Tampilkan postingan dengan label santo dan santa katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santo dan santa katolik. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 September 2023

Santa 'Kecil' Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Bagi orang Katolik, Para Kudus Allah adalah orang beriman yang telah meninggal dan sikap hidup mereka adalah contoh keteladanan, ketaatan serta pengharapan penuh pada kasih Allah Bapa yang sudah mencapai titik heroik. 

Dalam iman Katolik, orang Kudus dipercaya telah dikaruniai kehidupan kekal bersama Allah Bapa di surga, sehingga mereka sering dijadikan sebagai perantara doa kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, tanpa mengabaikan peran Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan. Para Kudus ini diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik melalui beberapa fase.

Fase pertama, diberikan waktu 5 tahun bagi ketenangan jiwa setelah meninggal. Fase kedua, adalah waktu penyelidikan gereja terhadap cara hidup mereka, hal ini merupakan tanggapan bagi permohonan kaum beriman atas diri calon orang kudus tersebut. 

Proses ini dibuat untuk menyatakan apakah yang bersangkutan sudah benar-benar memenuhi kriteria hidup suci dan penuh kebajikan. 

Dalam fase ini ada sebuah proses Bernama Declaration “non-cultus” atau pernyataan bahwa tidak ada pemujaan berhala pada orang kudus tersebut. 

Semua saksi akan dikumpulkan dan dibuat penyelidikan. Jika pada fase ini semua hal tersebut sudah bisa diterima, uskup akan membuat rekomendasi kepada paus, sehingga yang bersangkutan akan disebut ‘Hamba Allah.”

Fase selanjutnya, adalah meyakinkan akan mujizat-mujizat yang terjadi melalui Hamba Allah ini. Jika tahap ini dapat dibuktikan dan diakui oleh Paus, calon Santo atau Santa ini akan disebut “Terberkati”. Fase terakhir adalah Proses Kanonisasi yaitu pernyataan bahwa orang tersebut diangkat menjadi Santo atau Santa. 

Banyak proses yang harus dilewati untuk mencapai fase ini, termasuk akan diadakan misa untuk membacakan Sejarah hidup yang bersangkutan, serta mujizat yang sudah terjadi dengan perantaraan doa kepadanya. 

Tentu saja keseluruhan proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa Allah sungguh berkenan mengangkat hambanya menjadi orang Kudus pilihannya. 

Dalam kasus tertentu, tahap-tahap ini bisa dipercepat oleh Paus apabila semua informasi dan penyelidikan yang diperlukan sudah lengkap. Seperti yang terjadi pada Santa Theresa dari Calcuta dan Paus Yohanes Paulus II.

Masa Kecil. Santa Theresse de Lisseux atau yang biasa disebut juga Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, terlahir di Alencon, Perancis pada tanggal 2 Januari 1873, dengan nama kecil Marie Francoise Therese Martin. Ayahnya seorang pembuat jam yang sukses, bernama Louis Martin dan ibunya Marie Azelie Guerin, seorang pembuat renda. 

Theresia adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Kakak Pertamanya, Marie menjadi suster Marie Hati Kudus Karmelit di Lisieux. Kakaknya yang kedua, Pauline, juga menjadi suster dan ibu Agnes dari Yesus, dari Karmelit di Lisieux. Kakak Theresia yang nomor 3, Leonie, tidak diterima di Karmelit Lisieux, ia kemudian menjadi suster Klaris dan Visitasi di Caen, dengan nama suster Francoise Theresia.

Kakak-kakak Theresia yang berikutnya, Marie Helene, Marie Joseph Louis dan Marie Joseph Jean Baptiste, meninggal di usia yang masih balita. Kemudian putri yang ketujuh, Celine, menjadi suster Karmelit Lisieux, dengan nama suster Genevieve dari Wajah Kudus. Kakak yang kedelapan di atas Theresia, yaitu Marie Melanie Theresia, meninggal pada usia 7 minggu.

Theresia terlahir sebagai anak yang manja, kesayangan ayahnya. Ia biasa dipanggil ratu kecil. Karena kasih sayang dan dimanja dalam keluarga, Theresia menjadi pribadi yang tidak bisa bergaul, cepat merajuk dan marah. Saat Theresia berusia 4 tahun, ibunya meninggal karena sakit kanker payudara, Louis Martin kemudian memutuskan pindah ke Kota Lisieux dimana banyak keluarganya tinggal. 

