Disini saya bercerita tentang kisah inspiratif dan memberkati, juga beberapa review film yang sudah saya tonton dan menurut saya bisa dijadikan bahan pembelajaran hidup. Semoga menjadi berkat buat yang membaca... Stay Healthy, Keep Fighting, Love your self because God love's you... Jesus Blessed...
Salve sahabat Kristus.... Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Kisah hidup Santo dan Santa yang Jasadnya masih utuh sampai
sekarang. Sebelumnya kamu harus tahu, saya mengambil kisah-kisah ini dengan referensi
dari beberapa web rohani.
Seperti apapun proses kehidupan dan kematian para santo dan santa ini, mereka telah mengalami sukacita besar di Surga bersama Allah Bapa dan
Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi kita yang membaca kisah mereka harus bersukacita juga.
Sekali lagi, tentu saja
fenomena tidak hancurnya jasad para Kudus ini tidaklah diterima begitu saja atau selalu menjadi
pro kontra bagi sebagian orang. Tapi itu bukanlah masalah kita ya bebs, biarlah
itu menjadi masalah mereka dengan Tuhan.
Bagi kita umat Katolik yang percaya, ini
hanyalah satu dari sekian banyak cara Allah Bapa menunjukkan mujizat dan
kuasa-Nya kepada umat yang dikasihi-Nya.
Santa
Imelda Lambertini
Imelda lahir di Bologna, Italia
pada tahun 1322. Ayahnya Count Egano Lambertini adalah bangsawan militer di
Bologna. Terlahir sebagai puteri tunggal dari keluarga bangsawan membuat Imelda
dididik layaknya puteri-puteri bangsawan pada jamannya, tapi dengan berpegang
pada iman Katolik.
Keluarga Lambertini sangat taat pada ajaran Katolik.
Imelda kecil sudah diajarkan membuatkan makanan dan pakaian untuk orang miskin.
Di usia 5 tahun, Imelda
secara mendadak memohon kepada ayahnya agar ia diijinkan menerima Komuni Suci. Tentu
saja hal ini tidak boleh, karena pada masa itu menerima Komuni Suci hanya jika
sudah berusia 14 tahun. Imelda sangat kecewa, tapi ia tetap percaya bahwa waktunya
untuk menerima Komuni Suci sudah dekat.
Nah di usia 9 tahun, meski
sangat sedih ayahnya mengijinkan Imelda menjadi calon biarawati di Biara
Dominikan, Val di Pietra, dekat Bologna. Imelda sangat senang menerima jubah
biara, dia berpikir dengan begitu pasti akan diijinkan menerima Komuni Suci.
Imelda sangat suka membaca tentang kisah para Kudus, terutama Santa Agnes, ia merasa Santa Agnes tidak jauh berbeda dari dirinya. Karena kekaguman dan
kerinduannya, Santa Agnes berkenan menampakkan diri pada Imelda
dan memberikan dia pemahaman tentang rahasia-rahasia surgawi. Imelda sangat bersukacita.
Santa Imelda tidak pernah
berhenti memohon agar segera diijinkan menerima Komuni Suci. Di tahun 1333, di
usinya yang ke-11 tahun, Tuhan Yesus secara ajaib menjawab kerinduannya.
Saat itu
perayaan misa Kenaikan Tuhan Yesus. Imelda memohon kepada para suster agar dia
boleh menerima Komuni, tapi dengan lembut para suster menolak.
Setelah misa
selesai, karena sedih, Imelda berlutut di pojok tempat doa dan dia menangis. Tiba-tiba
seluruh ruangan dipenuhi aroma surgawi, sebuah Hosti Kudus keluar dari Tabernakel,
melayang-layang di atas kepala Imelda.
Saat itu semua orang menyadari bahwa
Tuhan Yesus sendiri berkenan mengantar tubuhnya secara luar biasa kepada Imelda.
“Biarkanlah
anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalag-halangi mereka.” Lukas
18:16
Kata-kata Yesus itu bergema
dalam hati sang Imam pemimpin misa, ia segera menganggukkan kepala dan memberi
ijin. Santa Imelda tersenyum dengan penuh sukacita menyambut tubuh Tuhan.
Saat itu
juga ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Tuhan Yesus yang selama ini
dirindukannya tidak hanya mengantar tubuh-Nya yang mulia tapi juga menjemput
Imelda pulang ke surga.
Santa Imelda dimakamkan di
Gereja St. Sigimundo, Bologna. Ia dibeatifikasi pada tahun 1826 oleh Paus Leo XII
dan dimaklumkan menjadi Santa Pelindung anak-anak Calon Penerima Komuni Suci
Pertama.
Sahabat Kristus yang punya anggota keluarga yang akan menerima Sakramen Komuni Pertama, bisa menceritakan kisah ini pada mereka, serta bersama-sama berdoa kepada Yesus melalui perantaraan Santa Imelda Lambertini. Pesta Santa Imelda Lambertini dirayakan pada tanggal 12 Mei.
Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa fenomena tidak hancur atau membusuknya jasad Orang Kudus, yang telah meninggal puluhan tahun lalu, merupakan satu dari sekian banyak cara Allah Bapa menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya. Dan Santa Clara dari Asisi adalah salah satunya.
St. Clara dilahirkan
pada tahun 1193 di Asisi, Italia. Dilahirkan sebagai puteri keluarga bangsawan tentu
saja Clara menerima pendidikan yang layak kala itu sebagai seorang puteri. Pendidikan
agama, bahasa, berbagai ketrampilan dan menulis.
