Tampilkan postingan dengan label santa dan santo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santa dan santo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Desember 2023

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II

Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang kini telah menjadi seorang Santo dalam Gereja Katolik Roma. Beliau adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat antara tahun 1522-1523.

Selama masa kepausannya, beliau aktif memerangi Komunisme, Kapitalisme yang tidak terkendali dan Penindasan Politik. Secara signifikan, beliau juga meningkatkan hubungan antara Gereja Katolik dengan Yahudi, Islam dan Gereja Ortodoks Timur.

Saya pribadi, walaupun tidak pernah bertemu atau terlibat langsung dengan bapak gereja kita ini, merasa sangat dekat dengan beliau karena karya-karya kerasulannya terasa nyata dalam hati semua orang, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Jadi blog ini akan sangat panjang dan banyak isinya.

Masa Muda

Karol Józef Wojtyła adalah nama asli Paus Yohanes Paulus II. Beliau terpilih sebagai Paus di usia 58 tahun, dan menjabat sejak 16 Oktober 1978 hingga wafatnya pada tanggal 2 April 2005. Beliau memilih nama 'Yohanes Paulus' untuk menghormati pendahulunya, Paus Yohanes Paulus I, yang wafat 33 hari setelah Konklaf Kepausan Agustus 1978.

Karol lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia Selatan. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Karol Wojtyla yang adalah seorang Opsir Tentara Austria Hungaria dan Emilia Kaczorowska, yang merupakan seorang keturunan Lituania.

Ibu Karol meninggal pada saat ia masih berusia delapan tahun, dan kakak perempuannya Olga, meninggal ketika masih bayi, sebelum Karol lahir. Sehingga Karol dekat dengan kakak laki-lakinya, Edmund, yang lebih tua 14 tahun. Karena pekerjaannya sebagai dokter, Edmund meninggal karena demam Scarlet pada 1932, hal ini sangat mempengaruhi kehidupan Karol. 

Karol menerima Komuni pada usia 9 tahun. Masa remajanya, Karol adalah seorang atlit sepakbola. Di masa ini, kehidupan Karol terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi. Pertandingan sepakbola sering diadakan antara tim Yahudi dan Katolik. Ia sering menawarkan diri sebagai penjaga gawang bila tim Yahudi kekurangan pemain.

Pada pertengahan tahun 1938, Karol dan ayahnya pindah ke Krakow, disana ia menjadi mahasiswa di Universitas Jagiellonian. Sambil belajar Filologi dan berbagai bahasa, ia menjadi pustakawan sukarela dan ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infantri ke-36 Polandia.

Karol juga tampil di berbagai teater serta menjadi penulis naskah drama. Selama masa-masa itu, kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, ia menguasai 12 bahasa asing, 9 diantaranya dipakai terus sampai ia menjadi seorang Paus.

Tahun 1939, pendudukan Nazi di Polandia membuat universitas tempat ia belajar ditutup. Sejak tahun 1940-1944, Karol harus bekerja keras untuk menghindar dari diangkut ke Jerman sekaligus menopang hidupnya. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari pelayan restoran, pekerja tambang, hingga buruh di pabrik kimia.

Pada tahun 1941, ayah Karol meninggal dunia. Hampir 40 tahun kemudian, ia menceritakan kisahnya bahwa di usia 20 tahun ia telah kehilangan semua orang yang dikasihinya, dan ketika mereka meninggal ia tidak ada disamping orang-orang terkasih itu. 

Menjadi Pastor

Menyadari akan panggilannya untuk menjadi seorang Imam sangat besar, pada Oktober 1942, Karol menemui Uskup Agung Krakow dan menyatakan keinginannya menjadi Pastor. Ia kemudian mulai belajar di Seminari yang dijalankan secara rahasia oleh Uskup Agung Krakow, Kardinal Adam Stefan Sapieha.

Setelah perang dunia II berakhir, Seminari Agung Krakow dibuka kembali. Karol menyelesaikan studi disana dan Studi teologinya di Universitas Jagiellonian, hingga pentahbisan imamatnya pada tanggal 1 November 1946, pada hari raya Semua Orang Kudus.

Setelah ditahbiskan, Kardinal Sapieha mengirim Karol ke Roma untuk belajar di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas. Disana ia mendapat gelar Doktor Teologi Suci. Selama hari-hari liburnya, Karol menjalankan pelayanan pastoral di antara orang-orang Polandia yang bermigrasi ke Perancis, Belgia dan Belanda.

Karol adalah murid yang sangat cerdas, ia menulis banyak artikel penelitian, tulisan religius dan literatur asli selama periode Doktoratnya di Roma. Tahun 1948 ia kembali ke Polandia dan menjadi pastor pembantu di beberapa paroki di Krakow serta pastor mahasiswa di Universitas Krakow hingga 1951.

Menjadi Uskup dan Kardinal

Pastor Karol Wojtyla ditahbiskan menjadi Uskup pembantu di Krakow pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel oleh Uskup Agung Baziak. Ia menjadi Uskup termuda di Polandia pada usia 38 tahun. 

Setelah Uskup Baziak wafat, Wojtyla ditahbiskan oleh Paus Paulus VI menjadi Uskup Agung Krakow pada tanggal 13 Januari 1963. Kemudian tanggal 26 Juni 1967, Paus yang sama mengumumkan promosi Uskup Agung Karol Josef Wojtyla menjadi Kardinal.

Pada masa ini, Kardinal Wojtyla berperan penting dalam Konstitusi Gaudium et Spes, Ensiklik Humanae Vitae yang berkaitan dengan masalah pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran dalam KB. Ia juga mengambil bagian dalam persidangan Sinode para Uskup.

Menjadi Paus Yohanes Paulus II

Setelah wafatnya Paus Paulus VI, Kardinal Wojtyla menghadiri Konklaf Paus, yang memilih Albino Luciani, Kardinal Venesia, sebagai Paus Yohanes Paulus I. Namun tanpa diduga, 33 hari setelah menjabat, Paus Yohanes Paulus I wafat.

Konklaf kedua pata tahun 1978 diadakan pada tanggal 14 Oktober. Kardinal Karol Wojtyla memenangkan pemilihan sebagai kandidat kompromi pada putaran kedua. Untuk menghormati pendahulunya, ia mengambil nama Paus Yohanes Paulus II.

Ketika asap putih muncul di langit lapangan Santo Petrus untuk memberitahu umat bahwa seorang Paus telah terpilih, ia menerima pemilihannya dengan kata-kata: "Dengan ketaatan dalam iman Kristus, Tuhanku, dan dengan kepercayaan kepada Bunda Kristus dan Gereja, meskipun dalam kesulitan yang besar, Saya menerima".  

Karol Josef Wojtyla menjadi Paus ke-264 dalam kronologis daftar Paus, dan menjadi Paus non-Italia pertama sejak 455 tahun. Di usia 58 tahun dia menjadi Paus termuda sejak Paus Pius IX, yang dilantik pada usia 54 tahun. 

Ia meniadakan penobatan Kepausan Tradisional yang seperti pelantikan kerajaan dan mengambil pelantikan Gerejawi yang sederhana pada 22 Oktober 1978.  

