Tampilkan postingan dengan label mistikus gereja katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mistikus gereja katolik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2023

Santo Padre Pio dari Pietrelcina

Santo Padre Pio

Sahabat Kristus, di Blog ini, saya berbagi kisah tentang Orang Kudus Allah dalam Gereja Katolik yang disebut sebagai Santo dan Santa. Para Kudus ini adalah mereka yang sudah meninggal, dipercaya sudah berada di surga, dan telah terbukti menjalani cara hidup dengan kebajikan yang heroik atau suci.

Doa-doa yang disampaikan melalui perantaraan para Orang Kudus ini, telah diakui mendatangkan banyak mujizat dan penyembuhan. Dengan mengenal mereka, kita juga didorong untuk mengikuti cara hidup yang kudus, penuh ketaatan dan pengorbanan bagi Allah Bapa.

Detail mengenai bagaimana mereka semua diproses menjadi orang-orang pilihan Allah melalui Gereja Katolik sebenarnya sudah sering saya jelaskan, tapi mungkin saya akan mengambil sebuah judul tersendiri mengenai proses itu.

Saat ini kita akan membaca kisah tentang seorang Mistikus Besar yang menerima karunia Stigmata (stigmata; (yunani) luka-luka penderitaan Kristus yang muncul secara tiba-tiba pada seseorang), hampir sepanjang usia hidupnya. Hal ini mendatangkan banyak minat dan kontroversi di sekelilingnya, beliau adalah Santo Pius atau Santo Padre Pio.

Kita telah menonton dan membaca banyak kisah fiksi tentang Stigmata, terakhir saya menonton film Korea yang diperankan oleh Park Seo Jin tentang seorang atlit yang menerima karunia stigmata pada tangan kirinya. Namun kisah ini, bukan kisah fiksi, melainkan sungguh nyata terjadi.

Masa Muda

Santo Pio lahir di Pietrelcina, Italia Selatan, tanggal 25 Mei 1887 dengan nama Francesco Forgione. Ia adalah anak kelima dari delapan orang bersaudara, dari sebuah keluarga petani pasangan Grazio Forgione dan maria Giusseppa de Nunzio, atau biasa disebut mama Pepa.

Bagi ibunya, Francesco adalah anak yang sangat berbeda dari anak lain sejak kecil, ia sangat religius. Pada usia 9 tahun, Francesco pernah mencambuki dirinya sendiri agar serupa dengan Yesus Kristus. Francesco kecil sering melihat penampakan Tuhan Yesus, Bunda Maria bahkan setan.

Pada usia 16 tahun, di tahun 1903, Francesco meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan biara Kapusin. Ia menjadi Novis di biara itu dan diberikan nama Pius atau Pio. Aturan ketat biara membuat frater Pio sering sakit. Ia kemudian ditahbiskan lebih cepat karena pertimbangan kondisi kesehatannya.

Karunia Stigmata

Padre Pio mendapatkan stigmata pertama pada tanggal 7 September 1911, namun karena takut ia menemui pastor Paroki Pietrelcina, Monsigneur Salvatore Panullo untuk mendoakannya. Ajaibnya, semua luka-luka itu sembuh.

Pada hari Jumat pagi, tanggal 20 September 1918, saat Padre Pio sedang berdoa sendirian di depan salib Kristus dalam sebuah kapel tua, Padre Pio tiba-tiba melihat penampakan sosok-sosok seperti malaikat yang kemudian memberinya luka-luka stigmata yang tinggal tetap ditubuhnya selama setengah abad, segar dan berdarah.

Luka-luka itu terdiri dari, luka pada telapak tangan kanan dan kirinya, luka pada kedua kakinya dan lambungnya. Semua luka itu terbuka, segar dan mengeluarkan banyak darah. Hal itu membuat Padre Pio tidak bisa merahasiakannya, ceceran darah yang tumpah ke lantai membuat kepala biara mengetahuinya.

Seorang dokter yang dipanggil untuk mengobatinya mengatakan bahwa itu bukan luka-luka biasa. Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakannya, namun berita cepat sekali tersebar.

Setiap pagi, sejak pukul empat dinihari, ratusan atau ribuan orang datang ke biara terpencil itu menunggunya. Ada yang sekedar ingin tahu atau memang orang saleh yang datang untuk berdoa. Padre Pio tidur tidak lebih dari 2 jam sehari dan tidak pernah mengambil cuti sepanjang 50 tahun imamatnya.

Padre Pio terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk  mempersiapkan misa Kudus, selesai misa ia akan melewatkan seluruh harinya dalam doa dan memberikan Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia karismatik termasuk kemampuan membaca batin dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengalir dari luka-lukanya mengeluarkan bau yang harum mewangi seperti harum bunga-bungaan.

Penderitaan

Padre Pio mempersembahkan seluruh hidupnya, seutuhnya, untuk tugas imamatnya. Ia mendirikan kelompok-kelompok doa dan rumah sakit moderen yang ia sebut "Wisma untuk Meringankan Penderitaan".

Selama tahun-tahun itu, selain menanggung penderitaan fisik akibat luka-luka stigmata ditubuhnya yang terus menerus mengeluarkan darah segar, Padre Pio juga menderita karena perbuatan sesama manusia.

Pada tahun 1923-1931, Pater Agustinus Gemmeli, seorang ahli dari Fransiskan sekaligus pendiri Universitas Katolik "The Sacred Heart" menyerang Padre Pio. Ia menulis surat kepada vatikan dan menyebutkan bahwa apa yang dialami Padre Pio diakibatkan oleh kehidupan spiritual yang rendah. 

Beberapa Pastor di San Giovanni Rotondo, meyakinkan uskup Manfredonia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa Padre Pio dikuasai oleh iblis dan menipu semua saudara sekomunitasnya.

Menanggapi hal ini, pada tanggal 31 Mei 1923, Vatikan mengumumkan bahwa kejadian-kejadian yang berhubungan dengan Padre Pio, bukan berasal dari kekuatan spiritual. Vatikan memerintahkan untuk menghentikan semua bentuk komunikasi yang dilakukan kepada Padre Pio. 

Mei dan Juni 1923, vatikan mengeluarkan perintah yang sangat keras, melarang Padre Pio merayakan misa, memberi kotbah dan pengakuan dosa. Semua ini terjadi sampai tahun 1931.

