Tampilkan postingan dengan label santo dan santa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santo dan santa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2020

Santo Vinsensius De Paul, Bapa Kaum Miskin

Salve, sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, tahukah kamu betapa pentingnya nama dan teladan hidup para orang Kudus ini bagi kita orang Katolik? Salah satu yang paling kongkrit adalah; pada saat kita dibaptis menjadi manusia baru dan menjadi anggota Kristus dalam Gereja Kudusnya, 

kita diberikan nama baptis sebagai tanda bahwa kita sudah bergabung menjadi murid-murid Tuhan Yesus. Dalam Hukum Kanonik Gereja Katolik, kita diharuskan mengambil nama yang menggambarkan semangat Kristiani.

Kebanyakan orang Katolik mengambil nama baptis dari nama Orang Kudus yang pestanya dirayakan pada hari kelahiran mereka. Para Kudus ini adalah murid-murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya. 

Hal ini untuk mengingatkan kita, agar hidup kita meneladani kehidupan orang Kudus yang namanya kita ambil itu. Juga merupakan sebuah berkat, karena sebagai pelindung kita, mereka berkenan membagi harta rohani yang sudah mereka terima dari Tuhan Yesus untuk kita.

Menurut Hukum Kanonik Gereja 1983, nama baptis orang Katolik tidak harus dari nama-nama orang Kudus. Tapi setidaknya jangan sampai nama kita asing dari citarasa Kristiani ya...

Santo Vinsensius de Paul

St. Vincent lahir pada 24 April 1581 di Pouy, provinsi Guyenne and Gascony, Perancis. Vincent berasal dari keluarga petani miskin. Ia memiliki 4 saudara dan 2 orang saudari. Pada usia muda, Vincent  sudah menunjukkan bakat dalam membaca dan menulis. Di usia 15 tahun, ayahya mengirim dia bersekolah dan membiayai sekolahnya dengan menjual sapi milik keluarganya.

St. Vincent belajar Humaniora Dax, Prancis, di Cordeliers dan lulus dalam Teologi di Toulouse. Dia ditahbiskan pada tahun 1600 pada usia sembilan belas tahun. Vincent tinggal di Taoulose sampai ia pindah ke Marseille. Pada tahun 1605, dalam perjalanan ke Marseille, kapal St. Vincent dibajak dan ia ditangkap bajak laut, yang kemudian membawanya ke Tunisia. 

Disana pastor Vincent dijual sebagai budak dan hidup selama 2 tahun sebagai budak seorang Kristen murtad. Pada suatu saat, istri sang tuan, membantunya dan semua budak-budak di rumah itu untuk melarikan diri.

Vincent de Paul lolos dari perbudakan pada tahun 1607 dan kembali ke Prancis. Ia lalu dikirim ke Roma untuk melanjutkan studi sampai tahun 1609.

Setelah menyelesaikan studinya, Vincent kembali ke Prancis dan diberikan jabatan penting sebagai guru anak-anak orang kaya dan hidup dengan nyaman. Hingga suatu hari Vincent diminta memberi sakramen terakhir untuk seorang petani miskin yang sedang menghadapi ajalnya. 

Di hadapan banyak orang, petani itu mengatakan betapa buruknya pengakuan-pengakuan dosa yang sudah ia buat di masa silam. Tiba-tiba, pastor Vincent sadar akan mendesaknya kebutuhan kaum miskin di Prancis akan pertolongan rohani. Pastor Vincent kemudian mulai berkotbah kepada mereka dan orang beramai-ramai datang mengaku dosa. 

Pada akhirnya ia memutuskan membentuk Kongregasi Iman yang secara khusus bekerja di antara para fakir miskin, yang kemudian dikenal dengan nama Kongregasi Misi atau Vincentian atau Lazarites atau Lazarians.