Karya Kepausan dan Perjalanan Pastoral

Paus Yohanes Paulus II telah menyelesaikan 104 Kunjungan Pastoral di luar Italia dan 146 di dalam Italia. Sebagai Uskup Roma, dia mengunjungi 317 paroki dari 332 paroki yang ada di Roma.

Dalam pengajaran, ia membuat berbagai dokumen penting termasuk 14 ensiklik, 15 himbauan apostolik, 11 konstitusi apostolik dan 45 surat apostolik. Sri Paus juga menyelesaikan 5 buah buku: "Menyeberangi Ambang Pintu Harapan (1994); Anugerah dan Misteri: Pada Ulang Tahun ke-50 Tahbisan Imamatku (1996); sebuah buku puisi "Meditasi-meditasi Triptik Romana" (2003); "Marilah Kita Berada Pada Jalan Kita" (2004); dan "Kenang-kenangan dan Identitas" (2005).

Yohanes Paulus II dalam masa Pontifikatnya telah memimpin 147 Upacara Beatifikasi dan 51 Upacara Kanonisasi. Dia telah menyelenggarakan 9 Konsistori dengan mengangkat 232 orang Kardinal, mengadakan 6 pertemuan kolegio para kardinal serta memimpin 15 Sinode Para Uskup.

Ia menjadi satu-satunya Paus yang telah bertemu dengan banyak tokoh di dunia dan lebih dari 17.600.000 orang peziarah telah mengambil bagian dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus pada setiap hari Rabu. 

Jumlah itu bahkan belum terhitung dengan Audiensi Khusus lain, Upacara Religius serta Kunjungan-kunjungan Pastoral yang telah diadakannya di Italia dan seluruh dunia.

Paus Yohanes Paulus II terkenal memiliki hubungan dekat dengan Kepemudaan Katolik. Sebelum menjadi Paus ia sering melakukan perkemahan dan perjalanan mendaki gunung dengan para pemuda Katolik, hal ini terus dilakukannya setelah menjadi Paus.

Ia menggagas 'Hari Pemuda Dunia' pada tahun 1984 untuk mengajak pemuda-pemudi Katolik di seluruh dunia merayakan keyakinannya. Pertemuan selama seminggu ini berlangsung setiap 2 atau 3 tahun sekali dan menarik minat jutaan kaum muda dari seluruh dunia.

Ia sangat memperhatikan pendidikan untuk Imam Baru dan melakukan kunjungan ke seminari-seminari Katolik Roma. Perhatiannya kepada keluarga-keluarga juga diungkapkannya pada Pertemuan Keluarga Dunia pada tahun 1994.

Jika sahabat Kristus sempat membaca biografinya di Wikipedia, kalian akan mengetahui betapa ia sangat gencar mengusahakan Perdamaian Dunia dan mengambil peranan penting pada setiap hal yang menyangkut di dalamnya. Sri Paus melakukan banyak perjalanan dan kunjungan kepada pemimpin serta penganut agama dan kepercayaan lain.

Ia menjalin komunikasi yang baik dan berjuang menemukan dasar yang sama dalam doktrin dan dogma. Pada hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 1986 di Asisi, ledih dari 120 wakil agama dan kepercayaan serta berbagai denominasi Kristen meluangkan waktu sehari bersama untuk berpuasa dan berdoa.

Percobaan Pembunuhan dan Akhir Hidupnya

Pada tanggal 13 Mei 1981, Sri Paus hampir kehilangan nyawanya setelah ditembak oleh seorang ekstremis Turki di Lapangan Santo Petrus. Dua hari setelah Natal, 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara.

Percobaan pembunuhan kedua terjadi di Fatima, Portugal yang dilakukan oleh seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras, warga negara Spanyol. Adapula satu serangan terorisme massal di Manila dan sebuah bom bunuh diri yang berhasil dicegah.

Sebagai mantan olahragawan sejati dan pemain bola, beliau terkenal sebagai Paus yang Sehat. Meskipun mengalami berbagai macam cidera karena percobaan pembunuhan dan kecelakaan kecil, ia selalu terlihat bugar dalam setiap pelayanannya.

Di hari-hari terakhir kehidupannya, cahaya lampu tetap dinyalakan di lantai atas Istana Apostolik. Puluhan ribu umat berkumpul di lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan, untuk turut mendoakan serta memberi sang pemimpin kekuatan. 

Santo Yohanes Paulus II wafat pada tanggal 2 April 2005, jam 9:37 malam, di Vatikan setelah mengatakan: "Biarkan aku pergi ke rumah Bapa". Pemakamannya dihadiri jutaan umat, ratusan kardinal dan banyak pemimpin negara dari seluruh dunia, di Lapangan Santo Petrus.

Santo Yohanes Paulus II dibeatifikasi oleh penerusnya, Paus Benediktus XVI pada tanggal 1 Mei 2011 dan dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 27 April 2014. Pestanya dirayakan setiap tanggal 22 Oktober.

Sahabat Kristus, saya termasuk salah seorang yang sangat menghormati dan mengagumi Sri Paus yang satu ini bukan hanya karena sosok beliau yang luar biasa tapi juga karena devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria sejak dari masa mudanya. 

Dalam bukunya, ia menyebutkan bahwa Doa kesayangannya adalah Doa Rosario, sebuah Doa yang sangat mengagumkan karena kesederhanaan dan kedalamannya. Baginya Bunda Maria dan Doa Rosario memegang peranan penting dalam kehidupan Rohaninya. 

Ketika menulis blog ini, saya merasa sangat terharu dan bangga, bahwa sangatlah beralasan saya menaruh hormat dan kagum yang tinggi padanya. Semoga kita semua memperoleh hikmat dari kisah ini ya... Salve sahabat Kristus...

Kamis, 09 November 2023

Para Kudus Yang Digelar Mistikus dalam Gereja Katolik

Para Kudus yang Digelar Gereja Katolik sebagai Mistikus 

 

Dalam gereja Katolik, kita mengetahui bahwa beberapa Orang Kudus Allah atau Santo dan Santa yang hidup dan doa-doa mereka kita teladani, juga digelar sebagai Mistikus Gereja. Pada tulisan ini, kita akan mengenal mereka dan memahami kenapa para Kudus ini sampai digelar sebagai Mistikus Gereja.

Sebenarnya kalau kita bicara tentang Mistik, tentu saja pikiran kita akan terarah kepada hal-hal yang berbau gaib, praktek okultisme, ilmu sihir dan sebagainya. Sementara semua hal itu dilarang dalam Ajaran Gereja, tapi kenapa para Kudus ini bisa mendapat gelar itu?

Arti

Mistikus adalah orang yang mengalami atau memiliki pengalaman yang melampaui pemahaman atau pengalaman manusia pada umumnya. Dalam tulisan ini, ada delapan orang Kudus yang saya kenal tapi bisa jadi ada lebih banyak dari itu.

Mistikus berasal, dari kata Mistik dimana dalam bahasa Indonesia artinya; hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa. 

