Tampilkan postingan dengan label orang kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang kudus. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2023

Mengenal Para Kudus yang Menjadi Pendoa Setia bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian

Sahabat Kristus, bulan November bagi umat Katolik Roma di seluruh dunia adalah bulan penutupan tahun Liturgi Gereja, sekaligus merupakan bulan bagi kita untuk berdevosi bagi keselamatan jiwa-jiwa yang masih berada di Api Penyucian dan semua Orang Kudus.

Api Penyucian adalah suatu keadaan atau proses pemurnian bagi mereka yang sudah meninggal, khususnya jiwa-jiwa yang meninggal dalam keadaan rahmat, tapi belum mendapatkan hukuman sementara atas dosa-dosa semasa hidupnya. Sebelum akhirnya mereka mencapai kegembiraan surga.

Api Penyucian berasal dari bahasa Latin: "Purgatorium"; merupakan sebuah istilah dalam Teologi Katolik. Dengan demikian mereka tidak akan selamanya berada di sana, melainkan kelak, untuk waktu yang tidak kita ketahui, mereka semua akan memperoleh surga kekal.

Santo Alfonsus Liguori mengatakan; Hukum Alam akan membantu orang-orang yang malang, bahkan mereka yang terasing. Tetapi, kewajiban kita yang masih hidup, untuk mendoakan jiwa-jiwa malang di Api Penyucian jauh lebih besar.

Karena di antara jiwa-jiwa itu terdapat jiwa yang berhubungan dekat dengan kita, yang sangat kita kasihi, keluarga, orang tua, mereka yang pernah berjasa atau berbuat baik pada kita, yang mungkin saja sedang menderita. 

Santo Alfonsus mengatakan; upacara pemakaman yang besar dan mewah hanyalah penghiburan bagi yang masih hidup, tapi tidak berarti bagi yang sudah meninggal. Doa-doa dan silih, menjadi suatu pengorbanan yang bisa kita lakukan bagi jiwa-jiwa ini.

Para Kudus

Saya mengenal beberapa orang Kudus, yang selama hidup, mereka berdevosi penuh dengan perantaraan Bunda Perawan, bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian, ada di antara mereka yang memperoleh karunia melihat langsung surga, neraka dan api penyucian, bahkan merasakan penderitaan jiwa-jiwa malang itu.

Mari mengenal dan mencontohi cara hidup serta ketaatan mereka;

1. Santo Alphonsus Marie 'de Liguori

Santo Alfonsus de Liguori lahir di Marianela, Italia pada tanggal 27 September 1696. Ia adalah seorang uskup, pujangga gereja dan pendiri Konggregasi Redemptoris. 

Ia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Don Joseph merupakan seorang perwira angkatan laut dan Komandan Kapal Perang Kerajaan, sementara ibunya adalah seorang wanita saleh berdarah Spanyol.

Alfonsus dan saudara-saudaranya dibesarkan dalam keluarga yang sangat taat beragama. Ia memperoleh gelar Doktor Hukum dari Universitas Naples, pada usia 16 tahun dan pada usia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pengacara terkenal.

Pada tahun 1723, Alfonsus meninggalkan kehidupan pengacaranya karena suatu masalah dan sepenuhnya mulai mendedikasikan dirinya dalam kehidupan religius. Sebagai akibatnya, Alfonsus mendapatkan perlakuan buruk dari keluarganya. 

Setelah ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 21 Desember 1726, Alfonsus menjadi misionaris selama enam tahun dalam pelayanan di seluruh wilayah Naples. 

Pada tahun 1723, berkat persahabatan seumur hidupnya dengan Uskup Thomas Falcoia (Pendiri Konggregasi Pekerja Taat), serta seorang biarawati suci, Suster Mary Celeste yang berjasa mengarahkan jalan hidup religiusnya, Alfonsus berhasil mendirikan Konggregasi Redemptoris atau Sang Penebus Mahakudus. 

Santo Alfonsus menjalani tugas imamatnya dengan banyak memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia selalu menekankan pentingnya kesadaran umat akan cinta kasih Tuhan dan iman mereka.

Ia menulis lagu puji-pujian dan buku-buku rohani, dimana dalam bukunya ia menjelaskan banyak hal tentang kewajiban kita mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian, serta Devosinya yang amat mendalam kepada Bunda Perawan.

Pada tahun 1798, Paus Pius VI hendak mengangkatnya menjadi Uskup, namun Alfonsus menolaknya dengan halus. Di usia tuanya ia menderita banyak penyakit, kehilangan pendengaran, mengalami banyak kekecewaan serta pencobaan.

Santo Alfonsus de Liguori, seorang pribadi yang rendah hati ini, wafat pada tanggal 1 Agustus 1787, pada usia 91 tahun, dan dikanonisasi pada 26 Mei 1893, oleh Paus Gregorius XVI. Pestanya dirayakan setiap tanggal 1 Agustus.

2. Santa Katarina de Genoa

Santa Katarina Fieschi atau Santara Katarina dari Genoa, merupakan seorang Santa yang dihormati sebagai pelindung kota Genoa dan rumah sakit di Italia. Ia lahir dari keluarga bangsawan, pada usia 16 tahun, Katarina dijodohkan dan dinikahkan dengan seorang pemuda oleh keluarganya.

Ia dilahirkan di Genova, Italia pada tanggal 5 April 1447. Selama lima tahun pernikahannya, Katarina menanggung penderitaan batin yang luar biasa karena ulah suaminya, Yuliano Adorno. Mereka hidup berkelimpahan dan foya-foya namun batinnya tidak tentram.

Pada usia 36 tahun, Katarina melepaskan kesenangan duniawinya dan memulai pertobatan. Hal ini ternyata kemudian diikuti oleh suaminya. Keduanya pindah ke rumah yang lebih sederhana dan berkarya di sebuah rumah sakit. Katarina dan Yuliano hidup dalam pengabdian dalam cinta dan pengabdian penuh kepada Tuhan.

Pada tahun 1497, Yuliano meninggal dunia, Katarina tetap tekun melanjutkan karya amalnya, serta menjalin hubungan yang erat denga Tuhan dalam doa dan matiraga. Tuhan memberikan banyak karunia istimewa kepadanya dan kehidupan mistik yang tinggi.

Santa Katarina, mencurahkan perhatian yang besar terutama kepada Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Menurutnya, penderitaan mereka jauh lebih besar karena dianggap belum berkenan kepada Tuhan secara sempurna. 

Santa Katarina menulis banyak kutipan mengenai jiwa-jiwa malang di api penyucian. Katanya; Hidup bersama Tuhan di Surga merupakan kelanjutan dan kesempurnaan hidup bersama Tuhan yang dimulai di bumi. 

Santa Katarina Fieschi de Genoa, wafat pada tanggal 15 September 1510 di Genova, Italia dan dikanonisasi oleh Paus Klemens XII pada tahun 1737. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 September.

3. Santa Maria Magdalena de Pazzi

Santa Maria Magdalena de Pazzi adalah seorang suster dan Mistikus Karmelit Italia. Lahir sebagai putri tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya terkemuka di Renaissence Florence, Italia, pada tanggal 1556. Ayahnya bernama Gery de Pazzi dan ibunya Maria Buondelmonti.

Sejak masa kanak-kanak, Katarina de Pazzi, nama kecilnya, sudah menunjukkan hidup yang luhur dan religius. Di usia sembilan tahun, ia bermeditasi tentang Sengsara Kristus dan melakukan praktek penyiksaan daging dengan mencambuk dirinya serta mengenakan pakaian dari kain kasar juga mahkota duri yang ia buat sendiri.

Pada usia 10 tahun, Katarina masuk sekolah asrama biara, disana ia mulai mencintai kehidupan religius dan menerima Komuni pertamanya dengan penuh cinta kepada Tuhan. Namun ayahnya berniat menikahkan dia.

Pada tanggal 30 Januari 1583, Katarina menerima jubah biara Karmel, Santa Maria dari Para Malaikat, dan mengambil nama Maria Magdalena. Ketika seorang pastor meletakkan salib di tangannya, wajah Maria Magdalena bersinar dengan cahaya yang aneh dan hatinya dipenuhi semangat untuk menderita selama sisa hidupnya bagi Sang Penyelamatnya.

Pada masa Novisiat, Magdalena diijinkan untuk mengucapkan Kaul Religius lebih cepat dari peraturan pada umumnya, karena ia sakit parah dan menderita sangat berat. 

Dalam kesakitannya, Magdalena tidak pernah mengeluh, ia berkata bahwa, Tuhan Yesus yang menderita di salib karena kasih-Nya pada manusia, telah memberikan kekuatan yang sama dalam kelemahannya.

Sepanjang hidupnya, Santa Maria Magdalena mengalami banyak serta pencobaan yang berat. Namun ia mempersembahkan semua penderitaan itu kepada Yesus dan Bunda Maria, sebagai silih bagi para pendosa dan orang-orang yang tidak percaya.

