Tampilkan postingan dengan label katolik roma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katolik roma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Desember 2023

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II

Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang kini telah menjadi seorang Santo dalam Gereja Katolik Roma. Beliau adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat antara tahun 1522-1523.

Selama masa kepausannya, beliau aktif memerangi Komunisme, Kapitalisme yang tidak terkendali dan Penindasan Politik. Secara signifikan, beliau juga meningkatkan hubungan antara Gereja Katolik dengan Yahudi, Islam dan Gereja Ortodoks Timur.

Saya pribadi, walaupun tidak pernah bertemu atau terlibat langsung dengan bapak gereja kita ini, merasa sangat dekat dengan beliau karena karya-karya kerasulannya terasa nyata dalam hati semua orang, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Jadi blog ini akan sangat panjang dan banyak isinya.

Masa Muda

Karol Józef Wojtyła adalah nama asli Paus Yohanes Paulus II. Beliau terpilih sebagai Paus di usia 58 tahun, dan menjabat sejak 16 Oktober 1978 hingga wafatnya pada tanggal 2 April 2005. Beliau memilih nama 'Yohanes Paulus' untuk menghormati pendahulunya, Paus Yohanes Paulus I, yang wafat 33 hari setelah Konklaf Kepausan Agustus 1978.

Karol lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia Selatan. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Karol Wojtyla yang adalah seorang Opsir Tentara Austria Hungaria dan Emilia Kaczorowska, yang merupakan seorang keturunan Lituania.

Ibu Karol meninggal pada saat ia masih berusia delapan tahun, dan kakak perempuannya Olga, meninggal ketika masih bayi, sebelum Karol lahir. Sehingga Karol dekat dengan kakak laki-lakinya, Edmund, yang lebih tua 14 tahun. Karena pekerjaannya sebagai dokter, Edmund meninggal karena demam Scarlet pada 1932, hal ini sangat mempengaruhi kehidupan Karol. 

Karol menerima Komuni pada usia 9 tahun. Masa remajanya, Karol adalah seorang atlit sepakbola. Di masa ini, kehidupan Karol terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi. Pertandingan sepakbola sering diadakan antara tim Yahudi dan Katolik. Ia sering menawarkan diri sebagai penjaga gawang bila tim Yahudi kekurangan pemain.

Pada pertengahan tahun 1938, Karol dan ayahnya pindah ke Krakow, disana ia menjadi mahasiswa di Universitas Jagiellonian. Sambil belajar Filologi dan berbagai bahasa, ia menjadi pustakawan sukarela dan ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infantri ke-36 Polandia.

Karol juga tampil di berbagai teater serta menjadi penulis naskah drama. Selama masa-masa itu, kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, ia menguasai 12 bahasa asing, 9 diantaranya dipakai terus sampai ia menjadi seorang Paus.

Tahun 1939, pendudukan Nazi di Polandia membuat universitas tempat ia belajar ditutup. Sejak tahun 1940-1944, Karol harus bekerja keras untuk menghindar dari diangkut ke Jerman sekaligus menopang hidupnya. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari pelayan restoran, pekerja tambang, hingga buruh di pabrik kimia.

Pada tahun 1941, ayah Karol meninggal dunia. Hampir 40 tahun kemudian, ia menceritakan kisahnya bahwa di usia 20 tahun ia telah kehilangan semua orang yang dikasihinya, dan ketika mereka meninggal ia tidak ada disamping orang-orang terkasih itu. 

Menjadi Pastor

Menyadari akan panggilannya untuk menjadi seorang Imam sangat besar, pada Oktober 1942, Karol menemui Uskup Agung Krakow dan menyatakan keinginannya menjadi Pastor. Ia kemudian mulai belajar di Seminari yang dijalankan secara rahasia oleh Uskup Agung Krakow, Kardinal Adam Stefan Sapieha.

Setelah perang dunia II berakhir, Seminari Agung Krakow dibuka kembali. Karol menyelesaikan studi disana dan Studi teologinya di Universitas Jagiellonian, hingga pentahbisan imamatnya pada tanggal 1 November 1946, pada hari raya Semua Orang Kudus.

Setelah ditahbiskan, Kardinal Sapieha mengirim Karol ke Roma untuk belajar di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas. Disana ia mendapat gelar Doktor Teologi Suci. Selama hari-hari liburnya, Karol menjalankan pelayanan pastoral di antara orang-orang Polandia yang bermigrasi ke Perancis, Belgia dan Belanda.

Karol adalah murid yang sangat cerdas, ia menulis banyak artikel penelitian, tulisan religius dan literatur asli selama periode Doktoratnya di Roma. Tahun 1948 ia kembali ke Polandia dan menjadi pastor pembantu di beberapa paroki di Krakow serta pastor mahasiswa di Universitas Krakow hingga 1951.

Menjadi Uskup dan Kardinal

Pastor Karol Wojtyla ditahbiskan menjadi Uskup pembantu di Krakow pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel oleh Uskup Agung Baziak. Ia menjadi Uskup termuda di Polandia pada usia 38 tahun. 

Setelah Uskup Baziak wafat, Wojtyla ditahbiskan oleh Paus Paulus VI menjadi Uskup Agung Krakow pada tanggal 13 Januari 1963. Kemudian tanggal 26 Juni 1967, Paus yang sama mengumumkan promosi Uskup Agung Karol Josef Wojtyla menjadi Kardinal.

Pada masa ini, Kardinal Wojtyla berperan penting dalam Konstitusi Gaudium et Spes, Ensiklik Humanae Vitae yang berkaitan dengan masalah pelarangan aborsi dan pengaturan kelahiran dalam KB. Ia juga mengambil bagian dalam persidangan Sinode para Uskup.

Menjadi Paus Yohanes Paulus II

Setelah wafatnya Paus Paulus VI, Kardinal Wojtyla menghadiri Konklaf Paus, yang memilih Albino Luciani, Kardinal Venesia, sebagai Paus Yohanes Paulus I. Namun tanpa diduga, 33 hari setelah menjabat, Paus Yohanes Paulus I wafat.