Sementara dalam Teologi Kristen, Mistisisme adalah tradisi, praktik, doktrin dan teologi dalam agama Kristen yang menekankan pada transformasi diri memiliki hubungan dengan Tuhan atau untuk menerima kehadiran Tuhan.

Hingga abad keenam Masehi, praktik yang sekarang disebut Mistisisme ini, dikenal dengan istilah teoria; yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno theoria; artinya Memandang Tuhan.

Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi Contemplatio, yang artinya Kontemplasi atau Permenungan. Kontemplasi ini merupakan permenungan jiwa akan kehadiran Tuhan di alam semesta, dan mengantarkan seseorang kepada pengudusan atau penyatuan mistik dengan Tuhan.

Dalam konteks Kristen Katolik, biasanya praktek Mistik atau Kontemplasi ini dilakukan melalui tiga disiplin: Doa (termasuk meditasi dan kontemplasi), Puasa (termasuk semua bentuk pantang dan penyangkalan diri) dan Sedekah sesuai ajaran Yesus dalam Kotbah di bukit (Matius 5-7).

Para Kudus

Menurut Alkitab; Kudus artinya bebas terhadap dunia dan  kemudian menjadi orang pilihan Allah (Yohanes 17:14-15). Orang Kudus Allah, adalah mereka yang selama hidupnya taat, setia dan berbakti pada penyelenggaraan Ilahi. 

Dan gereja Katolik meyakini orang-orang pilihan Allah yang telah meninggal dunia ini telah berada di surga karena cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan. Semua itu sudah terbukti dalam proses Kanonisasi.

Ada lebih dari seribu Santo dan Santa dalam Gereja Katolik Roma. Dari sekian banyak para Kudus ini, ada beberapa yang digelar sebagai Mistikus Gereja. Mereka adalah orang-orang yang terbukti menjalani hidup mereka dengan menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk berdoa, bermeditasi, berpuasa dan pantang, serta merenungkan kitab suci dan semua aktifitas spiritual secara mendalam untuk mengenal Tuhan.

Berikut profil dan jalan hidup mereka:

1. Santo Ignatius dari Loyola

Santo Ignatius dari Loyola adalah seorang mantan Ksatria Spanyol keturunan bangsawan Basque yang menjadi teolog dan imam Katolik pendiri Ordo Serikat Yesus (Yesuit) dan menjadi superior jenderal pertama ordo tersebut.

Lahir pada tanggal 23 Oktober 1491, di Azpeitia, Loyola, Provinsi Basque, Spanyol dan dibaptis dengan nama Inigo Lopez dan merupakan anak bungsu dari tiga belas bersaudara.

Ibunya meninggal tidak lama setelah Ignatius lahir, kemudian ia dibesarkan oleh istri seorang pandai besi di kotanya. Ignatius adalah seorang pemuda yang suka berjudi, sangat suka perempuan, gemar berkelahi dan pandai membela diri. 

Dalam sebuah perselisihan, bersama saudara-saudaranya ia menyerang beberapa kaum religius anggota keluarga lain. Ketika dibawa ke pengadilan karena perkara itu, Ignatius membela dirinya bahwa dia adalah seorang religius sejak masa muda agar terhindar dari hukuman.

Pada usia 30-an, Ignatius menjadi tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis. Pada sebuah pertempuran, sebuah bom kanon mengenai Ignatius dan membuat kedua kakinya patah. Tentara Perancis memulangkan Ignatius ke puri Loyola. Kondisinya memburuk dan para tabib mengingatkan dia untuk mempersiapkan diri akan kematian.

Secara tidak terduga, pada hari raya Santo Petrus dan Paulus, kondisinya membaik. Tapi ia harus menjalani hidupnya dengan pincang, karena kaki yang sebelah lebih panjang dan sebelahnya lebih pendek. 

Dalam proses pengobatannya, Ignatius yang merasa bosan mau tidak mau membaca dari buku-buku tentang hidup Kristus dan para Kudus yang ada di dalam kastil. Semakin banyak membaca, semakin ia merasa bahwa cara hidup para Kudus ini patut ditiru.

Pengalaman ini menjadi awal pertobatan Ignatius dan latihan spiritualnya. Ignatius mengalami pertobatan penuh dari keinginan-keinginan duniawi dan sembuh dari luka-lukanya. Ia memutuskan untuk pindah ke Yerusalem dan tinggal di tempat Tuhan menjalani hidup-Nya.

Dalam perjalanan ziarahnya, Ignatius menerima sakramen tobat dan berlutut sepanjang malam di depan altar Bunda Maria. Ia menanggalkan semua atribut ksatria, memberikan pakaiannya yang indah kepada orang miskin, lalu mengenakan pakaian dari kain kasar dengan sendal dan tongkat.

Ignatius tinggal di gua-gua, berdoa berjam-jam, melakukan penitensi yang ekstrim dan bekerja di balai perawatan orang sakit. Pada usia 33 tahun, Ignatius masuk seminari. Masa ini adalah masa-masa yang berat karena berbagai halangan dan tantangan yang dialaminya.

Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus III memberikan persetujuan resminya kepada Ignatius dan teman-temannya atas terbentuknya tareket baru, Serikat Yesus. Dan dengan hasil pemungutan suara bulat, kecuali pilihan Ignatius sendiri tentunya, ia terpilih menjadi Superior Jenderal Pertama.

Ignatius mengabdikan diri sepenuhnya pada serikat barunya. Ia bekerja dari dalam kamarnya yang sempit dengan menuliskan Konstitusi Serikat serta ribuan surat ke seluruh penjuru dunia, menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kaum Yesuit dan memberikan pengarahan spiritual kepada kaum pria dan wanita. 

Santo Ignatius dari Loyola, Mistikus dan Pujangga Gereja ini wafat pada tanggal 30 Juli 1556. Jenasahnya disemayamkan dalam Gereja Gesu, Roma Italia.

Santo Ignatius dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada 27 Juli 1609 dan dikanonisasi pada tanggal 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 31 Juli dan dihormati sebagai Santo Pelindung para tentara atau prajurit.

2. Santa Theresia Avilla

Terlahir dari keluarga kaya di Avilla, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515, dan dibaptis dengan nama Theresa Sanchez de Cepeda y Ahumada. Ibunya mendidik mereka menjadi orang Kristen yang saleh, bersama kakaknya Rodrigo, Theresa suka membaca riwayat para Kudus dan Martir.

Pada usia remaja, ketertarikan Theresa beralih pada hal-hal dunia. Namun, setelah mengalami sakit berat, dan membaca buku tentang St. Hieronimus yang hebat, Theresa bertekad mempersembahkan hidupnya untuk Kristus.

Pada usia 20 tahun, Theresa meninggalkan rumah dan masuk biara karmel. Setelah mengucapkan Kaul pertama dan mengalami sakit berat yang kedua kalinya, Theresa mengalami penglihatan dan ekstase rohani. Sejak itu ia semakin bertekad hidup hanya bagi Yesus saja, tidak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus ia lakukan.

