Tampilkan postingan dengan label italia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label italia. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2023

Santa yang menjadi Bintang Tamu di The Nun II

Santa Lusia dari Syrakusa

Kalau kamu sudah nonton The Nun II, si suster Valak yang suka sekali cari masalah itu, kamu pasti sempat melihat gambar dan penjelasan singkat dari suster Irene, tentang Santa Lusia dari Syrakusa. Di Film ini, tentu saja, gambaran Santa Lusia dibuat lebih creepy. Saya suka melihat bagaimana tangguh dan beraninya suster Irene di film kedua ini.

Buat yang belum nonton, saya akan menjelaskan sedikit. Ceritanya, dalam kisah kali ini, suster Irene yang sudah selamat dari Biara Santa Carta, Rumania (The Nun I), menjalani kehidupannya sebagai biarawati Katolik di Prancis. Saat inilah ia berkenalan dengan suster Brenda. Ditemani sahabat barunya ini, suster Irene harus menghadapi keganasanValak. Berlatar belakang pedalaman Prancis yang mistik dan sangat indah, film garapan sutradara Michael Chaves ini berhasil menguasai Bioskop Holywood selama sepekan sejak dirilis. 

Tapi, suster Irene dan suster Brenda tidak sendirian, mereka juga ditemani oleh Kate dan Sophie. Keduanya adalah ibu dan anak yang tinggal di sebuah asrama Sekolah Perempuan, tempat Valak kali ini beraksi. Ternyata, si Valak memakai tubuh Maurice, teman suster Irene yang menyelamatkannya di Rumania, untuk bangkit kembali kedua kalinya.

Disini dijelaskan bahwa, senjata terbaik untuk menumbangkan Valak adalah, relikui dari Santa Lusia, yang ditinggalkan kepada keturunannya atau keluarganya yang masih hidup. Relikui dalam Gereja Katolik adalah sebuah peninggalan berupa tanda kasih dari para Kudus atau Santo dan Santa Katolik, untuk mendekatkan kita yang mengimani mereka sudah berkumpul di surga, kepada Tuhan.

Kisah Hidup

Menurut Wikipedia, Santa Lusia dilahirkan pada tahun 283 di Syrachusa, Sisilia, Italia. Orangtuanya adalah bangsawan kaya, yang sangat dihormati. Ayah Lusia meninggal ketika dia masih kecil, sehingga sebagian besar hidupnya bersama ibunya, Eutychia.


Lusia tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik dengan sepasang mata yang sangat indah. Hal itu membuat banyak pemuda bangsawan yang jatuh hati padanya. Namun sejak remaja, Lusia telah berikrar untuk hidup suci murni dan menjadi pengantin Kristus. Ketika ibunya memaksa Lusia untuk menikahi salah seorang pemuda bangsawan kafir, dengan tegas ia menolaknya.

Kala itu, Eutychia sedang menderita sakit pendarahan, berbagai pengobatan telah dilakukan namun kondisinya tidak kunjung membaik. Lusia kemudian membujuk ibunya untuk berziarah ke makam Santa Agatha di Kathania. Dalam ziarah itu, Lusia berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, agar ia bisa melunakkan hati ibunya tentang niatnya untuk tetap teguh dan setia pada kaul kemurnian hidup yang sudah ia ikrarkan pada Kristus.

Tuhan mendengar doa Lusia, ibunya sembuh. Ia kemudian menceritakan pada ibunya tentang ikrar kemurniannya. Sebagai ungkapan rasa syukur, ibu Lusia mengijinkan anak gadisnya untuk memenuhi panggilan hidup menjadi pengantin Kristus.

Perawan dan Martir

Pemuda bangsawan yang ditolak menikahi Lusia, sangat marah akan hal itu. Di jaman itu, Kekaisaran Romawi diperintah oleh Diokletianus, seorang Kaisar bengis yang sangat membenci pengikut Kristus. Banyak umat Kristen yang mempertahankan imannya, dibunuh dan disiksa dengan keji. 

Pemuda bangsawan ini memanfaatkan hal itu dengan melaporkan identitas keluarga Lusia kepada Kaisar. Lusia kemudian ditangkap. Ia diancam akan dibutakan kedua matanya, tapi Lusia lebih rela kehilangan matanya dari pada tidak menjadi pengantin Kristus.

Berbagai cara mereka lakukan agar Lusia kehilangan kemurniannya, namun Santa Lusia tidak terkalahkan. Usaha mereka untuk membakarnya juga gagal. Lusia direncanakan akan dibawa ke rumah para wanita pendosa, agar ia kehilangan kemurniannya, namun hal itu tidak terjadi karena badannya sangat berat ketika akan diangkat. 

Kedua matanya dicongkel keluar ketika disiksa, Tuhan Yesus membalas cintanya dengan menggantikan kedua mata itu menjadi lebih indah. Kemudian seorang algojo menikam lehernya. Santa Lusia wafat pada tanggal 13 Desember 304 M, sebagai martir Kristus.

Santa Lusia dihormati sebagai Perawan dan Martir yang sangat terkenal di Italia, terutama Sisilia. Banyak doa dan permohonan terkabul melalui perantaraannya, terutama kesembuhan penyakit mata. Hal itulah yang membuat di kemudian hari Santa Sisilia sering digambarkan sedang memegang sepasang mata di telapak tangannya. Ia diangkat sebagai Santa pelindung para penderita penyakit mata. 

Bagi kita orang Katolik, cara hidup Santa Lusia bisa menjadi pedoman untuk lebih mencintai Kristus yang telah wafat disalib dan disiksa demikian keji untuk menyelamatkan kita dari dosa. Terutama bagi para remaja perempuan di jaman ini. Mungkin menurut sebagian dari kita, pilihan hidup Santa Lusia ini terlalu ekstrim, not our style.

Tapi lihatlah bagaimana cara Tuhan Yesus membalas cinta Santa Lusia, yang juga seorang manusia biasa seperti kita. Menjadi suci dan murni sebagai pengantin Kristus, bukan hanya untuk menjadi seorang biarawati. Kita bisa melakukan hal itu sebagai ungkapan untuk menghormati bait Kudus Allah yang ada dalam diri kita.

Menjaga kemurnian selama masa muda bahkan setelah menikah dan berkeluarga dengan hidup taat kepada perintah Tuhan. Menjauhi pergaulan bebas, pesta pora, alkohol, narkoba, hedonisme, materialisme, iri hati, dengki, kikir, kemalasan dan aliran-aliran yang menyesatkan. 

Semua itu bukan hanya sekedar menghormati tubuh pribadi kita sebagai pemberian Tuhan, tapi juga demi menghormati sengsara Tuhan yang pedih, disiksa, dirajam, dilecehkan, dihina dengan kejam, sampai Ia wafat di kayu salib.

Jadi jika kita mengorbankan diri seperti Santa Lusia, menghadapi setiap pencobaan dunia untuk tetap hidup dalam kemurnian, ingatlah bahwa ada seseorang yang jauh lebih besar, yang telah melakukan semua itu, mengorbankan darah dan tubuhnya yang mulia untuk kita orang berdosa. Dialah sang Penyelamat kita, Raja segala Raja, Tuhan Yesus Kristus, yang Kudus dan Mulia.