Konklaf kedua pata tahun 1978 diadakan pada tanggal 14 Oktober. Kardinal Karol Wojtyla memenangkan pemilihan sebagai kandidat kompromi pada putaran kedua. Untuk menghormati pendahulunya, ia mengambil nama Paus Yohanes Paulus II.

Ketika asap putih muncul di langit lapangan Santo Petrus untuk memberitahu umat bahwa seorang Paus telah terpilih, ia menerima pemilihannya dengan kata-kata: "Dengan ketaatan dalam iman Kristus, Tuhanku, dan dengan kepercayaan kepada Bunda Kristus dan Gereja, meskipun dalam kesulitan yang besar, Saya menerima".  

Karol Josef Wojtyla menjadi Paus ke-264 dalam kronologis daftar Paus, dan menjadi Paus non-Italia pertama sejak 455 tahun. Di usia 58 tahun dia menjadi Paus termuda sejak Paus Pius IX, yang dilantik pada usia 54 tahun. 

Ia meniadakan penobatan Kepausan Tradisional yang seperti pelantikan kerajaan dan mengambil pelantikan Gerejawi yang sederhana pada 22 Oktober 1978.  

Karya Kepausan dan Perjalanan Pastoral

Paus Yohanes Paulus II telah menyelesaikan 104 Kunjungan Pastoral di luar Italia dan 146 di dalam Italia. Sebagai Uskup Roma, dia mengunjungi 317 paroki dari 332 paroki yang ada di Roma.

Dalam pengajaran, ia membuat berbagai dokumen penting termasuk 14 ensiklik, 15 himbauan apostolik, 11 konstitusi apostolik dan 45 surat apostolik. Sri Paus juga menyelesaikan 5 buah buku: "Menyeberangi Ambang Pintu Harapan (1994); Anugerah dan Misteri: Pada Ulang Tahun ke-50 Tahbisan Imamatku (1996); sebuah buku puisi "Meditasi-meditasi Triptik Romana" (2003); "Marilah Kita Berada Pada Jalan Kita" (2004); dan "Kenang-kenangan dan Identitas" (2005).

Yohanes Paulus II dalam masa Pontifikatnya telah memimpin 147 Upacara Beatifikasi dan 51 Upacara Kanonisasi. Dia telah menyelenggarakan 9 Konsistori dengan mengangkat 232 orang Kardinal, mengadakan 6 pertemuan kolegio para kardinal serta memimpin 15 Sinode Para Uskup.

Ia menjadi satu-satunya Paus yang telah bertemu dengan banyak tokoh di dunia dan lebih dari 17.600.000 orang peziarah telah mengambil bagian dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus pada setiap hari Rabu. 

Jumlah itu bahkan belum terhitung dengan Audiensi Khusus lain, Upacara Religius serta Kunjungan-kunjungan Pastoral yang telah diadakannya di Italia dan seluruh dunia.

Paus Yohanes Paulus II terkenal memiliki hubungan dekat dengan Kepemudaan Katolik. Sebelum menjadi Paus ia sering melakukan perkemahan dan perjalanan mendaki gunung dengan para pemuda Katolik, hal ini terus dilakukannya setelah menjadi Paus.

Ia menggagas 'Hari Pemuda Dunia' pada tahun 1984 untuk mengajak pemuda-pemudi Katolik di seluruh dunia merayakan keyakinannya. Pertemuan selama seminggu ini berlangsung setiap 2 atau 3 tahun sekali dan menarik minat jutaan kaum muda dari seluruh dunia.

Ia sangat memperhatikan pendidikan untuk Imam Baru dan melakukan kunjungan ke seminari-seminari Katolik Roma. Perhatiannya kepada keluarga-keluarga juga diungkapkannya pada Pertemuan Keluarga Dunia pada tahun 1994.

Jika sahabat Kristus sempat membaca biografinya di Wikipedia, kalian akan mengetahui betapa ia sangat gencar mengusahakan Perdamaian Dunia dan mengambil peranan penting pada setiap hal yang menyangkut di dalamnya. Sri Paus melakukan banyak perjalanan dan kunjungan kepada pemimpin serta penganut agama dan kepercayaan lain.

Ia menjalin komunikasi yang baik dan berjuang menemukan dasar yang sama dalam doktrin dan dogma. Pada hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 1986 di Asisi, ledih dari 120 wakil agama dan kepercayaan serta berbagai denominasi Kristen meluangkan waktu sehari bersama untuk berpuasa dan berdoa.

Percobaan Pembunuhan dan Akhir Hidupnya

Pada tanggal 13 Mei 1981, Sri Paus hampir kehilangan nyawanya setelah ditembak oleh seorang ekstremis Turki di Lapangan Santo Petrus. Dua hari setelah Natal, 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara.

Percobaan pembunuhan kedua terjadi di Fatima, Portugal yang dilakukan oleh seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras, warga negara Spanyol. Adapula satu serangan terorisme massal di Manila dan sebuah bom bunuh diri yang berhasil dicegah.

Sebagai mantan olahragawan sejati dan pemain bola, beliau terkenal sebagai Paus yang Sehat. Meskipun mengalami berbagai macam cidera karena percobaan pembunuhan dan kecelakaan kecil, ia selalu terlihat bugar dalam setiap pelayanannya.

Di hari-hari terakhir kehidupannya, cahaya lampu tetap dinyalakan di lantai atas Istana Apostolik. Puluhan ribu umat berkumpul di lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan, untuk turut mendoakan serta memberi sang pemimpin kekuatan. 

Santo Yohanes Paulus II wafat pada tanggal 2 April 2005, jam 9:37 malam, di Vatikan setelah mengatakan: "Biarkan aku pergi ke rumah Bapa". Pemakamannya dihadiri jutaan umat, ratusan kardinal dan banyak pemimpin negara dari seluruh dunia, di Lapangan Santo Petrus.

Santo Yohanes Paulus II dibeatifikasi oleh penerusnya, Paus Benediktus XVI pada tanggal 1 Mei 2011 dan dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 27 April 2014. Pestanya dirayakan setiap tanggal 22 Oktober.