Teman-temannya mengatakan bahwa pengetahuan Theresa berasal dari setan. Ia menjalani penyiksaan diri dan mortifikasi fisik. Tapi bapa pengakuannya, Santo Francis Borgia serta imam Ordo Dominikan dan Serikat Yesus sepakat menyatakan bahwa semua penglihatan yang diterima suster Karmel Theresa adalah benar dan kudus.

Pada hari raya Santo Petrus, 1559, Yesus Kristus menampakkan diri secara fisik kepadanya, walau tak terlihat. Penglihatan itu berlangsung selama dua tahun tanpa putus. Theresa menulis bahwa, dalam penglihatan itu seorang Serafim menusukkan tombak emas berulang kali ke hatinya, yang menyebabkan sakit fisik dan batin yang luar biasa. 

Kejadian ini membuatnya semakin berhasrat untuk mengikuti penderitaan Yesus. Suster Theresa memelopori gerakan pembaharuan peraturan dalam biara Karmel, yang ia rasa terlalu longgar. Bersama Santo Yohanes dari Salib, mereka berjuang memperbaharui semangat spiritualitas Ordo Karmel  melalui kehidupan biara yang suci dalam doa, puasa dan pantang yang sangat ketat.

Santa Theresa dari Yesus wafat pada tanggal 4 Oktober 1582, pada usia 67 tahun. Santa Theresa dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tanggal 24 April 1614, dan dikanonisasi pada 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 Oktober.

3. Santo Padre Pio

Nama kecilnya Francesco Forgione, terlahir di Pietrelcina, Italia Selatan, pada tanggal 25 Mei 1887. Francesco adalah anak kelima dari delapan bersaudara dari sebuah keluarga petani sederhana. Ayahnya Grazio Forgione dan ibunya Maria Giuseppa de Nunzio.

Sejak usia 5 tahun, Francesco sering melihat penampakkan Yesus, Bunda Maria dan bahkan Malaikat jahat. Di usia 9 tahun ia mencambuk dirinya sendiri agar serupa dengan Kristus.

Pada usia 16 tahun, Francesco masuk biara Kapusin dari diberi nama Pio. Aturan ketat biara membuat Padre Pio sering sakit. Ia ditahbiskan dalam usia yang masih muda karena pertimbangan sakit yang mengancam nyawanya.

Pada suatu sore di tanggal 7 September 1911, Padre Pio telah mendapat karunia stigmata pertamanya. Namun karena takut, ia didoakan oleh pastor paroki Pietrelcina, dan luka-luka itu sembuh.

Pada tanggal 20 September 1918, ketika sedang sendirian di kapel tua, Padre Pio menerima stigmata yang sesungguhnya. Luka-luka itu terdiri dari luka pada tangan kiri dan kanan, kedua kakinya dan pada lambungnya. Luka itu tetap selama setengah abad hidupnya, segar dan berdarah.

Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia Stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, namun berita cepat sekali menyebar. Setiap hari ratusan orang datang ke biara terpencil itu.

Padre Pio tidur hanya dua jam sehari, ia bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan misa kudus, setelah misa ia menghabiskan harinya dengan berdoa dan menerima pengakuan dosa. Hidupnya penuh dengan karunia mistik, jamahan yang menyembuhkan dan membaca batin. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum bunga-bungaan.

Selama 50 tahun hidup imamatnya, ia tidak pernah mengambil cuti seharipun, ia menghabiskan waktunya untuk pelayanan imamat, mendirikan kelompok doa dan memprakarsai pembangunan sebuah rumah sakit moderen, yang ia beri nama "Wisma untuk meringankan penderitaan".

Selain oleh penderitaan fisik yang ia alami dari luka-lukanya, Padre Pio juga mengalami penderitaan dari sesama sejawatnya. Ia dianggap dikuasai iblis dan menipu saudara sekomunitas. Vatikan bahkan sempat mengeluarkan perintah keras melarang Padre Pio melakukan tugas Imamatnya. 

Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968 pada usia 81 tahun di San Giovanni Rotonda, Italia. Dibeatifikasi pada  tanggal 2 Mei 1999 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Juni 2002. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

4. Santa Brigita dari Swedia

Santa Brigita lahir pada tahun 1302 di Swedia. Keluarganya termasuk tuan tanah kaya dan saleh. Sejak remaja Brigita sudah menunjukkan kecenderungan yang teguh pada hal-hal rohani. 

Di usia 10 tahun Tuhan mengaruniakan penampakan Yang Tersalib pada Brigita. Dan hal itu sangat mempengaruhinya, sehingga ia sering menangis sambil merenungkan sengsara Kristus.

Karena kepatuhannya pada sang sayah, pada tahun 1316, Brigitta menikah dengan pangeran Ulf. Seorang penguasa saleh dan memiliki berbagai keutamaan hidup yang sama dengan Brigitta. Keduanya dikaruniai delapan orang anak yang dibesarkan dalam kesalehan dan takut akan Allah. Dari antara mereka nantinya akan dikenal sebagai Santa Katarina dari Swedia.

Brigitta dan suaminya hidup suci dalam pelayanan penuh dan kedermawanan kepada sesama yang miskin dan menderita. Hal ini membuat mereka sangat terkenal luas di daerah itu. Dalam sebuah perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, suami Brigitta menderita sakit keras, dan ketika sembuh ia memutuskan masuk biara.

Setelah kematian suaminya di biara Cistercians, Alvastra tahun 1344, Brigitta mengabdikan diri sepenuhnya pada kehidupan spiritual. Ia membagi-bagikan harta kekayaannya di antara anak-anaknya dan orang miskin. Brigitta mengenakan pakaian dari kain kasar dan tali di pinggang.

Brigitta menjalani hidup yang sangat keras dan mendirikan biara Ordo Sang Penebus di Vadstena. Pada tahun 1371, Brigitta berziarah ke Tanah Suci atas perintah Tuhan sendiri. Di sana ia memperoleh rahmat luar biasa dan anugerah pengetahuan perihal misteri-misteri-Nya yang Kudus.

Sekembalinya ke Italia, Brigitta mengalami sakit keras, dan menderita sepanjang tahun. Santa Brigitta meninggal karena sakit keras pada 23 Juli 1373, di usia 71 tahun. Jenasahnya dimakamkan di biara para Klaris di St Laurensius, Panisperna. 

Pada tahun 1373, makamnya dipindahkan oleh anaknya Santa Katarina, ke Vadstena Swedia. Santa Brigitta dikanonisasi oleh Sri Paus Bonivasius IX pada tahun 1391.

5. Santa Veronika Yuliani

Santa ini pernah saya ceritakan di Blog dan Vlog saya sebelumnya, tentang Santo dan Santa Katolik yang jasadnya masih utuh. Beliau adalah seorang Santa dan Mistikus terbesar abad ke-18 dari Italia. Lahir pada tanggal 27 Desember 1660 di wilayah Mercatello dan dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang terpilih oleh Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya, dibuat dalam bentuk buku diary, yang ia tulis dibawah bimbingan bapa pengakuannya; Pastor Gerollamo Bastianelli.

Di usia tiga tahun Ursula telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan simpati kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan pakaiannya untuk setiap orang miskin yang ditemuinya.