Selasa, 08 Agustus 2023

Santa Maria Goretti, Pelindung Kemurnian dan Pengampunan

Shalom sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria…

Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa keberadaan para Santo dan Santa, yakni mereka yang menjalani hidupnya dengan kebajikan yang heroik atau suci dan telah melalui berbagai proses Kanonisasi bertahun-tahun, adalah untuk menjadi perantara kita kepada Bapa Putera dan Roh Kudus, serta Bunda Maria sebagai ibu Tuhan Yesus. Cara hidup mereka dicatat dan menjadi contoh bagi generasi berikut untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah Bapa.

Ada lebih dari 1000 Para Kudus yang tercatat dalam Gereja Katolik. Namun ingatlah bahwa sekuat apapun cara hidup mereka mempengaruhi kita, tetaplah tujuan utama adalah tiga pribadi dalam Tritunggal Mahakudus beserta sang Bunda. Jangan membiarkan kecintaan kita pada orang kudus merubah Devosi kita yang sesungguhnya ya… kerinduan terbesar saya dengan membuat Vlog dan Channel Youtube tentang para Kudus ini adalah agar semakin banyak orang percaya akan betapa Besar dan Mulia cara Allah bekerja dalam diri orang Beriman yang Taat dan hidup sesuai dengan Kehendak-Nya.

Masa Kecil. Kali ini saya akan menceritakan kisah tentang Santa Maria Goreti. Terlahir dengan nama Maria Theresia Goreti atau Marrieta, di Corinaldo Provinsi Ancona, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Ayahnya Bernama Luigi Goretti dan ibunya Assunta Carlini. Marietta lahir dalam sebuah keluarga petani, sebagai anak ke-3 dari 7 bersaudara.

Ketika usia Marietta menginjak 6 tahun, keluarganya jatuh miskin dan harus kehilangan pertanian mereka. Keluarga Luigi Goretti kemudian pindah ke Desa Nettuno, sebuah Desa berawa, lalu menetap disana dan bekerja bersama para petani lainnya. Di desa itu, keluarga Marietta tinggal di sebuah rumah pertanian dimana mereka tinggal berbagi dengan keluarga lain, yakni keluarga Serenelli. Dalam kehidupan sederhana yang keras dan berat, keluarga Marietta adalah keluarga yang periang, karena mereka adalah orang-orang beriman yang sungguh mempercayakan seluruh hidup mereka kepada Tuhan. Itulah yang membuat hubungan setiap anggota keluarga itu sangat erat satu sama lain.

Ayah Meninggal. Ketika Marietta berusia 9 tahun, ayahnya meninggal karena sakit Malaria. Sepeninggal sang ayah, hidup mereka semakin sulit. Untuk membantu keluarganya, setiap hari Marietta mengerjakan berbagai tugas rumah, seperti memasak, mencuci, menjahit serta menjaga adiknya, Theressa yang masih kecil. Sementara ibu dan saudaranya yang lain bekerja di ladang, Marietta dengan sabar dan telaten bekerja di rumah dan menjaga adiknya.

Gadis yang Saleh. Di Tengah berbagai kesulitan hidup, Marietta tumbuh menjadi gadis yang saleh, beriman dan tekun berdoa. Meskipun hidup semakin sulit, semangat iman keluarga Marietta tidak pernah luntur. Marietta tetap bersemangat dan penuh kerinduan menyambut Komuni Pertamanya. Walau setiap hari, ia harus berjalan kaki bermil-mil jauhnya ke kota untuk mengikuti Pelajaran agama. Ia menjalani hidupnya dengan doa dan kerja keras.

Dalam hatinya, Marietta berjanji untuk menjaga Kemurniannya, ia tidak akan pernah menghina dan menodai Yesus yang dicintainya dengan berbuat dosa. Ia berkata pada ibunya, “Lebih baik mati seribu kali dari pada berbuat dosa satu kali.”

Ujian Marietta. Ujian bagi kesucian hatinya, datang pada suatu siang, tanggal 5 Juli 1902, pada usianya yang ke-11 tahun. Saat itu, Marietta sedang menjaga adiknya yang sedang sakit, ibu dan saudara-saudaranya sedang berada di ladang. Putera keluarga Serenelli, yakni Alessandro, yang sudah sejak lama menaruh hati pada Marietta, berusaha memaksakan niat jahatnya pada gadis itu. Berkali-kali Marietta telah menolak dan mendorongnya, namun Alessandro tidak menyerah dan terus memaksa.

Melihat betapa gigihnya Marietta mempertahankan diri, Alessandro mengambil pisau dan mengancam. Namun ancaman itu tidak mempengaruhi Marietta. Dalam hatinya ia berdoa meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Karena kalut, Alessandro menusukkan pisau itu sebanyak 14 kali ke tubuh Marietta. Ketika melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Alessandro melarikan diri. Keluarga yang datang kemudian menemukan Marietta dalam kondisi buruk, segera membawanya ke rumah sakit. Karena luka-lukanya sangat parah, para dokter menyerah mengoperasinya.

Pengampunan. Keesokan hari, tanggal 6 Juli 1902, setelah menerima Sakramen Komuni dan mendapatkan pengampunan dosa, Maria Theresia Goretti meninggal dunia. Dalam Sakratul maut, ia memberikan pengampunannya kepada Alessandro dengan berkata, “aku ingin agar kelak ia berada di dekatku di surga.” Seorang Jurnalis Bernama Noel Crusz, mencatat semua kejadian itu secara rinci. Dalam tulisannya ia mengatakan: “Marietta ditikam menggunakan mata pisau sepanjang 10 inchi sebanyak 14 kali. Tikaman itu menembus tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Para ahli bedah di Orsenigo terkejut karena Marietta masih hidup ketika tiba di rumah sakit.”

Dalam kondisi sekarat, Marietta menceritakan tentang kekerasan dan upaya pelecehan yang ternyata sudah beberapa kali ia alami. Ia tidak pernah berani menceritakan pada keluarganya, karena Alessandro mengancamnya. Alessandro kemudian ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1985, seorang sejarawan Italia Bernama Giordano Bruno Guerri melaporkan, bahwa ia bertemu Alessandro di penjara. Pemuda itu menceritakan padanya tentang serangan yang dilakukannya pada Marietta. Alessandro mengakui telah beberapa kali berusaha melecehkan dan mengancam membunuh Marietta. Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah menuntaskan niat jahatnya pada Marietta, gadis itu meninggal sebagai seorang perawan.

Karena dianggap belum dewasa serta berasal dari keluarga miskin yang melalaikannya, Alessandro yang semula dihukum seumur hidup diringankan menjadi 3 tahun. Beberapa anggota keluarganya menderita gangguan jiwa dan ayahnya seorang pecandu alkohol. Setelah dibebaskan, Alessandro menemui Assunta, ibu Marietta dan mendapatkan pengampunan. Ia bertobat dari semua dosa-dosanya dan kemudian menjadi seorang bruder. Setiap hari ia berdoa memohon ampun atas perbuatannya kepada Marietta, yang ia sebut sebagai “Santa kecil-ku..”