Clara sangat cerdas dan
terampil. Hal ini diketahui dalam kesaksian proses kanonisasi, Clara sering
membuat Colporal, kain penutup altar, sepatu dan sendal. Dia juga orang yang
tegas, ia menolak dijodohkan seperti layaknya para wanita muda di jaman itu.
Di usia 18 tahun, Clara
terpesona dengan kotbah St. Fransiskus dan hatinya berkobar untuk meneladani
cara hidupnya. Ia ingin hidup miskin dan rendah hati demi Tuhan Yesus.
Setelah
merencanakan dengan matang selama 1 tahun lamanya dan mendapat restu dari Uskup
Asisi kala itu, Uskup Guido, suatu malam St. Clara melarikan diri dari rumahnya.
Pada malam itu juga, di sebuah Kapel kecil Partiuncula, Clara menerima jubah coklat
seperti yang dikenakan St. Fransiskus dan pengikutnya. St. Fransiskus sendiri
memotong rambut Clara dan memberikan kerudung kepadanya.
Tentu saja ayah Clara
berusaha berbagai cara untuk membawanya pulang. Tapi ia tetap teguh pada
cita-citanya. Untuk sementara waktu, Clara tinggal bersama biarawati
Benediktin.
Sampai jumlah mereka sudah lebih banyak dan mendapat hadiah sebuah
kompleks kecil dari Uskup Guido tidak jauh dari kota Asisi, St. Clara membentuk
sebuah komunitas biarawati yang berpedoman pada pola hidup St. Fransiskus yakni
Ordo Santa Klara (Klaris) OSCI.
Tidak lama setelah itu,
adiknya, Agnes yang berusia 15 tahun bergabung dengannya. St. Clara dan para
biarawatinya menjalani pola hidup asketis yang ketat.
Mereka tidak mengenakan
sepatu, tidak makan daging, tinggal di rumah sederhana dan tidak berbicara
hampir sepanjang waktu. Namun demikian mereka sangat berbahagia karena merasa
sangat dekat dengan Tuhan Yesus.
Suatu ketika, kota Asisi
diserang pasukan prajurit beringas dan kejam. Mereka sudah merencanakan
menyerang biara terlebih dahulu. Kala itu, St. Clara sedang sakit parah tapi
beliau meminta dibopong ke altar kapela. Ia berlutut dan menempatkan Sakramen
Mahakudus di tempat yang terlihat oleh para prajurit.
Kemudian ia berdoa: “Ya
Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi”.
Terdengarlah sebuah suara dari dalam hatinya: “Aku akan selalu menempatkan
mereka dalam perlindungan-Ku”. Bersamaan dengan itu suatu kegentaran meliputi
para prajurit dan mereka lari pontang-panting.
St. Clara menjadi pemimpin
di biaranya selama 40 tahun, 29 tahun dalam masa itu dilewatkannya dalam
kondisi sakit parah. Meski demikian, ia menyatakan bahwa ia penuh sukacita
karena melayani Tuhan.
“Kata
mereka kita ini terlalu miskin. Tapi dapatkah satu hati yang memiliki Allah
yang Mahakuasa sungguh-sungguh miskin?” St. Clara.
St. Clara wafat pada 11
Agustus 1253, 2 tahun setelah itu dinyatakan Kudus oleh Paus Alexander IV.
Menurut cerita, St. Clara
memiliki visi mampu melihat kejadian yang akan menimpah seseorang meskipun
orang tersebut tinggal sangat jauh darinya. Itu sebabnya St. Clara dijadikan sebagai Santa pelindung bagi para penderita penyakit atau kelainan pada mata.
Jika ada di antara sahabat Kristus punya keluhan seperti itu, berdoalah kepada Tuhan dengan perantaraan St.
Clara. Tentu saja harus diikuti dengan keyakinan dan iman yang teguh. Berdoalah tanpa jemu, sampai Tuhan mengabulkan doamu. Seperti kisah janda
miskin dan hakim yang lalim dalam Injil Lukas.
Bukankah Allah akan membenarkan orang pilihannya yang siang malam berseru kepadanya. Lukas 18:7
Sampai sekarang jasad St. Clara tetap utuh dan disemayamkan di ruang bawah tanah St. Chiara, Italia. Pesta St. Clara dirayakan
setiap tanggal 11 Agustus. St. Clara dari Asisi
dikanonisasi oleh Paus Alexander IV pada 26 September 1255.
Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, dalam blog ini saya ingin menceritakan kisah hidup 25 orang Santo dan santa yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah meninggal berpuluh2 bahkan ratusan tahun yang lalu.
Mungkin kisahnya tidak mendetail ya, karena ada yang hidup di zaman yang sama sekali belum ada alat atau apapun yang menunjang orang untuk mencatat sejarah.
Tapi banyak sekali contoh hidup mereka yang bisa kita ikuti ya geng’s... betapa mereka sangat taat dan mencintai Allah lebih dari hidup mereka sendiri. Banyak orang menyangsikan hal ini dengan mengatakan bahwa jasad mereka memang sengaja diawetkan.
Tetapi kalau ditelurusuri secara nalar hal itu juga tidak mungkin, fenomena ini juga tidak serta merta diterima oleh para pembesar Gereja Katolik ya gengs... Butuh penyelidikan bertahun-tahun dengan proses yang rumit dan panjang.