Sahabat Kristus, saya termasuk salah seorang yang sangat menghormati dan mengagumi Sri Paus yang satu ini bukan hanya karena sosok beliau yang luar biasa tapi juga karena devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria sejak dari masa mudanya. 

Dalam bukunya, ia menyebutkan bahwa Doa kesayangannya adalah Doa Rosario, sebuah Doa yang sangat mengagumkan karena kesederhanaan dan kedalamannya. Baginya Bunda Maria dan Doa Rosario memegang peranan penting dalam kehidupan Rohaninya. 

Ketika menulis blog ini, saya merasa sangat terharu dan bangga, bahwa sangatlah beralasan saya menaruh hormat dan kagum yang tinggi padanya. Semoga kita semua memperoleh hikmat dari kisah ini ya... Salve sahabat Kristus...

Senin, 04 September 2023

Santa 'Kecil' Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Bagi orang Katolik, Para Kudus Allah adalah orang beriman yang telah meninggal dan sikap hidup mereka adalah contoh keteladanan, ketaatan serta pengharapan penuh pada kasih Allah Bapa yang sudah mencapai titik heroik. 

Dalam iman Katolik, orang Kudus dipercaya telah dikaruniai kehidupan kekal bersama Allah Bapa di surga, sehingga mereka sering dijadikan sebagai perantara doa kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, tanpa mengabaikan peran Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan. Para Kudus ini diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik melalui beberapa fase.

Fase pertama, diberikan waktu 5 tahun bagi ketenangan jiwa setelah meninggal. Fase kedua, adalah waktu penyelidikan gereja terhadap cara hidup mereka, hal ini merupakan tanggapan bagi permohonan kaum beriman atas diri calon orang kudus tersebut. 

Proses ini dibuat untuk menyatakan apakah yang bersangkutan sudah benar-benar memenuhi kriteria hidup suci dan penuh kebajikan. 

Dalam fase ini ada sebuah proses Bernama Declaration “non-cultus” atau pernyataan bahwa tidak ada pemujaan berhala pada orang kudus tersebut. 

Semua saksi akan dikumpulkan dan dibuat penyelidikan. Jika pada fase ini semua hal tersebut sudah bisa diterima, uskup akan membuat rekomendasi kepada paus, sehingga yang bersangkutan akan disebut ‘Hamba Allah.”

Fase selanjutnya, adalah meyakinkan akan mujizat-mujizat yang terjadi melalui Hamba Allah ini. Jika tahap ini dapat dibuktikan dan diakui oleh Paus, calon Santo atau Santa ini akan disebut “Terberkati”. Fase terakhir adalah Proses Kanonisasi yaitu pernyataan bahwa orang tersebut diangkat menjadi Santo atau Santa. 

Banyak proses yang harus dilewati untuk mencapai fase ini, termasuk akan diadakan misa untuk membacakan Sejarah hidup yang bersangkutan, serta mujizat yang sudah terjadi dengan perantaraan doa kepadanya. 

Tentu saja keseluruhan proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa Allah sungguh berkenan mengangkat hambanya menjadi orang Kudus pilihannya. 

Dalam kasus tertentu, tahap-tahap ini bisa dipercepat oleh Paus apabila semua informasi dan penyelidikan yang diperlukan sudah lengkap. Seperti yang terjadi pada Santa Theresa dari Calcuta dan Paus Yohanes Paulus II.

Masa Kecil. Santa Theresse de Lisseux atau yang biasa disebut juga Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, terlahir di Alencon, Perancis pada tanggal 2 Januari 1873, dengan nama kecil Marie Francoise Therese Martin. Ayahnya seorang pembuat jam yang sukses, bernama Louis Martin dan ibunya Marie Azelie Guerin, seorang pembuat renda. 

Theresia adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Kakak Pertamanya, Marie menjadi suster Marie Hati Kudus Karmelit di Lisieux. Kakaknya yang kedua, Pauline, juga menjadi suster dan ibu Agnes dari Yesus, dari Karmelit di Lisieux. Kakak Theresia yang nomor 3, Leonie, tidak diterima di Karmelit Lisieux, ia kemudian menjadi suster Klaris dan Visitasi di Caen, dengan nama suster Francoise Theresia.

Kakak-kakak Theresia yang berikutnya, Marie Helene, Marie Joseph Louis dan Marie Joseph Jean Baptiste, meninggal di usia yang masih balita. Kemudian putri yang ketujuh, Celine, menjadi suster Karmelit Lisieux, dengan nama suster Genevieve dari Wajah Kudus. Kakak yang kedelapan di atas Theresia, yaitu Marie Melanie Theresia, meninggal pada usia 7 minggu.

Theresia terlahir sebagai anak yang manja, kesayangan ayahnya. Ia biasa dipanggil ratu kecil. Karena kasih sayang dan dimanja dalam keluarga, Theresia menjadi pribadi yang tidak bisa bergaul, cepat merajuk dan marah. Saat Theresia berusia 4 tahun, ibunya meninggal karena sakit kanker payudara, Louis Martin kemudian memutuskan pindah ke Kota Lisieux dimana banyak keluarganya tinggal. 

Theresia kemudian belajar di sekolah Benediktin Notre Dame Du Pre. Di usia 10 tahun, Theresia juga harus melepas kakaknya Pauline, yang selama ini mengurus dan merawatnya sepeninggal sang ibu. 

Hal ini semakin membuatnya sangat kesepian dan sedih, ia kemudian jatuh sakit yang sangat parah. Namun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Ayah dan kakak-kakaknya berdoa di sekeliling tempat tidurnya, hingga suatu hari Theresia melihat Bunda Maria tersenyum padanya, dan seketika sakitnya sembuh.

Theresia kemudian berusaha memaksa masuk ke ordo Karmelit, tempat Pauline berada, namun ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Theresia sangat menderita karena sedih dan depresi. Untuk menghiburnya, ayahnya mengajaknya berziarah ke Roma. 