Mujizat

Padre Pio adalah seorang imam yang rendah hati, di tengah semua pengalaman itu ia menulis surat kepada pembimbing rohaninya bahwa ia merasa sungguh tidak layak menerima karunia sebesar itu. 

Dalam proses kanonisasi, terdapat daftar kesaksian tentang mujizat yang terjadi atas namanya. Seorang wanita yang menjadi anak rohani Padre Pio bernama Nyonya Cleonice menceritakan; pada masa perang dunia kedua, keponakannya menjadi tawanan perang.

Selama setahun seluruh keluarga tidak mendengar kabarnya sama sekali sehingga mereka beranggapan ia telah tewas. Ibunya datang kepada Padre Pio, dengan berlutut dan menangis meminta bantuan imam itu untuk mengetahui apakah anaknya masih hidup.

Padre Pio merasa iba kemudian mengatakan pada ibunya, berdirilah dan pergilah dalam damai. Nyonya Cleonice kemudian mendatangi Padre Pio dan memintanya melakukan sebuah mujizat. 

Dengan penuh percaya diri ia mengatakan kepada Padre Pio, bahwa ia akan menulis sebuah surat kepada ponakannya itu, Giovannino, namun ia hanya akan menulis namanya saja pada sampul surat, sebab ia tidak tahu dimana alamat ponakannya. Ia mengatakan, ia mempercayakan kepada Padre Pio dan malaikat pelindungnya untuk membawa surat itu kepada Giovannino dimanapun ia berada.

Sore hari sebelum tidur, ia menulis surat itu dan meletakkan di meja samping tempat tidurnya. Keesokan hari, ia terkejut, takut dan heran karena melihat surat itu tidak ada lagi disana. Ia pergi menemui Padre Pio dan berterima kasih, imam yang rendah hati itu mengatakan "Berterima kasihlah kepada Santa Perawan".

Lima belas hari setelah surat itu menghilang, keponakannya Givannino mengirimkan balasan surat. Maka bergembiralah hati semua orang dalam keluarga itu. Mereka sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan juga Padre Pio.

Menjadi Seorang Santo

Santo Padre Pio adalah seorang Imam Biarawan Kapusin dari San Giovanni Rotondo, Italia yang sangat istimewah dan rendah hati. Ia adalah tokoh yang sangat terkenal di abad ke-20, khususnya di Italia.

Meskipun berbagai rintangan dan penderitaan menimpah, ia tetap sabar dan berserah kepada kehendak Allah Bapa. Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968, di usia 81 tahun. Kemudian dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma Italia, pada tanggal 2 Mei 1999.

Dan dikanonisasi oleh Paus yang sama pada 16 Juni 2002, hanya tiga tahun setelah beatifikasinya. Jasadnya yang sampai sekarang masih utuh, disemayamkan di San Giovanni Rotondo, Italia, tempat ia mengabdi sampai akhir hayatnya.

Santo Padre Pio menjadi pelindung sukarelawan pertahanan sipil dan para remaja. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

Nah, sahabat Kristus, saya pribadi mendengar banyak hal Santo Padre Pio sejak saya masih kecil. Banyak foto-foto beliau juga beredar di media massa. Saya bersyukur Tuhan selalu punya cara untuk memuliakan umatnya yang setia dan taat pada rencana-Nya.

Terima kasih sudah membaca sampai selesai, Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan.... 

Kamis, 09 November 2023

Para Kudus Yang Digelar Mistikus dalam Gereja Katolik

Para Kudus yang Digelar Gereja Katolik sebagai Mistikus 

 

Dalam gereja Katolik, kita mengetahui bahwa beberapa Orang Kudus Allah atau Santo dan Santa yang hidup dan doa-doa mereka kita teladani, juga digelar sebagai Mistikus Gereja. Pada tulisan ini, kita akan mengenal mereka dan memahami kenapa para Kudus ini sampai digelar sebagai Mistikus Gereja.

Sebenarnya kalau kita bicara tentang Mistik, tentu saja pikiran kita akan terarah kepada hal-hal yang berbau gaib, praktek okultisme, ilmu sihir dan sebagainya. Sementara semua hal itu dilarang dalam Ajaran Gereja, tapi kenapa para Kudus ini bisa mendapat gelar itu?

Arti

Mistikus adalah orang yang mengalami atau memiliki pengalaman yang melampaui pemahaman atau pengalaman manusia pada umumnya. Dalam tulisan ini, ada delapan orang Kudus yang saya kenal tapi bisa jadi ada lebih banyak dari itu.

Mistikus berasal, dari kata Mistik dimana dalam bahasa Indonesia artinya; hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa. 

Sementara dalam Teologi Kristen, Mistisisme adalah tradisi, praktik, doktrin dan teologi dalam agama Kristen yang menekankan pada transformasi diri memiliki hubungan dengan Tuhan atau untuk menerima kehadiran Tuhan.

Hingga abad keenam Masehi, praktik yang sekarang disebut Mistisisme ini, dikenal dengan istilah teoria; yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno theoria; artinya Memandang Tuhan.

Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi Contemplatio, yang artinya Kontemplasi atau Permenungan. Kontemplasi ini merupakan permenungan jiwa akan kehadiran Tuhan di alam semesta, dan mengantarkan seseorang kepada pengudusan atau penyatuan mistik dengan Tuhan.

Dalam konteks Kristen Katolik, biasanya praktek Mistik atau Kontemplasi ini dilakukan melalui tiga disiplin: Doa (termasuk meditasi dan kontemplasi), Puasa (termasuk semua bentuk pantang dan penyangkalan diri) dan Sedekah sesuai ajaran Yesus dalam Kotbah di bukit (Matius 5-7).

Para Kudus

Menurut Alkitab; Kudus artinya bebas terhadap dunia dan  kemudian menjadi orang pilihan Allah (Yohanes 17:14-15). Orang Kudus Allah, adalah mereka yang selama hidupnya taat, setia dan berbakti pada penyelenggaraan Ilahi. 

Dan gereja Katolik meyakini orang-orang pilihan Allah yang telah meninggal dunia ini telah berada di surga karena cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan. Semua itu sudah terbukti dalam proses Kanonisasi.

Ada lebih dari seribu Santo dan Santa dalam Gereja Katolik Roma. Dari sekian banyak para Kudus ini, ada beberapa yang digelar sebagai Mistikus Gereja. Mereka adalah orang-orang yang terbukti menjalani hidup mereka dengan menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk berdoa, bermeditasi, berpuasa dan pantang, serta merenungkan kitab suci dan semua aktifitas spiritual secara mendalam untuk mengenal Tuhan.