Theresia kemudian belajar di sekolah Benediktin Notre Dame Du Pre. Di usia 10 tahun, Theresia juga harus melepas kakaknya Pauline, yang selama ini mengurus dan merawatnya sepeninggal sang ibu. 

Hal ini semakin membuatnya sangat kesepian dan sedih, ia kemudian jatuh sakit yang sangat parah. Namun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Ayah dan kakak-kakaknya berdoa di sekeliling tempat tidurnya, hingga suatu hari Theresia melihat Bunda Maria tersenyum padanya, dan seketika sakitnya sembuh.

Theresia kemudian berusaha memaksa masuk ke ordo Karmelit, tempat Pauline berada, namun ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Theresia sangat menderita karena sedih dan depresi. Untuk menghiburnya, ayahnya mengajaknya berziarah ke Roma. 

Pada saat itu, ia berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XIII. Theresia kecil meminta pada Paus untuk mengijinkannya masuk biara, namun Paus mengatakan, anakku, ikutilah keputusan pastur pemimpin.

Diterima menjadi Biarawati. Pada April 1888, Theresia diterima menjadi postulant karmelit di Lisieux, oleh Uskup Bayeux. Pada tahun 1889, ayahnya menderita stroke dan dibawa ke sanatorium Bon Sauveur di Caen. 

Ia tinggal selama 3 tahun disana kemudian kembali ke Lisieux. Ayah Theresia meninggal pada tahun 1894, pada tahun itu juga Celine masuk biara karmelit di Lisieux dan menjadi suster Genevieve dari Wajah Kudus. 

Theresia sangat mencintai Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Itu sebabnya ia memilih biara karmel, agar seluruh harinya dihabiskan hanya untuk berdoa dan bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat dan belum mengenal Tuhan Yesus. 

Ia berkata: “Tuhan tidak ingin kita melakukan apapun, ia hanya ingin kita mencintai-Nya.” Ia melakukan segala sesuatu dengan senyum dan kesabaran. 

Ia melayani suster-suster tua yang sakit dan suka mengeluh tentang sakit mereka, ia mengurus dan melayani mereka seolah ia melayani Tuhan Yesus. Ia percaya bahwa mencintai sesama berarti mencintai Tuhan Yesus. Menurut Theresia, mencari kesucian diri tidak perlu dengan melakukan tindakan kepahlawanan atau jasa besar, cukuplah dengan mencintai Tuhan.

Setelah 9 tahun menjadi biarawati, Theresia menderita penyakit TBC. Di masa itu, TBC belum ada obatnya. Sehingga penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada 30 September 1897, di usia 24 tahun. Theresia meninggal dengan penuh cinta kepada Tuhan Yesus. 

Pada 29 April 1923, Santa Theresia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 2 tahun kemudian yakni pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasi Theresia menjadi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia si Bunga Kecil. 

Ia mengajarkan kepada kita bahwa mencapai kesucian tidaklah terlalu rumit, cukuplah hidup dengan penuh cinta kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, seperti yang dicontohkannya dalam cara hidupnya. 

Hal ini juga tergambar dalam doa-doanya. Santa Theresia mengatakan: “Bagiku, doa berasal dari hati. Ini merupakan tatapan sederhana ke surga. Doa adalah permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan dalam satu kata, yang kemudian menyatukannya dengan Tuhan. 

Aku tidak ingin mencari doa-doa dengan kata-kata yang indah. Aku melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca. Aku menceritakan semuanya pada Tuhan yang aku inginkan dan Dia mengerti.”

Autobiografi. Theresia menuangkan semua dalam buku Autobiografinya yang berjudul “Story of a Soul”, “Percakapan Terakhir” dan “Puisi dari Santa Theresia”. Ia menulis semua itu dalam pengawasan kakaknya Pauline, atau ibu Agnes dari Yesus dan juga pemimpin biara. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi pelindung para Penderita AIDS, pelindung penerbang, Toko Bunga, Pelindung Penyakit dan Karya Misi. 

Bahkan ia diangkat menjadi pelindung Rusia. Ayah dan ibu Theresia juga menjadi Beato dan Beata karena cara hidup dan ketaatan mereka. saat ini tubuh Santa Theresia yang masih utuh itu disemayamkan di Carmel of Lisseux Perancis. Pada Oktober 1997, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi wanita ke-3 yang mendapat gelar Doktor Gereja.