Allah membalas kasih Magdalena dan pengorbanannya dengan memberikan berbagai macam karunia, ia mampu membaca pikiran orang lain dan meramal masa depan. 

Santa Maria Magdalena sering menampakkan diri kepada orang-orang di tempat yang jauh dan memberikan penyembuhan. Ia juga sering mengalami ekstase. 

Santa Maria Magdalena de Pazzi wafat dengan penderitaan yang sangat berat pada tanggal 25 Mei 1607, pada usia 41 tahun. Jasadnya yang masih utuh disimpan di gereja biaranya di Florence. Santa Maria Magdalena dikanonisasi oleh Paus Klemens IX pada tahun 1669. Pestanya dirayakan setiap tanggal 25 Mei.

4. Sister Josefa Menendez

Suster Yosefa Menendez lahir pada tanggal 4 Februari 1890 di Madrid, Spanyol. Sejak kecil ia mengalami banyak penderitaan hidup. Pada usia 20 tahun, ia hendak bergabung dengan Ordo Hati Kudus, namun karena situasi ekonomi keluarga hal itu tidak terjadi.

Pada tanggal 5 Februari 1920, Yosefa bergabung dengan Serikat Hati Kudus di Poitiers, Perancis. Seluruh hidupnya di biara dilakukan dalam pelayanan dan ketaatan pada otoriter Ordonya. Ia sangat pendiam, lemah lembut, tidak bisa bahasa Perancis dan lebih suka menyendiri di tempat yang sunyi.

Dalam kesederhanaannya, Allah menganugerahkan rahmat Spiritual berupa penglihatan akan situasi neraka disertai penderitaan fisik yang ia rasakan juga akan penyiksaannya, dan komunikasi mendalam dengan Tuhan Yesus

Yesus Kristus sendiri menyampaikan pesan melalui Suster Yosefa, yang ia tulis dalam buku catatannya, dan kemudian diterbitkan dengan judul 'Jalan Cinta Ilahi'. 

Melalui tulisannya, suster Yosefa menunjukkan kepada dunia kekuatan Kerahiman Tuhan bagi mereka yang benar-benar mau bertobat. Hal itu membuatnya sangat dibenci oleh iblis, karena banyaknya jiwa yang diselamatkan karena tulisannya. 

Kehidupannya di biara yang penuh kerendahan hati dan kesederhanaan, membuat semua pengalaman itu tidak diketahui teman-temannya, sampai kematiannya. Misinya justru benar-benar terlaksana setelah kematiannya.

Suster Yosefa Menendez, wafat pada tanggal 29 Desember 1923, pada usia 33 tahun, 3 tahun setelah ia bergabung dalam biara Hati Kudus. Proses Beatifikasinya telah dibuka secara resmi pada tanggal 26 November 1948, dan diberi gelar 'Hamba Tuhan'.

5. Santo Stanislaus Kostka

Santo Stanislaus adalah Santo yang sangat terkenal di Polandia dari Serikat Yesus. Ia dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1550 di Rostkowo, Polandia. Stanislaus adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Kakaknya, Paul Kotska, masih hidup pada upacara Beatifikasi Stanislaus pada tahun 1605. 

Ayahnya Yohanes Kotska, adalah seorang Senator Kerajaan dari keluarga Bangsawan Zakroczym, dan ibunya bernama Margareth Kryska. Dua bersaudara ini dididik dalam keluarga yang sangat taat dan saleh. Stanislaus tumbuh menjadi pribadi yang sangat saleh, rendah hati, sederhana dan penuh ketaatan.

Ia mempersembahkan dirinya sepenuhnya pada kehidupan spiritual yang tinggi, menurut kesaksian Paul, hal ini membuat Stanislaus sering tidak sadarkan diri. 

Sikap hidup ketaatan Stanislaus yang luar biasa ini, membuat kakaknya jengkel dan sering  memperlakukan dia dengan kasar. Stanislaus menderita akibat cacian dan pukulan Paul, kakaknya. 

Namun di mata teman-teman dan pimpinan biaranya, Stanislaus adalah contoh pribadi yang sangat sempurna karena keramahan, keceriaaan dan sangat religius. Seluruh hidup dan penderitaannya, dia persembahkan kepada Bunda Perawan Maria.

Pada tanggal 25 Oktober 1567, Stanislaus, bergabung dengan Pusat Serikat Jesuit di Kota Roma. Jarak ribuan kilometer antara Wina dan kota Roma, ditempuh Stanislaus dengan berjalan kaki. 

Ia memakai pakaian seperti pengemis, berjalan tanpa bekal, kendaraan ataupun seorang pemandu. Perjalanan berbahaya itu ia tempuh demi niatnya bergabung dengan Serikat Jesuit. Devosinya yang sangat mendalam kepada Bunda Maria, banyak memberinya tanda Ilahi dan mujizat.

Pada hari Perayaan Santo Laurentius, beberapa hari sebelum wafatnya, Santo Stanislaus demam tinggi. Ia menulis surat kepada Bunda Maria, meminta-Nya membawanya ke atas langit, agar bisa bersama merayakan Pesta Maria Diangkat ke Surga.

Pada tanggal 15 Agustus 1568, sekitar pukul empat dinihari, saat Stanislaus sedang berdoa, jiwanya meninggalkan tubuhnya, wajahnya bercahaya dengan penuh ketenangan.

Santo Stanislaus Kotska, dikanonisasi pada tanggal 31 Desember 1726, dan digelari sebagai Santo Pelindung Para Novisiat oleh berbagai institusi religius di Polandia. 

Ia sering digambarkan sedang menerima komuni suci dari tangan para malaikat, digambarkan sedang menerima tubuh bayi Yesus dari tangan Bunda Maria atau ia digambarkan sedang berada di tengah peperangan untuk mengusir para musuh dari tanah airnya. 

6. Santa Gertrudis de Helfta

Santa Getrudis de Hefta atau Santa Gertrudis Agung, adalah seorang Santa yang hidup pada abad ke-13, beliau terkenal sebagai seorang Santa yang rajin mendoakan keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian. Ia terkenal dengan devosinya yang sangat dalam kepada Hati Kudus Yesus yang terluka, karena menurut pemahamannya, dari situlah bersumber penebusan bagi umat manusia.

Santa Gertrudis, mendapatkan sebuah doa untuk jiwa-jiwa malang itu dari Tuhan Yesus sendiri, yang mengajarkan kepadanya dalam sebuah penglihatan mistik. Tuhan Yesus berjanji kepadanya, bahwa 1000 jiwa akan dilepaskan dari Purgatorium setiap kali doa ini didaraskan.

Santa Gertrudis lahir pada hari raya Epiphany (hari raya penampakan Tuhan), 6 Januari 1256 di Eisleben, Thuringia, Jerman. Pada usia 4 tahun, Gertrudis bergabung dengan sekolah religius biara St. Mary di Helfta. Banyak kisah mengatakan bahwa pada masa ini, Gertrudis sudah menjadi seorang yatim piatu.

Pada usia 10 tahun, Gertrudis resmi bergabung dengan komunitas biara Benediktin. Ia terkenal sangat rajin belajar, suka menulis dan pandai berbahasa Latin. Gertrudis bergaul akrab dengan Kitab Suci serta para Bapa Gereja, terutama Santo Agustinus dari Hippo dan Santo Gregorius Agung.

Pada tahun 1281, di usia 25 tahun, Gertrudis mengalami penglihatan pertamanya dari seluruh rangkaian penglihatan sampai akhir hidupnya, dan pengalaman itu merubah jalan hidupnya.

Sejak itu, Gertrudis mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari Kitab Suci dan Teologi. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan meditasi pribadi, serta mulai menulis hal-hal spiritual untuk kepentingan sesama biarawati.

Santa Gertrudis menjadi Mistikus terbesar abad ke-13, bersama teman-teman dan gurunya dalam biara, mereka memperaktekan Spiritualitas yang disebut "Pernikahan Mistis", yakni melihat diri sebagai mempelai Kristus.

Santa Getrudis de Hefta atau Santa Getrudis Agung wafat pada tanggal 17 November 1302, dalam usia 46 tahun, di Helfta dekat Saxony, Jerman. Dikanonisasi oleh Paus Innosensius XI pada tahun 1677 dan diberi gelar Agung oleh Paus Benediktus XIV. 

Pestanya dirayakan setiap tanggal 16 November, Santa Gertrudis Agung sering digambarkan sebagai seorang biarawati yang sedang membaca sebuah buku besar dan di dadanya tergambar bayi Yesus memegang hatinya yang bercahaya.

7. Santa Anna Schaffer

Santa Anna Schaffer lahir di Mindelstettan, Bavaria, Jerman pada tanggal 18 Februari 1882, anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang tukang kayu sederhana. 