Para santo dan santa ini sudah wafat dan dikuburkan tapi kuburnya digali kembali bertahun-tahun kemudian. Saya rasa alasan penggalian adalah untuk proses Kanonisasi dan disaksikan oleh pejabat gereja yang menyelidiki proses tersebut.
Tuhan mengijinkan tubuh para orang Kudus-Nya tidak binasa untuk menunjukan kebesaran kasih dan rahmat-Nya yang mampu mengatasi maut dan kebinasaan. Soal ini, sebagai orang Katolik, kita juga diyakinkan dalam
Mazmur 16:10 "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan".
Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya. Bagi orang yang percaya hal ini bukanlah yang utama, tapi bagi yang tidak percaya tanda sebesar apapun tidaklah cukup.
Santo Silvanus
Santo Silvanus berasal dari Roma Italia, merupakan salah seorang dari 7 putra Santa Felisitas yang menjadi martir pada masa penganiayaan Kaisar Antonius Pius di Kota Roma. Ayah dan Ibunya adalah keluarga bangsawan Romawi yang telah dibaptis menjadi Kristen.
Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya, Santa Felisitas, mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan dengan berdoa dan berkarya bagi orang-orang miskin. Teladan baik keluarga ini menghantarkan banyak orang menjadi Kristen pula.
Tentu saja hal ini membuat banyak imam-imam kafir menjadi marah dan melaporkan keluarga ini kepada Kaisar Antonius Pius. Mereka mengatakan bahwa Felisitas dan anak-anaknya adalah musuh negara dan membuat dewa-dewa murka. Maka Kaisar memerintahkan agar Felisitas dan 7 putranya ditangkap.
Santa Felisitas tetap tenang ketika dibawa ke hadapan Gubernur. Sia-sia saja membujuk mereka untuk menyangkal imannya kepada Tuhan dengan mempersembahkan korban kepada para dewa.
Akhirnya sang Gubernur dengan marah berseru: "Perempuan celaka! Jika engkau ingin mati, matilah! Tetapi janganlah engkau membinasakan anak-anakmu pula."
Jawab Santa Felisitas: "Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya, jika mereka seperti saya, mengutuk dewa-dewa berhala dan mati bagi Tuhan." Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan putera-puteranya dihukum mati dengan keji.
Seorang mati dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas ditenggelamkan. Tujuh orang martir putera-putera Santa Felisitas yang gagah berani itu adalah: St. Alexander, St. Vitalis, St. Martialis, St. Januarius, St. Felix, St. Filipus dan St. Silvanus.
Empat bulan kemudian ibu mereka, St. Felisitas, juga menerima mahkota kemartirannya dengan dihukum pancung. Kisah keluarga martir ini mengingatkan saya akan cerita di Kitab 2 Makabe bab 7, tentang seorang ibu bersama tujuh orang puteranya yang dibunuh secara keji pada jaman pemerintahan Raja Antiokhus karena berani membela imannya kepada Tuhan.
Mereka tetap taat memegang perintah Allah semesta alam yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Saya tidak tahu apakah ini kisah yang sama, tapi dari cara kematian mereka sangat berbeda.
Santo Silvan adalah pelindung bari para pelayan dan pembantu rumah tangga. Jika pekerjaanmu adalah pelayan dan membantu di rumah tangga, kamu bisa berdoa pada Tuhan dengan perantaraan St. Silvanus ketika kamu menemui kesulitan dalam pekerjaanmu.
Jasad St. Silvan sampai sekarang masih utuh dan ditempatkan di Gereja St. Blaise di Dubrovnik, Kroasia. Pesta St. Silvan dirayakan setiap tanggal 10 Juli.
Hey gengs, so sorry saya terlalu
lama kehilangan inspirasi, entah disebabkan oleh apa?? Mungkin karena sakit dan
kurang mood saja kali yaa.. Okeyy.... kita akan membicarakan
tentang ‘Five Feet Apart’. Kalau diIndonesiakan jadi kayak ada lagunya : ‘Pacarku memang dekat, lima
langkah dari rumah, tak perlu kirim surat, sms juga ga usah...’ (bacanya sambil
nyanyi yaaa.... wkwkwkwkwk). Mirip2 aja gitu temanya ya kan?? hehe...
So, katanya film ini terinspirasi
dari kisah nyata ya, tentang pasangan yang jatuh cinta ketika mereka bertemu di
rumah sakit, dimana disitu mereka dirawat karena
penyakit mematikan yang diderita gengs... Disutradarai oleh Justin Baldoni, film ini punya soundtrack yang sangat manis hehe...
Will (Cole Sprouse, cowok Riverdale
hehe..) dan Stella (Haley Lu Richardson) adalah pasien penderita penyakit
langka ‘Cystic Fibrosis’. Ini adalah penyakit langka dimana paru2 mereka tidak bisa berfungsi
dengan baik karena infeksi, sehingga penderitanya harus menggunakan masker khusus dan oksigen
setiap waktu. Sampai2 dibuatkan tas khusus sehingga bisa dibawa kemana2. Di rumah sakit ini mereka dirawat dan diobati dengan jadwal sangat ketat.
Dengan harapan mereka bisa bertahan dalam pengobatan sambil menunggu donor
paru-paru yang cocok untuk melanjutkan hidup, walaupun paru2 baru itu hanya bertahan sekitar 5
tahun kedepan lalu akan terinfeksi lagi.