Pada saat itu, ia berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XIII. Theresia kecil meminta pada Paus untuk mengijinkannya masuk biara, namun Paus mengatakan, anakku, ikutilah keputusan pastur pemimpin.

Diterima menjadi Biarawati. Pada April 1888, Theresia diterima menjadi postulant karmelit di Lisieux, oleh Uskup Bayeux. Pada tahun 1889, ayahnya menderita stroke dan dibawa ke sanatorium Bon Sauveur di Caen. 

Ia tinggal selama 3 tahun disana kemudian kembali ke Lisieux. Ayah Theresia meninggal pada tahun 1894, pada tahun itu juga Celine masuk biara karmelit di Lisieux dan menjadi suster Genevieve dari Wajah Kudus. 

Theresia sangat mencintai Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Itu sebabnya ia memilih biara karmel, agar seluruh harinya dihabiskan hanya untuk berdoa dan bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat dan belum mengenal Tuhan Yesus. 

Ia berkata: “Tuhan tidak ingin kita melakukan apapun, ia hanya ingin kita mencintai-Nya.” Ia melakukan segala sesuatu dengan senyum dan kesabaran. 

Ia melayani suster-suster tua yang sakit dan suka mengeluh tentang sakit mereka, ia mengurus dan melayani mereka seolah ia melayani Tuhan Yesus. Ia percaya bahwa mencintai sesama berarti mencintai Tuhan Yesus. Menurut Theresia, mencari kesucian diri tidak perlu dengan melakukan tindakan kepahlawanan atau jasa besar, cukuplah dengan mencintai Tuhan.

Setelah 9 tahun menjadi biarawati, Theresia menderita penyakit TBC. Di masa itu, TBC belum ada obatnya. Sehingga penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada 30 September 1897, di usia 24 tahun. Theresia meninggal dengan penuh cinta kepada Tuhan Yesus. 

Pada 29 April 1923, Santa Theresia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 2 tahun kemudian yakni pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasi Theresia menjadi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia si Bunga Kecil. 

Ia mengajarkan kepada kita bahwa mencapai kesucian tidaklah terlalu rumit, cukuplah hidup dengan penuh cinta kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, seperti yang dicontohkannya dalam cara hidupnya. 

Hal ini juga tergambar dalam doa-doanya. Santa Theresia mengatakan: “Bagiku, doa berasal dari hati. Ini merupakan tatapan sederhana ke surga. Doa adalah permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan dalam satu kata, yang kemudian menyatukannya dengan Tuhan. 

Aku tidak ingin mencari doa-doa dengan kata-kata yang indah. Aku melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca. Aku menceritakan semuanya pada Tuhan yang aku inginkan dan Dia mengerti.”

Autobiografi. Theresia menuangkan semua dalam buku Autobiografinya yang berjudul “Story of a Soul”, “Percakapan Terakhir” dan “Puisi dari Santa Theresia”. Ia menulis semua itu dalam pengawasan kakaknya Pauline, atau ibu Agnes dari Yesus dan juga pemimpin biara. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi pelindung para Penderita AIDS, pelindung penerbang, Toko Bunga, Pelindung Penyakit dan Karya Misi. 

Bahkan ia diangkat menjadi pelindung Rusia. Ayah dan ibu Theresia juga menjadi Beato dan Beata karena cara hidup dan ketaatan mereka. saat ini tubuh Santa Theresia yang masih utuh itu disemayamkan di Carmel of Lisseux Perancis. Pada Oktober 1997, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi wanita ke-3 yang mendapat gelar Doktor Gereja.



Minggu, 18 April 2021

Santo Luigi Orione (Kisah Hidup Para Kudus Allah Part - 18)

Shalom Sahabat Tuhan Yesus…

Kembali lagi dengan kisah para Santo dan Santa yang Jasadnya masih utuh sampai saat ini. Kali ini, saya akan bercerita tentang Santo Luigi Orione dari Italia.

Sebelumnya, saya sangat ingin tahu, apakah sahabat sudah menyempatkan melihat atau membaca blog saya tentang Para Kudus Allah yang lainnya? Saya sangat ingin tahu, apa saja yang sudah sahabat renungi tentang cara hidup dan ketaatan mereka? Apakah ada yang berpengaruh dalam cara hidup atau menambah iman sahabat?

Kalau belum, kita mungkin bisa memulainya lagi ya kan…? Lahir baru dengan mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan Yesus memang bukanlah hal yang mudah, butuh banyak perjuangan dan kesetiaan menanti ‘Waktu Tuhan’ menemukan kita…

Ayo tetap semangat….

Santo Luigi Orione

Luigi Giovanni Orione adalah seorang imam Italia yang terkenal sangat aktif melakukan kegiatan sosial di negaranya, ketika Italia menghadapi pergolakan sosial di akhir abad ke-19. Untuk tujuan mulia itu, Santo Luigi mendirikan sebuah lembaga keagamaan untuk para pria.

Luigi Giovanni Orione dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1872  dalam sebuah keluarga miskin di Pontecurone, Provinsi Alessandria, di wilayah Piedmont Italia.

Ia dibabtis sehari kemudian dengan nama seturut nama dua orang kudus yang menjadi sumber devosi keluarganya; yaitu Santo Luigi Gonzaga (Aloysius Gonzaga) dan Santo Giovanni Batista (Yohanes Pembabtis).

Ayahnya, Vittorio Orione,  adalah seorang tukang batu  yang pendiam dan ibunya bernama Carolina adalah seorang ibu rumah tangga yang saleh dan selalu menanamkan semangat hidup rohani dalam diri  Luigi kecil.

Di usia tiga belas tahun  Luigi  masuk Seminari Fransiskan di Voghera (Pavia), namun setahun kemudian ia dikeluarkan karena kesehatannya yang buruk.  Ia kemudian melanjutkan studinya di Oratorium Valdocco di Turin yang di kelola oleh para Salesian Don Bosco yang kala itu masih dipimpin oleh Santo Yohannes Bosco



Pribadi Luigi Orione yang pendiam dan saleh, mendapat perhatian khusus dari Don Bosco dan merupakan salah seorang murid favoritnya.  