Ibunya adalah seorang wanita saleh yang selalu menceritakan sengsara Kristus dan kisah para Kudus padanya dan empat saudaranya. Semua itu membangkitkan rasa cintanya yang besar akan sengsara dan luka-luka Tuhan. Ia berkeinginan kuat melakukan penebusan dosa yang agak berat dan menderita demi cintanya kepada Yesus, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Pada usia 17 tahun, Ursula bergabung dengan biara Kontemplatif Kapusin di Citta, Castilo, Italia dan diberi nama Veronika. Pada tahun 1693, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan, yang melambangkan sengsara Kristus. Sejak saat itu suster Veronika mengalami penderitaan spiritual yang hebat.

Pada tahun 1694, suster Veronika mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri. Lukanya nyata dan sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, suster Veronika mendapatkan perawatan medis namun lukanya tidak kunjung sembuh.

Sejak awal suster Veronika sangat prihatin dengan nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. Ia juga banyak mendapat gangguan dari si jahat sejak awal masuk biara.

Suster Veronika menjalani hidupnya di biara dengan penderitaan hebat karena penyakit dan gangguan yang dialaminya. Namun ia tetap sepenuh hati menghidupi kaul dan ketaatannya pada konggregasi.

Santa Veronika Yuliani wafat pada tanggal 9 Juli 1727 di Citta, Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII, dan dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVI. Pestanya dirayakan setiap tanggal 9 Juli. 

6. Santa Faustina Kowalska

Terlahir dengan nama Helena Kowalska, di Glogowiec, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905. Helena adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, dalam sebuah keluarga petani sederhana yang hidup miskin dan menderita pada masa penjajahan Rusia di Polandia. Ayahnya adalah yang seorang petani dan juga merangkap tukang kayu, bernama Stanislau Kowalski dan Ibunya bernama Mariana Babel.

Helena adalah anak yang rajin, taat, rendah hati dan sangat lembut. Setiap hari ia menggembalakan sapi sambil membaca cerita Santo dan Santa. Kemudian ia akan mengumpulkan teman-temannya untuk menceritakan riwayat Orang Kudus yang sudah dibacanya.

Sejak kecil Helena suka berdoa, ia sering terbangun di malam hari dan berdoa selama berjam-jam.  Jika ibunya menegur, ia berkata malaikat pelindungnya membangunkannya untuk berdoa.

Helena bergabung menjadi biarawati Konggregasi Bunda Allah Kerahiman di Warszawa, dengan nama Suster Maria Faustina. Ia menjalankan tugasnya sebagai biarawati di dapur, kebun ataupun sebagai penerima tamu di pintu biara, dengan penuh kerendahan hati. 

Pada tanggal 22 Februari 1931, Santa Faustina menerima pesan Kerahiman Ilahi dari Kristus yang harus disebar luaskan ke seluruh dunia. Santa Faustina dengan rela mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam persatuan dengan Kristus, sebagai silih atas dosa-dosa manusia.

Dalam hidup sehari-hari ia menjadi pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai bagi sesama. Santa Faustina, selama empat tahun, mencatat wahyu-wahyu Ilahi, pengalaman-pengalaman mistik juga pemikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman serta doa-doanya dalam buku hariannya yang berjudul "Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku".

Buku itu menunjukkan contoh luar biasa dalam menanggapi belas kasih Allah dan mewujudkannya dalam relasi dengan sesama. Devosinya yang besar kepada Santa Perawan Maria Tak Bercela, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, memberikan Santa Faustina kekuatan untuk menanggung penderitaan yang dipersembahkannya kepada Tuhan atas nama Gereja, bagi pertobatan para pendosa berat dan mereka yang berada di ambang maut.

Santa Maria Faustina Kowolska dari Sakramen Mahakudus, Rasul Kerahiman Ilahi, Mistikus dan Pujangga Gereja, wafat pada 5 Oktober 1938 di Krakow, dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya dimakamkan di Kapela Konggregasi Bunda Maria Berbelaskasih yang kemudian dijadikan Sanctuarium Reliqui Abdi Allah Suster Faustina Kowolska oleh Uskup Agung Krakow, yang kelak menjadi Santo Yohanes Paulus II.

Santa Faustina Kowolska dibeatifikasi pada Pesta Kerahiman Ilahi, 18 April 1993 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada tanggal 30 April 2000 oleh Paus yang sama. Pestanya dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.   

7. Santa Katarina dari Siena

Santa Katarina dilahirkan di Siena, pada tanggal 24 Maret 1347. Katarina adalah anak ke-24 dari 25 bersaudara, ayahnya Giacomo di Benincasa, seorang pewarna baju dan ibunya Lapa.

Santa Katarina bergabung menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan. Ia menghidupi kesederhanaan, berpuasa dan menahan diri dari keduniawian.

Pada tahun 1366, Katarina mengalami apa yang digambarkan dalam suratnya sebagai 'pernikahan mistik' dengan Yesus. Pada tahun 1370 segera setelah Katarina menerima anugerah penglihatan tentang neraka, purgatorium dan surga, ia meninggalkan kehidupan doanya. 

Katarina mulai menulis surat kepada raja dan ratu, serta menemui para penguasa untuk meminta berdamai dengan Paus agar mencegah peperangan. Di masa itu Gereja mengalami banyak sekali masalah, banyak pertikaian yang terjadi di seluruh Italia.

Katarina meminta Paus kembali ke Roma untuk memimpin gereja, karena itulah yang dikehendaki Allah. Sri Paus mendengarkan nasihat Katarina dan melakukannya. Melalui Katarina, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit yang dirawatnya dan menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara.

Santa Katarina wafat di Roma pada tanggal 29 April 1380 dan dikanonisasi oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pestanya dirayakan setiap tanggal 29 April. 

8. Santo Yohanes dari Salib

Lahir di Fontiveros, sebuah desa kecil dekat Avilla, Spanyol pada tanggal 24 Juni 1542, dengan nama Juan de La Cruz. Yohanes belajar di sebuah sekolah Yesuit pada masa mudanya, kemudian di usia 21 tahun ia bergabung dengan Ordo Karmel dan mengambil nama Br. Juan de Santo Matia.

Disana Yohanes hidup dengan saleh dan taat. Ia tekun berdoa dan bermatiraga. Karena kecerdasannya, pemimpin biara menyekolahkan Yohanes di Universitas Salamanca Spanyol. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1567 dalam usia 25 tahun.

Yohanes menjadi prior pertama susteran Karmelit dan mengambil nama resmi, Yohanes dari Salib. Namun usahanya untuk membaharui spiritualitas ordo dianggap gangguan oleh rekan-rekan se-ordo, sehingga ia dikurung dalam sel biara selama sembilan bulan dan diperlakukan semena-mena.

Pengalaman dalam sel biara itu justru memberinya pemahaman akan Salib Penderitaan Tuhan Yesus. Yohanes sering mengalami ekstase, ia mampu menggubah kidung-kidung rohani, mengalami banyak peristiwa mistik, dan semakin memahami secara mendalam teologi dan ajaran-ajaran iman Kristiani.