Seperti remaja umumnya, Stella
sangat suka berbagi cerita di media sosial. Bahkan ia membuat vlog tentang rutinitas
yang dilewatinya selama di rumah sakit. Lucunya saya perhatikan, mungkin karena
sangat lama dirawat di rumah sakit, kamar Stella benar2 didekor khusus seperti
kamar remaja putri pada umumnya, bernuansa peach.
Stella sangat terorganisir,
obat2annya diatur sangat rapi sesuai jadwal. Disinilah ia bertemu dengan
Will, pasien dengan penyakit yang sama. Berbeda dengan Stella yang ceria dan
teratur, Will sangat pemurung dan seolah tidak peduli dengan kesembuhannya,
jadi dia tidak pernah mengkonsumsi obat atau melakukan medicare yang seharusnya.
Ia berprinsip; ini hanyalah hidup yang akan berakhir sebelum kau sempat menyadarinya.
Apa karena keseringan ketemu, keduanya jatuh cinta. Ketika Stella mendesak Will untuk kembali
melakukan perawatan, hal itu mendekatkan mereka. Tapi karena si ‘Cystic
Fibrosis’ ini, keduanya dilarang keras untuk saling mendekati ya gengs. Itu bisa
menyebabkan infeksi fatal yang berujung kematian. Gimana dong, pacaran tapi tidak boleh dekat2,
keinginan terdalam pasangan yang sedang jatuh cinta adalah bisa saling
berdekatan kan?
But, mereka tetap berkencan. Walaupun
hal itu ditentang habis2an oleh dokter Hamid (Parminder Nagra) yang merawat
mereka. Didukung penuh oleh sahabatnya Poe (Moses Arias) sesama pasien ‘Cystic
Fibrosis’, Stella menggunakan sebuah tongkat yang kira2 panjangnya sudah diukur sesuai
jarak aman mereka di setiap pertemuannya dengan Will. How romantic...
Mereka benar2 melakukannya
senormal mungkin, berdandan untuk kencan, makan bersama, juga merayakan ulang
tahun Will di cafe rumah sakit. Cukup menyenangkan jika mengingat situasi mereka.
Problem mulai datang ketika Poe meninggal. Stella
sangat kehilangan sahabatnya itu. Sementara Will harus menghentikan
perawatannya karena memang sejak lama pengobatannya sudah dinyatakan tidak berhasil, infeksi di paru-2nya sudah sangat parah, tidak bisa diatasi lagi dan ternyata Will sudah mengetahui hal itu sebelum ia jatuh cinta pada Stella.
Dalam
kesedihan, Stella mengajak Will berjalan2 agak jauh dari
rumah sakit. Ia merasa putus asa dengan kondisi mereka, penyakit ini membuat ia
kehilangan kebersamaan dengan kekasih, sahabat bahkan ia juga sudah lebih dulu kehilangan kakak perempuannya. Then, they break the rule, mereka berciuman gengs, dan
sebuah kecelakaan terjadi. Keduanya terjatuh dalam danau yang permukaannya beku. Ironisnya saat itu, Stella mendapatkan donor paru-paru cocok dari
seorang gadis yang meninggal karena kecelakaan.
Menyadari Stella masih memiliki
harapan hidup dan keberadaannya bisa membuat Stella tidak aman, Will memilih berpamitan
ketika Stella dalam kondisi pemulihan pasca operasi. Scene ini sangat
mengharukan ya gengs, karena keduanya sama2 menyadari tidak akan bisa bertemu lagi apalagi bersama.
Pesan mendalam dari film ini, sebagai manusia kita sangat membutuhkan sentuhan dari orang2 yang kita cintai, hampir sebanyak kita membutuhkan
udara untuk bernapas. Selain sebagai bentuk komunikasi, sentuhan itu memberikan
perasaan hangat, nyaman dan dicintai. Seringkali kita tidak menyadarinya sampai kita benar-benar kehilangan mereka. Bisa jadi hal ini bukan hanya soal penyakit mematikan, tapi
juga jarak yang berjauhan. Betapa tidak enaknya memikirkan ketidakpastian kapan akan bertemu dan bersentuhan lagi. Saya pribadi merasa, mungkin sebaiknya benar2 kehilangan
karena kematian, dari pada masih sama2 hidup tapi berjauhan tanpa bisa berharap lebih akan bertemu atau bersentuhan lagi. Walaupun tetap saja kehilangan adalah hal yang menyakitkan, terutama buat mereka
yang ditinggalkan, mungkin kita harus lebih iklas, seperti kata Will, ketika kau sangat suka seseorang kau
harus bisa melepaskannya pergi. Just like that...
So, apapun itu, selagi kamu bisa,
sentuhlah mereka. Karena hidup terlalu singkat untuk disia-siakan gengs....
Hayy... it’s september right? Tidak tahu kenapa saya
pribadi sangat suka bulan2 yang berakhiran ‘ber’... Because it’s going to the
last of year, close to christmas and new year dan yang paling penting adalah
akan selalu turun hujan hehehe.... Mungkin buat sebagian orang lebih indah musim semi tapi buat saya, I love rain. I don’t know why, but rainy day
selalu menghadirkan perasaan2 menyenangkan dalam hati entah itu rindu atau
galau wkwkwkwkwk but it’s feels good for me...
Okay gengs, sudah sangat lama saya tidak menulis
review kan? Selain kehabisan bahan, saya juga diserang Vertigo, after all this
months without vertigo, 2 minggu lalu kumat lagi dan itu sangat mengganggu. Saya
tidak tahu pengalaman orang lain, tapi vertigo yang saya alami membuat saya
sepert Vampire yang berbulan2 tidak minum human blood, terus pas sekalinya
dapat blood, dapatnya poison blood, just like that!