Berikut profil dan jalan hidup mereka:

1. Santo Ignatius dari Loyola

Santo Ignatius dari Loyola adalah seorang mantan Ksatria Spanyol keturunan bangsawan Basque yang menjadi teolog dan imam Katolik pendiri Ordo Serikat Yesus (Yesuit) dan menjadi superior jenderal pertama ordo tersebut.

Lahir pada tanggal 23 Oktober 1491, di Azpeitia, Loyola, Provinsi Basque, Spanyol dan dibaptis dengan nama Inigo Lopez dan merupakan anak bungsu dari tiga belas bersaudara.

Ibunya meninggal tidak lama setelah Ignatius lahir, kemudian ia dibesarkan oleh istri seorang pandai besi di kotanya. Ignatius adalah seorang pemuda yang suka berjudi, sangat suka perempuan, gemar berkelahi dan pandai membela diri. 

Dalam sebuah perselisihan, bersama saudara-saudaranya ia menyerang beberapa kaum religius anggota keluarga lain. Ketika dibawa ke pengadilan karena perkara itu, Ignatius membela dirinya bahwa dia adalah seorang religius sejak masa muda agar terhindar dari hukuman.

Pada usia 30-an, Ignatius menjadi tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis. Pada sebuah pertempuran, sebuah bom kanon mengenai Ignatius dan membuat kedua kakinya patah. Tentara Perancis memulangkan Ignatius ke puri Loyola. Kondisinya memburuk dan para tabib mengingatkan dia untuk mempersiapkan diri akan kematian.

Secara tidak terduga, pada hari raya Santo Petrus dan Paulus, kondisinya membaik. Tapi ia harus menjalani hidupnya dengan pincang, karena kaki yang sebelah lebih panjang dan sebelahnya lebih pendek. 

Dalam proses pengobatannya, Ignatius yang merasa bosan mau tidak mau membaca dari buku-buku tentang hidup Kristus dan para Kudus yang ada di dalam kastil. Semakin banyak membaca, semakin ia merasa bahwa cara hidup para Kudus ini patut ditiru.

Pengalaman ini menjadi awal pertobatan Ignatius dan latihan spiritualnya. Ignatius mengalami pertobatan penuh dari keinginan-keinginan duniawi dan sembuh dari luka-lukanya. Ia memutuskan untuk pindah ke Yerusalem dan tinggal di tempat Tuhan menjalani hidup-Nya.

Dalam perjalanan ziarahnya, Ignatius menerima sakramen tobat dan berlutut sepanjang malam di depan altar Bunda Maria. Ia menanggalkan semua atribut ksatria, memberikan pakaiannya yang indah kepada orang miskin, lalu mengenakan pakaian dari kain kasar dengan sendal dan tongkat.

Ignatius tinggal di gua-gua, berdoa berjam-jam, melakukan penitensi yang ekstrim dan bekerja di balai perawatan orang sakit. Pada usia 33 tahun, Ignatius masuk seminari. Masa ini adalah masa-masa yang berat karena berbagai halangan dan tantangan yang dialaminya.

Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus III memberikan persetujuan resminya kepada Ignatius dan teman-temannya atas terbentuknya tareket baru, Serikat Yesus. Dan dengan hasil pemungutan suara bulat, kecuali pilihan Ignatius sendiri tentunya, ia terpilih menjadi Superior Jenderal Pertama.

Ignatius mengabdikan diri sepenuhnya pada serikat barunya. Ia bekerja dari dalam kamarnya yang sempit dengan menuliskan Konstitusi Serikat serta ribuan surat ke seluruh penjuru dunia, menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kaum Yesuit dan memberikan pengarahan spiritual kepada kaum pria dan wanita. 

Santo Ignatius dari Loyola, Mistikus dan Pujangga Gereja ini wafat pada tanggal 30 Juli 1556. Jenasahnya disemayamkan dalam Gereja Gesu, Roma Italia.

Santo Ignatius dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada 27 Juli 1609 dan dikanonisasi pada tanggal 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 31 Juli dan dihormati sebagai Santo Pelindung para tentara atau prajurit.

2. Santa Theresia Avilla

Terlahir dari keluarga kaya di Avilla, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515, dan dibaptis dengan nama Theresa Sanchez de Cepeda y Ahumada. Ibunya mendidik mereka menjadi orang Kristen yang saleh, bersama kakaknya Rodrigo, Theresa suka membaca riwayat para Kudus dan Martir.

Pada usia remaja, ketertarikan Theresa beralih pada hal-hal dunia. Namun, setelah mengalami sakit berat, dan membaca buku tentang St. Hieronimus yang hebat, Theresa bertekad mempersembahkan hidupnya untuk Kristus.

Pada usia 20 tahun, Theresa meninggalkan rumah dan masuk biara karmel. Setelah mengucapkan Kaul pertama dan mengalami sakit berat yang kedua kalinya, Theresa mengalami penglihatan dan ekstase rohani. Sejak itu ia semakin bertekad hidup hanya bagi Yesus saja, tidak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus ia lakukan.

Teman-temannya mengatakan bahwa pengetahuan Theresa berasal dari setan. Ia menjalani penyiksaan diri dan mortifikasi fisik. Tapi bapa pengakuannya, Santo Francis Borgia serta imam Ordo Dominikan dan Serikat Yesus sepakat menyatakan bahwa semua penglihatan yang diterima suster Karmel Theresa adalah benar dan kudus.

Pada hari raya Santo Petrus, 1559, Yesus Kristus menampakkan diri secara fisik kepadanya, walau tak terlihat. Penglihatan itu berlangsung selama dua tahun tanpa putus. Theresa menulis bahwa, dalam penglihatan itu seorang Serafim menusukkan tombak emas berulang kali ke hatinya, yang menyebabkan sakit fisik dan batin yang luar biasa. 

Kejadian ini membuatnya semakin berhasrat untuk mengikuti penderitaan Yesus. Suster Theresa memelopori gerakan pembaharuan peraturan dalam biara Karmel, yang ia rasa terlalu longgar. Bersama Santo Yohanes dari Salib, mereka berjuang memperbaharui semangat spiritualitas Ordo Karmel  melalui kehidupan biara yang suci dalam doa, puasa dan pantang yang sangat ketat.