Santo Yohanes terkenal atas kerjasama dengan Santa Theresa de Jesus dalam mereformasi Ordo Karmel dan juga tulisannya-tulisannya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan membiara. Penderitaan dan pergumulan rohaninya tercermin dalam tulisan-tulisan yang ia buat semasa hidupnya.

Santo Yohanes dari Salib wafat pada tanggal 14 Desember 1591, di usia 49 tahun. Santo Yohanes dibeatifikasi pada 25 Januari 1675 oleh Paus Klemens X dan dikanonisasi pada tanggal 27 Desember 1726 oleh Paus Bendiktus XIII. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Desember.



Nah, sahabat Kristus, mungkin ada lebih banyak Santo dan Santa Mistikus Gereja Katolik, dari yang sudah saya ceritakan dalam tulisan ini. Tapi untuk sekarang, hanya 8 pribadi inilah yang saya ketahui dengan pasti. Salah satu alasan kenapa saya menulis tentang ini adalah karena saya juga sangat penasaran tentang cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan, sehingga Gereja menggelar mereka sebagai Mistikus.

Pada akhirnya, kembali lagi, bahwa hanya kekaguman dan pujian bagi Allah, Tuhan kita Semesta Alam, yang memungkinkan semua itu bisa terjadi. Betapa mengagumkan cara Allah bekerja dalam diri umat pilihannya.

Bulan November ini adalah bulan yang dikhususkan oleh Gereja Katolik untuk menghormati Orang Kudus dan juga menjadi bulan devosi bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Saya berharap, dengan membaca kisah hidup para Kudus Allah ini, kita mau mengikuti jejak mereka untuk mendoakan sesama baik yang masih hidup, yakni mereka yang belum bertobat, maupun yang sudah meninggal yakni jiwa-jiwa di api penyucian.

Agar kita semakin diilhami oleh Roh Kudus untuk hidup benar di hadapan Allah dan mewartakan belas kasih-Nya yang besar. Salve.... Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan...  

Senin, 18 September 2023

Santa yang menjadi Bintang Tamu di The Nun II

Santa Lusia dari Syrakusa

Kalau kamu sudah nonton The Nun II, si suster Valak yang suka sekali cari masalah itu, kamu pasti sempat melihat gambar dan penjelasan singkat dari suster Irene, tentang Santa Lusia dari Syrakusa. Di Film ini, tentu saja, gambaran Santa Lusia dibuat lebih creepy. Saya suka melihat bagaimana tangguh dan beraninya suster Irene di film kedua ini.

Buat yang belum nonton, saya akan menjelaskan sedikit. Ceritanya, dalam kisah kali ini, suster Irene yang sudah selamat dari Biara Santa Carta, Rumania (The Nun I), menjalani kehidupannya sebagai biarawati Katolik di Prancis. Saat inilah ia berkenalan dengan suster Brenda. Ditemani sahabat barunya ini, suster Irene harus menghadapi keganasanValak. Berlatar belakang pedalaman Prancis yang mistik dan sangat indah, film garapan sutradara Michael Chaves ini berhasil menguasai Bioskop Holywood selama sepekan sejak dirilis. 

Tapi, suster Irene dan suster Brenda tidak sendirian, mereka juga ditemani oleh Kate dan Sophie. Keduanya adalah ibu dan anak yang tinggal di sebuah asrama Sekolah Perempuan, tempat Valak kali ini beraksi. Ternyata, si Valak memakai tubuh Maurice, teman suster Irene yang menyelamatkannya di Rumania, untuk bangkit kembali kedua kalinya.

Disini dijelaskan bahwa, senjata terbaik untuk menumbangkan Valak adalah, relikui dari Santa Lusia, yang ditinggalkan kepada keturunannya atau keluarganya yang masih hidup. Relikui dalam Gereja Katolik adalah sebuah peninggalan berupa tanda kasih dari para Kudus atau Santo dan Santa Katolik, untuk mendekatkan kita yang mengimani mereka sudah berkumpul di surga, kepada Tuhan.

Kisah Hidup

Menurut Wikipedia, Santa Lusia dilahirkan pada tahun 283 di Syrachusa, Sisilia, Italia. Orangtuanya adalah bangsawan kaya, yang sangat dihormati. Ayah Lusia meninggal ketika dia masih kecil, sehingga sebagian besar hidupnya bersama ibunya, Eutychia.


Lusia tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik dengan sepasang mata yang sangat indah. Hal itu membuat banyak pemuda bangsawan yang jatuh hati padanya. Namun sejak remaja, Lusia telah berikrar untuk hidup suci murni dan menjadi pengantin Kristus. Ketika ibunya memaksa Lusia untuk menikahi salah seorang pemuda bangsawan kafir, dengan tegas ia menolaknya.

Kala itu, Eutychia sedang menderita sakit pendarahan, berbagai pengobatan telah dilakukan namun kondisinya tidak kunjung membaik. Lusia kemudian membujuk ibunya untuk berziarah ke makam Santa Agatha di Kathania. Dalam ziarah itu, Lusia berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, agar ia bisa melunakkan hati ibunya tentang niatnya untuk tetap teguh dan setia pada kaul kemurnian hidup yang sudah ia ikrarkan pada Kristus.

Tuhan mendengar doa Lusia, ibunya sembuh. Ia kemudian menceritakan pada ibunya tentang ikrar kemurniannya. Sebagai ungkapan rasa syukur, ibu Lusia mengijinkan anak gadisnya untuk memenuhi panggilan hidup menjadi pengantin Kristus.

Perawan dan Martir

Pemuda bangsawan yang ditolak menikahi Lusia, sangat marah akan hal itu. Di jaman itu, Kekaisaran Romawi diperintah oleh Diokletianus, seorang Kaisar bengis yang sangat membenci pengikut Kristus. Banyak umat Kristen yang mempertahankan imannya, dibunuh dan disiksa dengan keji. 

Pemuda bangsawan ini memanfaatkan hal itu dengan melaporkan identitas keluarga Lusia kepada Kaisar. Lusia kemudian ditangkap. Ia diancam akan dibutakan kedua matanya, tapi Lusia lebih rela kehilangan matanya dari pada tidak menjadi pengantin Kristus.

Berbagai cara mereka lakukan agar Lusia kehilangan kemurniannya, namun Santa Lusia tidak terkalahkan. Usaha mereka untuk membakarnya juga gagal. Lusia direncanakan akan dibawa ke rumah para wanita pendosa, agar ia kehilangan kemurniannya, namun hal itu tidak terjadi karena badannya sangat berat ketika akan diangkat. 

Kedua matanya dicongkel keluar ketika disiksa, Tuhan Yesus membalas cintanya dengan menggantikan kedua mata itu menjadi lebih indah. Kemudian seorang algojo menikam lehernya. Santa Lusia wafat pada tanggal 13 Desember 304 M, sebagai martir Kristus.

Santa Lusia dihormati sebagai Perawan dan Martir yang sangat terkenal di Italia, terutama Sisilia. Banyak doa dan permohonan terkabul melalui perantaraannya, terutama kesembuhan penyakit mata. Hal itulah yang membuat di kemudian hari Santa Sisilia sering digambarkan sedang memegang sepasang mata di telapak tangannya. Ia diangkat sebagai Santa pelindung para penderita penyakit mata. 