Kilatan cahaya adalah musuh terbesar selama prosesnya, tidak boleh ada lampu yang menyala di rumah, tidak bisa lihat apa2 di hp,
mual sepanjang waktu berasa kayak ada yang mau dimuntahkan tapi ya memang tidak
ada (kayak orang hamil gitu deh...), nyeri dan keram di kepala yang merambat sampai ke tulang belakang dan lengan. Wuffftttt.....
and I hate the medicine gengs... saya selalu berusaha menghindar dari obat2an.
Okay, intinya sekarang sudah berkurang. Today, we
talk about ‘Can You Keep a Secret?’. This movie diangkat dari Novel karya
Sophie Kinsela, dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Elise Duren. Membicarakan
tentang kisah keterbukaan dan kepercayaan dalam suatu hubungan. Film ini dikemas dengan sangat sederhana, nyaris tidak ada konflik sama sekali.
Menceritakan Emma Corrigan (Alexandra Deddario),
pegawai Pemasaran junior dari sebuah perusahaan di New York mengalami hari yang
sangat buruk karena meetingnya di Chicago mempromosikan produk perusahaannya,
Panda Bites, gagal total. Dalam perjalanan pulang pesawatnya mengalami turbulensi
berat dan ia semakin tertekan. Dalam ketakutan karena merasa mereka mungkin akan mati, Emma mengungkapkan seluruh rahasia hidupnya. Semua
ketidakpuasannya tentang pekerjaan, kekasih, teman2nya, yang
selama ini ia simpan sendiri, karena Emma tergolong orang yang lebih suka menjaga perasaan orang lain ketimbang bersikap jujur. Bahkan dia sebenarnya belum pernah merasakan jatuh cinta sama sekali. Dalam kondisi tekanan karena turbulensi, Emma berapi-api mengungkapkan segalanya kepada pria yang duduk di sampingnya, Jack Harper (Tyler Hoechlin).
Saat waktunya kembali ke kantor, Manager perusahaannya Cybil (Laverne Cox) memperkenalkan
CEO mereka yang baru, guest who? Jack Harper teman perjalanannya dari
Chicago. Emma merasa canggung dengan keadaan itu, ia menyadari Jack mengenali dia dan mengingat seluruh cerita di pesawat. Sebenarnya, layaknya wanita pada umumnya, Emma sering curhatan dengan 2 teman serumahnya. Tapi sebagai wanita juga, tetap saja ada yang dirahasiakan dalam pertemanan ya kan? Tapi ia benar2 terbuka tentang ketakutan, kecemasan akan percintaan dan masa depannya juga rahasia2 kecil lain yang sebenarnya sering ia lakukan dalam kesehariannya karena tekanan Turbulensi dalam pesawat bersama Jack. Emma kemudian menemui Jack dan meminta bahwa apa yang dikatakannya dalam pesawat tetap menjadi rahasia mereka berdua. Jack pun menyanggupi dan meminta Emma juga tidak menceritakan kepada siapapun bahwa Jack pernah ke Chicago.
Saat hendak keluar dari ruangan, Jack bertanya ‘apakah
kau benar2 belum pernah jatuh cinta?’, and she said, ‘Maksud sy adalah, siapa yang tahu arti cinta yang sesungguhnya? Tidak ada seorangpun di dunia ini yang benar2 mengetahui arti cinta yang sesungguhnya, ya kan? Itu fakta! Jadi saya tidak bisa memahami apa itu cinta dan tentu saja saya tidak pernah mengalaminya. (yeahh... wellcome to the club beb..) Entah kenapa seluruh kronologi pengungkapan itu justru membawa pemahaman baru bagi Emma, ia mulai sadar dan menuntut sesuatu yang lebih dari hubungannya dengan Connor kekasihnya yang
selama ini baik2 saja. Selama ini Emma selalu berusaha ‘menyukai’ apapun yang Connor
lakukan. Pilihan Musiknya, caranya bercinta, yang bahkan Emma sendiri tidak mengerti sama sekali. Ia mengharapkan keterbukaan dan sesuatu yang lain dalam hubungannya, tapi itu malah membuat mereka breakup.
Mendengar Emma
putus dengan Connor, Jack mengajaknya dinner. Dan keduanya mulai berkencan. Semakin hari, Emma
merasa ia telah jatuh cinta dan semakin terbuka pada Harper. Dia menyatakan
segala keinginan terdalamnya tentang sebuah hubungan. Bagi Emma, bisa berkencan
dengan Jack adalah sesuatu hal yang langka. Pria tampan, sukses dengan tubuh super hot, biasanya hanya mengejar gadis2 sekelas model. Tapi Harper meyakinkan Emma,
bahwa diapun layak dicintai. Ia bahkan berkata ia sudah menyukai Emma sejak awal pertemuan mereka di pesawat, ketika Emma mulai berkata2 tanpa berhenti. Ia semakin terpesona dan jatuh
cinta pada Jack. Tapi semakin Emma terbuka, Jack malah semakin tertutup dengan
kehidupannya.