Santa Theresa dari Yesus wafat pada tanggal 4 Oktober 1582, pada usia 67 tahun. Santa Theresa dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tanggal 24 April 1614, dan dikanonisasi pada 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 Oktober.

3. Santo Padre Pio

Nama kecilnya Francesco Forgione, terlahir di Pietrelcina, Italia Selatan, pada tanggal 25 Mei 1887. Francesco adalah anak kelima dari delapan bersaudara dari sebuah keluarga petani sederhana. Ayahnya Grazio Forgione dan ibunya Maria Giuseppa de Nunzio.

Sejak usia 5 tahun, Francesco sering melihat penampakkan Yesus, Bunda Maria dan bahkan Malaikat jahat. Di usia 9 tahun ia mencambuk dirinya sendiri agar serupa dengan Kristus.

Pada usia 16 tahun, Francesco masuk biara Kapusin dari diberi nama Pio. Aturan ketat biara membuat Padre Pio sering sakit. Ia ditahbiskan dalam usia yang masih muda karena pertimbangan sakit yang mengancam nyawanya.

Pada suatu sore di tanggal 7 September 1911, Padre Pio telah mendapat karunia stigmata pertamanya. Namun karena takut, ia didoakan oleh pastor paroki Pietrelcina, dan luka-luka itu sembuh.

Pada tanggal 20 September 1918, ketika sedang sendirian di kapel tua, Padre Pio menerima stigmata yang sesungguhnya. Luka-luka itu terdiri dari luka pada tangan kiri dan kanan, kedua kakinya dan pada lambungnya. Luka itu tetap selama setengah abad hidupnya, segar dan berdarah.

Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia Stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, namun berita cepat sekali menyebar. Setiap hari ratusan orang datang ke biara terpencil itu.

Padre Pio tidur hanya dua jam sehari, ia bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan misa kudus, setelah misa ia menghabiskan harinya dengan berdoa dan menerima pengakuan dosa. Hidupnya penuh dengan karunia mistik, jamahan yang menyembuhkan dan membaca batin. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum bunga-bungaan.

Selama 50 tahun hidup imamatnya, ia tidak pernah mengambil cuti seharipun, ia menghabiskan waktunya untuk pelayanan imamat, mendirikan kelompok doa dan memprakarsai pembangunan sebuah rumah sakit moderen, yang ia beri nama "Wisma untuk meringankan penderitaan".

Selain oleh penderitaan fisik yang ia alami dari luka-lukanya, Padre Pio juga mengalami penderitaan dari sesama sejawatnya. Ia dianggap dikuasai iblis dan menipu saudara sekomunitas. Vatikan bahkan sempat mengeluarkan perintah keras melarang Padre Pio melakukan tugas Imamatnya. 

Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968 pada usia 81 tahun di San Giovanni Rotonda, Italia. Dibeatifikasi pada  tanggal 2 Mei 1999 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Juni 2002. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

4. Santa Brigita dari Swedia

Santa Brigita lahir pada tahun 1302 di Swedia. Keluarganya termasuk tuan tanah kaya dan saleh. Sejak remaja Brigita sudah menunjukkan kecenderungan yang teguh pada hal-hal rohani. 

Di usia 10 tahun Tuhan mengaruniakan penampakan Yang Tersalib pada Brigita. Dan hal itu sangat mempengaruhinya, sehingga ia sering menangis sambil merenungkan sengsara Kristus.

Karena kepatuhannya pada sang sayah, pada tahun 1316, Brigitta menikah dengan pangeran Ulf. Seorang penguasa saleh dan memiliki berbagai keutamaan hidup yang sama dengan Brigitta. Keduanya dikaruniai delapan orang anak yang dibesarkan dalam kesalehan dan takut akan Allah. Dari antara mereka nantinya akan dikenal sebagai Santa Katarina dari Swedia.

Brigitta dan suaminya hidup suci dalam pelayanan penuh dan kedermawanan kepada sesama yang miskin dan menderita. Hal ini membuat mereka sangat terkenal luas di daerah itu. Dalam sebuah perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, suami Brigitta menderita sakit keras, dan ketika sembuh ia memutuskan masuk biara.

Setelah kematian suaminya di biara Cistercians, Alvastra tahun 1344, Brigitta mengabdikan diri sepenuhnya pada kehidupan spiritual. Ia membagi-bagikan harta kekayaannya di antara anak-anaknya dan orang miskin. Brigitta mengenakan pakaian dari kain kasar dan tali di pinggang.

Brigitta menjalani hidup yang sangat keras dan mendirikan biara Ordo Sang Penebus di Vadstena. Pada tahun 1371, Brigitta berziarah ke Tanah Suci atas perintah Tuhan sendiri. Di sana ia memperoleh rahmat luar biasa dan anugerah pengetahuan perihal misteri-misteri-Nya yang Kudus.

Sekembalinya ke Italia, Brigitta mengalami sakit keras, dan menderita sepanjang tahun. Santa Brigitta meninggal karena sakit keras pada 23 Juli 1373, di usia 71 tahun. Jenasahnya dimakamkan di biara para Klaris di St Laurensius, Panisperna. 

Pada tahun 1373, makamnya dipindahkan oleh anaknya Santa Katarina, ke Vadstena Swedia. Santa Brigitta dikanonisasi oleh Sri Paus Bonivasius IX pada tahun 1391.

5. Santa Veronika Yuliani

Santa ini pernah saya ceritakan di Blog dan Vlog saya sebelumnya, tentang Santo dan Santa Katolik yang jasadnya masih utuh. Beliau adalah seorang Santa dan Mistikus terbesar abad ke-18 dari Italia. Lahir pada tanggal 27 Desember 1660 di wilayah Mercatello dan dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang terpilih oleh Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya, dibuat dalam bentuk buku diary, yang ia tulis dibawah bimbingan bapa pengakuannya; Pastor Gerollamo Bastianelli.

Di usia tiga tahun Ursula telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan simpati kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan pakaiannya untuk setiap orang miskin yang ditemuinya.