Pada tahun 1888 Don Bosco wafat.  Luigi bersama para siswa Oratorium dan ribuan masyarakat Turin hadir pada misa penguburan Don Bosco.

Pada saat berlutut dan memberikan penghormatan terakhir didepan Jenazah Don Bosco, sebuah mujizat terjadi pada Luigi Orione.  Berbagai penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun seketika itu juga sembuh secara ajaib.

Setahun setelah mujizat itu terjadi, Luigi lulus dari Oratorium Don Bosco dan melanjutkan pendidikannya ke Seminari Tinggi Diosesan di Tortona.  



Frater Luigi kemudian terlibat dalam banyak kegiatan amal dan menjadi relawan dari Komunitas Sukarelawan
San Marziano dan komunitas Relawan Santo  Vincent de Paul.  Bersama dua komunitas relawan ini, Frater Luigi banyak berkarya menolong dan memperhatikan orang lain.

Pada tahun 1892, terinspirasi oleh Oratorium Salesian Don Bosco, dimana ia pernah bersekolah, Frater  Luigi  yang saat itu baru berusia 20 tahun membuka sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak orang miskin di Tortona.

Tahun berikutnya ia memulai sebuah sekolah asrama dengan biaya murah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Orang tua para siswa hanya menyumbang bahan makanan sebanyak yang mampu mereka berikan dan Frater Luigi bersama beberapa orang frater akan mengajar anak-anak di sekolah itu dengan sukarela.

Ditengah kesibukkannya membantu anak-anak dari keluarga miskin,  Frater Luigi ditahbiskan menjadi seorang imam praja pada tanggal 13 April 1895.



Melihat perkembangan yang cukup baik pada lembaga yang didirikan oleh pater Luigi, Uskup Tortona lalu memperbolehkan sejumlah frater untuk turut membantu karya pelayanan pater Luigi.  

Inilah awal berdirinya Konggregasi FDP (Figli della Divina Providenza / Sons of Divine Provvidence) yakni Konggregasi Karya Penyelenggaraan Ilahi.

Kongregasi diresmikan pada 21 Maret 1903 oleh Uskup Tortona Mgr. Igino Bandi dan berkembang pesat dari tahun ke tahun. Para imam Kongregasi ini berkarya untuk menghantar dan menyatukan semua orang, termasuk orang miskin, kepada Tuhan dan Gereja.

Pada tahun 1915 Luigi mendirikan klinik kesehatan murah di Turin dan Cottolengo untuk menolong orang-orang miskin. Para pasien yang datang akan digolongkan menurut jenis penyakitnya dan dirawat dengan penuh kekeluargaan.

Di tahun ini  juga Luigi mendirikan susteran Little Missionary Sisters of Charity atau Susteran Misionaris. Para biarawati ini  berkarya dalam bidang pendidikan kanak-kanak, panti asuhan, pastoral,  pendidikan untuk perempuan, pertolongan pada orang miskin dan sakit.  

Dengan demikian semakin banyak muda-mudi yang ingin bergabung mengikuti semangat  pater Luigi Orione.

Saat ini misi FDP telah menyebar ke seluruh dunia dan berkarya kurang lebih di 23 Negara di berbagai benua.

Pada musim dingin tahun 1940,  Don Luigi Orione menderita sakit jantung dan paru yang cukup parah. Ia lalu diminta pergi ke Sanremo untuk menjalani perawatan intensif. 

Pada malam keberangkatannya ke Sanremo,  Don Orione mengatakan kepada rekan-rekannya,  "Saya tidak ingin wafat di antara pohon-pohon palma”, katanya. “Saya ingin wafat diantara orang-orang miskin yang adalah Yesus".   

Empat hari kemudian, dengan dikelilingi oleh para imam FDP,  pater Luigi Orione menutup mata untuk selamanya.  Kata-kata terakhirnya adalah: 

"Yesus, Yesus! Yesus!  aku datang ..."

Pater Luigi Orione meninggal pada tanggal 12 Maret 1940 di Sanremo Italia karena sakit yang dideritanya.

Santo Luigi Orione Dibeatifikasi pada tanggal 26 Oktober 1980 oleh Paus Yohanes Paulus II dan Dikanonisasi oleh Paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. 

Jasad utuh Santo Luigi Orione disemayamkan di Suaka Nostra Signora della Guardia, di Tortona , Italia.

Sekian kisah kita kali ini. Shalom…. Tuhan memberkati…




Selasa, 17 November 2020

SANTO PETER JULIAN EYMARD, Pendiri Konggregasi Sakramen Mahakudus dan Konggregasi Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria..

Saat ini kita telah memasuki bulan ke-9 masa-masa menyebarnya Virus Corona di negara kita, bahkan di seluruh belahan dunia.

Melalui blog ini saya mengirimkan doa dan dukungan untuk sahabat semua, semoga kita tetap kuat bertahan dengan mengandalkan iman kita kepada Tuhan Yesus ya… Ingatlah, ketika semua terasa sulit bagi kita, bagi Tuhan Yesus semua hal sangatlah mudah.

Mazmur 119:50 “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.”

Nah, kisah kita di part ke-13 ini, tentang :

Santo Peter Julian Eymard

Atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Santo Petrus Yulianus Eymard. Ia dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1811 di La Mure, Prancis, sebuah wilayah Keuskupan Grenoble. Peter dibesarkan dalam keluarga miskin, ayahnya bekerja sebagai tukang memperbaiki pisau. 

Sejak awal hidupnya, sudah tertanam jelas cintanya yang besar dan gairah dalam hidupnya kepada Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Peter belajar bahasa Latin sendiri dan menerima bimbingan rohani dari seorang imam.

Suatu hari, Peter kecil yang baru berusia 5 tahun, ketika sedang dijaga kakak-kakak perempuannya, Peter tiba-tiba menghilang dari rumah. Dengan panik mereka mencarinya, dan akhirnya mereka menemukan Peter di Gereja Paroki, berdiri di atas sebuah bangku di depan Tabernakel, dan mendekatkan telinganya di pintu Tabernakel itu. 