Pada usia 14 tahun, setelah ayahnya meninggal, Anna putus sekolah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menopang ekonomi keluarga. Kerinduannya untuk menjadi biarawati untuk sementara ia kesampingkan karena kebutuhan keluarga.

Pada tahun 1898, Anna mendapatkan penglihatan tentang Kristus, dimana ia diberitahu bahwa ia ditakdirkan untuk menanggung penderitaan yang panjang dan menyakitkan selama hidupnya. Sejak usia 16 tahun Anna memiliki hubungan yang sangat intim dengan Bunda Allah, yang memberinya kekuatan untuk bertahan.

Pada tanggal 4 Februari 1901, Anna mengalami kecelakaan kerja, saat sedang menangani cucian. Anna terpeleset dan jatuh ke dalam ketel yang mendidih, ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang sangat parah. Berbagai operasi dilakukan untuk mengatasi luka bakar yang menyakitkan, bahkan pencangkokan kulit, namun kakinya tidak kunjung sembuh, Anna dipulangkan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Anna tidak bisa bergerak sama sekali, untuk membalut luka-lukanya pun terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit awal sejak kecelakaan tidak pernah menghilang, lubang-lubang terbuka pada kakinya mulai membusuk secara permanen. Anna menderita sampai akhir hayatnya, berbaring di atas tempat tidur dan harus dirawat oleh ibunya.

Di tengah penderitaanya, Anna sangat sabar dan ceria. Ia memiliki devosi mendalam kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan Bunda Maria. Sikapnya yang ceria membuat Anna sangat terkenal di kotanya. Orang-orang sering datang mengunjunginya untuk mendengarkan kata-kata imannya yang memberi penghiburan.

Ia menghabiskan waktu untuk berdoa, memberi kekuatan kepada orang yang datang mengunjunginya, merajut pakaian untuk teman-temannya dan menulis banyak surat kepada siapa saja yang membutuhkan penguatan.

Sejak tahun 1910, Anna semakin sering mengalami fenomena mistis berupa stigmata dan penglihatan, yang di kemudian hari diketahui dari tulisan-tulisannya. Bunda Maria selalu datang mengunjunginya sampai pada akhir hayatnya.

Santa Anna Schaffer wafat pada tanggal 5 Oktober 1925, setelah menerima komuni Kudus terakhirnya. Ia dikanonisasi pada tanggal 21 Oktober 2012 oleh Paus Benediktus XVI. Pesta perayaan Santa Anna Schaffer dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.   

8. Beata Anna Maria Taigi

Anna Maria Taigi bukanlah biarawati melainkan seorang ibu rumah tangga, istri dari Domenico Taigi, seorang kepala pelayan di rumah bangsawan Chigi, yang berwatak keras. Anna Maria lahir di Sienna, Italia tanggal 28 Mei 1769. 

Ayahnya, Luigi Gianetti, adalah seorang apoteker di kota kecil Sienna, namun pada tahun 1774 usahanya bangkrut. Luigi kemudian membawa keluarganya pindah ke Roma, dimana ia bekerja sebagai pembantu. Disana Anna Maria bersekolah di sebuah sekolah yang dikelolah oleh Suster-suster Filipini.

Pada usia 21 tahun, Anna menikah dan dikaruniai tujuh orang anak. Ia merawat rumah tangganya dengan sangat sabar dan setia. Dimana ia harus merawat 15 anggota keluarga sekaligus, ibunya, suaminya, 7 orang anak dan 6 cucu dari anaknya Shopia, yang cepat menjadi janda dan kembali tinggal bersamanya.

Anna Maria menjadi malaikat pelindung dalam rumah tangganya, seluruh pekerjaan rumah ia bereskan dengan sabar dan senang hati. Pada hari beatifikasi, Domenico menceritakan betapa ia sering memperlakukan Anna dengan buruk, namun ia sangat mengasihi istrinya itu karena merasa bahwa keluarganya seperti Firdaus, dan hatinya sungguh berbahagia.

Anna Maria mengalami rangkaian ekstase sepanjang hidupnya dan penglihatan. Ia memperoleh karunia dari Tuhan kemampuan membaca batin dan masa depan orang serta karunia menyembuhkan. 

Dalam kesibukannya merawat keluarganya dengan kasih sayang, Anna menjadi anggota Tritunggal Sekuler di gereja San Carlo Fontane. Ia mengunjungi rumah sakit dan menyembuhkan pasien tanpa bayaran, semua itu ia lakukan dengan sukacita. 

Ia menjalin persahabatan dengan beberapa tokoh penting dan menjadi penasihat spiritual yang baik bagi mereka, termasuk Kardinal Carlo Maria Pedicini.

Santa Anna Maria Taigi menjadi orang Kudus Allah bukan hanya karena ekstase dan penglihatan yang dialaminya, tapi juga karena kebaikan hati, kerendahan hati, kesederhanaan serta kerelaannya untuk menderita bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Santa Anna Maria Taigi wafat pada tanggal 9 Juni 1837, dalam usia 68 tahun di Roma, Italia. Proses beatifikasi Anna Maria Taigi dibuka pada tahun 1863 oleh Paus Pius IX. Dan dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XV pada tanggal 30 Mei 1920.

 

Sahabat Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran penting dari cara hidup para Kudus Allah ini. Cara mereka menanggapi

saya sungguh berbahagia memiliki waktu dan kesempatan untuk mengenal dan menceritakan kisah para santo dan santa ini, saya berjanji akan menceritakan kisah mereka dengan lebih detail pada kesempatan lain.

Rabu, 15 November 2023

Santo Padre Pio dari Pietrelcina

Santo Padre Pio

Sahabat Kristus, di Blog ini, saya berbagi kisah tentang Orang Kudus Allah dalam Gereja Katolik yang disebut sebagai Santo dan Santa. Para Kudus ini adalah mereka yang sudah meninggal, dipercaya sudah berada di surga, dan telah terbukti menjalani cara hidup dengan kebajikan yang heroik atau suci.

Doa-doa yang disampaikan melalui perantaraan para Orang Kudus ini, telah diakui mendatangkan banyak mujizat dan penyembuhan. Dengan mengenal mereka, kita juga didorong untuk mengikuti cara hidup yang kudus, penuh ketaatan dan pengorbanan bagi Allah Bapa.

Detail mengenai bagaimana mereka semua diproses menjadi orang-orang pilihan Allah melalui Gereja Katolik sebenarnya sudah sering saya jelaskan, tapi mungkin saya akan mengambil sebuah judul tersendiri mengenai proses itu.

Saat ini kita akan membaca kisah tentang seorang Mistikus Besar yang menerima karunia Stigmata (stigmata; (yunani) luka-luka penderitaan Kristus yang muncul secara tiba-tiba pada seseorang), hampir sepanjang usia hidupnya. Hal ini mendatangkan banyak minat dan kontroversi di sekelilingnya, beliau adalah Santo Pius atau Santo Padre Pio.

Kita telah menonton dan membaca banyak kisah fiksi tentang Stigmata, terakhir saya menonton film Korea yang diperankan oleh Park Seo Jin tentang seorang atlit yang menerima karunia stigmata pada tangan kirinya. Namun kisah ini, bukan kisah fiksi, melainkan sungguh nyata terjadi.

Masa Muda

Santo Pio lahir di Pietrelcina, Italia Selatan, tanggal 25 Mei 1887 dengan nama Francesco Forgione. Ia adalah anak kelima dari delapan orang bersaudara, dari sebuah keluarga petani pasangan Grazio Forgione dan maria Giusseppa de Nunzio, atau biasa disebut mama Pepa.

Bagi ibunya, Francesco adalah anak yang sangat berbeda dari anak lain sejak kecil, ia sangat religius. Pada usia 9 tahun, Francesco pernah mencambuki dirinya sendiri agar serupa dengan Yesus Kristus. Francesco kecil sering melihat penampakan Tuhan Yesus, Bunda Maria bahkan setan.

Pada usia 16 tahun, di tahun 1903, Francesco meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan biara Kapusin. Ia menjadi Novis di biara itu dan diberikan nama Pius atau Pio. Aturan ketat biara membuat frater Pio sering sakit. Ia kemudian ditahbiskan lebih cepat karena pertimbangan kondisi kesehatannya.

Karunia Stigmata

Padre Pio mendapatkan stigmata pertama pada tanggal 7 September 1911, namun karena takut ia menemui pastor Paroki Pietrelcina, Monsigneur Salvatore Panullo untuk mendoakannya. Ajaibnya, semua luka-luka itu sembuh.

Pada hari Jumat pagi, tanggal 20 September 1918, saat Padre Pio sedang berdoa sendirian di depan salib Kristus dalam sebuah kapel tua, Padre Pio tiba-tiba melihat penampakan sosok-sosok seperti malaikat yang kemudian memberinya luka-luka stigmata yang tinggal tetap ditubuhnya selama setengah abad, segar dan berdarah.