Bagi kita orang Katolik, cara hidup Santa Lusia bisa menjadi pedoman untuk lebih mencintai Kristus yang telah wafat disalib dan disiksa demikian keji untuk menyelamatkan kita dari dosa. Terutama bagi para remaja perempuan di jaman ini. Mungkin menurut sebagian dari kita, pilihan hidup Santa Lusia ini terlalu ekstrim, not our style.

Tapi lihatlah bagaimana cara Tuhan Yesus membalas cinta Santa Lusia, yang juga seorang manusia biasa seperti kita. Menjadi suci dan murni sebagai pengantin Kristus, bukan hanya untuk menjadi seorang biarawati. Kita bisa melakukan hal itu sebagai ungkapan untuk menghormati bait Kudus Allah yang ada dalam diri kita.

Menjaga kemurnian selama masa muda bahkan setelah menikah dan berkeluarga dengan hidup taat kepada perintah Tuhan. Menjauhi pergaulan bebas, pesta pora, alkohol, narkoba, hedonisme, materialisme, iri hati, dengki, kikir, kemalasan dan aliran-aliran yang menyesatkan. 

Semua itu bukan hanya sekedar menghormati tubuh pribadi kita sebagai pemberian Tuhan, tapi juga demi menghormati sengsara Tuhan yang pedih, disiksa, dirajam, dilecehkan, dihina dengan kejam, sampai Ia wafat di kayu salib.

Jadi jika kita mengorbankan diri seperti Santa Lusia, menghadapi setiap pencobaan dunia untuk tetap hidup dalam kemurnian, ingatlah bahwa ada seseorang yang jauh lebih besar, yang telah melakukan semua itu, mengorbankan darah dan tubuhnya yang mulia untuk kita orang berdosa. Dialah sang Penyelamat kita, Raja segala Raja, Tuhan Yesus Kristus, yang Kudus dan Mulia.

Rabu, 13 September 2023

Santa Maria Dominica Mazzarello

Santa Pendiri Konggregasi Suster Salesian (FMA)

Ada lebih dari 8.000 'Orang Kudus' dan 'Hamba Allah' dalam Gereja Katolik Roma. Mereka adalah orang-orang beriman pilihan Allah, yang hidupnya bermatiraga dan berdevosi sepenuhnya kepada Tuhan dan Bundanya, Maria. Sikap hidup merekapun terbukti 'Suci' dan penuh ketaatan pada kehendak Allah. 

Pada akhirnya, semua orang beriman yang sudah meninggal dan dipercaya telah masuk surga, diyakini oleh iman Katolik sebagai Orang Kudus Allah. Jadi kita tidak bisa memastikan jumlah mereka. Bagaimana proses sampai mereka mendapatkan gelar ini sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya, mungkin nanti akan saya jelaskan dalam topik tersendiri. 

Dari sekian banyak Orang Kudus Katolik, khususnya para Kudus Allah yang kisahnya sudah saya ceritakan dalam blog dan vlog saya, beberapa dari mereka adalah pendiri Konggregasi, Diantaranya ada Santa Clara (Ordo Santa Claris, OSCI), Santa Angela Merici (Ordo Santa Ursula, OSU), Santo Vincentius de Paul (Ordo Misi atau Lazarians dan Ordo Suster-suster Puteri Kasih bersama Santa Louise de Marillac), Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mass (Ordo Charmelite Sisters of Charity), Santo Peter Julian Eymard (Ordo Sakramen Mahakudus), Santo Yohanes Don Bosco (Ordo Salesian) dan Santo Luigi Orione (Ordo Penyelenggaraan Ilahi dan Susteran Misionaris). Orang Kudus yang akan saya kisahkan kali ini juga adalah seorang pendiri konggregasi Suster Salesian.

Masa Muda

Maria Dominica Mazzarelo lahir di Monesse, tempat ini sekarang menjadi provinsi Alessandria, Italia Utara. Pada tanggal 9 Mei 1837. Dia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara, dari sebuah keluarga petani anggur yang sangat bersahaja. Mary Mazzarello adalah seorang pekerja keras. 

Sampai masa remajanya, ia bekerja giat membantu keluarganya di ladang anggur dan selalu menjadi penolong bagi warga masyarakat desa yang membutuhkannya. Bahkan di saat teman-teman sebayanya memikirkan cinta dan pernikahan, Mary lebih memilih bekerja keras tanpa menyombongkan diri karena tidak berpikiran sesederhana teman-temannya. 

Mary Mazzarello merasa bahwa ia punya panggilan lain yang sedang ditunggunya dengan rindu dalam kehidupan rohaninya, sejak menerima Komuni Pertama. Dengan sabar ia menunggu dalam doa dan meditasi, berharap akan tiba waktunya Pastor Pestarino, Pastor Mornese, pembimbing rohaninya, menyampaikan kehendak Tuhan di waktu yang tepat. 

Ia telah berjanji pada Tuhan di hari Komuni Pertamanya, akan melayani sepenuh hati dengan pekerjaan dan hidup dalam kekudusan. Ia menghindari kemarahan, kesombongan dan semua hasrat duniawi dalam dirinya.

Kota Mornese adalah kota kecil dengan alam terbuka yang suram, dimana penduduknya sering terserang penyakit menular, rata-rata para wanita di kampungnya tidak mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak bisa membaca dan menulis. Apalagi memiliki pengetahuan tentang agama. Tapi berkat Pastur Pestarino, Mary bisa membaca dan tahu tentang katekismus. 

Malaikat Belas Kasih

Di suatu masa, desa kecilnya diserang penyakit Thipus. Dengan murah hati Mary mereka yang terkena sakit. Dia menginap di rumah mereka, menjaga anak-anak mereka yang masih kecil-kecil dan merawat langsung mereka yang menderita sakit. Setiap hari Mary membersihkan rumah, memandikan anak-anak mereka dan memasak makanan. Di waktu malam ia menidurkan anak-anak dengan bercerita tentang cinta kasih Tuhan.  

Ia juga merawat langsung mereka yang sakit, walaupun ia tahu pasti akan terjangkit penyakit itu. Semua ia lakukan dengan sukacita. Cara ia mengurus mereka sungguh memberikan ketenangan dan mempercepat kesembuhan. Mary merawat dengan penuh kelembutan dan belas kasih yang besar, sampai mereka sembuh dengan cepat. 

Pada akhirnya, setelah semua orang yang dirawatnya sembuh, Mary kembali ke rumah dengan tubuh yang hancur. Ia menanggung sakit Thipus dan kehilangan semua kekuatannya. Selama berhari-hari ia berjuang dengan sakitnya di rumah. Orang tuanya sangat khawatir. Pastor Pestarino setiap hari datang memberikan kekuatan melalui doa dan ekaristi. 

Ketika Mary sembuh, seluruh penduduk desa dengan antusias datang ke rumahnya untuk turut merasakan rahmat itu. Mereka merasa bahwa Mary adalah kekuatan baru bagi mereka dalam menghadapi wabah penyakit dan penderitaan.