Peter menanggapi pertanyaan cemas kakak-kakaknya dengan menjawab: “Saya disini untuk mendengarkan Yesus. Saya bisa mendengarkan-Nya lebih baik disini.”

Seperti remaja pada umumnya, Peter Julian Eymard dibesarkan oleh latar belakang keluarga dan budaya serta lingkungan sosial dan politik pada masanya. Sebelum menerima Komuni Pertama, pada usia 12 tahun, Peter menulis sebuah surat kepada Yesus yang akan dibacakannya setelah menerima Komuni Pertama.

Ia menulisnya sebagai berikut: Yesusku terkasih, aku berterima kasih atas rahmat yang Engkau berikan kepadaku, bahwa Engkau mau datang untuk tinggal di hatiku...’, doa yang singkat dan indah, bisa dijadikan doa setelah menerima komuni.

Kehidupan di Prancis selama masa awal abad ke-19 itu sangat sulit. Tahun-tahun sebelumnya, Revolusi Perancis telah secara radikal mengubah pandangan politik, sosial dan keagamaan di negara itu. Peter muda mengalami Revolusi Industri yang melanda Eropa dan menyaksikan terbitnya era romantisme dalam Seni, Musik dan Sastra.

Sejak masih muda, Peter sangat ingin menjadi seorang Pastor. Tapi ayahnya tidak setuju dengan pilihannya itu. Ayahnya tidak ingin putra satu-satunya yang ia miliki menjadi seorang Pastor. Setelah Peter akhirnya bisa masuk sekolah seminari di Grenoble, dia mengalami sakit keras dan itu memaksanya untuk meninggalkan kehidupan seminari. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, Peter sekali lagi mencoba masuk seminari. Dan pada 20 Juli 1834, Peter yang saat itu berusia 23 tahun, ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Grenoble. Ia melayani 2 paroki dan banyak umat menyadari bahwa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka semua.

Pada tanggal 20 Agustus 1839, Father Peter Julian Eymard mengikrarkan kaulnya bergabung menjadi Imam Kongregasi Serikat Maria (Marists). Pada tahun 1845 ia diangkat menjadi superior dan pembina rohani bagi seminaris Ordo Marists di Lyon, Perancis.

Meskipun terus menerus mengalami masalah gangguan kesehatan, Father Eymard adalah Pastor yang enerjik, pekerja keras dan saleh. Ia menjalanikehidupan kontemplasi dan melaksanakan berbagai tugas administrasi yang diberikan kepadanya. 

Dia adalah seorang pemimpin yang luar biasa, seorang pendidik yang bersemangat, seorang pengkotbah yang baik dan penuh persiapan, dan sosok yang sangat saleh di mata para muridnya dan bahkan atasannya.

Sepanjang hidupnya, Pastor Eymard memiliki Devosi yang dalam kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan. Dia menghormati penampakan Santa Maria di La Sette dan suka melakukan perjalanan ziarah ke berbagai tempat Penampakan Bunda Maria di Eropa. Itu merupakan karya kerasulan Pastor Eymard dalam Kongregasi Serikat Maria. 

Pastor Eymard sangat rajin memberitakan tentang devosi kepada Sakramen Mahakudus, ia memiliki cinta yang menyala-nyala pada Ekaristi Kudus. Ia amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka meluangkan waktu setiap hari melakukan adorasi kepada Sakramen Mahakudus.

Dalam suatu kesempatan, pada perayaan penghormatan pada Sakramen Mahakudus, tanggal 25 Mei 1845, Pastor Eymard mengalami kejadian rohani luar biasa yang kemudian mengubah jalan hidupnya. 

Ketika membawa Sakramen Mahakudus pada prosesi di gereja St. Paulus di Lyons, dia merasakan kehadiran Kristus yang kuat dalam Sakramen Ekaristi. Sakramen itu seolah diselubungi dengan kasih dan cahaya. 

Dalam hati Pastor Eymard memohon kerahiman dan belas kasih Tuhan Yesus menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri disentuh dalam Ekaristi dan ia memutuskan untuk “membawa seluruh dunia kepada pengetahuan dan cinta kepada Tuhan Yesus; untuk tidak mewartakan apapun selain Yesus Kristus dan Ekaristi Sakramen Mahakudus.”

Rahmat ini kemudian benar-benar menjadi pusat hidup dan energi Pastor Eymard selama beberapa tahun berikutnya. Ketika ia diberi tanggungjawab oleh Pastor Jean Claude Colin, Pendiri Kongregasi Serikat Maria, untuk menulis Regula Ordo Ketiga dari Kongregasi Serikat Maria, Pastor Eymard meminta ijin untuk menulis tentang aturan Ekaristi. 

Pastor Colin menjawab, bahwa itu bukanlah karisma dari Kongregasi Serikat Maria. Namun, ide untuk menulis aturan itu sudah tertulis di benak dan hati pastor Eymard, dan di tahun 1856, dia membuat keputusan menyakitkan, atas persetujuan dari para pembesarnya, Pastor Eymard meninggalkan Konggregasi Marists dan mendirikan sebuah konggregasi religius yang didedikasikan untuk Sakramen Ekaristi Mahakudus.

Mendirikan sebuah Kongregasi bukanlah tugas yang mudah. Kesetiaan mengikuti tuntunan Roh Kudus mendatangkan berbagai konflik dan masalahjuga kelelahan fisik. Berbagai rintangan harus dialaminya.

Ketika ia mendapatkan kesempatan bertemu Uskup Agung Paris, Marie Dominique Auguste Sibour, Pastor Eymard menceritakan Visinya. Dan Uskup Agung sangat tertarik dengan Visi Eymard tentang Mempersiapkan Komuni Pertama, khususnya bagi orang dewasa. 

Komunitas dan Organisasi Ekaristi banyak bermunculan di seluruh Perancis, banyak diantaranya hanya fokus pada berdoa dan penyembahan, tetapi Uskup Sibour meyakini bahwa Visi Pastor Eymard tidak terbatas pada Adorasi saja tapi juga untuk menjangkau semua mereka yang terasing dari gereja dan mengevangelisasi mereka.