Menjadi ORANG KUDUS. Santa Maria Goretti kemudian dibeatifikasi pada tanggal 27 April 1947 oleh Paus Pius XII, perayaan itu dihadiri ibu Assunta di Basilika Santo Petrus. Melihat kehadirannya, Paus mendekati ibu Assunta dan mengatakan: “Ibu yang berbahagia, ibu dari seorang yang terberkati.”

Tiga tahun setelah Dibeatifikasi, pada tanggal 24 Juni 1950, Paus Pius XII mengkanonisasi Maria Goretti sebagai Orang Kudus. Upacara itu dihadiri oleh ibu dan semua saudaranya yang masih hidup serta Alessandro. Santa Maria Goretti adalah seorang Martir perawan Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Jenasahnya disemayamkan di ruang bawah tanah Basilika Nostra Signora dele Gracia di Nettuno.

Pesta Peringatan Santa Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli. Dia menjadi Santa pelindung Kemurnian, pelindung Korban Perkosaan, pelindung anak-anak Perempuan, Kaum Muda, pelindung para Gadis Remaja, pelindung Kemiskinan dan Pengampunan. Santa Maria Goretti sering digambarkan sebagai seorang gadis muda berambut gelombang merah, memakai baju petani berwarna putih dan memegang bunga lili. Warna putih dan bunga lili sering dijadikan sebagai lambing kemurnian dan keperawanan.

Sebagai orang muda kesukaan Allah, Santa Maria Goretti berhasil menahan berbagai serangan terhadap kemurniannya dengan bantuan Rahmat Allah. Ia mengajarkan pada kita untuk taat pada perintahnya dan mengikuti apa yang sangat Allah kehendaki, yakni Mengampuni. Karena Mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita sesungguhnya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk membebaskan diri kita sendiri dari rasa benci, dendam, kemarahan dan kehancuran. Dan kemudian akan membawa kita kepada sukacita, kedamaian dan berkat yang berlimpah dari Allah Bapa. Kita diminta Tuhan Yesus sendiri untuk mengampuni 70 kali 7 kali (Matius 8:21-22), yang artinya tidak terhingga. Dengan Mengampuni kitapun akan diampuni.

Matius 6:14-15 berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Bayangkan jika Bapa di surga tidak mengampuni dosa kita, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat dan tetap tinggal dalam diri kita? Yesus mengajarkan kita untuk melihat dari cara pandang Allah melampaui ego dan kepentingan diri kita. Lukas 6:27-38 mengatakan: “Hendaklah kitapun bersikap murah hati, seperti Bapa kita di surga adalah murah hati.”

Tentang mengampuni saya punya pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya dan keluarga alami. Karena keegoisan dan ketidaksukaan beberapa orang, suami saya diturunkan dari jabatan dan adik-adik saya harus kehilangan pekerjaan. Sebagai bawahan atau pegawai biasa, tentu saja hal seperti ini wajar, kapan saja kedudukan ataupun jabatan bisa diambil dari kita. Tapi sebagai teman atau orang yang dipercaya hal ini sungguh menyakitkan, di saat mereka sebenarnya punya kesempatan untuk membantu, malah tidak perduli sama sekali dan lebih memilih untuk menyelamatkan diri dari pada harus berkorban dan kehilangan kesempatan mereka. Tapi saya dan keluarga lebih memilih untuk mengampuni serta melihat semua kesulitan ini sebagai proses untuk diangkat Tuhan lebih tinggi lagi, tentu saja tidak mudah tapi harus melalui berbagai drama dan air mata, hehehe…. Tapi kami berhasil melaluinya, tidak membenci dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

Biarlah DIA yang memutuskan apa yang terbaik buat kami dan mereka. Tuhan Yesus berkata, Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun mengasihi juga orang yang mengasihi mereka, (Lukas 6:32). Walaupun sulit, saya yakin kita semua mampu melakukannya. Butuh kemurnian dan keberanian seperti yang dimiliki oleh Santa Maria Goretti, seorang gadis kecil tapi memiliki hati yang sangat besar. Kata seorang teman, memelihara kemarahan, kebencian dan dendam sama seperti kita menerima menerima untuk minum racun yang diberikan oleh orang lain. Ketika kita menolak meminumnya, artinya kita terbebas dari semua itu. Karena pada dasarnya orang yang berbuat salah kepada kita sendiri sudah tersiksa dengan rasa bersalah dalam dirinya, biarlah dia menanggung semua itu sendiri tanpa kitapun harus terlibat di dalamnya.

Seperti Santa Maria Goretti, kitapun pasti tidak ingin kesucian dan kemurnian cinta pada Allah ternoda oleh karena tidak bisa mengampuni orang yang bersalah pada kita. “Kita harus menolak semua kompromi terhadap kejahatan,” pesan Santa Maria Goretti. sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, trima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga menjadi berkat untuk sahabat semua… Shalom, Tuhan memberkati….

Minggu, 17 Januari 2021

SANTO YOHANES DON BOSCO, Pelindung Orang Muda

 

SYALOM SAHABAT TUHAN YESUS dan Bunda Maria…

Dalam gereja Katolik, setiap orang yang akan menjadi anggota gereja harus menerima pembaptisan. Pembaptisan adalah sakramen pertama yang akan diterima oleh setiap anggota Gereja dan merupakan pintu masuk bagi sakramen lainnya dalam iman Katolik.

Dengan dibaptis, kita terlahir kembali menjadi manusia baru. Terbebas dari dosa asal, menjadi anak Allah yang serupa dengan Kristus. Ketika menerima Sakramen Pembaptisan ini, setiap anggota Gereja Katolik memiliki nama baptis yang akan disandang sebagai identitasnya seumur hidup. 

Dengan nama ini, orang tua beserta seluruh anggota gereja berharap mereka menyandang karakter keutamaan, kesucian dan keteladanan para orang Kudus terdahulu, terutama yang namanya dipakai dalam pembaptisan, agar menjadi pribadi yang pantas di hadapan Allah.  

Adakah di antara sahabat yang memiliki nama baptis dari Santo Yohanes Don Bosco? Nah, untuk diketahui, Don adalah Romo dalam bahasa Italia, sehingga seharusnya Santo yang istimewah ini dikenal dengan nama Santo Yohanes Bosco. 

Santo Yohanes Bosco

Masa Kecil

Santo Yohannes Bosco, nama kecilnya adalah; Giovanni Melchiorre Bosco, adalah seorang kudus yang mendirikan Kongregasi istimewa untuk melayani kaum muda yang bernama Serikat Salesian. 

Nama Salesian diambil dari nama Santo Fransiskus de Sales, yang menjadi teladan mereka akan kebaikan hati dan kelemah-lembutannya. Kongregasi ini tersebar diseluruh dunia dan mengelola berbagai lembaga pendidikan.

 

Yohanes Bosco merupakan satu-satunya Orang Kudus, dimana pengikutnya, hampir 20 orang pengikut dari kalangan orang muda, diakui oleh gereja dan sedang menjalani proses untuk menjadi orang kudus. 