Minggu, 18 April 2021

Santo Luigi Orione (Kisah Hidup Para Kudus Allah Part - 18)

Shalom Sahabat Tuhan Yesus…

Kembali lagi dengan kisah para Santo dan Santa yang Jasadnya masih utuh sampai saat ini. Kali ini, saya akan bercerita tentang Santo Luigi Orione dari Italia.

Sebelumnya, saya sangat ingin tahu, apakah sahabat sudah menyempatkan melihat atau membaca blog saya tentang Para Kudus Allah yang lainnya? Saya sangat ingin tahu, apa saja yang sudah sahabat renungi tentang cara hidup dan ketaatan mereka? Apakah ada yang berpengaruh dalam cara hidup atau menambah iman sahabat?

Kalau belum, kita mungkin bisa memulainya lagi ya kan…? Lahir baru dengan mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan Yesus memang bukanlah hal yang mudah, butuh banyak perjuangan dan kesetiaan menanti ‘Waktu Tuhan’ menemukan kita…

Ayo tetap semangat….

Santo Luigi Orione

Luigi Giovanni Orione adalah seorang imam Italia yang terkenal sangat aktif melakukan kegiatan sosial di negaranya, ketika Italia menghadapi pergolakan sosial di akhir abad ke-19. Untuk tujuan mulia itu, Santo Luigi mendirikan sebuah lembaga keagamaan untuk para pria.

Luigi Giovanni Orione dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1872  dalam sebuah keluarga miskin di Pontecurone, Provinsi Alessandria, di wilayah Piedmont Italia.

Ia dibabtis sehari kemudian dengan nama seturut nama dua orang kudus yang menjadi sumber devosi keluarganya; yaitu Santo Luigi Gonzaga (Aloysius Gonzaga) dan Santo Giovanni Batista (Yohanes Pembabtis).

Ayahnya, Vittorio Orione,  adalah seorang tukang batu  yang pendiam dan ibunya bernama Carolina adalah seorang ibu rumah tangga yang saleh dan selalu menanamkan semangat hidup rohani dalam diri  Luigi kecil.

Di usia tiga belas tahun  Luigi  masuk Seminari Fransiskan di Voghera (Pavia), namun setahun kemudian ia dikeluarkan karena kesehatannya yang buruk.  Ia kemudian melanjutkan studinya di Oratorium Valdocco di Turin yang di kelola oleh para Salesian Don Bosco yang kala itu masih dipimpin oleh Santo Yohannes Bosco



Pribadi Luigi Orione yang pendiam dan saleh, mendapat perhatian khusus dari Don Bosco dan merupakan salah seorang murid favoritnya.  

Pada tahun 1888 Don Bosco wafat.  Luigi bersama para siswa Oratorium dan ribuan masyarakat Turin hadir pada misa penguburan Don Bosco.

Pada saat berlutut dan memberikan penghormatan terakhir didepan Jenazah Don Bosco, sebuah mujizat terjadi pada Luigi Orione.  Berbagai penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun seketika itu juga sembuh secara ajaib.

Setahun setelah mujizat itu terjadi, Luigi lulus dari Oratorium Don Bosco dan melanjutkan pendidikannya ke Seminari Tinggi Diosesan di Tortona.  



Frater Luigi kemudian terlibat dalam banyak kegiatan amal dan menjadi relawan dari Komunitas Sukarelawan
San Marziano dan komunitas Relawan Santo  Vincent de Paul.  Bersama dua komunitas relawan ini, Frater Luigi banyak berkarya menolong dan memperhatikan orang lain.

Pada tahun 1892, terinspirasi oleh Oratorium Salesian Don Bosco, dimana ia pernah bersekolah, Frater  Luigi  yang saat itu baru berusia 20 tahun membuka sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak orang miskin di Tortona.

Tahun berikutnya ia memulai sebuah sekolah asrama dengan biaya murah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Orang tua para siswa hanya menyumbang bahan makanan sebanyak yang mampu mereka berikan dan Frater Luigi bersama beberapa orang frater akan mengajar anak-anak di sekolah itu dengan sukarela.

Ditengah kesibukkannya membantu anak-anak dari keluarga miskin,  Frater Luigi ditahbiskan menjadi seorang imam praja pada tanggal 13 April 1895.



Melihat perkembangan yang cukup baik pada lembaga yang didirikan oleh pater Luigi, Uskup Tortona lalu memperbolehkan sejumlah frater untuk turut membantu karya pelayanan pater Luigi.  

Inilah awal berdirinya Konggregasi FDP (Figli della Divina Providenza / Sons of Divine Provvidence) yakni Konggregasi Karya Penyelenggaraan Ilahi.