Luka-luka itu terdiri dari, luka pada telapak tangan kanan dan kirinya, luka pada kedua kakinya dan lambungnya. Semua luka itu terbuka, segar dan mengeluarkan banyak darah. Hal itu membuat Padre Pio tidak bisa merahasiakannya, ceceran darah yang tumpah ke lantai membuat kepala biara mengetahuinya.

Seorang dokter yang dipanggil untuk mengobatinya mengatakan bahwa itu bukan luka-luka biasa. Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakannya, namun berita cepat sekali tersebar.

Setiap pagi, sejak pukul empat dinihari, ratusan atau ribuan orang datang ke biara terpencil itu menunggunya. Ada yang sekedar ingin tahu atau memang orang saleh yang datang untuk berdoa. Padre Pio tidur tidak lebih dari 2 jam sehari dan tidak pernah mengambil cuti sepanjang 50 tahun imamatnya.

Padre Pio terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk  mempersiapkan misa Kudus, selesai misa ia akan melewatkan seluruh harinya dalam doa dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia karismatik termasuk kemampuan membaca batin dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengalir dari luka-lukanya mengeluarkan bau yang harum mewangi seperti harum bunga-bungaan.

Penderitaan

Padre Pio mempersembahkan seluruh hidupnya, seutuhnya, untuk tugas imamatnya. Ia mendirikan kelompok-kelompok doa dan rumah sakit moderen yang ia sebut "Wisma untuk Meringankan Penderitaan".

Selama tahun-tahun itu, selain menanggung penderitaan fisik akibat luka-luka stigmata ditubuhnya yang terus menerus mengeluarkan darah segar, Padre Pio juga menderita karena perbuatan sesama manusia.

Pada tahun 1923-1931, Pater Agustinus Gemmeli, seorang ahli dari Fransiskan sekaligus pendiri Universitas Katolik "The Sacred Heart" menyerang Padre Pio. Ia menulis surat kepada vatikan dan menyebutkan bahwa apa yang dialami Padre Pio diakibatkan oleh kehidupan spiritual yang rendah. 

Beberapa Pastor di San Giovanni Rotondo, meyakinkan uskup Manfredonia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa Padre Pio dikuasai oleh iblis dan menipu semua saudara sekomunitasnya.

Menanggapi hal ini, pada tanggal 31 Mei 1923, Vatikan mengumumkan bahwa kejadian-kejadian yang berhubungan dengan Padre Pio, bukan berasal dari kekuatan spiritual. Vatikan memerintahkan untuk menghentikan semua bentuk komunikasi yang dilakukan kepada Padre Pio. 

Mei dan Juni 1923, vatikan mengeluarkan perintah yang sangat keras, melarang Padre Pio merayakan misa, memberi kotbah dan pengakuan dosa. Semua ini terjadi sampai tahun 1931.

Mujizat

Padre Pio adalah seorang imam yang rendah hati, di tengah semua pengalaman itu ia menulis surat kepada pembimbing rohaninya bahwa ia merasa sungguh tidak layak menerima karunia sebesar itu. 

Dalam proses kanonisasi, terdapat daftar kesaksian tentang mujizat yang terjadi atas namanya. Seorang wanita yang menjadi anak rohani Padre Pio bernama Nyonya Cleonice menceritakan; pada masa perang dunia kedua, keponakannya menjadi tawanan perang.

Selama setahun seluruh keluarga tidak mendengar kabarnya sama sekali sehingga mereka beranggapan ia telah tewas. Ibunya datang kepada Padre Pio, dengan berlutut dan menangis meminta bantuan imam itu untuk mengetahui apakah anaknya masih hidup.

Padre Pio merasa iba kemudian mengatakan pada ibunya, berdirilah dan pergilah dalam damai. Nyonya Cleonice kemudian mendatangi Padre Pio dan memintanya melakukan sebuah mujizat. 

Dengan penuh percaya diri ia mengatakan kepada Padre Pio, bahwa ia akan menulis sebuah surat kepada ponakannya itu, Giovannino, namun ia hanya akan menulis namanya saja pada sampul surat, sebab ia tidak tahu dimana alamat ponakannya. Ia mengatakan, ia mempercayakan kepada Padre Pio dan malaikat pelindungnya untuk membawa surat itu kepada Giovannino dimanapun ia berada.

Sore hari sebelum tidur, ia menulis surat itu dan meletakkan di meja samping tempat tidurnya. Keesokan hari, ia terkejut, takut dan heran karena melihat surat itu tidak ada lagi disana. Ia pergi menemui Padre Pio dan berterima kasih, imam yang rendah hati itu mengatakan "Berterima kasihlah kepada Santa Perawan".

Lima belas hari setelah surat itu menghilang, keponakannya Givannino mengirimkan balasan surat. Maka bergembiralah hati semua orang dalam keluarga itu. Mereka sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan juga Padre Pio.

Menjadi Seorang Santo

Santo Padre Pio adalah seorang Imam Biarawan Kapusin dari San Giovanni Rotondo, Italia yang sangat istimewah dan rendah hati. Ia adalah tokoh yang sangat terkenal di abad ke-20, khususnya di Italia.

Meskipun berbagai rintangan dan penderitaan menimpah, ia tetap sabar dan berserah kepada kehendak Allah Bapa. Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968, di usia 81 tahun. Kemudian dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma Italia, pada tanggal 2 Mei 1999.

Dan dikanonisasi oleh Paus yang sama pada 16 Juni 2002, hanya tiga tahun setelah beatifikasinya. Jasadnya yang sampai sekarang masih utuh, disemayamkan di San Giovanni Rotondo, Italia, tempat ia mengabdi sampai akhir hayatnya.

Santo Padre Pio menjadi pelindung sukarelawan pertahanan sipil dan para remaja. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

Nah, sahabat Kristus, saya pribadi mendengar banyak hal Santo Padre Pio sejak saya masih kecil. Banyak foto-foto beliau juga beredar di media massa. Saya bersyukur Tuhan selalu punya cara untuk memuliakan umatnya yang setia dan taat pada rencana-Nya.

Terima kasih sudah membaca sampai selesai, Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan.... 

Rabu, 13 September 2023

Santa Maria Dominica Mazzarello

Santa Pendiri Konggregasi Suster Salesian (FMA)

Ada lebih dari 8.000 'Orang Kudus' dan 'Hamba Allah' dalam Gereja Katolik Roma. Mereka adalah orang-orang beriman pilihan Allah, yang hidupnya bermatiraga dan berdevosi sepenuhnya kepada Tuhan dan Bundanya, Maria. Sikap hidup merekapun terbukti 'Suci' dan penuh ketaatan pada kehendak Allah. 

Pada akhirnya, semua orang beriman yang sudah meninggal dan dipercaya telah masuk surga, diyakini oleh iman Katolik sebagai Orang Kudus Allah. Jadi kita tidak bisa memastikan jumlah mereka. Bagaimana proses sampai mereka mendapatkan gelar ini sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya, mungkin nanti akan saya jelaskan dalam topik tersendiri. 

Dari sekian banyak Orang Kudus Katolik, khususnya para Kudus Allah yang kisahnya sudah saya ceritakan dalam blog dan vlog saya, beberapa dari mereka adalah pendiri Konggregasi, Diantaranya ada Santa Clara (Ordo Santa Claris, OSCI), Santa Angela Merici (Ordo Santa Ursula, OSU), Santo Vincentius de Paul (Ordo Misi atau Lazarians dan Ordo Suster-suster Puteri Kasih bersama Santa Louise de Marillac), Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mass (Ordo Charmelite Sisters of Charity), Santo Peter Julian Eymard (Ordo Sakramen Mahakudus), Santo Yohanes Don Bosco (Ordo Salesian) dan Santo Luigi Orione (Ordo Penyelenggaraan Ilahi dan Susteran Misionaris). Orang Kudus yang akan saya kisahkan kali ini juga adalah seorang pendiri konggregasi Suster Salesian.

Masa Muda

Maria Dominica Mazzarelo lahir di Monesse, tempat ini sekarang menjadi provinsi Alessandria, Italia Utara. Pada tanggal 9 Mei 1837. Dia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara, dari sebuah keluarga petani anggur yang sangat bersahaja. Mary Mazzarello adalah seorang pekerja keras. 

Sampai masa remajanya, ia bekerja giat membantu keluarganya di ladang anggur dan selalu menjadi penolong bagi warga masyarakat desa yang membutuhkannya. Bahkan di saat teman-teman sebayanya memikirkan cinta dan pernikahan, Mary lebih memilih bekerja keras tanpa menyombongkan diri karena tidak berpikiran sesederhana teman-temannya. 

Mary Mazzarello merasa bahwa ia punya panggilan lain yang sedang ditunggunya dengan rindu dalam kehidupan rohaninya, sejak menerima Komuni Pertama. Dengan sabar ia menunggu dalam doa dan meditasi, berharap akan tiba waktunya Pastor Pestarino, Pastor Mornese, pembimbing rohaninya, menyampaikan kehendak Tuhan di waktu yang tepat. 