Beberapa dari mereka, malah sudah mendapatkan gelar Kudusnya. Dikemudian hari gereja mengangkat Santo Yohanes Bosco sebagai Pelindung Kaum Muda.  Salah seorang pengikut Santo Bosco yang cukup terkenal adalah Santo Dominic Savio yang merupakan Orang Kudus yang paling muda usianya. 

Dominic Savio wafat ketika berusia 14 tahun dan merupakan salah seorang murid yang mendapat pengajaran langsung dari Yohanes Bosco.

Santo Yohanes Bosco lahir pada tanggal 16 Agustus 1815,  di Becchi, sebuah dusun kecil di Castelnuovo d'Asti. Dusun itu sekarang bernama Castelnuovo Don Bosco, Italia. 

Ayahnya, Francesco, adalah seorang petani miskin. Francesco mempunyai tiga orang putera: yakni Antonio, dari isteri pertamanya yang telah meninggal dunia, serta Yusuf dan Yohanes.

Setelah Francesco meninggal dunia, Margarita bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Kemiskinan, tidak menghalangi Margarita untuk senantiasa menceritakan kepada anak-anaknya segala kebaikan Tuhan. 

Diajarkannya kepada Yohanes kecil bagaimana mengolah tanah dan bagaimana menemukan Tuhan yang ada di surga yang indah, melalui panen yang berlimpah dan melalui hujan yang menyirami tumbuh-tumbuhan. 

Bagi Yohanes, berdoa berarti berbicara kepada Tuhan, dengan kaki berlutut di atas lantai dapur. Berdoa juga berarti berpikir tentang Tuhan, ketika ia sedang duduk di atas rerumputan, sambil menatap ke arah surga. 

Dari ibunya, Yohanes belajar melihat Tuhan dalam wajah sesama, yaitu mereka yang miskin, yang sengsara, yang datang mengetuk pintu rumah keluarganya sepanjang musim dingin, dan mereka yang diberikan tumpangan, sup hangat serta berbagi makanan dari kemiskinan mereka.

Penglihatan

Pada usia sembilan tahun untuk pertama kalinya Yohanes mendapat mimpi yang sangat menakjubkan, mimpi itu menggambarkan keseluruhan hidupnya kelak. Dalam mimpinya Yohanes sedang berada di lapangan yang luas. 

Ia melihat banyak sekali anak-anak di sana. Tampaklah “Seorang yang Agung”, berpakaian jubah putih dan wajah-Nya bersinar. Ia memanggil Yohanes dengan namanya, memintanya agar tenang serta menasehatinya:

“Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelemahlembutan serta belas kasih, kamu akan menjadikan mereka semua teman-temanmu. Beritahukanlah kepada mereka keburukan dosa dan ganjaran kebajikan.”

“Tidak tahukah Engkau,”  bisik Yohanes kecil, “bahwa hal itu tidak mungkin?”

“Apa yang tampaknya tidak mungkin bagimu, kamu akan menjadikannya mungkin jika saja kamu melakukannya dengan ketulusan hati dan pengetahuan.”

“Di mana dan bagaimana aku memperoleh pengetahuan?”, tanya Yohanes

“Aku akan memberimu seorang Bunda, dengan bimbingan darinya saja seseorang akan menjadi bijaksana, tanpa bimbingannya semua pengetahuan tidak ada gunanya.”

“Tetapi siapakah Engkau yang berbicara seperti itu?” Yohanes bertanya lagi.

“Aku adalah Putera dari Surga. Ibumu telah mengajarkan kepadamu untuk menghormati-Ku tiga kali sehari.”

“Ibuku melarangku untuk berbicara dengan seseorang yang tidak aku kenal. Katakanlah siapa nama-Mu.”

“Tanyakan nama-Ku kepada ibu-Ku.”

Kemudian, tampaklah seorang wanita yang amat anggun. Ia mengenakan gaun panjang yang berkilau-kilauan, seolah-olah jubahnya itu terbuat dari bintang-bintang yang paling cemerlang. Wanita itu memberi isyarat kepada Yohanes untuk datang mendekat kepadanya. 

Dengan lembut diraihnya tangan Yohanes, katanya, "Lihatlah." Gerombolan anak-anak lenyap. Yang tampak oleh Yohanes sekarang ialah sekawanan binatang buas: kambing liar, harimau, serigala, beruang.   

“Inilah tempat di mana kamu harus bekerja. Jadikan dirimu rendah hati, kuat dan penuh semangat. Apa yang kamu lihat terjadi pada binatang-binatang buas ini, kamu harus melakukannya kepada anak-anakku.”

“Inilah tempat di mana kamu harus bekerja. Jadikan dirimu rendah hati, kuat dan penuh semangat. Apa yang kamu lihat terjadi pada binatang-binatang buas ini, kamu harus melakukannya kepada anak-anakku.”

Yohanes melihat bahwa binatang-binatang buas itu kini telah berubah menjadi sekumpulan besar anak domba yang jinak, berkerumun dan berdesak-desakan di sekitar Kedua Tamu Agungnya. 

Melihat itu Yohanes menangis dan minta penjelasan dari Si Wanita karena ia sama sekali tidak mengerti apa arti semua itu. Wanita itu membelainya dan berkata:

“Kamu akan mengerti semuanya jika waktunya telah tiba.”

Yohanes terbangun dan ia tidak dapat tidur kembali. Tahun-tahun mendatang dalam hidupnya telah dinyatakan dalam mimpi itu. Mama Margarita dan Yohanes percaya bahwa mimpi itu adalah gambaran jalan hidup Yohanes kelak.

Menjadi Pemain Sirkus

Sejak itu Yohanes senantiasa berusaha berbuat baik kepada teman-temannya. Yohanes dengan penuh semangat menyaksikan pertunjukkan atraksi sirkus dalam pesta lokal. Ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mempelajari semua atraksi yang ditampilkan. 

Kemudian ia mulai meniru atraksi-atraksi yang ditampilkan. Ia terus berlatih hingga pada suatu hari Minggu sore, ia mempertunjukkan kebolehannya di hadapan anak-anak tetangga. Ia memperagakan keseimbangan tubuh dengan wajan dan panci di ujung hidungnya. 

Kemudian ia melompat ke atas tali yang direntangkan di antara dua pohon dan berjalan di atasnya diiringi tepuk tangan penonton. Sebelum pertunjukan yang hebat itu diakhiri, Yohanes mengulang khotbah yang ia dengar dalam Misa pagi kepada teman-temannya itu, dan mengajak mereka semua berdoa.

Kabar mengenai pertunjukan yang diselenggarakan Yohanes tersiar hingga ke desa-desa tetangga. Karena pada masa itu, jarang sekali ada pertunjukan yang demikian, segera saja anak-anak yang bermil-mil jauhnya pun datang untuk menyaksikan pertunjukan Yohanes. 

Jumlahnya hingga seratus anak lebih. Setiap kali sebelum memulai pertunjukkan, Yohanes akan mengajak semua anak-anak yang datang, untuk bersama-sama berdoa Rosario dan membaca Kitab Suci.