Kongregasi diresmikan pada 21 Maret 1903 oleh Uskup Tortona Mgr. Igino Bandi dan berkembang pesat dari tahun ke tahun. Para imam Kongregasi ini berkarya untuk menghantar dan menyatukan semua orang, termasuk orang miskin, kepada Tuhan dan Gereja.

Pada tahun 1915 Luigi mendirikan klinik kesehatan murah di Turin dan Cottolengo untuk menolong orang-orang miskin. Para pasien yang datang akan digolongkan menurut jenis penyakitnya dan dirawat dengan penuh kekeluargaan.

Di tahun ini  juga Luigi mendirikan susteran Little Missionary Sisters of Charity atau Susteran Misionaris. Para biarawati ini  berkarya dalam bidang pendidikan kanak-kanak, panti asuhan, pastoral,  pendidikan untuk perempuan, pertolongan pada orang miskin dan sakit.  

Dengan demikian semakin banyak muda-mudi yang ingin bergabung mengikuti semangat  pater Luigi Orione.

Saat ini misi FDP telah menyebar ke seluruh dunia dan berkarya kurang lebih di 23 Negara di berbagai benua.

Pada musim dingin tahun 1940,  Don Luigi Orione menderita sakit jantung dan paru yang cukup parah. Ia lalu diminta pergi ke Sanremo untuk menjalani perawatan intensif. 

Pada malam keberangkatannya ke Sanremo,  Don Orione mengatakan kepada rekan-rekannya,  "Saya tidak ingin wafat di antara pohon-pohon palma”, katanya. “Saya ingin wafat diantara orang-orang miskin yang adalah Yesus".   

Empat hari kemudian, dengan dikelilingi oleh para imam FDP,  pater Luigi Orione menutup mata untuk selamanya.  Kata-kata terakhirnya adalah: 

"Yesus, Yesus! Yesus!  aku datang ..."

Pater Luigi Orione meninggal pada tanggal 12 Maret 1940 di Sanremo Italia karena sakit yang dideritanya.

Santo Luigi Orione Dibeatifikasi pada tanggal 26 Oktober 1980 oleh Paus Yohanes Paulus II dan Dikanonisasi oleh Paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. 

Jasad utuh Santo Luigi Orione disemayamkan di Suaka Nostra Signora della Guardia, di Tortona , Italia.

Sekian kisah kita kali ini. Shalom…. Tuhan memberkati…




Senin, 15 Maret 2021

Santa Bernadette Soubirous (Part-17)

Santa Bernadette Soubirous

Shalom sahabat Tuhan Yesus… Kita telah sampai di bagian ke-17 kisah Para Santo dan Santa yang Jasadnya Masih Utuh sampai Saat ini. Ini adalah kisah kedua yang saya ceritakan tentang Orang Kudus yang mengalami Penampakan Bunda Allah, Ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kisah kita kali ini tentang :

Santa Bernadette Soubirous dari Lourdes

Santa Bernadette dilahirkan Pada tanggal 7 Januari 1844 di Lourdes, Hautes-Pyrénées, Perancis, dengan nama Marie Bernarde Soubirous. Ia terlahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Karena sejak kecil Bernarde memiliki perawakan yang mungil, ia dipanggil Bernadette yang artinya Bernarde kecil.

Ayahnya Francois Soubirous adalah seorang pengusaha penggilingan gandum yang bangkrut dan jatuh miskin, ibunya Louise Casterot adalah seorang tukang cuci.

Sejak bayi kesehatan Bernadette kurang baik. Ia menderita sakit kolera dan juga asma yang menyiksanya sepanjang hidupnya.  Bukannya mengeluh, tetapi Bernadette mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan, ia rajin berdoa Rosario dan memiliki prilaku yang luhur.

Bagi Bernadette, sakit juga bukan berarti bebas dari segala tugas dan kewajiban. Ia tetap harus membantu ibunya mengasuh kelima adiknya. Dan ketika Bernadette telah dianggap cukup umur, ia pun harus bekerja sebagai pembantu dan penggembala ternak.

Suatu hari, pada tanggal 11 Februari 1858, suatu peristiwa yang luar biasa terjadi. Ketika ia bersama seorang adik dan seorang temannya sedang mencari kayu bakar di padang, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya di sebuah gua yang disebut Massabielle (artinya Batu Besar), di tepi sungai Gave dekat kota Lourdes.