Pastor Eymard mendapatkan persetujuan mendirikan kongregasi yang beranggotakan para imam yang beradorasi kepada Sakramen Mahakudus ini pada tanggal 13 Mei 1856. Tanggal ini kemudian dirayakan sebagai pesta berdirinya Kongregasi Sakramen Mahakudus (Congregation of the Blessed Sacrament; SSS).

Setelah pembentukan ordo para imam, pada tahun 1858,Pastor Eymard membentuk ordo para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus (Servants of The Blessed Sacrament; SJS). 

Para biarawati ini juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Karya kerasulan ini tidak berjalan baik pada awalnya. Bahkan Pastor Eymardharus berpindah dua kali karena tidak ada yang berminat pada kongregasinya.

Ia juga membentuk kelompok-kelompok dalam gereja bagi umatnya untuk mempersiapkan diri mereka menyambut Komuni Kudus Pertama. Ia menulis banyak buku mengenai Ekaristi yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Di masa pengabdiannya, pastor Eymard bersahabat dekat dengan Pastor Vianney yang kemudian menjadi Santo Yohanes Maria Vianney. Pastor Vianney bahkan mengatakan bahwa ia akan berdoa setiap hari bagi karya kerasulan pastor Eymard.

Santo Petrus Yulianus Eymard melewatkan 4 tahun terakhir hidupnya dalam penderitaan hebat. Selain karena kesehatan jasmani, juga karena berbagai masalah dan kecaman. Namun ia tetap setia dalam adorasinya kepada Sakramen Mahakudus. 

Kesaksian hidup dan pengorbanannya mendorong banyak orang menjawab panggilan hidup membiara dan bergabung dengan ordo-ordo religius.

Santo Petrus Yulianus Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 di usia 57 tahun. Ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dandikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus XXIII pada tanggal 9 Desember 1962.

Saya mendengar sebuah renungan tentang bagaimana menjadi Orang Kudus. Tentu saja selama ini kita berpikir bahwa menjadi Orang Kudus adalah sesuatu yang suci, rumit dan hanya mungkin bagi orang-orang pilihan Allah. 

Tapi renungan ini menyadarkan saya bahwa kita semua mempunyai moment atau kesempatan untuk menjadi Orang Kudus Allah. Bagaimana coba? Bukankah butuh orang yang seperti apa dulu untuk diangkat sebagai orang Kudus Allah?

Ketika kita merasakan ketenangan dan penghiburan Tuhan di tengah kesulitan hidup, ketika kita bersikap murah hati memaafkan orang lain di saat kita dikecewakan atau dikhianati, ketika kita merasa damai di tengah kekesalan, ketika kita dengan sukacita membantu orang lain tanpa memperhitungkan atau memandang apapun, 

ketika kita bahagia dalam kemiskinan, ketika kita mampu mengendalikan diri dalam kemarahan, ketika kita percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan dalam situasi apapun, moment-moment itu walau sedikit saja atau sebentar saja terasa, sebenarnya itu adalah moment dimana kita sudah menjadi Kudus.

Tinggal apakah kita mau berjuang memelihara moment seperti itu terus bertahan dalam seluruh pengalaman hidup kitadan memelihara Kekudusan sebagai tujuan hidup. Menjadi Kudus untuk lebih berbahagia dalam Tuhan.

Tetap setia pada panggilan hidup seperti yang dilakukan oleh Santo Petrus Yulianus Eymard dan memelihara moment-moment kekudusan kita walaupun sederhana tapi penuh iman kepada Tuhan Yesus.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya yah... Syalom, Tuhan Yesus memberkati...

Rabu, 14 Oktober 2020

SANTA YOAKIMA VEDRUNA VIDAL DE MAS, Muder of Charmelite Sisters of Charity

 

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria….

Beberapa minggu terakhir, dunia dikejutkan dengan berita terpilihnya seorang pemuda milenial dari Asisi menjadi orang Kudus Allah, Beato Carlo Acutis. Sang Beato muda yang dibeatifikasi pada tanggal 10 Oktober 2020 ini ditampilkan dengan mengenakan baju kaos, celana jins, tas ransel, kamera dan laptop, khas orang muda milenial. 

Seperti pemuda biasa pada umumnya, dia tetaplah seorang anak muda belasan tahun yang suka  bermain bola dan berkumpul dengan teman2nya.

Dia adalah anak korban perceraian, korban bully di sekolahnya dan punya banyak teman-teman yang disabilitas. Ia mempersembahkan seluruh penderitaan yang dialaminya bagi gereja dan Paus Benediktus XVI. 

Beato Carlo meninggal di usia 15 tahun karena kanker Leukimia. Seluruh talenta yang diberikan Tuhan padanya, ia gunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Saya melihat banyak orang Kudus Allah yang berasal dari kalangan orang muda, ada Santa Bernadeta Soubirus, Santa Maria Goreti, Santa Theressa dari Lissieux dan masih banyak lagi. Betapa mulianya pilihan hidup mereka ya… 

Di usia, dimana kebanyakan orang lebih memilih bersenang-senang dengan hoby dan pergaulan, mereka memilih mempertahankan kemurnian dan hidup hanya untuk kemuliaan Allah saja.

Kisah kita kali ini, tidak ada sangkut pautnya dengan orang muda ya, malah ini adalah kisah seorang ibu dengan 9 orang anak yang kemudian menjadi Orang Kudus Pilihan Allah.

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Terlahir pada tanggal 16 April 1783 di Barcelona, Spanyol. Ayahnya bernama Don Lorenzo de Vedruna, adalah seorang yang bekerja pada kerajaan dan ibunya bernama Teresa Vidal. 

Yoakima dibaptis pada tanggal kelahirannya di Gereja Santa Maria del Pi. Santa Yoakima adalah Orang Kudus Spanyol dan pendiri Charmelite Sisters of Charity atau Suster-suster Cinta Kasih Karmel.