Permainan dan Sabda Tuhan mulai mengubah perilaku teman-temannya. Yohanes kecil mulai menyadari bahwa agar dapat berbuat baik untuk sedemikian banyak anak, ia perlu belajar dan menjadi seorang imam. 

Imam Castelnuovo melihat perkembangan iman Yohanes yang luar biasa, hingga ia mengijinkan Yohanes menrima komuni dua tahun lebih awal dari usia yang ditentukan Gereja.

Suatu ketika, seorang misionaris, Don Calosso atau Romo Calosso, datang ke desa Buttigliera untuk memberikan pelajaran agama. Yohanes memutuskan untuk mengikuti semua pelajaran agama yang diberikan olehnya, baik pagi maupun sore. Sekalipun itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh 16 kilometer jauhnya.

Yohanes Meninggalkan Rumah

Antonio, kakak tiri Yohanes, menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar. Menurutnya Yohanes harus bekerja. Oleh karena itu diambil keputusan: pagi hari Yohanes belajar di pastoran dengan Don Calosso, sesudahnya ia harus bekerja di sawah. 

Yohanes belajar dengan tekun. Ia membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Antonio yang tidak suka hal itu membuang semua buku-buku Yohanes dan mencambuki adiknya itu dengan ikat pinggang

Demi keselamatan Yohanes, Mama Margarrita membuat suatu keputusan yang amat menyedihkan hatinya sendiri, ia menyuruh Yohanes pergi.

Di pagi yang dingin bulan Februari 1827, di usia 12 tahun, Yohanes pergi meninggalkan rumah dan berkelana untuk mencari pekerjaan. Sungguh sulit mencari pekerjaan di musim dingin, hanya pada musim panas saja pertanian membutuhkan banyak tenaga kerja. 

Setiap kali Yohanes selalu di tolak. Hingga tibalah ia di rumah Tn. Luigi Moglia, seorang petani kaya, dekat Moncucco.

Tergerak hatinya oleh belas kasihan, Tuan Luigi menerima Yohanes bekerja sebagai penggembala sapi. Yohanes amat gembira dan bekerja sebaik yang ia mampu. Ia menggembalakan sapi-sapinya di padang rumput, memerah susu, menumpuk jerami di palungan, dan membajak sawah.

“Mataku terbuka lebar-lebar jika aku sedang bekerja, dan aku tidak berhenti sampai tiba saatnya untuk tidur,” kenang Yohanes.

Tanpa ibu dan saudara, tanpa teman di sampingnya, Yohanes memusatkan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan Allah yang amat dikasihinya. Setiap hari Minggu Yohanes pergi ke gereja untuk mengikuti Misa. 

Dengan ijin dari Don Cottino, imam paroki setempat, Yohanes mengumpulkan anak-anak untuk bermain dan berdoa seperti yang dulu ia lakukan di desanya.

Tiga tahun kemudian Yohanes pulang kembali ke rumah dan melanjutkan sekolahnya. Guna membiayai pendidikannya, selain menerima sumbangan dari orang-orang yang bersimpati padanya, Yohanes Bosco juga bekerja. 

Segala macam pekerjaan dilakukan Yohanes. Mulai dari menjahit, menjadi tukang roti, menjadi tukang sepatu, tukang kayu, dan segala macam pekerjaan lainnya yang mampu ia lakukan akan dikerjakannya.

Menjadi Anak Seminari

Sebagai pelajar, Yohanes seorang remaja yang pandai dan cerdas. Ia adalah murid terbaik di antara semua murid sekolahnya. Ia mengumpulkan teman-temannya dan membentuk suatu kelompok religius yang diberinya nama Kelompok Sukacita. 

Yohanes menjadi penggerak utama bagi teman-temannya. Kepribadiannya terbuka, dinamis, vitalitas hidupnya tinggi, kadang ia kurang sabar dan terbawa emosi, namun ia masih bisa mengatasi itu.

Di sekolah ini, Yohanes memiliki seorang sahabat karib bernama Luigi Comollo. Dia adalah seorang anak yang tenang dan pendiam. Sikap Luigi yang amat tenang dan lembut itu membuat Yohanes sangat terkesan. 

Yohanes dan Luigi ibarat api dan air, seperti singa dan anak domba. Yohanes mengagumi Luigi dan darinya ia belajar untuk menguasai diri dan meredam kemarahannya.


Setalah tamat sekolahnya, pada usia dua puluh tahun, Yohanes Bosco mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk masuk Seminari Chieri. Mama Margarita menegaskan kepadanya untuk selalu setia kepada panggilannya. 

Jika ia masih ragu-ragu dengan pilihannya, lebih baik diurungkannya saja niatnya itu. Daripada kelak menjadi seorang imam yang lalai dan acuh. Nasehat ibunya itu diingat dan dihormati oleh Yohanes sepanjang hidupnya. 

Ternyata, Luigi Comollo menyusulnya beberapa bulan kemudian ke seminari. Kepada Luigi, Yohanes selalu menceritakan semua cita-cita dan rencana masa depannya. Luigi sendiri tidak menyusun banyak rencana seperti Yohanes, ia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir. 

Tapi Luigi tidak pernah mengatakan itu kepada sahabatnya. Namun mereka berdua  berjanji, bahwa siapa pun kelak, yang terlebih dahulu meninggal dunia akan memohon kepada Tuhan untuk memberi ijin memberitahukan kepada sahabatnya yang masih di dunia, bahwa ia telah masuk dalam kebahagiaan abadi.

Ditinggalkan Sahabatnya

Tahun berikutnya, pada tanggal 2 April 1839, hari Kamis sesudah Paskah, Luigi meninggal dunia karena demam. Yohanes amat berduka, ia merasa bagian dari dirinya yang sangat berharga telah pergi. Malam sesudah pemakaman, dua puluh orang yang tidur dalam satu kamar asrama dengan Yohanes terbangun karena suara yang aneh. 

Suara itu seperti sebuah kereta kuda, sedang melaju di lorong asrama. Kereta itu menerjang dan menghantam, bagaikan gemuruh, dan menyebabkan lantai dan langit-langit asrama berguncang. 

Pintu kamar terbuka lebar dan masuklah ke dalam ruangan mereka suatu sinar yang sangt terang. Dalam keheningan, banyak dari mereka bersaksi mendengar suatu suara lembut, suara itu menyanyi dengan gembira. Tetapi hanya seorang saja yang mendengar perkataan ini:  “Bosco, aku selamat.”

Sinar menghilang dan pergi dengan cara yang sama seperti datangnya. Kemudian segala sesuatunya berakhir. Yohanes dipenuhi dengan sukacita dan syukur.

Pada tanggal 5 Juni 1841, Uskup kota Turin mentahbiskan Yohanes Bosco menjadi seorang imam di usia 26 tahun. Yohanes dan Mama Margarita sangat bahagia.

Memulai Misinya

Setelah ditahbiskan, Don Bosco (Romo Bosco)  bertugas di kota Turin di bawah bimbingan seorang imam yang saleh, Don Cafasso (kelak dikenal dengan nama Santo Yoseph Cafasso). Keadaan anak-anak jalanan segera menyentuh hatinya. Don Bosco menelusuri kota Turin dan menjadi sadar akan kondisi moral kaum muda. Ia sangat terpukul. 