Ia telah berjanji pada Tuhan di hari Komuni Pertamanya, akan melayani sepenuh hati dengan pekerjaan dan hidup dalam kekudusan. Ia menghindari kemarahan, kesombongan dan semua hasrat duniawi dalam dirinya.

Kota Mornese adalah kota kecil dengan alam terbuka yang suram, dimana penduduknya sering terserang penyakit menular, rata-rata para wanita di kampungnya tidak mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak bisa membaca dan menulis. Apalagi memiliki pengetahuan tentang agama. Tapi berkat Pastur Pestarino, Mary bisa membaca dan tahu tentang katekismus. 

Malaikat Belas Kasih

Di suatu masa, desa kecilnya diserang penyakit Thipus. Dengan murah hati Mary mereka yang terkena sakit. Dia menginap di rumah mereka, menjaga anak-anak mereka yang masih kecil-kecil dan merawat langsung mereka yang menderita sakit. Setiap hari Mary membersihkan rumah, memandikan anak-anak mereka dan memasak makanan. Di waktu malam ia menidurkan anak-anak dengan bercerita tentang cinta kasih Tuhan.  

Ia juga merawat langsung mereka yang sakit, walaupun ia tahu pasti akan terjangkit penyakit itu. Semua ia lakukan dengan sukacita. Cara ia mengurus mereka sungguh memberikan ketenangan dan mempercepat kesembuhan. Mary merawat dengan penuh kelembutan dan belas kasih yang besar, sampai mereka sembuh dengan cepat. 

Pada akhirnya, setelah semua orang yang dirawatnya sembuh, Mary kembali ke rumah dengan tubuh yang hancur. Ia menanggung sakit Thipus dan kehilangan semua kekuatannya. Selama berhari-hari ia berjuang dengan sakitnya di rumah. Orang tuanya sangat khawatir. Pastor Pestarino setiap hari datang memberikan kekuatan melalui doa dan ekaristi. 

Ketika Mary sembuh, seluruh penduduk desa dengan antusias datang ke rumahnya untuk turut merasakan rahmat itu. Mereka merasa bahwa Mary adalah kekuatan baru bagi mereka dalam menghadapi wabah penyakit dan penderitaan.

Visi

Dalam sebuah penglihatan, di suatu siang bulan Oktober yang hangat, ketika ia sedang berjalan-jalan dalam masa pemulihan penyakitnya, sambil tetap berdoa dalam hati di jalanan desa yang diapit oleh hutan-hutan kecil, Mary tiba-tiba mengalami penglihatan. Ia melihat sebuah bangunan di tengah lapangan, serta para biarawati yang sedang bermain dengan gadis-gadis desanya. Ia sangat terkejut, apakah itu sebuah Visi? 

Selama masa bimbingan rohaninya dengan Pastur Pestarino, seorang pastur sederhana yang tidak begitu percaya pada penglihatan dan mimpi, Mary tidak pernah diajarkan hal seperti itu, rasanya itu terlalu besar bagi gadis petani sederhana sepertinya.

Sejak sembuh dari sakitnya, ia selalu mengalami penglihatan itu dan merasakan keterikatan kuat akan pendidikan dan pengajaran. Mary juga melihat anak-anak gadis desanya belajar menjahit. Ia segera belajar menjahit setelah sakitnya sembuh, agar kelak ia bisa membagikan keahliannya itu. Kemudian, 

Pastur Pestarino mengatakan kepada Mary tentang Yohanes Don Bosco, Pastur Agung Turin (https://anidela1980.blogspot.com/search/label/santo%20don%20bosco), yang akan mendirikan sekolah bagi anak-anak miskin serta sebuah kongregasi religius.

Mary menyadari, tentu saja Konggregasi Santo Yohanes Don Bosco adalah suatu hal yang luar biasa. Namun ia tidak ingin meninggalkan desanya. Ia ingin menjadi berguna dan memberikan manfaat bagi anak-anak di desanya. Ia merasa tidak ingin terikat oleh peraturan atau tatanan yang rumit. 

Sementara Pastur Pestarino terus mendesaknya untuk bergabung dengan Yohanes Don Bosco, ia meyakinkan bahwa visi dan misi Oratorium Don Bosco sama dengan penglihatan Maria selama ini. Mary membawa semua itu dalam doa Rosario, ia percaya Bunda Maria akan membantunya menemukan jawaban.

Membangun Konggregasi

Pada tahun 1870, dengan bantuan Pastur Pestarino, Mary bersama lima belas gadis desa sebayanya, membentuk sebuah kelompok kecil kaum puteri yang diberi nama Maria Immaculata. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang difasilitasi oleh Pastur Pestarino dan menerima anak-anak desa yang ingin belajar membaca, belajar agama dan belajar tentang tugas-tugas rumah tangga. 

Tuhan memberkati mereka dengan kehangatan dan makanan dari warga desa sekitar. Kelompok kecil yang hidup dalam kesederhanaan iman dan kasih Tuhan ini, memiliki banyak kesamaan visi dan misi dengan Oratorium Don Bosco di Turin. Mereka menjadi cahaya baru bagi masyarakat Desa Mornese. 

Kelompok Maria Immaculata berhasil meyakinkan semua orang, bahkan yang paling skeptis sekalipun, tentang Kasih Tuhan di tengah penderitaan dan kekurangan. Yohanes Don Bosco yang berada di Turin, melihat semua itu dalam visinya. Ia melihat dirinya berada dalam kerumunan gadis di salah satu alun-alun besar di Turin. Tapi gadis-gadis itu berwajah kurus, terlihat miskin dengan pakaian compang camping dan penampilan berantakan. Mereka menarik jubahnya dan berkata, "Datanglah pada kami. Kami membutuhkanmu."

Melalui surat-suratnya, pastur Pestarino menceritakan kepada Yohanes Don Bosco tentang kelompok kecil gadis-gadis Mornese dibawah asuhan Mary Mazzarello. Hingga pada tanggal 31July 1872, atas permintaan dan dukungan Santo Yohanes Don Bosco, terbentuklah sebuah Konggregasi Suster Salesian. Maria Mazzarello bersama lima belas gadis dari Kelompok Maria Immaculata, mengucapkan kaul sebagai biarawati pertama Konggregasi Suster-suster Figlie di Maria Ausiliatrice (FMA). 

Konggregasi ini menjadi pelengkap bagi Konggregasi Saudara-saudara Salessian. Suster Maria Mazzarello ditunjuk oleh Don Bosco sebagai pemimpin konggregasi yang pertama. Walaupun hal itu ditolak oleh suster Maria Mazzarello, karena ia merasa ia hanya seorang gadis petani yang tidak berpengetahuan, Don Bosco meyakinkannya bahwa itu hanya bersifat sementara.  

Dua tahun kemudian Suster Mazzarello diangkat secara resmi menjadi pimpinan Konggregasi melalui suara bulat, kecuali satu suara yaitu dari Suster Mazzarello sendiri. Muder Mazzarello sangat menekankan akan pentingnya memiliki pendidikan yang baik. Ia mewajibkan semua anggota konggregasi belajar membaca dan menulis. Ia menjadi ibu yang perhatian dan penuh kasih kepada anak-anak didiknya bukan hanya dalam bidang pendidikan. 

Dengan kerendahan hati yang tulus dan sifat keibuan yang luar biasa, Muder Mazzarello menjadi ibu komunitas yang sangat dicintai bukan hanya oleh saudari-saudari konggregasinya tapi juga semua orang. 

Itulah sebabnya, sampai hari ini, Maria Mazzarelo juga dikenal sebagai "Madre Mazzarello" atau "Bunda Mazzarello". Ia menjadi pimpinan konggregasi sampai pada hari kematiannya. Begitu banyak peristiwa kecil dalam hidupnya yang kemudian dijadikan oleh para suster Salesian sebagai warisan berharga dalam komunitas mereka. 

Sakit

Pada awal tahun 1881, Madre Mazzarello yang kala itu dalam kondisi sakit, mengantar para suster Salesian yang akan pergi ke tanah misi di Amerika Selatan. Namun ketika tiba di Marseilles, kesehatannya semakin memburuk. Sehingga ia kembali ke Mornese. 

Memasuki bulan April, kondisi Madre Mazzarello semakin parah, ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. Dan pada tanggal 14 Mei 1881, setelah menerima sakramen minyak suci, Mazzarello berkata: "Selamat tinggal, saya akan pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di surga."

Santa Maria Mazzarelo

Santa Maria Mazzarelo dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tanggal 20 November 1938, dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 24 Juni 1951. Jasadnya yang masih utuh disemayamkan di Basilica of our Lady Help of Christian. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Mei.