Ibunya adalah seorang wanita saleh yang selalu menceritakan sengsara Kristus dan kisah para Kudus padanya dan empat saudaranya. Semua itu membangkitkan rasa cintanya yang besar akan sengsara dan luka-luka Tuhan. Ia berkeinginan kuat melakukan penebusan dosa yang agak berat dan menderita demi cintanya kepada Yesus, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Pada usia 17 tahun, Ursula bergabung dengan biara Kontemplatif Kapusin di Citta, Castilo, Italia dan diberi nama Veronika. Pada tahun 1693, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan, yang melambangkan sengsara Kristus. Sejak saat itu suster Veronika mengalami penderitaan spiritual yang hebat.

Pada tahun 1694, suster Veronika mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri. Lukanya nyata dan sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, suster Veronika mendapatkan perawatan medis namun lukanya tidak kunjung sembuh.

Sejak awal suster Veronika sangat prihatin dengan nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. Ia juga banyak mendapat gangguan dari si jahat sejak awal masuk biara.

Suster Veronika menjalani hidupnya di biara dengan penderitaan hebat karena penyakit dan gangguan yang dialaminya. Namun ia tetap sepenuh hati menghidupi kaul dan ketaatannya pada konggregasi.

Santa Veronika Yuliani wafat pada tanggal 9 Juli 1727 di Citta, Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII, dan dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVI. Pestanya dirayakan setiap tanggal 9 Juli. 

6. Santa Faustina Kowalska

Terlahir dengan nama Helena Kowalska, di Glogowiec, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905. Helena adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, dalam sebuah keluarga petani sederhana yang hidup miskin dan menderita pada masa penjajahan Rusia di Polandia. Ayahnya adalah yang seorang petani dan juga merangkap tukang kayu, bernama Stanislau Kowalski dan Ibunya bernama Mariana Babel.

Helena adalah anak yang rajin, taat, rendah hati dan sangat lembut. Setiap hari ia menggembalakan sapi sambil membaca cerita Santo dan Santa. Kemudian ia akan mengumpulkan teman-temannya untuk menceritakan riwayat Orang Kudus yang sudah dibacanya.

Sejak kecil Helena suka berdoa, ia sering terbangun di malam hari dan berdoa selama berjam-jam.  Jika ibunya menegur, ia berkata malaikat pelindungnya membangunkannya untuk berdoa.

Helena bergabung menjadi biarawati Konggregasi Bunda Allah Kerahiman di Warszawa, dengan nama Suster Maria Faustina. Ia menjalankan tugasnya sebagai biarawati di dapur, kebun ataupun sebagai penerima tamu di pintu biara, dengan penuh kerendahan hati. 

Pada tanggal 22 Februari 1931, Santa Faustina menerima pesan Kerahiman Ilahi dari Kristus yang harus disebar luaskan ke seluruh dunia. Santa Faustina dengan rela mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam persatuan dengan Kristus, sebagai silih atas dosa-dosa manusia.

Dalam hidup sehari-hari ia menjadi pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai bagi sesama. Santa Faustina, selama empat tahun, mencatat wahyu-wahyu Ilahi, pengalaman-pengalaman mistik juga pemikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman serta doa-doanya dalam buku hariannya yang berjudul "Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku".

Buku itu menunjukkan contoh luar biasa dalam menanggapi belas kasih Allah dan mewujudkannya dalam relasi dengan sesama. Devosinya yang besar kepada Santa Perawan Maria Tak Bercela, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, memberikan Santa Faustina kekuatan untuk menanggung penderitaan yang dipersembahkannya kepada Tuhan atas nama Gereja, bagi pertobatan para pendosa berat dan mereka yang berada di ambang maut.

Santa Maria Faustina Kowolska dari Sakramen Mahakudus, Rasul Kerahiman Ilahi, Mistikus dan Pujangga Gereja, wafat pada 5 Oktober 1938 di Krakow, dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya dimakamkan di Kapela Konggregasi Bunda Maria Berbelaskasih yang kemudian dijadikan Sanctuarium Reliqui Abdi Allah Suster Faustina Kowolska oleh Uskup Agung Krakow, yang kelak menjadi Santo Yohanes Paulus II.

Santa Faustina Kowolska dibeatifikasi pada Pesta Kerahiman Ilahi, 18 April 1993 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada tanggal 30 April 2000 oleh Paus yang sama. Pestanya dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.   

7. Santa Katarina dari Siena

Santa Katarina dilahirkan di Siena, pada tanggal 24 Maret 1347. Katarina adalah anak ke-24 dari 25 bersaudara, ayahnya Giacomo di Benincasa, seorang pewarna baju dan ibunya Lapa.

Santa Katarina bergabung menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan. Ia menghidupi kesederhanaan, berpuasa dan menahan diri dari keduniawian.

Pada tahun 1366, Katarina mengalami apa yang digambarkan dalam suratnya sebagai 'pernikahan mistik' dengan Yesus. Pada tahun 1370 segera setelah Katarina menerima anugerah penglihatan tentang neraka, purgatorium dan surga, ia meninggalkan kehidupan doanya. 

Katarina mulai menulis surat kepada raja dan ratu, serta menemui para penguasa untuk meminta berdamai dengan Paus agar mencegah peperangan. Di masa itu Gereja mengalami banyak sekali masalah, banyak pertikaian yang terjadi di seluruh Italia.

Katarina meminta Paus kembali ke Roma untuk memimpin gereja, karena itulah yang dikehendaki Allah. Sri Paus mendengarkan nasihat Katarina dan melakukannya. Melalui Katarina, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit yang dirawatnya dan menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara.

Santa Katarina wafat di Roma pada tanggal 29 April 1380 dan dikanonisasi oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pestanya dirayakan setiap tanggal 29 April. 

8. Santo Yohanes dari Salib

Lahir di Fontiveros, sebuah desa kecil dekat Avilla, Spanyol pada tanggal 24 Juni 1542, dengan nama Juan de La Cruz. Yohanes belajar di sebuah sekolah Yesuit pada masa mudanya, kemudian di usia 21 tahun ia bergabung dengan Ordo Karmel dan mengambil nama Br. Juan de Santo Matia.

Disana Yohanes hidup dengan saleh dan taat. Ia tekun berdoa dan bermatiraga. Karena kecerdasannya, pemimpin biara menyekolahkan Yohanes di Universitas Salamanca Spanyol. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1567 dalam usia 25 tahun.

Yohanes menjadi prior pertama susteran Karmelit dan mengambil nama resmi, Yohanes dari Salib. Namun usahanya untuk membaharui spiritualitas ordo dianggap gangguan oleh rekan-rekan se-ordo, sehingga ia dikurung dalam sel biara selama sembilan bulan dan diperlakukan semena-mena.