Daerah pinggiran kota adalah daerah yang penuh dengan kekacauan, suatu tempat yang kumuh dan hancur akibat revolusi industri. Karena tidak memiliki pekerjaan dan merasa gelisah para remaja itu menjadi liar. Mereka menimbulkan kerusuhan di jalan-jalan.

Don Bosco melihat mereka bertaruh di pojok-pojok jalan, wajah mereka keras dan kaku, seolah-olah hendak mencapai segala keinginan mereka dengan jalan apa saja. Dekat dengan pasar kota, di daerah sekitar Porta Palazzo, berkerumun para pedagang, penyemir sepatu, pengurus kandang, pesuruh, meraka semua anak muda dari kaum miskin papa yang dengan susah payah mencari penghidupannya.

Tetapi, hal yang paling menyentuh hati Don Bosco adalah ketika ia mengunjungi penjara. Ia menulis demikian: 

"Melihat begitu banyak anak, dari usia 12 hingga 18 tahun, semuanya dalam keadaan sehat, kuat, cerdas, digigiti serangga, kekurangan makan baik makanan rohani maupun jasmani, sungguh sesuatu yang amat mengerikan bagi saya.  Saya harus, dengan segala prasarana yang ada, mencegah kehidupan para anak dan remaja itu berakhir di sini".

Don Bosco mendapatkan anaknya yang pertama pada Hari Raya Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Ia sedang mengenakan jubahnya untuk mempersembahkan Misa di Gereja Convitto, ketika seorang remaja jalanan berusia enam belas tahun melongok ke ruang sakristi. 

Dengan marah Koster mendorong anak itu ke luar karena mengira ia akan mencuri. Ia memukul kepalanya dengan sapu dan membanting pintu sakristi. Melihat itu Don Bosco marah dan mengatakan: 

Aku melarangmu untuk memperlakukan teman-temanku seperti itu”

Anak itu bernama  Bartolomeo Garelli. Hari Minggu berikutnya, Bartolomeo Garelli membawa enam anak lain bersamanya. Mereka semua acak-acakan, kotor dan dekil serta liar, tetapi mereka bersedia belajar agama. Tiga bulan kemudian jumlah anak-anak itu bertambah dan akhirnya jumlahnya mencapai seratus anak. 

Mereka adalah kuli jalanan, pemecah batu, tukang batu, tukang plester yang datang dari daerah-daerah yang jauh. Dari sanalah terbentuk komunitas kaum muda yang oleh Don Bosco disebut Oratorio.

Mereka semua bertemu pada hari Minggu. Mereka ikut ambil bagian dalam perayaan Misa, belajar agama dan bermain bersama. Kegiatan kelompok Oratorio tidak dibatasi pada hari Minggu saja. 

Bagi Don Bosco, Oratorio adalah hidupnya. Ia mencarikan pekerjaan bagi anak-anak yang belum memperoleh pekerjaan dan ia mengajar anak-anak itu setelah mereka selesai bekerja. Jumlah mereka bertambah dan bertambah terus hingga mencapai empat ratus orang.

Setiap malam Don Bosco menghendaki agar anak-anak itu mendaraskan tiga kali Salam Maria, mohon agar Bunda Maria membantu mereka untuk menjauhkan diri dari dosa. Ia juga mendorong mereka untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dan Komuni Kudus sesering mungkin dan dengan penuh cinta.

Mengatasi berbagai Rintangan dengan Kuasa Allah

Tuhan memberkati semua usaha Don Bosco dan memberikan karunia mukjizat kepadanya. Segala karunia mukjizat itu memperkuat bakat-bakat alaminya guna mendukung serta membimbing anak-anaknya

Hanya dengan campur tangan Allah saja, segala karunia dan bakat-bakatnya itu dapat bekerja sebaik-baiknya untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

Berbagai macam halangan dan rintangan menghadang Don Bosco. Ia membutuhkan dana dan tempat yang cukup luas bagi keempat ratus anak itu. Sampai saat itu kemana pun mereka pergi, mereka selalu diusir. 

Empat ratus anak berandal berkeliaran, bernyanyi, bermain bola sambil berteriak-teriak sungguh merupakan gangguan bagi penduduk sekitarnya.

Imam-imam yang lain pun menganggap Don Bosco sudah menyimpang dari misinya. Dengan empat ratus anak kasar dan liar yang selalu mengikutinya, ia dianggap sudah tidak waras lagi. Oleh karena itu, dua orang imam mencoba membawanya ke rumah sakit jiwa. 

Mereka datang dengan kereta kuda dan berusaha menjebak Don Bosco untuk ikut bersama mereka. Dengan halus Don Bosco mempersilakan mereka masuk terlebih dahulu. Ketika kedua imam itu telah berada di dalam kereta kuda, Don Bosco segera membanting pintu dan berteriak kepada pak kusir: 

"Ke rumah sakit jiwa, cepat! Mereka ditunggu!”

Pak kusir melarikan keretanya sekencang-kencangnya. Kedua imam itu demikian marahnya, hingga ketika tiba di rumah sakit jiwa, para petugas mengira bahwa mereka benar-benar orang gila.

Halangan dan rintangan datang bertubi-tubi, tetapi Don Bosco memperoleh dorongan serta semangat melalui mimpi-mimpinya. Ia harus terus maju, berpegang teguh pada Tuhan dan misinya, maka ia akan tiba di tempat yang telah disediakan untuknya.

Yohanes kemudian diberkati Tuhan, ia menyewa Graha Pinardi di Voldocco, sebuah rumah yang tidak terpakai yang terletak di daerah terpencil. Pada pintunya, Don Bosco menulis sebuah pesan kebanggaan, yang dalam salah satu mimpinya dilihatnya Bunda Maria menaruh jarinya di atas tulisan itu. 

Tulisan itulah yang menjadi tulisan bersejarah di institusinya kelak. Tulisan itu berbunyi: Haec est Domus Mea; Inde Gloria Mea. Artinya: Inilah Rumah-Ku: darinyalah Kemuliaan-Ku akan terpancar.

Pada Pesta Paskah 12 April 1846, Kelompok Oratorio memiliki gereja mereka sendiri. Pada tanggal 3 November di tahun itu, Don Bosco memutuskan untuk tinggal di Valdocco. Ia meminta Mama Margarita yang telah berusia 59 tahun, untuk menjadi pengurus rumah tangga dan ibu bagi anak-anak asuhnya. 

Mama Margarita dengan sukacita melakukannya. Ia menjual semua barang berharganya, agar dapat membayar sewa rumah, biaya keperluan rumah tangga dan menyediakan makanan bagi anak-anak yang datang kepadanya.

Terkadang, Don Bosco juga ditipu oleh anak-anak berandal yang ditolongnya. Mereka datang ke tempat itu, kemudian membawa pergi seprei dan selimut yang ada di rumah setelah diberi makan dan tempat menginap. Namun Tuhan tetap memberkati semua karya dan usaha Don Bosco dan mama Margharita. 

