazmur 16:10 "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan". 

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya. Bagi orang yang percaya hal ini bukanlah yang utama, tapi bagi yang tidak percaya tanda sebesar apapun tidaklah cukup.


Santo Silvanus

Santo Silvanus berasal dari Roma Italia, merupakan salah seorang dari 7 putra Santa Felisitas yang menjadi martir pada masa penganiayaan Kaisar Antonius Pius di Kota Roma. Ayah dan Ibunya adalah keluarga bangsawan Romawi yang telah dibaptis menjadi Kristen. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya, Santa Felisitas, mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan dengan berdoa dan berkarya bagi orang-orang miskin. Teladan baik keluarga ini menghantarkan banyak orang menjadi Kristen pula.

Tentu saja hal ini membuat banyak imam-imam kafir menjadi marah dan melaporkan keluarga ini kepada Kaisar Antonius Pius. Mereka mengatakan bahwa Felisitas dan anak-anaknya adalah musuh negara dan membuat dewa-dewa murka. Maka Kaisar memerintahkan agar Felisitas dan 7 putranya ditangkap. 


Santa Felisitas tetap tenang ketika dibawa ke hadapan Gubernur. Sia-sia saja membujuk mereka untuk menyangkal imannya kepada Tuhan dengan mempersembahkan korban kepada para dewa. 


Akhirnya sang Gubernur dengan marah berseru: "Perempuan celaka! Jika engkau ingin mati, matilah! Tetapi janganlah engkau membinasakan anak-anakmu pula."

Jawab Santa Felisitas: "Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya, jika mereka seperti saya, mengutuk dewa-dewa berhala dan mati bagi Tuhan." Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan putera-puteranya dihukum mati dengan keji. 


Seorang mati dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas ditenggelamkan. Tujuh orang martir putera-putera Santa Felisitas yang gagah berani itu adalah: St. Alexander, St. Vitalis, St. Martialis, St. Januarius, St. Felix, St. Filipus dan St. Silvanus.

Empat bulan kemudian ibu mereka, St. Felisitas, juga menerima mahkota kemartirannya dengan dihukum pancung. Kisah keluarga martir ini mengingatkan saya akan cerita di Kitab 2 Makabe bab 7, tentang seorang ibu bersama tujuh orang puteranya yang dibunuh secara keji pada jaman pemerintahan Raja Antiokhus karena berani membela imannya kepada Tuhan. 


Mereka tetap taat memegang perintah Allah semesta alam yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Saya tidak tahu apakah ini kisah yang sama, tapi dari cara kematian mereka sangat berbeda.

Santo Silvan adalah pelindung bari para pelayan dan pembantu rumah tangga. Jika pekerjaanmu adalah pelayan dan membantu di rumah tangga, kamu bisa berdoa pada Tuhan dengan perantaraan St. Silvanus ketika kamu menemui kesulitan dalam pekerjaanmu. 


Jasad St. Silvan sampai sekarang masih utuh dan ditempatkan di Gereja St. Blaise di Dubrovnik, Kroasia. Pesta St. Silvan dirayakan setiap tanggal 10 Juli.

Referensi : Katakombe.org, Katolisitas.org

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...