Contoh hidup Santa Maria Dominica Mazzarello adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia terus menerus mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah seorang gadis petani yang diberkati dengan belas kasih Tuhan, untuk menyatakan cinta kasih tulus yang mendalam kepada sesamanya. 

Ia menjalani hidupnya dengan doa Rosario yang tak putus-putus dan pelayanan penuh kepada para saudari Salesian dan warga masyarakat yang membutuhkannya. Sampai saat ini contoh hidupnya diwariskan turun temurun oleh Konggregasi Suster-suste Salesian.



Selasa, 08 Agustus 2023

Santa Maria Goretti, Pelindung Kemurnian dan Pengampunan

Shalom sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria…

Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa keberadaan para Santo dan Santa, yakni mereka yang menjalani hidupnya dengan kebajikan yang heroik atau suci dan telah melalui berbagai proses Kanonisasi bertahun-tahun, adalah untuk menjadi perantara kita kepada Bapa Putera dan Roh Kudus, serta Bunda Maria sebagai ibu Tuhan Yesus. Cara hidup mereka dicatat dan menjadi contoh bagi generasi berikut untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah Bapa.

Ada lebih dari 1000 Para Kudus yang tercatat dalam Gereja Katolik. Namun ingatlah bahwa sekuat apapun cara hidup mereka mempengaruhi kita, tetaplah tujuan utama adalah tiga pribadi dalam Tritunggal Mahakudus beserta sang Bunda. Jangan membiarkan kecintaan kita pada orang kudus merubah Devosi kita yang sesungguhnya ya… kerinduan terbesar saya dengan membuat Vlog dan Channel Youtube tentang para Kudus ini adalah agar semakin banyak orang percaya akan betapa Besar dan Mulia cara Allah bekerja dalam diri orang Beriman yang Taat dan hidup sesuai dengan Kehendak-Nya.

Masa Kecil. Kali ini saya akan menceritakan kisah tentang Santa Maria Goreti. Terlahir dengan nama Maria Theresia Goreti atau Marrieta, di Corinaldo Provinsi Ancona, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Ayahnya Bernama Luigi Goretti dan ibunya Assunta Carlini. Marietta lahir dalam sebuah keluarga petani, sebagai anak ke-3 dari 7 bersaudara.

Ketika usia Marietta menginjak 6 tahun, keluarganya jatuh miskin dan harus kehilangan pertanian mereka. Keluarga Luigi Goretti kemudian pindah ke Desa Nettuno, sebuah Desa berawa, lalu menetap disana dan bekerja bersama para petani lainnya. Di desa itu, keluarga Marietta tinggal di sebuah rumah pertanian dimana mereka tinggal berbagi dengan keluarga lain, yakni keluarga Serenelli. Dalam kehidupan sederhana yang keras dan berat, keluarga Marietta adalah keluarga yang periang, karena mereka adalah orang-orang beriman yang sungguh mempercayakan seluruh hidup mereka kepada Tuhan. Itulah yang membuat hubungan setiap anggota keluarga itu sangat erat satu sama lain.

Ayah Meninggal. Ketika Marietta berusia 9 tahun, ayahnya meninggal karena sakit Malaria. Sepeninggal sang ayah, hidup mereka semakin sulit. Untuk membantu keluarganya, setiap hari Marietta mengerjakan berbagai tugas rumah, seperti memasak, mencuci, menjahit serta menjaga adiknya, Theressa yang masih kecil. Sementara ibu dan saudaranya yang lain bekerja di ladang, Marietta dengan sabar dan telaten bekerja di rumah dan menjaga adiknya.

Gadis yang Saleh. Di Tengah berbagai kesulitan hidup, Marietta tumbuh menjadi gadis yang saleh, beriman dan tekun berdoa. Meskipun hidup semakin sulit, semangat iman keluarga Marietta tidak pernah luntur. Marietta tetap bersemangat dan penuh kerinduan menyambut Komuni Pertamanya. Walau setiap hari, ia harus berjalan kaki bermil-mil jauhnya ke kota untuk mengikuti Pelajaran agama. Ia menjalani hidupnya dengan doa dan kerja keras.

Dalam hatinya, Marietta berjanji untuk menjaga Kemurniannya, ia tidak akan pernah menghina dan menodai Yesus yang dicintainya dengan berbuat dosa. Ia berkata pada ibunya, “Lebih baik mati seribu kali dari pada berbuat dosa satu kali.”

Ujian Marietta. Ujian bagi kesucian hatinya, datang pada suatu siang, tanggal 5 Juli 1902, pada usianya yang ke-11 tahun. Saat itu, Marietta sedang menjaga adiknya yang sedang sakit, ibu dan saudara-saudaranya sedang berada di ladang. Putera keluarga Serenelli, yakni Alessandro, yang sudah sejak lama menaruh hati pada Marietta, berusaha memaksakan niat jahatnya pada gadis itu. Berkali-kali Marietta telah menolak dan mendorongnya, namun Alessandro tidak menyerah dan terus memaksa.

Melihat betapa gigihnya Marietta mempertahankan diri, Alessandro mengambil pisau dan mengancam. Namun ancaman itu tidak mempengaruhi Marietta. Dalam hatinya ia berdoa meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Karena kalut, Alessandro menusukkan pisau itu sebanyak 14 kali ke tubuh Marietta. Ketika melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Alessandro melarikan diri. Keluarga yang datang kemudian menemukan Marietta dalam kondisi buruk, segera membawanya ke rumah sakit. Karena luka-lukanya sangat parah, para dokter menyerah mengoperasinya.

Pengampunan. Keesokan hari, tanggal 6 Juli 1902, setelah menerima Sakramen Komuni dan mendapatkan pengampunan dosa, Maria Theresia Goretti meninggal dunia. Dalam Sakratul maut, ia memberikan pengampunannya kepada Alessandro dengan berkata, “aku ingin agar kelak ia berada di dekatku di surga.” Seorang Jurnalis Bernama Noel Crusz, mencatat semua kejadian itu secara rinci. Dalam tulisannya ia mengatakan: “Marietta ditikam menggunakan mata pisau sepanjang 10 inchi sebanyak 14 kali. Tikaman itu menembus tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Para ahli bedah di Orsenigo terkejut karena Marietta masih hidup ketika tiba di rumah sakit.”

Dalam kondisi sekarat, Marietta menceritakan tentang kekerasan dan upaya pelecehan yang ternyata sudah beberapa kali ia alami. Ia tidak pernah berani menceritakan pada keluarganya, karena Alessandro mengancamnya. Alessandro kemudian ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1985, seorang sejarawan Italia Bernama Giordano Bruno Guerri melaporkan, bahwa ia bertemu Alessandro di penjara. Pemuda itu menceritakan padanya tentang serangan yang dilakukannya pada Marietta. Alessandro mengakui telah beberapa kali berusaha melecehkan dan mengancam membunuh Marietta. Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah menuntaskan niat jahatnya pada Marietta, gadis itu meninggal sebagai seorang perawan.

Karena dianggap belum dewasa serta berasal dari keluarga miskin yang melalaikannya, Alessandro yang semula dihukum seumur hidup diringankan menjadi 3 tahun. Beberapa anggota keluarganya menderita gangguan jiwa dan ayahnya seorang pecandu alkohol. Setelah dibebaskan, Alessandro menemui Assunta, ibu Marietta dan mendapatkan pengampunan. Ia bertobat dari semua dosa-dosanya dan kemudian menjadi seorang bruder. Setiap hari ia berdoa memohon ampun atas perbuatannya kepada Marietta, yang ia sebut sebagai “Santa kecil-ku..”

Menjadi ORANG KUDUS. Santa Maria Goretti kemudian dibeatifikasi pada tanggal 27 April 1947 oleh Paus Pius XII, perayaan itu dihadiri ibu Assunta di Basilika Santo Petrus. Melihat kehadirannya, Paus mendekati ibu Assunta dan mengatakan: “Ibu yang berbahagia, ibu dari seorang yang terberkati.”

Tiga tahun setelah Dibeatifikasi, pada tanggal 24 Juni 1950, Paus Pius XII mengkanonisasi Maria Goretti sebagai Orang Kudus. Upacara itu dihadiri oleh ibu dan semua saudaranya yang masih hidup serta Alessandro. Santa Maria Goretti adalah seorang Martir perawan Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Jenasahnya disemayamkan di ruang bawah tanah Basilika Nostra Signora dele Gracia di Nettuno.

Pesta Peringatan Santa Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli. Dia menjadi Santa pelindung Kemurnian, pelindung Korban Perkosaan, pelindung anak-anak Perempuan, Kaum Muda, pelindung para Gadis Remaja, pelindung Kemiskinan dan Pengampunan. Santa Maria Goretti sering digambarkan sebagai seorang gadis muda berambut gelombang merah, memakai baju petani berwarna putih dan memegang bunga lili. Warna putih dan bunga lili sering dijadikan sebagai lambing kemurnian dan keperawanan.