Pada usia 12 tahun, Yoakima menyatakan keinginannya untuk menjadi biarawati Karmelit, tapi orangtuanya menolak karena merasa dia belum cukup dewasa untuk membuat keputusan seperti itu bagi masa depannya. 

Ia menjalani masa kecilnya dalam kesalehan, Yoakima menjalani Devosi khusus kepada bayi Yesus dan sangat terobsesi menjaga kemurniannya. Yoakima menerima Komuni Pertamanya pada usia 9 tahun di tahun 1792.

Sebagaimana kebiasaan para aristrokat bangsawan Spanyol di masa itu, Yoakima dijodohkan oleh orangtuanya dengan pemuda bangsawan. Diceritakan bahwa, Teodoro de Mas adalah seorang pengacara dan pemilik tanah yang juga sahabat dari Don Lorenzo. 

Ia sebelumnya ragu-ragu memutuskan siapa dari ketiga putri Don Lorenzo yang harus dinikahinya. Teodoro menghadiahkan kepada ketiga putri sahabatnya ini masing-masing 1 kotak kacang almond. 

Dua putri tertua menolak dan mengatakan itu adalah hadiah yang kekanak-kanakan, namun Yoakima menerima hadiah itu sambil berkata ‘Saya suka kacang almond’. Saat itulah Teodoro menetapkan pilihannya pada Yoakima.

Pada tanggal 24 Maret 1799, Yoakima dan Teodora de Mas menikah dan diberkati dengan 9 orang anak. Pasangan suami istri ini terkenal sebagai pasangan Katolik yang saleh. Mereka menjadi anggota  setia Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi dan senantiasa hidup sesuai regula ordo tersebut. 

Inilah mengapa Yoakima dikenal sebagai ‘Santa Yoakima dari Santo Fransiskus Asisi’. Kelak empat orang putri mereka menjadi biarawati, 2 putra mereka menikah dan menjadi awam Katolik yang saleh dan 3 anak yang lain meninggal dunia ketika masih kecil.

Pada tahun 1808, Kaisar Napoleon Bonaparte menyerang kerajaan Spanyol. Invasi yang terkenal dengan nama ‘The Peninsula War’ ini menyebabkan Yoakima beserta keluarganya harus melarikan diri tapi suaminya berkeras tetap berjuang dalam perang sebagai relawan melawan tentara Perancis dan ia meninggal pada tanggal 6 Maret 1816 akibat luka-luka yang didapatnya dalam sebuah pertempuran.

Beberapa bulan kemudian, bersama anak-anaknya, Yoakima pindah dari Barcelona ke tanah milih keluarga de Vedruna yang disebut ‘Manso Escorial’ di kota Vic, sekitar 70 kilometer jauhnya dari Barcelona. Yoakima mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghabiskan waktunya dalam doa. 

Ia selalu mengenakan jubah ordo ketiga Fransiskan dan mulai melakukan karya amal merawat orang-rang sakit. Pembimbing rohaninya, seorang imam Kapusin bernama Esteban de Olot, mengagumi semangat pengabdian Yoakima dan menyarankan dia untuk mendirikan sebuah Kongregasi Apostolik yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.

Hal ini mendapat dukungan penuh dari Uskup Vic, Pablo Jesus Corcuera, yang kemudian menyarankan agar kongregasinya mengadopsi regula ordo Karmel. Yoakima mengangkat sumpahnya di hadapan Uskup Pablo pada tanggal 6 Januari 1826. Uskup ini juga kemudian merumuskan dan menulis regula bagi konggregasi tersebut.

Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity resmi berdiri pada tanggal 6 Februari 1826. Dan di pagi hari 26 Februari, Yoakima bersama 8 orang wanita mengucapkan Kaul sebagai biarawati perdana di Konggregasi tersebut. 

Upacara tersebut berlangsung dalam misa pagi di Gereja biara Kapusin. Kemudian para biarawati perdana itu kembali ke ‘Manso Escorial’ dan memulai biara baru mereka.

Pada tahun-tahun awal berdiri, Muder Yoakima sering berkonsultasi dengan Santo Antonio Maria Claret, tentang cara hidup membiara dan pengelolaan konggregasi apostolik. 

Ketika perang Carlist terjadi yaitu serangkaian perang saudara di Spanyol, pada tahun 1836 Muder Yoakima pindah ke Roussilon, Perancis dan menetap disana selama 6 tahun sampai tahun 1842.

Kongregasi Karmel Suster-suster Amal ini secara resmi mendapat persetujuan dari Paus Leo XIII pada 20 Juli 1880. Ordo ini mulai menyebar ke seluruh wilayah Spanyol di Iberia dan berbagai belahan dunia. 

Para biarawati berkarya dengan mendirikan banyak rumah sakit, panti jompo dan sekolah-sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu.

Di awal tahun 1850, Muder Yoakima harus beristirahat dari tugas-tugasnya sebagai superior karena kondisi kesehatan yang memburuk.  Pada tanggal 28 Agustus 1854, Muder Yoakima meninggal dunia karena wabah Kolera yang menyerang Catalonia. Muder Yoakima dimakamkan di biara yang didirikannya di Vic, Osona, Barcelona.

Santa Yoakima dibeatifikasi pada 19 Mei 1940 di Basilika Santo Petrus, Roma, Vatikan oleh Paus Pius XII. Dan kemudian dikanonisasi oleh Paus Yohanes XXIII pada 12 April 1959.

Pada tahun 2008 Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity tercatat telah berkarya di berbagai Negara di benua Eropa, Asia, Afrika dan Amerika; mereka memiliki 280 biara dan 2012 orang biarawati.

Jesus Christ

Nah, sampai disini kisahnya ya… Ingatlah, bahwa para Kudus ini adalah contoh hidup yang layak kita teladani karena Allah telah menyatakan Kemuliaannya pada mereka. 

Berdoalah kepada Allah dengan perantaraan Orang Kudus yang kita teladani dalam hidup kita, dan tetaplah menjadikan Tuhan Yesus sendiri sebagai jalan satu-satunya bagi kita untuk sampai kepada Allah Bapa.

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...