Tampilkan postingan dengan label martir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label martir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2019

Santo Pius V, Sang Penggembala Domba yang Menjadi Paus

 

Salve... Untuk semua pembaca blog ini, mohon kebijakannya dalam membaca dan mencerna kisah-kisah yang saya ceritakan. Kamu tidak harus mengamini keyakinan saya, tapi kamu bisa menambah wawasan kamu dengan membaca blog ini ketimbang membaca kisah cinta yang jelas2 rekayasa penulis dan sutradara semata.

Nah, setelah beberapa waktu berlalu setelah kisah Santo Fansiskus Xaverius, saya tiba-tiba menjadi pesimis dengan vlog ini, tiba-tiba kayak malas nulis lagi. Tapi kemudian saya memutuskan untuk meneruskan, tidak peduli apakah ada yang membaca atau bahkan sekedar melihat isi blog saya. 

Tidak masalah. Pada dasarnya saya ingin mengerjakan sesuatu yang bisa membawa aura positif dalam hidup saya sendiri atau orang lain yang mungkin kebetulan membaca ini. Dan saya juga sudah berjanji akan menyelesaikan 25 Orang Kudus yang disebut Santo dan Santa dalam gereja Katolik.

Santo Pius V (Paus)

Nah, kisah kali ini adalah tentang Santo Pius V yang juga adalah Paus atau pemimpin Gereja Katolik sedunia. Santo Pius V terlahir di Bosko, Italia pada tahun 1504 dan dibaptis dengan nama Antonius Ghislieri

Antonius sungguh berkeinginan menjadi imam, namun karena keluarganya miskin, ia tidak bisa bersekolah dengan baik. Setiap hari Antonius membantu orang tuanya menggembalakan domba-domba.

Atas bantuan seorang dermawan, Antonius disekolahkan di bawah bimbingan imam-imam Ordo Dominikan. Pada usia 14 tahun Antonius bergabung dengan ordo Dominikan dan memilih nama Michael. Ia menyelesaikan studi dengan gemilang dan ditahbiskan menjadi imam. 

Antonius menjadi biarawan yang pandai dan bijaksana. Taat pada aturan-aturan biara, taat pada pimpinan, suka akan kemiskinan dan kemurnian.

Antonius menjadi mahaguru filsafat dan theologi. Pada usia 52 tahun, Antonius ditahbiskan menjadi uskup. 1 tahun kemudian ia menjadi Kardinal. Dengan gagah berani, Antonius mempertahankan ajaran-ajaran Gereja dari orang-orang yang menentangnya. 

Ia hidup bermatiraga serta saleh dan suci. Ia tidak takut menentang Paus Pius IV dan sempat dipecat dari Istana Vatikan.

Konklaf

Setelah Paus Pius IV wafat, para Kardinal berkumpul dalam Konklaf (Pertemuan para Kardinal Gereja Katolik yang dilakukan untuk Pemilihan Paus baru. Konklaf juga adalah nama ruangan tempat pertemuan itu berlangsung). 

Pemilihan ini sangat sulit, setelah 3 minggu berlalu tetap tidak membuahkan hasil. Atas nasehat Karolus Borromeus yang hadir dalam Konklaf dan mendapat dukungan dari Raja Philip II, Antonius Ghislieri terpilih menjadi Paus menggantikan Paus Pius IV, di usianya yang ke 61 tahun. 

Ia kemudian memakai nama Paus Pius V. Dulu ia hanyalah seorang bocah miskin penggembala domba, kini ia menjadi pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia.

Namun demikian ia tetaplah pribadi yang sederhana dan rendah hati serta hidup bermatiraga. Paus Pius V tetap memakai jubah Dominikan putihnya yang sudah tua dan tidak ada orang yang bisa membuatnya mengganti jubah itu. Tempat tidurnya dialasi dengan jerami kasar sebagai tanda matiraga.

Paus Pius V menghadapi banyak masalah dalam menjalankan tugasnya. Ia menimbah kekuatannya dari Salib Suci Kristus. Baginya, Doa adalah senjata ampuh. Setiap hari ia berdoa Rosario dan merenungkan sengsara Yesus Kristus. Ia membuka banyak Seminari baru, merevisi Brevir dan menerbitkan buku Katekismus baru. 