Sebagai orang muda kesukaan Allah, Santa Maria Goretti berhasil menahan berbagai serangan terhadap kemurniannya dengan bantuan Rahmat Allah. Ia mengajarkan pada kita untuk taat pada perintahnya dan mengikuti apa yang sangat Allah kehendaki, yakni Mengampuni. Karena Mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita sesungguhnya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk membebaskan diri kita sendiri dari rasa benci, dendam, kemarahan dan kehancuran. Dan kemudian akan membawa kita kepada sukacita, kedamaian dan berkat yang berlimpah dari Allah Bapa. Kita diminta Tuhan Yesus sendiri untuk mengampuni 70 kali 7 kali (Matius 8:21-22), yang artinya tidak terhingga. Dengan Mengampuni kitapun akan diampuni.

Matius 6:14-15 berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Bayangkan jika Bapa di surga tidak mengampuni dosa kita, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat dan tetap tinggal dalam diri kita? Yesus mengajarkan kita untuk melihat dari cara pandang Allah melampaui ego dan kepentingan diri kita. Lukas 6:27-38 mengatakan: “Hendaklah kitapun bersikap murah hati, seperti Bapa kita di surga adalah murah hati.”

Tentang mengampuni saya punya pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya dan keluarga alami. Karena keegoisan dan ketidaksukaan beberapa orang, suami saya diturunkan dari jabatan dan adik-adik saya harus kehilangan pekerjaan. Sebagai bawahan atau pegawai biasa, tentu saja hal seperti ini wajar, kapan saja kedudukan ataupun jabatan bisa diambil dari kita. Tapi sebagai teman atau orang yang dipercaya hal ini sungguh menyakitkan, di saat mereka sebenarnya punya kesempatan untuk membantu, malah tidak perduli sama sekali dan lebih memilih untuk menyelamatkan diri dari pada harus berkorban dan kehilangan kesempatan mereka. Tapi saya dan keluarga lebih memilih untuk mengampuni serta melihat semua kesulitan ini sebagai proses untuk diangkat Tuhan lebih tinggi lagi, tentu saja tidak mudah tapi harus melalui berbagai drama dan air mata, hehehe…. Tapi kami berhasil melaluinya, tidak membenci dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

Biarlah DIA yang memutuskan apa yang terbaik buat kami dan mereka. Tuhan Yesus berkata, Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun mengasihi juga orang yang mengasihi mereka, (Lukas 6:32). Walaupun sulit, saya yakin kita semua mampu melakukannya. Butuh kemurnian dan keberanian seperti yang dimiliki oleh Santa Maria Goretti, seorang gadis kecil tapi memiliki hati yang sangat besar. Kata seorang teman, memelihara kemarahan, kebencian dan dendam sama seperti kita menerima menerima untuk minum racun yang diberikan oleh orang lain. Ketika kita menolak meminumnya, artinya kita terbebas dari semua itu. Karena pada dasarnya orang yang berbuat salah kepada kita sendiri sudah tersiksa dengan rasa bersalah dalam dirinya, biarlah dia menanggung semua itu sendiri tanpa kitapun harus terlibat di dalamnya.

Seperti Santa Maria Goretti, kitapun pasti tidak ingin kesucian dan kemurnian cinta pada Allah ternoda oleh karena tidak bisa mengampuni orang yang bersalah pada kita. “Kita harus menolak semua kompromi terhadap kejahatan,” pesan Santa Maria Goretti. sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, trima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga menjadi berkat untuk sahabat semua… Shalom, Tuhan memberkati….

Kamis, 04 Februari 2021

SANTA KATARINA LABOURE (16)

 

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria… 

Ini adalah kisah ke enam belas, dari para Kudus Allah atau Santo dan Santa Katolik yang saya kisahkan dalam Blog saya. Mereka adalah umat beriman Katolik yang sudah meninggal, diyakini telah masuk surga dan telah melalui proses Penyelidikan atau Kanonisasi oleh Vatikan untuk disebut sebagai umat pilihan Allah, Orang Kudus.

Dimana, para Kudus yang saya ceritakan ini adalah mereka yang setelah bertahun-tahun, bahkan ratusan tahun meninggal dunia, ketika proses Kanonisasi dan kubur mereka dibongkar, jasad para Kudus ini masih utuh, bahkan sampai dengan saat ini. 

Untuk dipahami, Jasad yang masih utuh disini maksudnya adalah, didapati tubuh fisiknya masih baik dan utuh. Karena sewajarnya orang yang telah meninggal bertahun-tahun lamanya, tubuh fisiknya akan hancur. 

Sesuai tradisi Katolik, awalnya setelah meninggal para Kudus ini dimakamkan sebagaimana biasanya. Ketika pembongkaran makam oleh para penyelidik dan jenasah didapati  masih utuh, inilah mujizat yang sudah selayaknya dinyatakan.

Sehingga mereka telah mendapatkan anugerah Allah, menjadi Orang Kudus pilihan-Nya, tubuh fisik mereka akan dirawat dengan proses yang lebih baik, kemudian dipindahkan ke peti kaca agar bisa menjadi bukti Kemuliaan Allah bagi umat beriman yang lain. 

Itulah kenapa, kebanyakan dari para Kudus Allah yang tubuh fisiknya masih utuh, disemayamkan di tempat yang bisa terlihat atau dijadikan tempat berziarah oleh umat beriman Katolik. 

Sebagai orang percaya, melalui ini, kita semakin diyakinkan akan kebesaran dan kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Bukan berarti tanpa semua itu kita menjadi tidak percaya, tapi biarlah itu menjadi cara Tuhan menyatakan kebesaran dan kemuliaan-Nya yang kekal. 

Dalam Mazmur 16:10 dikatakan : sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

Santa Katarina Laboure

Santa Katarina Laboure, dilahirkan dengan nama Zoe Laboure. Ia lahir di desa Fainles Mautiers, Prancis pada tanggal 2 Mei 1806. Zoe adalah anak dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Pierre Laboure, seorang petani yang sangat bersahaja dan saleh. Ibunya, Louise Madeleine Gontard, juga adalah seorang katolik yang sangat taat.

Louise Madeleine meninggal ketika Zoe masih berusia sembilan tahun. Dikisahkan setelah pemakaman ibunya, Zoe mengambil patung Santa Perawan Maria kemudian menciumnya dan berbisik; "Sekarang engkaulah ibuku."  

Sepeninggal sang ibu, Zoe bekerja sebagai pelayan dan tinggal dengan bibinya  di Saint-Rémy. Karena tertarik dengan kehidupan religius; Zoe kemudian memutuskan untuk  masuk biara Suster-suster “Puteri Kasih”  yang didirikan oleh Santo Vincentius de Paul

Setelah mengucapkan Kaul, Zoe diberi nama yang baru, yakni “Katarina”. Suster Katarina adalah seorang biarawati sederhana, saleh, rajin serta penuh pengabdian pada konggregasinya. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah belajar membaca dan menulis.

Beberapa hari setelah menjadi postulan di biara Rue de Bac, Paris, Bunda Maria menampakkan diri kepada Katarina.  Pada tengah malam tanggal 18/19 Juli 1830, suster Katarina terjaga dari tidurnya karena sebuah suara ajaib yang memanggil namanya, sebanyak tiga kali.  

Ia terbangun dan melihat di hadapannya, seorang anak kecil berusia kira-kira 4 atau 5 tahun. Anak kecil ini mengajaknya berjalan ke kapela biara.  


Anak kecil itu mengatakan bahwa Bunda Maria menunggunya di Kapela. Dengan ragu-ragu dan takut, Suster Katarina mengikutinya itu ke kapel. Seketika suster Katarina melihat bahwa semua pintu kapel terbuka dengan sendirinya, lilin-lilin dan lampu-lampu di dalam kapel itu menyala dengan ajaib tanpa ada yang menyalakannya.

Lalu anak kecil itu menunjuk Bunda Maria yang datang dan berlutut menyembah Sakramen Mahakudus. Suster Katarina segera mendekatinya dan meletakkan tangannya di atas pangkuan Bunda Maria. Lebih dari dua jam lamanya Bunda Maria berbicara dengan Katarina perihal tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Pada tanggal 27 November 1830, jam setengah enam malam, sekali lagi Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah gambar. Bunda Maria tampak sedang berdiri di atas bola bumi dengan berkas-berkas cahaya ajaib memancar dari tangannya.

Bola bumi itu dikelilingi sebuah tulisan yang berbunyi : "Oh Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu!". Gambar itu lalu membalik dan menampakkan huruf "M"; di atasnya terdapat sebuah hati dan salib yang saling berhubungan.


Terdengar suara Bunda Maria yang memintanya membuat sebuah medali, berbentuk bulat lonjong seperti yang tergambar dalam penampakan itu. Bunda Maria berjanji bahwa semua orang yang mengenakan medali ini pada akan memperoleh karunia khusus.