Pada tahun 1851, sebuah kapel St.Fransiskus de Sales didirikan dekat dengan Graha Pinardi, kapel itu kemudian hari Don Bosco. Bangunan-bangunan itulah yang menjadi awal berdirinya Institut St. Fransiskus de Sales.

Tentang Grigio

Revolusi Perancis meletus dan pengaruhnya telah menyebar ke Eropa. Tuhan dan gereja mulai ditentang dan dihujat. Don Bosco melakukan segala upaya untuk menentang mereka. Khotbah-khotbah dan tulisan-tulisannya menghambat usaha musuh dan sangat menjengkelkan mereka. 

Mereka melakukan segala cara untuk melenyapkan Don Bosco. Menembakkan peluru melalui jendela kapel, mengirimkan minuman beracun, melemparkan api, dan berbagai macam usaha dilakukan. Namun Don Bosco selamat.

Pada suatu sore, di musim gugur tahun 1852, Don Bosco sedang dalam perjalanan pulang seorang diri melewati daerah yang kotor dan menyeramkan. Seekor anjing membuntutinya dari belakang, anjing itu besar dan mirip serigala. 

Anjing itu berjalan disamping Don Bosco, menemaninya sepanjang perjalanan, sampai ia tiba dengan selamat di depan pintu rumah. Kemudian anjing itu berbalik dan pergi.

Kejadian itu terus berulang. Jika Don Bosco pulang larut malam sendirian, ia dengan yakin mengetahui bahwa anjing itu akan datang untuk menemaninya. Don Bosco kemudian menamainya Grigio, artinya abu-abu.

Pernah suatu ketika, sebuah tembakan di arahkan kepada Don Bosco dan Grigio menyelamatkannya. Lalu dua orang berusaha melemparkan sebuah buntalan besar ke arah kepala Don Bosco, Grigio menyelamatkannya. Bahkan terjadi, dua belas orang datang untuk menyerang Don Bosco, dan Grigio menyelamatkannya pula.

Kadang-kadang Grigio datang ke rumah Don Bosco. Ia menolak makanan maupun minuman. Ia bermain dengan anak-anak, mereka sangat menyukainya. Ia seolah datang untuk memastikan bahwa Don Bosco sudah tiba di rumah. 

Pernah sekali waktu ia datang untuk mencegah Don Bosco pergi. Ia berbaring di ambang pintu dan menghalangi jalan keluar. Ketika Don Bosco menyuruhnya pergi, ia menggeram dan tidak segan-segan menggigit, jika Don Bosco bersikeras. 

Keesokan harinya, Don Bosco mengetahui, sore itu musuh-musuhnya telah menyiapkan perangkap untuk membunuhnya. Tapi Grigio menggagalkannya. Ketika keadaan sudah aman, Grigio tidak pernah datang lagi.

Grigio muncul kembali 10 tahun kemudian, ketika Don Bosco hendak mengunjungi keluarga Moglia. Dalam kegelapan malam, Don Bosco melihat Seekor anjing berlari-lari datang ke arahnya, melompat-lompat dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira. Grigio menemani Don Bosco hingga selamat tiba di tempat pertanian, lalu menghilang.

Pada tahun 1883 - 31 tahun sejak ia hadir pertama kalinya, Grigio muncul kembali di Bordighera untuk menunjukkan jalan kepada Don Bosco yang sedang tersesat. Don Bosco yakin bahwa Grigio adalah utusan dari surga.      

Mujizat dan Karya

Don Bosco berdoa menggandakan 15 roti untuk memberi makan 300 orang anak lebih. Ia memasukkan tangannya ke dalam keranjang roti dan mulai membagi-bagikan roti kepada tigaratus orang muridnya. Dan masih tersisa lima belas potong roti dalam keranjang. 

Don Bosco juga menggandakan kenari, Hosti Kudus, dan membangkitkan seorang anak dari kematian. Sama seperti Yesus, Don Bosco pun mengatakan, anak itu sedang tidur dan ia membangunkannya.

Anak itu bernama Charles. Ia mendapat kesempatan mengakukan dosa-dosanya dan hidup kembali selama dua jam lagi. Ketika Don Bosco bertanya kepadanya kemanakan akan ia pilih, tetap di dunia atau ke surga. Anak itu memilih ke surga. Sehingga Don Bosco mengatakan:

“Kalau demikian, sampai jumpa lagi anakku.”

Don Bosco menetapkan Kontrak Kerja Magang bagi anak-anaknya yang bekerja magang di kota. Semuanya ditandatangani oleh ketiga belak pihak, yakni majikan, murid magang dan Don Bosco. Namun pada kenyataannya yang terjadi selalu bertentangan dengan segala usaha dan kontrak-kontrak yang dibuat.

Oleh karena itu, Don Bosco mulai membentuk bengkel-bengkel sendiri di Valdocco. Ia membuat bengkel sepatu, bengkel jahit, bengkel kayu, bengkel kunci, penjilidan buku dan percetakan. 

Don Bosco menguasai semua bidang itu, ia memberikan pengajaran bagi anak-anak itu. Dengan demikian mereka menjadi anak-anak pekerja yang siap dan matang untuk memulai pekerjaan mereka di luar.

Di samping itu Don Bosco juga memberikan pelajaran khusus bagi mereka yang berminat untuk menjadi imam. Melalui mimpinya, Don Bosco mengetahui anak-anak mana yang akan meninggalkannya dan anak-anak mana yang akan tetap bersamanya. Ia bahkan bisa mengetahui masa depan mereka.

Pada suatu sore tanggal 6 Januari 1854 ia mengumpulkan mereka, melaksanakan Novena menyambut Pesta Santo Pelindung mereka, Fransiskus de Sales. Sejak hari itu, mereka menyebut diri mereka Salesian.

Kehilangan Ibu dan Gangguan

Pada musim dingin tahun 1856 Mama Margarita meninggal. Kepergiannya amat menyedihkan hati Don Bosco serta semua anak-anak asuhnya. Mama Margarita dikemudian hari, dimaklumkan oleh Gereja Katolik sebagai Vanerabilis pada tanggal 23 October 2006 oleh Paus Benedictus XVI.

Venerabilis dalam Gereja Katolik, adalah tahapan Kanonisasi untuk diusulkan sebagai Beatifikasi oleh Paus. Mereka disebut juga pelayan Tuhan atau Hamba Allah.

Dalam kesedihannya Don Bosco meminta Bunda Maria menjadi pengganti ibunya, menjaga anak-anaknya. Ia melihat Bunda Maria mengenakan mahkota dari bintang-bintang yang cemerlang dan berdiri di atas sebuah gereja yang besar. 

Beberapa tahun kemudian, sebuah gereja besar dibangun untuk dipersembahkan kepada Bunda Maria. Di atas kubah gereja ditempatkan patung Santa Perawan Maria Pertolongan Orang Kristen, persis seperti yang dilihatnya dalam penglihatan itu.

Di usianya yang keempat puluh tahun, Don Bosco menderita pemekaran pembuluh darah di kakinya. Tahun 1856 mata kanannya hampir buta. Sakit kepala, demam, rematik, muntah darah dan berbagai macam penyakit lainnya mulai dialaminya.