Ia mendirikan yayasan-yayasan untuk menyebarkan Iman dan ajaran Gereja. Ia membangun rumah sakit dan memperhatikan orang miskin dengan menggunakan dana dari Kas Kepausan. 

Ia adalah Paus yang mengucilkan Ratu Elizabet I, karena dalam masa pemerintahannya Ratu ini membenarkan ajaran sesat dan penganiayaan terhadap orang Kristen.

Pada masa itu, Gereja Kristus sedang dilanda ancaman besar dari bangsa Muslim Turki yang ingin menguasai Eropa dan memusnahkan ajaran Kristen. Paus Pius V sudah memperingatkan para penguasa Eropa kala itu, namun peringatan bahaya itu tidak dipedulikan. 

Paus kemudian membantu Jenderal La Valette mempertahankan Malta, dengan mengirimkan uang dari Kas Vatikan, ketika tidak ada seorangpun yang mau membantu jenderal itu untuk berjuang mempertahankan Malta dari bangsa Turki. Jenderal La Valette berhasil memukul mundur tentara Turki.

        Raja Selim II

Menghadapi kekalahan itu, Raja Turki, Selim II mempersalahkan Paus dan menyatakan perang terhadap Italia. Ia mengancam akan membinasakan setiap kota di Italia. Menghadapi ancaman itu, Paus Pius V memerintahkan setiap gereja di kota-kota Italia mengadakan Novena selama 40 jam. 

Mendengar hal itu, Raja Selim II menertawakan cara Paus menghadapi ancamannya. Namun, 3 hari kemudian, karena banyaknya tertawa, Raja Selim II wafat secara mendadak.

Kematian Selim II tidak menghentikan serangan bangsa Turki ke Italia. Para panglima Turki: Müezzinzade Ali Pasha, Suluc Mehmed Pasha dan Uluc Ali Reis tetap bergerak menuju Italia bersama armada perang. Atas permohonan Paus Pius V, para penguasa Eropa membentuk aliansi untuk menghadapi ancaman. 

Terbentuklah armada Perang Kristen dipimpin oleh Don Luis Requesens dan Don Àlvaro de Bazàn dari Kerajaan Spanyol, dan Gianandrea Doria dari GenoaIkut dalam rombongan itu adik tiri Raja Spanyol, Don John of Austria

      Don John of Austria

Ia belum berpengalaman sama sekali dalam peperangan besar dan masih sangat muda. Tapi Paus Pius V mengangkatnya menjadi panglima armada perang. Kata Paus: “pergilah anakku, karena aku tahu Tuhan akan memberimu kemenangan. Rosario akan menjadi keselamatan kita”.

Paus Pius V memberkati setiap kapal dan seluruh armada diserahkan dalam perlindungan Bunda Maria Ratu Rosario. Semua orang yang ada dalam kapal setiap hari menerima Komuni Kudus dan berdoa Rosario berkali-kali dalam sehari. 

Sejak Armada Kristen berangkat menyambut musuh, lonceng-lonceng Gereja di seluruh Italia dibunyikan tanpa henti di jam-jam tertentu. Para imam mengumpulkan umatnya berdoa Rosario. 

Bapa Paus tinggal dalam kapel pribadinya dan terus berdoa Rosario. Dalam perangpun, Don John tetap menyuruh anak buahnya tidak berhenti berdoa Rosario.

Pada Oktober 1571, armada perang Turki yang luar biasa besar bergerak menuju Italia. Sasaran mereka adalah menghancurkan setiap kota di Italia, menduduki Kota Roma dan menghancurkan Kekristenan. 

Don John beserta armadanya segera menyongsong. Kedua armada perang ini bertemu di dekat Yunani, suatu wilayah yang disebut Leponto. Terjadilah pertempuran laut yang sangat dahsyat, yang dikenang dengan nama “Pertempuran Leponto”.

Kekuatan armada keduanya sangat tidak seimbang, armada Turki jauh lebih unggul. Mereka memiliki 251 kapal perang dan 31.490 orang tentara. Sedangkan armada kristen hanya memiliki 212 kapal perang dan 28.500 orang tentara. 

Dalam pandangan manusia, kemenangan bagi armada Kristen adalah hal yang mustahil. Pertempuran itu tampak mustahil dan tidak seimbang bagi armada Kristen. Armada Kristen yang kecil sepertinya gampang saja disapu bersih oleh musuh yang sangat besar. 