Pengalaman dalam sel biara itu justru memberinya pemahaman akan Salib Penderitaan Tuhan Yesus. Yohanes sering mengalami ekstase, ia mampu menggubah kidung-kidung rohani, mengalami banyak peristiwa mistik, dan semakin memahami secara mendalam teologi dan ajaran-ajaran iman Kristiani.

Santo Yohanes terkenal atas kerjasama dengan Santa Theresa de Jesus dalam mereformasi Ordo Karmel dan juga tulisannya-tulisannya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan membiara. Penderitaan dan pergumulan rohaninya tercermin dalam tulisan-tulisan yang ia buat semasa hidupnya.

Santo Yohanes dari Salib wafat pada tanggal 14 Desember 1591, di usia 49 tahun. Santo Yohanes dibeatifikasi pada 25 Januari 1675 oleh Paus Klemens X dan dikanonisasi pada tanggal 27 Desember 1726 oleh Paus Bendiktus XIII. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Desember.



Nah, sahabat Kristus, mungkin ada lebih banyak Santo dan Santa Mistikus Gereja Katolik, dari yang sudah saya ceritakan dalam tulisan ini. Tapi untuk sekarang, hanya 8 pribadi inilah yang saya ketahui dengan pasti. Salah satu alasan kenapa saya menulis tentang ini adalah karena saya juga sangat penasaran tentang cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan, sehingga Gereja menggelar mereka sebagai Mistikus.

Pada akhirnya, kembali lagi, bahwa hanya kekaguman dan pujian bagi Allah, Tuhan kita Semesta Alam, yang memungkinkan semua itu bisa terjadi. Betapa mengagumkan cara Allah bekerja dalam diri umat pilihannya.

Bulan November ini adalah bulan yang dikhususkan oleh Gereja Katolik untuk menghormati Orang Kudus dan juga menjadi bulan devosi bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Saya berharap, dengan membaca kisah hidup para Kudus Allah ini, kita mau mengikuti jejak mereka untuk mendoakan sesama baik yang masih hidup, yakni mereka yang belum bertobat, maupun yang sudah meninggal yakni jiwa-jiwa di api penyucian.

Agar kita semakin diilhami oleh Roh Kudus untuk hidup benar di hadapan Allah dan mewartakan belas kasih-Nya yang besar. Salve.... Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan...  

Minggu, 16 Agustus 2020

Santa Veronika Yuliani, Penerima Karunia Stigmata

Syalom sahabat Tuhan Yesus…

Seperti janji saya sewaktu mengawali menceritakan kisah para Kudus Allah dalam blog ini. Bahwa saya akan menceritakan tentang para Santo dan Santa yang jasadnya tetap utuh puluhan tahun kemudian ketika makam para kudus ini dibuka kembali untuk proses kanonisasi.

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, saya akan menceritakan kisah hidup 25 Santo dan santa diantaranya. Nah, menyatakan bahwa mereka menjadi Orang Kudus Allah memerlukan proses yang panjang dan rumit, yang saya sebut sebelumnya sebagai proses Kanonisasi. 

Butuh banyak sekali saksi, data dan prosedur yang panjang untuk mendapatkan pengakuan dari Gereja Katolik. Karena kita juga percaya bahwa Tuhan Allah menyatakan kebesaran-Nya dengan menginjinkan tubuh para Kudus-Nya tidak binasa juga bukanlah hal yang main-main (Ingat Mazmur 16:10).

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya bagi kita orang-orang yang percaya.

 

Santa Veronika Yuliani (Veronica de Julianis)


Santa Veronika Yuliani atau juga disebut Santa Veronika Giuliani, adalah seorang mistikus Italia terbesar abad ke-18. Mistikus adalah orang yang membersihkan batinnya agar memperoleh pengetahuan dan kenikmatan rohaniah. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha untuk menghindari kenikmatan duniawi. 

Setiap tindakan dan pikiran mereka didasarkan kepada hati nurani. Santa Veronika terlahir di Mercatello di daerah Duchy of Urbino pada tanggal 27 Desember 1660. Orangtuanya adalah Francesco Giuliana dan Benedetta ManciniVeronika dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang telah dipilih Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya selama hidupnya, ia tinggalkan dalam bentuk buku diary yang ditulisnya dibawah bimbingan rohani Bapa Pengakuannya; pastor Gerolamo Bastianelli

Yang saya akan ceritakan disini hanya sebagian kecil saja dari kisah besar yang ditulis oleh St. Veronika sendiri dalam buku diarynya. 

Sejak usia 3 tahun ia telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan menunjukkan simpatinya kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan berbagi pakaian kepada setiap orang miskin yang dijumpainya terutama anak-anak. Keluhuran dan Kasihnya yang mendalam ini semakin bertumbuh seiring bertambahnya usia. 

Ibunya, Benedetta, adalah seorang wanita saleh yang suka menceritakan kisah para Kudus Allah dan para martir kepada Ursula dan 4 saudaranya. Kisah-kisah itu membangkitkan cintanya yang besar kepada Salib dan luka-luka yang dialami Tuhan dalam penderitaan-Nya dan membuat Ursula mulai melakukan beberapa penebusan dosa yang agak berat dan berkeinginan untuk menderita karena cintanya kepada Yesus di usia yang masih sangat kecil, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Ketika Ursula berusia 7 tahun, ibunya meninggal dunia. Ursula dan 4 saudaranya menemani sang ibu menerima sakramen terakhir. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Benedetta menguduskan kelima anaknya masing-masing pada lima luka suci Yesus. 

Ursula dikuduskan dengan luka pada lambung Yesus. Di dalam buku diary yang ditulisnya, terlihat jelas bahwa Ursula memiliki ketaatan dan penghormatan yang besar pada luka-luka suci itu.

Pada usia 10 tahun, tanggal 2 Februari 1670, Ursula menerima Komuni Suci pertamanya. Ia menggambarkan sukacitanya dalam buku diary: “Sungguh menyenangkan. Saya tidak dapat menceritakan apa yang saya rasakan saat ini. 

Saya hanya merasa bahwa saat ini saya dihinggapi keinginan yang sangat kuat untuk menjadi seorang biarawati dan saya tidak dapat menahan lebih lama lagi kerinduan itu”.