Teman serumah Emma, Lissy tidak setuju karena merasa
hubungan itu terlalu sepihak. Ketika suatu waktu Jack dipanggil wawancara ke sebuah
televisi, seluruh pegawai menonton acara itu. Ia diminta menggambarkan tentang target projek
baru perusahaannya yang bertajuk ‘gadis di jalanan’ dan deskripsi targetnya sangat mengacu pada
Emma. Seluruh pegawai kantor menyaksikan itu dan langsung menyoraki Emma. Seketika semua orang tahu hubungannya dengan sang bos lengkap dengan rahasia terdalam perasaannya selama ini. Merasa
dipermalukan dan dikhianati, Emma marah pada Harper dan tidak mau bertemu atau
berbicara dengannya lagi.
Ketika pemasaran produk ‘Panda Bites’ meningkat
secara signifikan setelah iklan berbayar di Majalah untuk Lansia, Cybil memuji Nick karena mengira itu adalah ide Nick, tapi kemudian Emma mengklaim
bahwa itu adalah idenya. Sehingga penghargaan itu diberikan pada Emma. Karena hal itu Emma meminta promosi jabatan, menurutnya Cybil sudah menjanjikan hal itu jika
kerjanya bagus. Ia lalu dipromosikan. Tapi tetap saja teman2 kantornya berkata ‘itulah
yang kau dapatkan jika kau tidur dengan CEO perusahaan.’ Cybil berpesan bahwa
Emma harus serius dan bekerja keras agar ia tidak dianggap dapat promosi karena
tidur dengan bosnya.
So, apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana kelanjutan
hubungan Emma dan Harper? Ayo nonton gengs, ini film dirilis 13 September 2019,
baru banget kan?? Setahu saya si Tyler Hoechlin ini selalu memainkan
peran antagonis, entah film apa saya lupa deh, film2 psikopat begitu, lihat aja wajahnya yang cool dan aneh kalau senyum. Sementara Alexandra
Deddario cukup sering dengan film2 komedi romantis.
Well, menurut saya Emma
adalah gadis lugu yang di satu sisi memaksa diri untuk puas dengan hidupnya, ia merasa bahwa ia
tidak layak menerima lebih dari itu. Di sisi lain so desperate untuk mengalami sesuatu yang lebih dari pencapaian hidupnya selama ini yang datar2 saja, ya
kan?? But, menjadi seperti Emma rasanya terlalu lugu ya... Benar bahwa dalam hubungan harus ada keterbukaan dan saling menjaga kepercayaan. Tapi terkadang jika berlebihan, bisa membuatmu tidak dihargai lagi atau diremehkan gengs... I mean, okay, kita saling terbuka. Tapi bahwa, ada bagian2 tertentu yang tetap menjadi 'area privat' ya gengs, dalam arti yang baik tentunya.
Hayyy there... Why I’am so
excited talk about movie, because I am movie lover... Dan tidak ada hal lain
yang membuat saya bisa banyak berbicara seperti ini selain movies bebs...
Maafkan saya jika semua film tidak saya selesaikan ceritanya, hanya ingin
membuat kalian penasaran dengan endingnya dan ikut menonton sehingga kalian
bisa memutuskan sendiri pendapat kalian tentang film tersebut.
Memang tidak semua movie
yang saya bahas disini mempunyai kisah yang menarik ya gengs, menurut saya. But,
yang sampai sekarang masih menjadi keinginan saya adalah membahas film
Indonesia yang menarik. But, you know what, film Indonesia tidak gampang ditemukan
di web2 movie, yang kan? Sementara di kota kecil kami yang tercinta ini tidak
punya Bioskop, so, jadilah saya sangat tergantung dengan website movie, yang
sepertinya ilegal setiap waktu berubah channel, harus dicari2 dulu seharian
hahahaha.... Dimana web seperti ini tidak punya film Indonesia yang terbaru gengs.... Akhirnya saya memutuskan harus puas dengan film2 barat or asia yang ada saja, dari pada stress, ya kan??
Okay, let’s talk about
Roman China yang dibuat tahun 2015, ‘The Third Way of Love’. I know, why love
movie again??? Padahal, I don’t believe in love? Am I? No, I don’t believe in
true love. Bebs, film ini katanya kisah cinta yang sangat sedih dimana
mempertemukan oppa kesayanganku (you know.... I am oppa Korea lover too hehehe...) Song Seung Heun dengan
artis China Liu Yi Fei. Maksudnya bahwa kedua orang ini dipertemukan dalam
film ini dan kemudian menjadi kekasih di dunia nyata. Kayak, cinlok gitu...
Please
don’t judge me, okay?? Song Seung Heun adalah aktor Korea
ter-hot (katanya cari cowok jangan
yang hot, soalnya neraka juga hot, wkwkwkwkwk...) yang punya keahlian mendalami
karakter luar biasa. Kita yang menonton seolah ikut main sama oppa cakep ini deh, suer! Beberapa filmnya
yang sudah saya tonton, termasuk Obssesed
2014 (bebs, kalau kamu belum dewasa tidak boleh nonton film ini ya, full
adult...).
Patut diakui, The Third Way
of Love yang merupakan adaptasi dari Novel berjudul ‘Di San Zhong Ai Qing’
karangan Zi You Xing Zou tahun 2007 ini merupakan kisah cinta impian wanita,
dengan ending yang berbeda tentu saja, karena di film ini endingnya sedih
sekali. Berkisah tentang sepasang kekasih yang ditakdirkan melewati kisah cinta
penuh masalah dan sangat complicated. Setelah bercerai dengan suami yang dinikahinya
selama 3 tahun, Zou Yu (Liu
Yi Fei) pulang dari Beijing dengan pesawat. Ia menangis sejadi2nya
sepanjang perjalanan. Di samping tempat duduknya, Lin Qi Zheng (Song Seung Heun) merasa risih dengan
tatapan mata semua penumpang pesawat yang curiga padanya, karena wanita yang
menangis tanpa peduli orang di sekitarnya itu duduk tepat di sampingnya. Ia menyodorkan
tissue pada Zou Yu, ia menatap gadis
cantik itu penuh tanda tanya sampai tiba di bandara.