Namun selama pertempuran itu berlangsung, Bapa Suci Paus Pius V bersama seluruh orang Katolik Italia terus menerus menggempur Surga dengan Rosario yang tanpa henti.

Namun tiba-tiba bertiuplah angin kencang yang membawa gelombang laut yang sangat besar  ke arah armada Turki. Satu persatu kapal perang Turki pecah dan tenggelam ditelan gelombang dahsyat yang datang bersama angin kencang itu. 

Menyadari armada perang Kristen dilindungi kekuatan tidak terlihat, para panglima Turki lari pontang-panting meninggalkan armada mereka yang porak poranda. 

Dalam pertempuran itu tercatat dari pihak armada perang Turki; 20.000 orang meninggal, 137 kapal direbut, 50 kapal tenggelam dan 10.000 orang Kristen yang ditawan Turki dan dijadikan para pendayung, dibebaskan. Sementara dari pihak armada Kristen; 7.500 orang wafat dan 17 kapal hilang.

Pertempuran itu terjadi pada siang hari, Minggu 7 Oktober 1571, seharusnya berita kemenangan baru tiba di Roma beberapa hari kemudian. Namun, pada siang itu juga di Italia, Bapa Suci Paus Pius V tiba-tiba menghentikan doa Rosario dan keluar dari Kapel Pribadinya dengan wajah penuh syukur. 

Ia memanggil semua orang dan berseru: “Cepat kemari, ini bukan waktunya untuk bekerja. Mari kita bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena armada laut kita telah memperoleh kemenangan besar!”

Dua minggu kemudian Panglima Don John tiba di Italia dan membawa berita kemenangan itu. Tapi ia sangat terkejut karena diberitahu bahwa Bapa Suci telah mengumumkan berita kemenangan itu sejak hari Minggu tanggal 7 Oktober 1571. 

Sebagai ungkapan syukur atas doa-doa Bunda Maria, Bapa Suci Paus Pius V menetapkan Pesta Maria Ratu Rosario yang dirayakan setiap tanggal 7 Oktober.

Dalam masa kepemimpinannya Paus Pius V menyederhanakan cara hidup Kepausan di Vatikan, menginstruksikan pembaharuan cara hidup ordo-ordo dan imam projo, memberantas korupsi yang terjadi di Roma dan negara Kepausan Vatikan dan menginstruksikan pembangunan seminari-seminari di setiap keuskupan.

Paus Pius V wafat pada tanggal 1 Mei 1572 di Roma Italia setelah 6 tahun menjadi pemimpin Gereja Katolik. Dinyatakan Kudus oleh Paus Klemens XI pada 22 Mei 1712. Jasadnya dimakamkan di Chapel of San Andrea, Saint Peter’s Basilica, Vatican City. Dan tetap utuh ketika digali kembali untuk proses kanonisasi ratusan tahun kemudian.

Wah, panjang ya kisahnya. Tapi menakjubkan betapa besar kuasa Allah Bapa kita yang dinyatakan pada umat pilihan yang sungguh dikasihi-Nya. Kisah ini semakin meyakinkan saya betapa besar kuasa Doa. Ketika kita percaya dan tidak berhenti berdoa juga berserah pada kehendak-Nya, Allah Yang Maha Kuasa menjawab doa-doa kita secara ajaib.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya ya...

Referensi: katakombe.org, imankatolik.or.id, wikipedia.org


Minggu, 24 November 2019

Santo Fransiskus Xaverius, Misionaris Perintis Agama Salib di Asia


Shalom... Kita ketemu lagi di blog Kisah Hidup Para Musafir Tuhan. Ini adalah Kisah hidup 25 orang Santo dan Santa yang Jasadnya sampai masih tetap utuh bertahun-tahun setelah wafat mereka ya...

Sekedar info, saya juga membuat vlog tentang ini ya bebs, jadi kalau kamu malas baca, bisa dengar lewat vlog saja : 
https://www.youtube.com/channel/UCDOdlk6kRi8eJtulUF_SKiQ

Nah, akan ada 1 blog tersendiri tentang penjelasan bagaimana orang-orang Kudus ini dijadikan teladan oleh Gereja Katolik ya, karena itu agak rumit dan panjang tapi akan saya ambil seperlunya saja. 