Bernadette tidak tahu siapa wanita cantik itu dan apa yang ia inginkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya sebanyak 18 kali. Pada tanggal 25 Maret 1858, pada penampakannya yang ke-16, Bunda Maria mengungkapkan siapa dirinya, "Akulah yang Dikandung Tanpa Dosa." ('Que Soy Era Immaculada Conceptiou' atau 'I Am The Immaculate Conception')

Dalam sebuah suratnya santa Bernadette menuliskan pengalamannya saat bunda maria menampakkan diri kepadanya : 

"Suatu hari saya dan dua gadis lain pergi ke pinggir sungai Gave. Tiba-tiba saya mendengar bunyi gemerisik. Saya mengarahkan pandangan ke arah padang yang terletak di sisi sungai, tetapi pepohonan di sana tampak tenang dan suara itu jelas bukan datang dari sana. 

Kemudian saya mendongak dan memandang ke arah gua di mana saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah dengan ikat pinggang berwarna terang. Di atas masing-masing kakinya ada bunga mawar berwarna kuning pucat, sama seperti warna biji-biji rosarionya.

Saya menggosok-gosok mata saya, kemudian saya tergerak untuk memasukkan tangan saya ke dalam lipatan baju saya di mana tersimpan rosario. Saya ingin membuat tanda salib, tetapi tidak bisa, tangan saya lemas dan jatuh kembali. Kemudian perempuan itu membuat tanda salib. Setelah usaha yang kedua saya berhasil membuat tanda salib meskipun tangan saya gemetar.

Kemudian saya mulai berdoa rosario sementara perempuan itu menggerakkan manik-manik di antara jari-jarinya tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. Setelah saya selesai mendaraskan Salam Maria, perempuan itu tiba-tiba menghilang.

Saya bertanya kepada kedua gadis yang lain apakah mereka melihat sesuatu, tetapi mereka mengatakan tidak. Tentu saja mereka ingin tahu apa yang telah terjadi. Saya katakan kepada mereka bahwa saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah, namun saya tidak tahu siapa dia. 

Saya minta mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Mereka mengatakan saya bodoh karena memikirkan yang bukan-bukan. Saya katakan bahwa mereka salah, dan saya merasa terdorong untuk kembali lagi ke sana hari Minggu berikutnya.

Ketiga kalinya saya ke sana, perempuan itu berbicara kepada saya dan meminta saya untuk datang selama lima belas hari. Saya katakan saya bersedia datang. Kemudian perempuan itu meminta saya untuk menyampaikan kepada imam agar sebuah kapel dibangun di sana. Ia juga meminta saya minum dari sumber air. 

Saya pergi ke sungai Gave, satu-satunya sungai yang ada di sana. Tetapi perempuan itu menyadarkan saya bahwa bukan Gave yang ia maksudkan. Ia menunjuk ke sebuah aliran air kecil di dekat situ.

Ketika saya sampai di sana, saya hanya dapat menemukan beberapa tetes air dan banyak lumpur. Saya menadahkan tangan untuk mendapatkan lebih banyak air, tetapi tidak berhasil. Karenanya saya menggali tanah. Saya berhasil memperoleh beberapa tetes air, baru setelah usaha yang keempat saya mendapatkan cukup air untuk diminum. Kemudian perempuan itu menghilang dan pulanglah saya ke rumah.

Saya datang setiap hari selama lima belas hari, dan setiap kali, kecuali hari Senin dan Jum'at, perempuan itu menampakkan diri. Ia meminta saya mencari aliran sungai dan membersihkan diri di sana serta pergi kepada imam meminta agar sebuah kapel didirikan di sana. 

Saya juga harus berdoa, katanya, untuk pertobatan orang-orang berdosa. Berkali-kali saya bertanya kepadanya apa arti semua itu, tetapi perempuan itu hanya tersenyum. Akhirnya, dengan tangannya terentang dan matanya memandang ke langit, ia berkata bahwa dialah "Immaculate Conception" (Yang Dikandung Tanpa Dosa).

Selama lima belas hari itu, ia mengungkapkan tiga buah rahasia kepada saya, tetapi saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun juga, dan sejauh ini saya taat kepadanya."

Setelah peristiwa penampakan itu Bernadette semakin banyak menderita, baik karena kecurigaan orang-orang yang tidak mau percaya, oleh perhatian berlebihan dari mereka yang percaya serta ancaman dari penguasa setempat. Semuanya itu ditanggungnya dengan tabah dan sabar.