Sesampai di rumah, Zou Yu mendapati adiknya Zou Yue (Jia) melakukan percobaan bunuh diri. Penyebabnya sangat tidak
masuk akal sebenarnya menurut saya. Ia jatuh cinta pada bos di tempat kerjanya
dan merasa depresi setelah mengetahui bosnya ini akan menikah padahal bosnya sama
sekali tidak pernah bertemu apalagi menjalin hubungan dengannya. Dokter yang
merawatnya, menyarankan kepada Zou Yu
agar menjaga kondisi Zou Yeo tetap
tenang, karena hasrat untuk bunuh dirinya sangat rentan, bisa kumat lagi.
Zou
Yu
bekerja sebarai Lawyer dari Firma Hukum kecil. Perceraiannya membuat dia semakin mandiri dan tangguh menjalani
hidupnya yang keras. Ia juga menjadi pengacara sukarela yang membantu para buruh
miskin yang tidak bisa menyewa pengacara. Setelah menanyakan penyebab usaha
bunuh diri pada adiknya, Zou Yu pergi
menemui Qi Zheng, untuk menanyakan soal
hubungannya dengan adiknya. Ia berharap pria itu mau bertanggung jawab. Tapi kemudian
ia menyadari bahwa adiknyalah yang hidup dalam hayalan, terobsesi pada bos di kantornya
yang hanya bisa dipandang dari jauh tapi tidak mungkin bisa dimiliki. Baru
kemudian ia mengerti, ternyata si Lin Qi Zheng ini adalah pria yang
digila-gilai wanita2 single di kota itu, karena ia memiliki semua kualifikasi
pria impian wanita.
Ia tampan, sukses, anak
konglomerat dan presiden perusahaan terkenal di Beijing, Zhilin Group. Zou Yu cepat2 pergi karena merasa
bersalah telah menuduh Qi Zheng. Saat
itu ia belum menyadari bahwa Qi Zheng
adalah pria di pesawat yang memberinya tissue. Kemudian mereka dipertemukan
lagi, ketika salah seorang buruh yang menjadi kliennya hendak bunuh diri di
bangunan proyek milik Zhilin Group. Ia
menuntut dibayar upah kerja lemburnya. Bersama Qi Zheng ia berhasil menyelesaikan persoalan itu. Keduanya makan
malam untuk merayakannya, saat itulah Qi
Zheng mulai menunjukkan ketertarikannya pada Zou Yu.
Menyadari sinyal2 asmara itu,
Zou Yu berusaha menghindari. Ia
masih trauma dengan perceraiannya dan selama ini nyaman hidup seolah tidak
butuh cinta. Then, sebuah kesempatan mempertemukan mereka lagi. Lembaga hukum Zou Yu dipilih menjadi mitra kerja Zhilin Grup. Dengan kata lain, Zou Yu dan kolega kantornya harus
mengurus segala sesuatu tentang hukum yang menyangkut perusahaan besar ini. Qi Zheng, pemuda kaya raya yang hidupnya
diatur, kaku dan taat pada aturan keluarga juga ayahnya, sangat haus akan cinta.
Seolah mendapat kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Zou Yu, ia benar2 memanfaatkan situasi ini.
Sutradara film ini, John
H. Lee memang jago dalam menghasilkan sindrom melow (ciaahhh... kayak
tau2 ajah...), si John ini adalah sutradara ‘A Moment to Remember’
yang terkenal sangat mengaduk-aduk perasaan penonton di tahun 2004 itu gengs.
Layaknya wanita2 tangguh dalam kebanyakan romance movie, Zou Yu tidak segampang itu jatuh hati pada Qi Zheng.
Berbagai usaha Qi
Zheng tidak mampu meluluhkan hatinya. Saya merasa di satu sisi ia memang
tidak percaya akan semudah itu dicintai pria kaya yang baru saja dikenalnya,
ditambah lagi ia seorang janda. Dan di sisi lain ada adiknya Zou Yeo yang terobsesi secara aneh pada
Qi Zheng ( What kind of love is that? is not make sense, right?!).
But,
takdir berkata lain, menyadari kegigihan Qi
Zheng, Zou Yu mulai goyah. Dari
asisten kepercayaan Qi Zheng, Zou Yu mengetahui bahwa setiap pagi
pria itu minum kopi di cafe yang berada di persimpangan penyebrangan yang tiap
hari dilewati Zou Yu hanya untuk
bisa memandangnya dari jauh. Sejak itu keduanya memulai kencan mereka yang romantis.
Saat mereka berkesempatan terbang berdua dalam urusan kerja ke Beijing, Zou Yu membelikan sebuah syal untuknya.
Walaupun masih takut dan bingung akan masa depan hubungan mereka, Zou Yu percaya pada janji yang
diucapkan Qi Zheng yang akan
membahagiakan dia.