Orang Kudus atau yang kita sebut sebagai Santa (untuk yang wanita) dan Santo ( untuk pria) yang diadaptasi dari bahasa Latin, berarti orang beriman yang semasa hidup menampilkan pola hidup Kekudusan sejati, yang oleh Gereja, mereka diyakini telah mencapai kehidupan kekal di surga. 

Devosi kepada para Kudus ini berarti keterarahan hati kita secara total kepada Allah Tritunggal Mahakudus, dengan pertolongan doa-doa dan teladan hidup para santo dan santa.

Okey, jangan sampai itu membingungkan atau salah kaprah ya bebs, tujuan kita tetap Yesus Kristus sebagai perantara kita kepada Allah Bapa.

Santo Fransiskus Xaverius

Santo Fransiskus Xaverius terlahir sebagai putra bangsawan kaya raya, Bosque di Navarro, selatan Spanyol, pada tanggal 7 April 1506. Dengan nama Francesco de Yasssu Javier. Pada tahun 1530, ia lulus dengan Licence eś arts dari Universitas Paris. 

Kemudian ia melanjutkan studi dalam bidang teologi di kota yang sama. Sebagai pemuda bangsawan yang cerdas, ia bergaul dengan orang-orang terpelajar dan terkemuka di Paris. 

        St. Ignatius Loyola

Santo Fransiskus Xaverius berteman baik dengan St. Ignatius Loyola, yang kala itu sedang berjuang mendirikan sebuah serikat religius bersama temannya St. Petrus Faber. Santo Ignatius memiliki pengaruh besar pada jalan hidup Santo Fransiskus. 

Kecerdasan Fransiskus membuat Ignatius berusaha mengajaknya bergabung dengan serikat yang akan dibangun. Tapi kala itu Santo Fransiskus masih suka bersenang-senang. Kemudian, Ignatius mengutip kata-kata Yesus dari Kitab Suci yang kemudian sangat mempengaruhi perubahan hidup Santo Fransiskus; 

“Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, namun kehilangan jiwanya?”. (Matius 16:26)

Pertanyaan ini mengubah seluruh hidup Santo Fransiskus dan menjadikannya Abdi Allah di dunia. Pada tanggal 15 Agustus 1534, Santo Fransiskus dan 5 rekannya termasuk Santo Ignatius Loyola dan Santo Petrus Feber, mengikrarkan kaul pertama mereka di Gereja Montmatre, Paris. 

Pengikraran ini juga menandai berdirinya Serikat Yesus (Ordo Jesuit) yang direstui oleh Paus Paulus III pada tahun 1540. Keenam misonaris ini juga berjanji akan membantu Paus untuk memberantas ajaran sesat dan menyebarkan iman Kristen. Santo Fransiskus ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 24 Juni 1537.

Di usia 34 tahun, Santo Fransiskus diutus menjadi misionaris di Hindia Belanda. Ia ditawari oleh Raja Dom Joao III dari Portugal hadiah-hadian dan pelayan untuk membantunya. Tapi Santo Fransiskus menolak dan berkata :

“Cara terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan mencuci baju dan memasak makanan sendiri.”

Bersama beberapa rekan, Santo Fransiskus melakukan perjalanan yang sulit. Ia tiba di Goa pada tanggal 6 Mei 1542, dan memulai karya pelayanan mereka meliputi wilayah India Selatan, Srilanka, Indonesia, Jepang dan pulau-pulau lain di timur. 

Dengan cara pewartaan yang menarik dan kesalehan hidup, ia berhasil menawan hati ribuan orang dan mempermandikan mereka menjadi pengikut Kristus. Ia mengatakan; lengan kanannya sampai kelelahan karena banyaknya orang yang harus dipermandikan. 

Ia juga berani membela hak-hak penduduk pribumi dari penguasa sebangsa maupun kolonial yang korup. Santo Fransiskus mengajari mereka tentang ajaran Kristen yang mengutamakan cinta kasih.

Santo Fransiskus Xaverius tiba di Ambon, Indonesia pada tanggal 1 Januari 1546. Selama 6 bulan di pulau Ambon, Santo Fransiskus membaptis ribuan orang. Misi ini menjadi salah satu awal sejarah Gereja Katolik di Indonesia. 

Dalam catatan hidupnya yang indah ia menekankan bahwa betapa ajaran Tuhan sangat dibutuhkan di tempat-tempat yang ia kunjungi. Ia mengajarkan doa-doa dan nyanyian-nyanyian suci dari Alkitab. Dan ia sungguh bersyukur ajarannya kemudian dijadikan rutinitas harian oleh penduduk pulau.

Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya yang melelahkan, Santo Fransiskus sangat dipenuhi sukacita dari Allah. Ia sungguh mendambakan dapat masuk ke China, dimana tidak seorang asingpun diperbolehkan masuk kesana. Setelah berbagai persiapan dilakukan, awal September 1552 Santo Fransiskus tiba di pulau Shangchuan, Tiongkok, sekarang bernama Hong Kong. 

Namun sebelum sampai ke daratan besar China, misionaris hebat ini jatuh sakit. Santo Fransiskus Xaverius meninggal karena kelelahan dan demam di pulau ini pada tanggal 2 Desember 1552, di usia 46 tahun. 

Santo Fransiskus dikuburkan di Shangchuan, namun pada 22 Maret 1553, jenasahnya yang masih utuh dibawa dan disemayamkan di Gereja Santo Paulus, Malaka. Sampai saat ini, sebuah makam terbuka di gereja itu menandai bahwa jenasah Santo Fransiskus Xaverius pernah disemayamkan disitu.

Pada 11 Desember 1553, jenasah Santo Fransiskus dibawa berlayar. Peti jenasahnya dihias dengan lilin-lilin, wewangian dan tirai-tirai indah dalam sebuah kabin. Diiringi lambaian perpisahan dari seluruh penghuni bandar Malaka. 

Ketika melewati selat Penang, kapal itu sempat kandas tapi kemudian tertiup angin kencang dan terdorong kembali ke perairan dalam. Tanggal 15 Maret 1553, kapal itu tiba Goa.

Setelah 16 bulan ketika peti Jenasah itu dibuka di Gereja Katedral, Goa, jasadnya masih utuh dan segar. Ribuan umat diijinkan memberi penghormatan terakhir dengan mencium kakinya dan banyak mujizat dilaporkan terjadi. 

Jasad yang tidak membusuk itu kemudian disemayamkan dalam peti perak pada tanggal 2 Desember 1637 di Basilika Bom Jesus di Goa.

Lengan depan Santo Fransiskus Xaverius yang semasa hidup digunakan untuk mempermandikan orang, dipisahkan oleh Prefektur Jenderal Serikat Yesus, Claudio Acquaviva pada tahun 1614 dan kini dipajang dalam sebuah Reliquarium (tempat penyimpanan relikwi) perak dalam Gereja II Gesü, Gereja utama para Jesuit di Roma.

  Paus Gregorius XV

Santo Fransiskus Xaverius dinyatakan Kudus dan dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622. Pesta perayaan Santo Fransiskus Xaverius dirayakan setiap tanggal 3 Desember.

Santo Fransiskus Xaverius adalah sahabat bagi semua orang. Ia enerjik, menarik, rendah hati dan penuh pengabdian akan karya misinya. Ia mendirikan pusat-pusat katekumenat dan sekolah-sekolah. Ia berusaha mendidik imam-imam pribumi di setiap tempat yang ia kunjungi, demi niat ini ia rela bahasa daerah setempat. 

Ia dijuluki sebagai ‘Misionaris Perintis Agama Salib’ di Asia dan misionaris terbesar sejak Santo Paulus. Oleh karena teladan hidupnya, Paus Pius X mengangkat Santo Fransiskus Xaverius sebagai Santo Pelindung Utama Karya Misi.


Referensi: katakombe.org, imankatolik.or.id

Sabtu, 16 November 2019

Santa Clara dari Asisi


Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa fenomena tidak hancur atau membusuknya jasad Orang Kudus, yang telah meninggal puluhan tahun lalu, merupakan satu dari sekian banyak cara Allah Bapa menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya. Dan Santa Clara dari  Asisi adalah salah satunya.

St. Clara dilahirkan pada tahun 1193 di Asisi, Italia. Dilahirkan sebagai puteri keluarga bangsawan tentu saja Clara menerima pendidikan yang layak kala itu sebagai seorang puteri. Pendidikan agama, bahasa, berbagai ketrampilan dan menulis. 

Clara sangat cerdas dan terampil. Hal ini diketahui dalam kesaksian proses kanonisasi, Clara sering membuat Colporal, kain penutup altar, sepatu dan sendal. Dia juga orang yang tegas, ia menolak dijodohkan seperti layaknya para wanita muda di jaman itu.