Katarina, meneruskan pesan tersebut kepada pimpinan biara. Lalu dibuatlah medali tersebut dan segera disebarluaskan kepada umat. Banyak permohonan yang terkabul karena medali tersebut, misalnya penyembuhan, pertobatan dan masih banyak lagi.

Penampakan itu terus berlanjut, sampai bulan September 1881. Dengan bimbingan Pastor Aladel, Bapa Pengakuannya, juga penyelidikan dari keuskupan tentang keabsahan penampakan itu, Uskup Agung de Quelen di Paris memberikan restu dan izin bagi pembuatan medali tersebut. Medali inilah yang sekarang disebut 'Medali Wasiat'. Kata 'wasiat' me


Katarina melanjutkan cara hidupnya dalam kesederhanaan dan kerendahan hati dengan melakukan tugasnya sebagai penjaga pintu dan tukang masak di biara Enghien-Reuilly. 

Rahasia penampakan Bunda Maria yang dialaminya, tidak diketahui oleh rekan-rekannya sebiara. Delapan bulan sebelum kematiannya, barulah ia menceritakan beberapa penampakan yang dialaminya kepada Suster Dufes, Superiornya.

Suster Katarina Laboure meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 1876 dalam usia 70 tahun. Pada tahun 1933 makamnya digali kembali untuk proses beatifikasi dan tubuhnya ditemukan tetap utuh.


Saat ini tubuh Santa Katarina yang masih utuh tersebut disemayamkan dalam sebuah peti mati kaca di samping altar Kapela Santa Maria dari Medali Ajaib, Paris;  tempat di mana Bunda Maria pernah menampakkan diri kepadanya.

Santa Katarina Laboure dibeatifikasi pada tanggal 28 Mei 1933 oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tanggal 27 Juli 1947. Pesta peringatannya dirayakan setiap tanggal 28 November.

Sahabat, Tuhan membutuhkan seorang yang saleh dan sederhana, untuk mengirimkan ibu-Nya datang berkunjung. Seringkali kita memikirkan hal yang rumit, padahal yang dibutuhkan Tuhan hanyalah kesalehan, ketaatan dan kesederhanaan.


Ketika saya memulai Vlog yang berkisah tentang para Kudus ini, yang saya rasakan hanyalah kekaguman. Kagum pada cara Tuhan menyatakan Kemuliaan dan Belas Kasihnya pada manusia, dan kagum pada kekuatan iman, harapan, cinta serta pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang pilihan-Nya.

Santo Silvan. Kita mulai dari Santo Silvan. Bersama saudara-saudara dan ibunya, Silvanus mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Sekalipun pilihan itu akhirnya harus mereka bayar dengan nyawa dan dengan cara yang keji. 

Santo Silvan dan 6 orang saudaranya, beserta ibu mereka, Santa Felisitas, dibunuh dengan bengis pada masa pemerintahan Kaisar Antonius Pius di Roma Italia. Silvanus kemudian diangkat oleh Gereja menjadi Santo Pelindung Para Pelayan dan Pembantu Rumah Tangga.

Santa Klara dari Asisi. Clara yang terpesona dengan kotbah Santo Fransiskus, merasa hatinya berkobar-kobar untuk memenuhi panggilan Tuhan, menjadi biarawati. Clara berhasrat hidup miskin dalam kerendahan hati demi Tuhan Yesus. 

Seorang putri bangsawan Asisi, yang hidup dalam kemewahan, meninggalkan kehidupan lamanya dan di kemudian hari menjadi pendiri Serikat Klaris dan Santa Pelindung bagi Para Penderita Penyakit Mata.

Santa Imelda Lambertini. Seorang gadis kecil putri tunggal keluarga bangsawan dari Bologna Italia berusia 9 tahun, yang penuh kerinduan pada Ekaristi Kudus. Santa yang murni dan lembut ini memperoleh karunia istimewah, ia menerima Komuni Kudus langsung dari Tuhan Yesus sendiri.

Santa Imelda kemudian diangkat oleh Gereja Katolik menjadi Santa Pelindung anak-anak calon Penerima Komuni Pertama.

Santa Rita de Cascia. Seorang ibu bersahaja, yang dengan kesabaran dan doa-doanya berhasil mempertobatkan suaminya, seorang mafia besar serta dua putranya, sebelum mereka meninggal. 

Di kemudian hari, Santa Rita menjadi pendamai bagi banyak konflik yang terjadi di wilayahnya. Ia memperoleh anugerah Stigmata pada keningnya. Dan menjadi Santa Pelindung Perkawinan dan Kasus yang Mustahil.

Santa Angela Merici. Seorang gadis bangsawan dari Descenzano Italia. Dalam usia yang masih sangat muda, Angela harus menanggung penderitaan kehilangan kakak dan kedua orangtuanya. Angela kemudian hidup dalam pengasuhan pamannya. 

Santa Angela beralih dari kehidupan yang mewah, dan hidup dalam kemiskinan dan ketaatan pada Tuhan. Ia mendirikan Serikat Santa Ursula dan hidup dalam pengabdian penuh pada konggregasinya sampai akhir hayat.

Santo Fransiskus Xaverius. Pemuda bangsawan cerdas dari Spanyol yang meninggalkan kesenangan hidupnya, ia menjadi Abdi Allah perintis Agama Salib di Asia. 

Santo Fransiskus disebut sebagai Santo Terbesar setelah Santo Paulus. Ia diangkat oleh gereja Katolik menjadi Santo Pelindung Karya Misi. Ia mempertobatkan dan mempermandikan banyak orang di berbagai benua termasuk Asia.

Santo Pius V. Seorang anak gembala miskin dari Bosko, Italia, yang kemudian menjadi Paus, Pemimpin Gereja Katolik Dunia. Kepercayaan dan cintanya yang sangat besar kepada Salib Suci Kristus dan Bunda Maria Ratu Rosario, membuatnya mampu melewati berbagai persoalan. 

Santo Pius V, terkenal dalam kisahnya yang mendukung armada perang Kristen memenangkan perang Leponto. Ia membuka banyak seminari, mendirikan yayasan dan rumah sakit, dan dengan wewenangnya sebagai seorang Paus, ia menggunakan dana kepausan untuk membantu orang miskin.

Santo Robertus Belarminus. lahir di Tuscany Italia, seorang penulis, pengkotbah dan pengajar yang sangat berbakat. Salah seorang figure dalam gereja Katolik yang cerdas dan sangat menonjol di masa pontifikat Sri Paus Klemens VIII.

Santo Vinsensius de Paul, anak petani miskin dari Prancis yang cerdas dan berambisi mengubah hidupnya, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan hidupnya dan menjadi Bapak bagi Orang Miskin.

Santo Karolus de Sezze, seorang bruder dari Italia penjaga pintu biara yang menjadi mistikus Fransiskan dan pembuat mujizat. Ia hidup dalam kerendahan hati  dan ketaatan penuh pada regula ordo Fransiskan.

Santa Veronika Yuliani, Mistikus Italia terbesar abad ke-18. Santa Veronika memiliki kerinduan besar untuk menderita bersama Tuhan Yesus agar bisa memperoleh penebusan bagi pertobatan orang-orang berdosa dan kemudian menerima karunia Stigmata dari Tuhan Yesus berupa tanda mahkota duri di kepala dan hatinya.

Santa Maria Goreti, seorang Martir Perawan dari Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Santa Maria Goreti menjadi Santa Pelindung Kemurnian, Korban Perkosaan, anak-anak perempuan, Kaum Muda, Gadis Remaja, Kemiskinan dan Pengampunan.

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas, seorang ibu 9 anak dari Spanyol yang kemudian mendirikan Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.

Santo Petrus Yulianus Eymard, seorang anak dari keluarga miskin Prancis yang kemudian menjadi pendiri Konggerasi Sakramen Mahakudus dan Konggregasi Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus karena kecintaan dan penghormatannya yang besar pada Sakramen Mahakudus.

Santo Yohanes Maria Vianney dari Perancis Selatan, seorang pribadi yang lamban dan lemah tapi pantang menyerah dan penuh ketulusan. Ia hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Santo Yohanes Maria Vianney adalah Pelindung Surgawi bagi Para Imam dan Pastor Paroki.

Santo Yohanes Bosco, seorang anak petani miskin Italia yang bersemangat membantu orang muda menjadi pribadi yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama. Ia menjadi Santo Pelindung Kaum Muda yang memiliki banyak pengikut dari orang muda, beberapa di antaranya sedang dalam proses dan sudah diakui oleh Gereja sebagai Orang Kudus.

Belajar dari cara hidup para Kudus ini sangat perlu kita lakukan untuk mengetahui lebih dalam keinginan Tuhan dalam hidup kita, dan tetap beriman bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan kita untuk sampai kepada Allah Bapa.

Sampai bertemu di kisah yang selanjutnya, Shalom.. Tuhan Yesus Memberkati…

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...