Tapi itu tidak membuat Zou
Yu mau dikasih segala kemudahan, ia mengembalikan kartu kredit dan semua
fasilitas yang diberikan Qi Zheng. Menyadari
perbedaan status sosial dan situasi di mereka, Zou Yu memberikan persyaratan bahwa dalam hubungan mereka hanya
boleh bertemu kalau keduanya saling merindukan dan jika nanti salah satu dari mereka
ingin mengakhiri hubungan, masing2 harus merelakannya. Qi Zheng seolah telah menemukan kebahagiaan yang selama ini
dirindukannya, keduanya benar2 bahagia dan jatuh cinta.
Of
course, kisah indah mereka mulai menghadapi tantangan. Saat
sedang berduaan di apartemen, Jiang
Xiyao (Jessie Chiang) tiba2
datang. Dia adalah putri dari sahabat ayah Qi
Zheng, yang sudah dijodohkan dengannya sejak dulu. Melihat kebersamaan
keduanya, Xiyao yang sepertinya sudah
sangat mencintai Qi Zheng, mulai
gusar.
Tiba2 saja masalah mulai berdatangan. Keuangan perusahaan Zhilin
memburuk, Qi Zheng harus berkeliling
mencari pinjaman, tapi semua usahanya sia2. Ayahnya mendesak ia segera menikahi
Xiyao, karena perusahaan ayah Xiyao mampu menolong keterpurukan
mereka. Xiyao juga menemui Zao Yu, walau tidak dikatakannya
langsung, Zao Yu mengerti maksud Xiyao agar ia mundur, sebagai pengacara
perusahaan ia diminta untuk mengurus perjanjian pranikah mereka.
Menyadari hubungan mereka
tidak mungkin bisa diselamatkan, Zou Yu
yang penuh kesedihan hampir saja tertabrak di penyeberangan.
Ia menyadari hal
itu diperhatikan oleh Qi Zheng yang
mengamatinya dari dalam cafe persimpangan, tempat biasa ia menunggui gadis itu
lewat. Ia memberikan tisue dan berkata “ini hadiah untukmu, berhati-hatilah
menyeberangi persimpangan ini jika disana tidak ada jembatan penyeberangan”.
Kemudian di akhir kisah ia baru menyadari maksud kata2 Qi Zheng itu.
Setelah calon pengantin
yang dijdohkan itu menandatangani perjanjian pranikah yang diurusnya, Zou Yu mabuk2an mengenang cintanya
dengan Qi Zheng. Qi Zheng yang masih berharap pada
hubungan mereka, datang mencarinya di pesta pernikahan teman kantor Zou Yu. Ia masih berusaha meyakinkan Zou Yu untuk menunggunya.
Hubungan mereka
akhirnya diketahui Zou Yue, ia marah
dan mengancam bunuh diri. Kali ini ia melompat dari gedung proyek, tempat pertama
kalinya Qi Zheng jatuh hati pada
kakaknya. Tapi ia berhasil diselamatkan. Menyadari kondisi yang sangat rumit itu,
Qi Zheng memilih mundur. Ia sadar
bukan hanya dia yang berada dalam dilema. Mereka sama2 harus menyelamatkan
keluarganya. Pada akhirnya sekeras apapun usaha mereka, keduanya tetap tak bisa
bersama dan mereka benar2 tidak punya pilihan lain selain berpisah.
Di akhir film ditampilkan
adegan masa2 indah keduanya di Beijing, saat itu Zou Yu berkata pada Qi Zheng:
“Bisakah kau bagi cinta
menjadi 3 jenis?”.
Qi
Zheng menjawab:
“Pertama, seorang wanita
yang menangis. Kedua, seorang pria yang menghapus air matanya. Yang ketiga,
yang ketiga....”
Ia berhenti disitu, lalu
tertulislah judul film itu “Mencintai dengan cara yang ketiga....”
Saya mengambil kesimpulan
mencintai dengan cara yang ketiga maksudnya adalah mereka masih saling mencintai,
tapi tidak saling memiliki. Bagaimanapun mereka masih memiliki kenangan yang
akan abadi selamanya, tidak ada yang bisa merampas itu. Ya ampun, saya benar2
tidak bisa memahami cinta Zou Yeo
pada Qi Zheng, apa itu bisa dibilang
cinta?? Mereka bahkan tidak punya hubungan apa2, hanya obsesinya yang tidak terwujud,
tapi kok bisa seekstrim itu ya??
Kisah seperti ini nyaris tidak
pernah ada di dunia nyata bebs, anak konglomerat jatuh cinta pada janda dari
ekonomi kelas rendah, bawahannya sendiri, padahal ia punya tunangan cantik yang
setara bahkan lebih kaya dari dia dan keluarganya. Bisa jadi ia memang lebih
suka pada wanita mandiri ketimbang anak manja yang hidup dari kekayaan
keluarganya. Ending film ini benar2 realistis, walaupun tidak dijelaskan secara
mendetail, tapi bahwa mereka berdua berpisah. Masing2 kembali ke dunia mereka
dan menjalani hidup sebagaimana seharusnya.
Banyak review film ini yang
mengatakan bahwa ini kisah cinta yang sangat sedih, membuat orang terus-menerus
menangis. Tapi entahlah, itu tidak terjadi pada saya. Menurut saya tidak
terlalu ekstrim selama keduanya tetap hidup dan memilih jalan yang lebih realistis
ketimbang larut dalam cinta yang tidak menjanjikan apapun. That is fair, I
think.
So, secara tidak terduga
saya menceritakan ending film ini kan guys? Apakah kalian masih ingin
menontonnya? Try it, okay? Mungkin kalian punya pendapat yang sangat berbeda
dengan saya, who knows...