Awal tahun 1862 setan mulai mengganggu waktu tidurnya yang sebenarnya sudah sangat sedikit. Setiap kali Don Bosco tidur, setan membuat keributan. Badai mengamuk, derap prajurit, suara kapak menghantam kayu, semua perabotan menari-nari secara ajaib. 

Tempat tidurnya diguncang dan dibalikkan, kain sepreinya dikoyak, lidah-lidah api berlompatan dari perapian yang tidak menyala. Setan duduk di atasnya Don Bosco, mencengkeram pundaknya dan menyeretnya. Setan menggosok sikat es ke wajahnya, menginjak-injaknya dan melepaskan binatang-binatang liar menyerang Don Bosco.

Anak-anak asuhnya setia menjaga di pintu kamarnya. Tapi hanya sebentar mereka akan panik dan lari ketakutan. Namun mereka tetap berdoa dengan sungguh-sunguh memohon pertolongan dari surga agar gangguan itu segera dihentikan. Dua tahun gangguan para setan itu menyerangnya dan pada akhirnya musuh-musuhnya itu menyerah.


Mendirikan Konggregasi Puteri-puteri Maria dan Salesian Awam

Pada tahun 1856 seorang imam, Don Pestarino, membentuk sebuah kelompok kecil di bawah perlindungan Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Dosa. Kelompok tersebut beranggotakan para gadis yang bersedia melayani Tuhan. 

Salah seorang dari mereka yang kemudian menjadi Santa Maria Dominica Mazzarello. Kelompok kecil itu sebagian besar adalah anak yatim piatu. Mereka belajar menjahit, membaca, menulis dan berdoa. Mereka mencontoh apa yang dilakukan oleh Don Bosco dan kelompok Oratorio-nya. 

Suatu malam Don Bosco bermimpi, ia sedang menyusuri jalan kota Turin, tiba-tiba ia dikelilingi oleh banyak sekali anak perempuan. Tingkah mereka sama liar dan nakanya dengan anak laki-laki yang diasuh Do Bosco.

Mereka meminta, Don Bosco menerima mereka dalam rumahnya namun ia tidak peduli. Tiba-tiba Bunda Maria berdiri di hadapannya dan berkata dengan lembut: 

“Mereka ini juga anak-anakku. Ambillah. Aku memberikannya kepadamu.”

Pada tanggal 5 Agustus 1872, Uskup meresmikan Konggregasi Puteri-Puteri Maria Pertolongan Orang Kristen, Maria Mazzarello ditunjuk sebagai Priorin atau dalam bahasa Latin artinya pemimpin rumah biara. Rumah biara tersebut dibantun berhadapan dengan Institut Salesian.

Pada tahun 1876 Don Bosco juga membentuk Serikat Salesian Awam yang beranggotakan kaum awam, yang bersedia membantu Salesian dengan mencurahkan segala perhatian, waktu dan dana mereka. Serikat Salesian dan Serikat Salesian Awam saling berbagi karya, doa dan berkat.  

Mimpi dan Penglihatan

Pada tahun 1861 Don Bosco mendapat mimpi. Ia melihat suatu taman kota dengan sebuah roda raksasa di tengah-tengah taman. Suatu makhluk misterius, mungkin seorang malaikat, mulai memutar roda tersebut. Setiap putaran mewakili sepuluh tahun karya hidupnya. Roda yang berputar itu menimbulkan suara bising. 

Namun demikian pada putaran pertama, hanya Don Bosco saja yang mendengar suaranya. Pada putaran kedua seluruh kota mendengarnya, pada putaran ketiga seluruh Italia mendengarnya, pada putaran keempat seluruh Eropa mendengarnya, dan pada putaran kelima seluruh dunia mendengarnya.

Mimpi tersebut ditegaskan dengan suatu mimpi lain pada tahun 1872. Ia melihat suatu padang gurun yang amat luas. Penduduknya berjubah panjang dan sangat liar. Mereka berkelahi satu sama lain dan berperang dengan prajurit Eropa. Padang itu segera dipenuhi dengan mayat-mayat bergelimpangan.

Tiba-tiba ia melihat datangnya serombongan misionaris dari berbagai macam ordo. Orang-orang liar itu membunuh mereka. Kemudian datang lagi serombongan misionaris muda yang dengan sukacita siap sedia menjadi martir. Don Bosco terperanjat karena mereka adalah Serikat Salesian. 

Imam-imam muda itu merentangkan tangannya sambil tersenyum. Kasih dan sukacita imam-imam Salesian mempesona orang-orang liar itu. Mereka menjatuhkan senjata mereka dan menyambut para misionaris.

Pada tahun 1874, atas permintaan Uskup Agung Buenos Aires untuk mewartakan Injil di Tierra del Fuego. Don Bosco mengirim rombongan misionaris yang pertama. Rombongan itu terdiri dari empat imam dan enam awam, dipimpin oleh Don Cagliero.

Don Bosco juga membangun gereja-gereja, St. Yohanes Penginjil di Turin, Basilika Hati Kudus di Roma juga sekolah-sekolah dan rumah-rumah Salesian.

Dengan bantuan Bunda Maria, Don Bosco, menyembuhkan dan membantu banyak orang. Namun dengan rendah hati Ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak punya kuasa untuk melakukan itu semua.

Bapa Suci Pius IX mendukung karya Don Bosco. Don Bosco membalasnya dengan rasa hormat dan kesetiaannya. Ia mengirimkan doa-doa, nasehat-nasehatnya, bahkan pesan-pesan mistiknya kepada Bapa Suci Pius IX


Bapa Suci Paus Pius IX meminta Don Bosco menuliskan semua mimpi dan penglihatan yang dialaminya dengan teliti dan seksama. Paus yakin bahwa mimpi-mimpi Don Bosco adalah warisan serta sumber inspirasi bagi mereka yang terlibat dalam karyanya. 

Memenuhi perintah resmi Bapa Suci, Don Bosco menulis semua mimpi dan penglihatannya dalam buku "Dreams, Visions and Prophecies of Don Bosco".

Di usia 70 tahun, walaupun satu matanya sudah buta, dan berjalan dengan tongkat penyangga Don Bosco tetap pergi ke berbagai tempat, mengunjungi biara-biara, merayakan misa di gereja-gereja.

Dalam pesan terakhirnya kepada anak-anak yang berkumpul di sekeliling tempat tidurnya Don Bosco berkata: 

“Kasihilah satu sama lain seperti saudara. Berbuatlah baik kepada semua orang dan janganlah berbuat jahat kepada siapa pun. Katakanlah kepada anak-anak bahwa aku menanti mereka semua di Surga.”

Wafat dan Menjadi Seorang Santo

Pada tanggal 31 Januari 1888, Yohanes Bosco wafat di Turin, Italia, dalam usia 72 tahun.  Pesta perayaannya dirayakan setiap tanggal:  31 Januari

Santo Yohanes Bosco dibeatifikasi pada tanggal 2 Juni 1929 oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi pada tanggal 1 April 1934 oleh Paus Pius XI.



Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...