Visi

Dalam sebuah penglihatan, di suatu siang bulan Oktober yang hangat, ketika ia sedang berjalan-jalan dalam masa pemulihan penyakitnya, sambil tetap berdoa dalam hati di jalanan desa yang diapit oleh hutan-hutan kecil, Mary tiba-tiba mengalami penglihatan. Ia melihat sebuah bangunan di tengah lapangan, serta para biarawati yang sedang bermain dengan gadis-gadis desanya. Ia sangat terkejut, apakah itu sebuah Visi? 

Selama masa bimbingan rohaninya dengan Pastur Pestarino, seorang pastur sederhana yang tidak begitu percaya pada penglihatan dan mimpi, Mary tidak pernah diajarkan hal seperti itu, rasanya itu terlalu besar bagi gadis petani sederhana sepertinya.

Sejak sembuh dari sakitnya, ia selalu mengalami penglihatan itu dan merasakan keterikatan kuat akan pendidikan dan pengajaran. Mary juga melihat anak-anak gadis desanya belajar menjahit. Ia segera belajar menjahit setelah sakitnya sembuh, agar kelak ia bisa membagikan keahliannya itu. Kemudian, 

Pastur Pestarino mengatakan kepada Mary tentang Yohanes Don Bosco, Pastur Agung Turin (https://anidela1980.blogspot.com/search/label/santo%20don%20bosco), yang akan mendirikan sekolah bagi anak-anak miskin serta sebuah kongregasi religius.

Mary menyadari, tentu saja Konggregasi Santo Yohanes Don Bosco adalah suatu hal yang luar biasa. Namun ia tidak ingin meninggalkan desanya. Ia ingin menjadi berguna dan memberikan manfaat bagi anak-anak di desanya. Ia merasa tidak ingin terikat oleh peraturan atau tatanan yang rumit. 

Sementara Pastur Pestarino terus mendesaknya untuk bergabung dengan Yohanes Don Bosco, ia meyakinkan bahwa visi dan misi Oratorium Don Bosco sama dengan penglihatan Maria selama ini. Mary membawa semua itu dalam doa Rosario, ia percaya Bunda Maria akan membantunya menemukan jawaban.

Membangun Konggregasi

Pada tahun 1870, dengan bantuan Pastur Pestarino, Mary bersama lima belas gadis desa sebayanya, membentuk sebuah kelompok kecil kaum puteri yang diberi nama Maria Immaculata. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang difasilitasi oleh Pastur Pestarino dan menerima anak-anak desa yang ingin belajar membaca, belajar agama dan belajar tentang tugas-tugas rumah tangga. 

Tuhan memberkati mereka dengan kehangatan dan makanan dari warga desa sekitar. Kelompok kecil yang hidup dalam kesederhanaan iman dan kasih Tuhan ini, memiliki banyak kesamaan visi dan misi dengan Oratorium Don Bosco di Turin. Mereka menjadi cahaya baru bagi masyarakat Desa Mornese. 

Kelompok Maria Immaculata berhasil meyakinkan semua orang, bahkan yang paling skeptis sekalipun, tentang Kasih Tuhan di tengah penderitaan dan kekurangan. Yohanes Don Bosco yang berada di Turin, melihat semua itu dalam visinya. Ia melihat dirinya berada dalam kerumunan gadis di salah satu alun-alun besar di Turin. Tapi gadis-gadis itu berwajah kurus, terlihat miskin dengan pakaian compang camping dan penampilan berantakan. Mereka menarik jubahnya dan berkata, "Datanglah pada kami. Kami membutuhkanmu."

Melalui surat-suratnya, pastur Pestarino menceritakan kepada Yohanes Don Bosco tentang kelompok kecil gadis-gadis Mornese dibawah asuhan Mary Mazzarello. Hingga pada tanggal 31July 1872, atas permintaan dan dukungan Santo Yohanes Don Bosco, terbentuklah sebuah Konggregasi Suster Salesian. Maria Mazzarello bersama lima belas gadis dari Kelompok Maria Immaculata, mengucapkan kaul sebagai biarawati pertama Konggregasi Suster-suster Figlie di Maria Ausiliatrice (FMA). 

Konggregasi ini menjadi pelengkap bagi Konggregasi Saudara-saudara Salessian. Suster Maria Mazzarello ditunjuk oleh Don Bosco sebagai pemimpin konggregasi yang pertama. Walaupun hal itu ditolak oleh suster Maria Mazzarello, karena ia merasa ia hanya seorang gadis petani yang tidak berpengetahuan, Don Bosco meyakinkannya bahwa itu hanya bersifat sementara.  

Dua tahun kemudian Suster Mazzarello diangkat secara resmi menjadi pimpinan Konggregasi melalui suara bulat, kecuali satu suara yaitu dari Suster Mazzarello sendiri. Muder Mazzarello sangat menekankan akan pentingnya memiliki pendidikan yang baik. Ia mewajibkan semua anggota konggregasi belajar membaca dan menulis. Ia menjadi ibu yang perhatian dan penuh kasih kepada anak-anak didiknya bukan hanya dalam bidang pendidikan. 

Dengan kerendahan hati yang tulus dan sifat keibuan yang luar biasa, Muder Mazzarello menjadi ibu komunitas yang sangat dicintai bukan hanya oleh saudari-saudari konggregasinya tapi juga semua orang. 

Itulah sebabnya, sampai hari ini, Maria Mazzarelo juga dikenal sebagai "Madre Mazzarello" atau "Bunda Mazzarello". Ia menjadi pimpinan konggregasi sampai pada hari kematiannya. Begitu banyak peristiwa kecil dalam hidupnya yang kemudian dijadikan oleh para suster Salesian sebagai warisan berharga dalam komunitas mereka. 

Sakit

Pada awal tahun 1881, Madre Mazzarello yang kala itu dalam kondisi sakit, mengantar para suster Salesian yang akan pergi ke tanah misi di Amerika Selatan. Namun ketika tiba di Marseilles, kesehatannya semakin memburuk. Sehingga ia kembali ke Mornese. 

Memasuki bulan April, kondisi Madre Mazzarello semakin parah, ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. Dan pada tanggal 14 Mei 1881, setelah menerima sakramen minyak suci, Mazzarello berkata: "Selamat tinggal, saya akan pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di surga."

Santa Maria Mazzarelo

Santa Maria Mazzarelo dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tanggal 20 November 1938, dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 24 Juni 1951. Jasadnya yang masih utuh disemayamkan di Basilica of our Lady Help of Christian. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Mei.

Contoh hidup Santa Maria Dominica Mazzarello adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia terus menerus mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah seorang gadis petani yang diberkati dengan belas kasih Tuhan, untuk menyatakan cinta kasih tulus yang mendalam kepada sesamanya. 

Ia menjalani hidupnya dengan doa Rosario yang tak putus-putus dan pelayanan penuh kepada para saudari Salesian dan warga masyarakat yang membutuhkannya. Sampai saat ini contoh hidupnya diwariskan turun temurun oleh Konggregasi Suster-suste Salesian.



Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...