Di usia 18 tahun, Clara terpesona dengan kotbah St. Fransiskus dan hatinya berkobar untuk meneladani cara hidupnya. Ia ingin hidup miskin dan rendah hati demi Tuhan Yesus. 

Setelah merencanakan dengan matang selama 1 tahun lamanya dan mendapat restu dari Uskup Asisi kala itu, Uskup Guido, suatu malam St. Clara melarikan diri dari rumahnya. 

Pada malam itu juga, di sebuah Kapel kecil Partiuncula, Clara menerima jubah coklat seperti yang dikenakan St. Fransiskus dan pengikutnya. St. Fransiskus sendiri memotong rambut Clara dan memberikan kerudung kepadanya.

Tentu saja ayah Clara berusaha berbagai cara untuk membawanya pulang. Tapi ia tetap teguh pada cita-citanya. Untuk sementara waktu, Clara tinggal bersama biarawati Benediktin. 

Sampai jumlah mereka sudah lebih banyak dan mendapat hadiah sebuah kompleks kecil dari Uskup Guido tidak jauh dari kota Asisi, St. Clara membentuk sebuah komunitas biarawati yang berpedoman pada pola hidup St. Fransiskus yakni Ordo Santa Klara (Klaris) OSCI.

Tidak lama setelah itu, adiknya, Agnes yang berusia 15 tahun bergabung dengannya. St. Clara dan para biarawatinya menjalani pola hidup asketis yang ketat. 

Mereka tidak mengenakan sepatu, tidak makan daging, tinggal di rumah sederhana dan tidak berbicara hampir sepanjang waktu. Namun demikian mereka sangat berbahagia karena merasa sangat dekat dengan Tuhan Yesus.

Suatu ketika, kota Asisi diserang pasukan prajurit beringas dan kejam. Mereka sudah merencanakan menyerang biara terlebih dahulu. Kala itu, St. Clara sedang sakit parah tapi beliau meminta dibopong ke altar kapela. Ia berlutut dan menempatkan Sakramen Mahakudus di tempat yang terlihat oleh para prajurit. 

Kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi”. Terdengarlah sebuah suara dari dalam hatinya: “Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku”. Bersamaan dengan itu suatu kegentaran meliputi para prajurit dan mereka lari pontang-panting.

St. Clara menjadi pemimpin di biaranya selama 40 tahun, 29 tahun dalam masa itu dilewatkannya dalam kondisi sakit parah. Meski demikian, ia menyatakan bahwa ia penuh sukacita karena melayani Tuhan.

“Kata mereka kita ini terlalu miskin. Tapi dapatkah satu hati yang memiliki Allah yang Mahakuasa sungguh-sungguh miskin?” St. Clara.

St. Clara wafat pada 11 Agustus 1253, 2 tahun setelah itu dinyatakan Kudus oleh Paus Alexander IV.

Menurut cerita, St. Clara memiliki visi mampu melihat kejadian yang akan menimpah seseorang meskipun orang tersebut tinggal sangat jauh darinya. Itu sebabnya St. Clara dijadikan sebagai Santa pelindung bagi para penderita penyakit atau kelainan pada mata. 

Jika ada di antara sahabat Kristus punya keluhan seperti itu, berdoalah kepada Tuhan dengan perantaraan St. Clara. Tentu saja harus diikuti dengan keyakinan dan iman yang teguh. Berdoalah tanpa jemu, sampai Tuhan mengabulkan doamu. Seperti kisah janda miskin dan hakim yang lalim dalam Injil Lukas. 

Bukankah Allah akan membenarkan orang pilihannya yang siang malam berseru kepadanya. Lukas 18:7

Sampai sekarang jasad St. Clara tetap utuh dan disemayamkan di ruang bawah tanah St. Chiara, Italia. 
Pesta St. Clara dirayakan setiap tanggal 11 Agustus. St. Clara dari Asisi dikanonisasi oleh Paus Alexander IV pada 26 September 1255.

Referensi: katakombe.org, ofm.or.id

Kisah Hidup Santo Silvanus, Martir Kristus

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, dalam blog ini saya ingin menceritakan kisah hidup 25 orang Santo dan santa yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah meninggal berpuluh2 bahkan ratusan tahun yang lalu. 

Mungkin kisahnya tidak mendetail ya, karena ada yang hidup di zaman yang sama sekali belum ada alat atau apapun yang menunjang orang untuk mencatat sejarah. 