Pada usia 22 tahun, Bernadette menggabungkan diri dengan Suster-suster Karitas di Nevers, Perancis. Tiga belas tahun lamanya ia tinggal di biara dan sebagian besar dari waktu tersebut dihabiskannya di tempat tidur karena sakit yang dideritanya.

Bernadette seorang yang sangat rendah hati. Lebih dari apa pun, ia tidak ingin dipuji. Suatu ketika seorang suster bertanya kepadanya apakah ia merasa bangga karena dipilih oleh Bunda Maria. "Bagaimana mungkin," Bernadette cepat-cepat menjawab, "Bunda Maria memilih saya justru karena saya inilah yang paling hina." Suatu jawaban dari kerendahan hati yang paling dalam!

Bernadette wafat pada tanggal 16 April 1879 dalam usia 35 tahun karena penyakit tuberculosis. Pada tahun 1909, sehubungan dengan diajukannya permohonan beatifikasi, makam Bernadette kemudian digali dan jenazah diangkat dari dalam tanah. 

Uskup Gauthey dari Nevers, bersama dengan para wakil dan pejabat Gereja dan  semua yang hadir merasa takjub melihat jenazah Bernadette yang tampak persis sama seperti pada hari ia meninggal. Tubuhnya utuh sempurna, tak tercium bau busuk, pun tak didapati tanda-tanda kerusakan pada tubuh mungil yang terbaring dalam peti jenazah.

Pada tanggal 14 Juni 1925, Paus Pius XI memaklumkan Bernadette Soubirous sebagai `Beata', lalu pada tahun 1933 dikanonisasi  oleh Paus Pius XI. Pesta peringatannya dirayakan setiap tanggal 16 April dan tanggal 18 February di Perancis.

Jenazah Santa Bernadette yang sampai saat ini masih utuh tersebut kini disemayamkan di  The Marian shrine at Nevers (Bourgogne, France). Santa Bernadette Soubiros diangkat oleh Gereja Katolik menjadi Santa Pelindung Orang Sakit.

Saat ini Kapela yang dibangun atas permintaan Bunda Maria pada Santa Bernadette di Gua Massabielle, Lourdes, menjadi salah satu Tempat Ziarah terbesar di dunia. Setiap hari jutaan pengunjung dari seluruh dunia datang ke tempat itu dan diberitakan banyak terjadi mujizat disana.

Sahabat Tuhan Yesus, di Vlog sebelumnya saya telah bercerita tentang Santa Katharina Laboure yang didatangi Bunda Tuhan untuk menyampaikan tugas perutusannya dari Allah. Di Vlog ini, Santa Bernadette juga mengalami hal yang sama, bertemu Bunda Maria dan mendapatkan tugasnya.

Kedua Santa ini memiliki pribadi yang mirip, sama2 bersahaja dan sangat rendah hati, malah Santa Bernadette berkata bahwa Bunda Maria memilihnya karena ia adalah orang yang paling hina. Dalam ketenangan dan kesederhanaan, mereka menghidupi Firman Tuhan, bermatiraga dan tetap bersukacita dalam penderitaan. Kemudian dipercayakan Tuhan untuk melakukan Tugas Mulia.

Roma 5:3-5 Dan bukan itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekukan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Saya merasa, Allah Bapa kita tidak memandang siapapun kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Semua yang kita banggakan di dunia ini, status, pendidikan, jabatan, kekayaan, ketenaran, semua itu hanyalah untuk dunia, tidak ada artinya di hadapan Allah.

Sebaliknya, harusnya kita menjadikan hubungan kita yang akrab dan intim dengan Allah melalui Putera-Nya yakni Tuhan Yesus dan Bunda Maria sebagai kebanggaan dalam hidup kita. Jangan takut menanggung penderitaan sebesar apapun, jangan pernah merasa bahwa menjadi sederhana dan rendah hati adalah hal yang hina, tetaplah percaya dan milikilah iman yang teguh kepada Allah Bapa seperti yang dimiliki para Kudus Allah ini.

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus, Putera Allah yang tidak berdosa, bahkan pernah mengalami penderitaan serta penghinaan yang lebih berat dan kejam hanya demi cinta-Nya pada kita, yang tak akan mungkin mampu kita tanggung. 

Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. (Ibrani 12:6)

Sampai bertemu di Vlog yang berikutnya… Shalom, Tuhan Yesus memberkati…



jangan Lupa kunjungi Vlog saya di Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCDOdlk6kRi8eJtulUF_SKiQ

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...