Setelah memperoleh ijin dari ayahnya, pada usia 17 tahun, 28 Oktober 1677, ia bergabung dengan biara kontemplatif Kapusin di Citta di Castillo Umbria, Italia dan memakai nama Veronika. Uskup Sebastiani, yang melakukan upacara penerimaan para biarawati baru, mengatakan pada biarawati yang lain tentang Ursula; 

"Jaga gadis ini sebagai harta yang berharga karena dia akan menjadi orang suci yang agung."  Uskup ini juga yang memilih nama religiusnya, “Mulai sekarang namamu adalah Sister Veronica, yang artinya benar dan unik, yaitu, kamu dan Tuhan saja.”

Selama di dalam biara, Suster Veronika sangat taat pada atasannya. Dia juga mulai menulis buku Diarynya pada bulan April 1693 dan selesai menulisnya tiga puluh empat tahun kemudian pada tahun 1727. Dia menulis total dua puluh dua ribu halaman. 

Di tahun 1693 ini, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan (piala anggur) yang melambangkan Sengsara Ilahi. Sejak saat itu, suster Veronika mulai mengalami penderitaan spiritual yang hebat. 

“Pada saat itu saya pikir saya memiliki penglihatan tentang Tuhan, yang memimpin saya;  Saya pikir dia memegang tangan saya.  Saya bisa mendengar suara yang harmonis dan nyanyian malaikat - sebenarnya saya pikir saya berada di surga. 

Saya ingat saya dapat melihat banyak hal, tetapi semuanya tampak seperti kesenangan surgawi.  Kemudian saya melihat banyak orang suci pria dan wanita.  Saya pikir saya juga melihat Perawan Terberkati. Saya ingat bahwa Tuhan menyambut saya dengan baik.  

Dia berkata kepada semua orang: 'Ini adalah milik kita sekarang', dan kemudian Dia menoleh kepadaku dan berkata: 'Katakan apa yang kamu inginkan'.  Saya meminta rahmat-Nya untuk mencintai-Nya dan dia sepertinya mengomunikasikan cinta-Nya kepada saya saat itu juga.

Pada tahun 1694 ia mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri, lukanya nyata dan rasa sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, ia memperoleh penanganan medis, namun luka-luka itu tidak tersembuhkan. Sejak awal Suster Veronika sangat prihatin pada nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. 

Dalam salah satu tulisannya ia mengatakan: “Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu dengan menangis, tetapi saya tidak tahu apa yang saya tangisi.  Tampaknya memikirkan tentang pelanggaran yang dilakukan terhadap Tuhan dan memikirkan tentang Sengsara-Nya membuat saya menangis;  tapi saya tidak ingat dengan baik alasan untuk menangis begitu sering. 

Sepertinya saya ingat bahwa saya merasa bahwa ada orang berdosa yang keras kepala yang tidak ingin bertobat kepada Tuhan dan ini sangat menyakiti saya sehingga saya tidak dapat beristirahat siang atau malam, dan saya akan berkata kepada Tuhan, 'Ya Tuhan, di sini saya.  Saya siap untuk penderitaan apa pun selama Engkau mempertobatkan semua orang yang menyinggung Engkau. 

Ia menceritakan, terkadang ketika ia akan beristirahat, Suster Veronika mendengar seperti suara nyata yang mengatakan: 'Ini bukan waktu untuk beristirahat tetapi untuk menderita.' Iapun akan segera bangun dan berlutut di depan salib dan mulai berdoa.

Dia memiliki penglihatan tentang jiwa-jiwa yang akan jatuh ke dalam dosa dan ini membuatnya menderita dan meningkatkan penebusan dosa.  Kadang-kadang sebagai hadiah, Yesus akan memberi tahu dia tentang jiwa-jiwa tertentu yang telah bertobat dan kembali kepada-Nya.  

Di lain waktu, Yesus akan memberi tahu dia tentang orang berdosa tertentu yang perlu dia doakan. Kerinduannya untuk menjadi perantara bagi Tuhan dan orang berdosa membuatnya sering melakukan Doa dan puasa yang berat. Suster Veronika juga sering melakukan Jalan Salib pribadi dengan membawa salib yang berat mengelilingi taman di tengah segala macam cuaca buruk.

Sama seperti yang dialami jiwa-jiwa lain yang dekat dengan Tuhan, St. Veronikapun melewati banyak sekali gangguan dan godaan dari si jahat, ia menyebutnya ‘si penggoda’. Semua gangguan itu ia rasakan sejak ia masuk biara dan terutama yang terberat adalah selama ia menulis buku diarynya. 

Terkadang gangguan itu bahkan nyata dalam bentuk serangan fisik. Ia menulis: “Ketika saya melakukan penebusan dosa, tampaknya neraka terpecah.  Saya mendengar suara-suara, jeritan, desisan seolah-olah dari ular.  Pada akhirnya saya sepertinya mendengar banyak suara kebingungan, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan.  

Saya hanya ingat bahwa pada akhirnya mereka berkata, 'Terkutuklah kamu.  Kami akan membuatmu membayarnya. 'Seperti yang mereka katakan ini, ruangan saya dibakar, tapi hanya sesaat."

‘Si Penggoda’ bahkan menunjukkan padanya tentang neraka. “Sepertinya saat itu saya mendengar jeritan dan suara ratapan.  Saya hanya melihat monster neraka, banyak ular, banyak binatang buas, dan bau busuk dan api yang sangat panas, yang begitu besar sehingga tinggi mereka tidak dapat diukur.  

Saya hanya bisa membandingkannya dengan jarak antara langit dan bumi.  Sejauh ukuran tempat itu, orang tidak bisa melihat awal atau akhirnya.  Saya bisa mendengar banyak hujatan dan kutukan terhadap Tuhan.

Visi ini membuat Veronika menawarkan dirinya sebagai korban Keadilan Ilahi: "Tuhanku, aku menawarkan diriku untuk berdiri di sini sebagai pintu masuk, sehingga tidak ada jiwa yang bisa masuk ke sana dan kehilangan Engkau."  

Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Selama saya berdiri di ambang pintu ini, tidak ada yang akan masuk.  O jiwa-jiwa, kembalilah!  Tuhanku, aku tidak meminta apapun selain keselamatan orang-orang berdosa kepadaMu.  Kirimkan aku lebih banyak rasa sakit, lebih banyak siksaan, lebih banyak salib!”