Tapi banyak sekali contoh hidup mereka yang bisa kita ikuti ya geng’s... betapa mereka sangat taat dan mencintai Allah lebih dari hidup mereka sendiri. Banyak orang menyangsikan hal ini dengan mengatakan bahwa jasad mereka memang sengaja diawetkan. 


Tetapi kalau ditelurusuri secara nalar hal itu juga tidak mungkin, fenomena ini juga tidak serta merta diterima oleh para pembesar Gereja Katolik ya gengs... Butuh penyelidikan bertahun-tahun dengan proses yang rumit dan panjang.



Para santo dan santa ini sudah wafat dan dikuburkan tapi kuburnya digali kembali bertahun-tahun kemudian. Saya rasa alasan penggalian adalah untuk proses Kanonisasi dan disaksikan oleh pejabat gereja yang menyelidiki proses tersebut. 


Tuhan mengijinkan tubuh para orang Kudus-Nya tidak binasa untuk menunjukan kebesaran kasih dan rahmat-Nya yang mampu mengatasi maut dan kebinasaan. Soal ini, sebagai orang Katolik, kita juga diyakinkan dalam 


Mazmur 16:10 "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan"

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya. Bagi orang yang percaya hal ini bukanlah yang utama, tapi bagi yang tidak percaya tanda sebesar apapun tidaklah cukup.


Santo Silvanus

Santo Silvanus berasal dari Roma Italia, merupakan salah seorang dari 7 putra Santa Felisitas yang menjadi martir pada masa penganiayaan Kaisar Antonius Pius di Kota Roma. Ayah dan Ibunya adalah keluarga bangsawan Romawi yang telah dibaptis menjadi Kristen. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya, Santa Felisitas, mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan dengan berdoa dan berkarya bagi orang-orang miskin. Teladan baik keluarga ini menghantarkan banyak orang menjadi Kristen pula.

Tentu saja hal ini membuat banyak imam-imam kafir menjadi marah dan melaporkan keluarga ini kepada Kaisar Antonius Pius. Mereka mengatakan bahwa Felisitas dan anak-anaknya adalah musuh negara dan membuat dewa-dewa murka. Maka Kaisar memerintahkan agar Felisitas dan 7 putranya ditangkap. 


Santa Felisitas tetap tenang ketika dibawa ke hadapan Gubernur. Sia-sia saja membujuk mereka untuk menyangkal imannya kepada Tuhan dengan mempersembahkan korban kepada para dewa. 


Akhirnya sang Gubernur dengan marah berseru: "Perempuan celaka! Jika engkau ingin mati, matilah! Tetapi janganlah engkau membinasakan anak-anakmu pula."

Jawab Santa Felisitas: "Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya, jika mereka seperti saya, mengutuk dewa-dewa berhala dan mati bagi Tuhan." Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan putera-puteranya dihukum mati dengan keji. 


Seorang mati dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas ditenggelamkan. Tujuh orang martir putera-putera Santa Felisitas yang gagah berani itu adalah: St. Alexander, St. Vitalis, St. Martialis, St. Januarius, St. Felix, St. Filipus dan St. Silvanus.

Empat bulan kemudian ibu mereka, St. Felisitas, juga menerima mahkota kemartirannya dengan dihukum pancung. Kisah keluarga martir ini mengingatkan saya akan cerita di Kitab 2 Makabe bab 7, tentang seorang ibu bersama tujuh orang puteranya yang dibunuh secara keji pada jaman pemerintahan Raja Antiokhus karena berani membela imannya kepada Tuhan. 


Mereka tetap taat memegang perintah Allah semesta alam yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Saya tidak tahu apakah ini kisah yang sama, tapi dari cara kematian mereka sangat berbeda.

Santo Silvan adalah pelindung bari para pelayan dan pembantu rumah tangga. Jika pekerjaanmu adalah pelayan dan membantu di rumah tangga, kamu bisa berdoa pada Tuhan dengan perantaraan St. Silvanus ketika kamu menemui kesulitan dalam pekerjaanmu. 


Jasad St. Silvan sampai sekarang masih utuh dan ditempatkan di Gereja St. Blaise di Dubrovnik, Kroasia. Pesta St. Silvan dirayakan setiap tanggal 10 Juli.

Referensi : Katakombe.org, Katolisitas.org

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...