Selama lima belas tahun terakhir hidupnya, Suster Veronika sakit parah. Sebuah lukisan Our Lady of Sorrows’ yang tergantung di kamarnya menjadi hidup, dan Santa Perawan Maria sendiri mendiktekan kepadanya bab-bab terakhir dari Diary yang ditulisnya

Ia dikaruniai berbagai rahmat yang tidak dimiliki orang lain pada umumnya, seperti: penglihatan-penglihatan dan kemampuan bernubuat. Di masa-masa terakhir hidupnya ia menulis tentang rahmat yang diperolehnya dari Tuhan Yesus: “Tiga kali Dia memelukku dengan menyenangkan, dengan melepaskan tangan-Nya dari salib dan memelukku di sisi-Nya;  5 kali Dia memberi saya minum dari air yang mengalir dari lambung-Nya itu;  

15 kali Dia membasuh hatiku dengan Darah-Nya yang mahal, yang keluar dari lambung-Nya seperti sinar dan menyentuh hatiku; 12 kali Dia menyelidiki hatiku dan memberi saya rahmat untuk memurnikannya dan membuang semua kotoran, kebusukan, ketidaksempurnaan dan sisa dosa saya;  

9 kali Dia menyuruhku menyentuh luka-luka Kudus-Nya;  200 kali dia memeluk jiwaku sangat menyenangkan dengan cara yang khusus, tidak termasuk yang lain yang Dia berikan terus-menerus;  dan 100 luka penuh kasih yang Dia buat dalam hatiku, secara rahasia."

Sekitar tahun 1714-1715, karena memiliki devosi yang begitu besar pada ‘Santa Perawan Maria Terberkati’, bapa pengakuannya memintanya untuk melakukan perjalanan ke ‘Gua Maria Perawan Terberkati di Loreto’ dengan bantuan Tuhan.  

Pastor Mario Cursoni, salah satu pastor yang memberinya pengakuan dosa, menceritakan, bahwa saat itu suster Veronika berdoa kepada Tuhan dan meminta untuk memberinya perjalanan ziarah mistis ke Tempat Suci Loreto dan ia sungguh-sungguh memperoleh perjalanan mistis itu. 

Bahkan, suster Veronika mampir di pertapaan Monte Corona, di mana pada saat itu  pastor  Crivelli sedang melakukan latihan spiritualnya; dari sana suster Veronika dibawa ke gereja Perawan Suci Maria para Malaikat, ke Gereja St. Nicholas dari Tolentino, dan akhirnya sampai ke Tempat Suci Loreto untuk mengambil Komuni Suci.  

Suster Veronica dibawa ke tempat-tempat itu dalam penglihatan oleh seorang malaikat. Pastor Mario Cursoni mengatakan: “Ketika saya menanyainya tentang perjalanan ini, dia menjawab bahwa Tuhan telah menganugerahkannya kesempatan untuk berziarah ke tempat-tempat itu dalam suatu penglihatan. 

Dan suster Veronika menggambarkan tempat-tempat suci itu dengan detail yang akurat, bahkan saya yang telah mengunjunginya beberapa kali tidak dapat melakukan yang lebih baik."

Mulai tahun 1700 adalah tahun-tahun terberat dalam hidup suster Veronika, karena di tahun-tahun inilah ia sangat menderita karena sakitnya dan stigmata yang dialaminya. Meski menjalani kehidupan mistis supernatural ini, suster Veronika tetap menjalankan tugas kehidupan nyatanya. Suster Veronika menjadi pemimpin biara dan membimbing para novis Ordo Kapusin di Italia. 

Ia menempatkan Perawan Maria sebagai pusat dari seluruh hidupnya dan menyerahkan kunci biara itu kepada Perawan Maria Terberkati. Suatu ketika, ketika ia sedang melakukan kewajibannya ke neraka dalam rangka penebusan dosa, Suster Maria Biovanna Maggio datang bertemu dan hendak berbicara dengan Suster Veronica

Dia mengisahkan bahwa ia melihat "ekspresi agung dan luar biasa dari wajah susterVeronika."  Suster Maggio merasa terhibur oleh kata-kata dari sang kepala biara.  Kemudian ia pergi menceritakan pengalamannya itu kepada suster Florida yang di kemudian hari menjadi Beata Florida. 

Suster Florida tersenyum dan berkata, “Ingatlah bahwa hari ini suster Veronica berada di neraka berkorban untuk pertobatan para pendosa.  Orang yang bersamamu adalah Perawan Suci yang muncul menggantikan suster Veronica."  

Beata Florida (yang dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 16 Mei 1993) mengetahui dengan baik semua detail kehidupan Veronica, karena para bapa pengakuan Veronica telah meminta Veronika untuk memberi tahu Suster Florida tentang segala sesuatu dalam kehidupan rohaninya.

Santa Veronika meninggal dunia pada 9 Juli 1727 di Citta di Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII dan ditetapkan menjadi orang kudus atau dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVIPesta perayaannya diperingati setiap tanggal 9 Juli.

Kepada Beata Florida, selama hidupnya Santa Veronika telah memberitahu bahwa di hatinya terukir simbol-simbol tertentu dari hasrat dan itu telah tertulis dalam diarynya. Beata Florida kemudian membuat sketsa hati Santa Veronika dengan semua tanda yang dijelaskannya. Ketika jantungnya dibedah selama proses otopsi, terungkap adanya sayatan misterius yang berbentuk seperti garis peralatan kisah Sengsara, tujuh pedang Bunda Maria, dan sejumlah huruf.

Santa Veronica sering digambarkan memakai mahkota duri dan memegang hati yang terbakar. Selama hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk berdoa, berpuasa dan bermati raga bagi penebusan dan pertobatan orang-orang berdosa. Ia juga memperoleh luka mistik dan stigmata.

Wahhh, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bagikan tentang Santa Veronika  Yuliani. Betapa ia tetap rendah hati di tengah banyak anugerah dan berkat Tuhan dalam hidupnya. 

Saya melihat ia selalu memakai kata ‘saya pikir..’ atau ‘sepertinya..’, seolah ia mengatakan bahwa ia tidak layak mendapatkan semua karunia itu. Semoga kita semua memperoleh rahmat Keselamatan dan Pertobatan melalui doa kepada Santa Veronika Yuliani.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya ya… Syalom… Tuhan Yesus memberkati…

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...