Sangat banyak karya amal yang dilakukan St. Vincent hingga rasanya tidak mungkin bagi seseorang melakukan semua hal yang sudah dilakukannya. Ia juga memberi perhatian kepada para narapidana yang bekerja di kapal-kapal pelayaran.

St. Vincent bersama Santa Louise de Marillac mendirikan Kongregasi Suster-suster Puteri Kasih (PK). Mendirikan rumah-rumah sakit serta wisma-wisma bagi anak-anak yatim piatu serta orang lanjut usia. 

Ia mengumpulkan sejumlah besar uang untuk disumbangkan ke daerah-daerah miskin dan mengirimkan para misionaris ke berbagai negara.


Meskipun begitu banyak kemurahan hati yang sudah dilakukannya, ia mengatakan dengan rendah hati bahwa sifat dasarnya bukanlah demikian. “Jika bukan karena kasih karunia Tuhan, aku ini seorang yang keras, kasar dan mudah marah”.

Spiritualitas St. Vincent de Paul adalah kesederhanaan, kerendahan hati, kelembutahan hati, matiraga dan semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan menariknya ke dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Vinsensius de Paul wafat di Paris pada tanggal 27 September 1660. Ia dinyatakan Kudus pada 16 Juni 1737 oleh Paus Klemens XII. Perayaan untuk Santo Vincent dirayakan setiap tanggal 27 September.

Nah, siapa disini yang nama baptisnya Vinsensius? Semoga semangat imanmu juga bisa seperti teladan spiritualitas hidup Santo Vincent de Paul...

sumber: kataombe.org.com dan wikipedia

Minggu, 17 November 2019

Santa Rita de Cassia, pembawa Damai La Vendetta

Salve sahabat Kristus.... Pada bagian ke-empat kisah hidup Santo dan Santa yang jasadnya tetap utuh sampai sekarang, kita akan bercerita tentang Santa Rita de Cassia.

Jujur, sebenarnya sampai sekarang, sebelum saya mulai mencari tahu tentang para Kudus Katolik untuk menulis kisahnya, yang saya kenal santo dan santa dari kecil hanya beberapa. Saya sangat terpesona begitu tahu bahwa ternyata ada banyak sekali orang Kudus Katolik. 

Bukan karena mereka sudah suci dari lahir. Malah ada yang masa lalunya buruk sekali, tapi begitu mereka mengenal Tuhan Yesus dan dipulihkan, hidup mereka langsung berubah seolah terlahir kembali menjadi baru.

Dan mereka benar-benar taat sampai wafat. Sehingga Tuhan Allah berkenan memuliakan dan memberi pahala atas kesetiaan itu dengan mujizat yang dinyatakan pada seluruh umat manusia di seluruh dunia ini. Sungguh besar dan mulianya Tuhan Allah yang kita puji dan sembah. 

Mari datang lebih dekat dan mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Betapa baik Tuhan Allah kita yang menyebut diri-Nya Bapa bagi kita umat-Nya dan Dia benar-benar memperhatikan kita seumpama seorang Bapa merawat anak-anaknya. 

Mana ada tuhan lain sebaik Dia?? Kalau mau bicara soal kebaikan dan kasih setiaNya yang tidak berkesudahan ini, berjilid-jilidpun tidak akan habis, saya siap jadi saksi-Nya karena Dia sungguh baik bagi saya. 

Santa Rita De Cassia

Lahir pada tahun 1381 dengan nama Margherita di kota Rocaporena, Umbria, Italia. Orang tua Santa Rita adalah penganut Katolik yang taat. Saking salehnya keluarga ini, mereka dijuluki sebagai ‘Keluarga Pembawa Damai Kristus’ (Conciliatore di Christo). 

Cita-cita Rita untuk masuk biara di usia 15 tahun tidak direstui orang tuanya, karena mereka sudah menjodohkan Rita dengan Paolo Manchini. Walau berat hati, Rita tetap menikah dengan Paolo kemudian dikaruniai 2 orang putra.

Paolo ini ternyata adalah seorang penjahat yang banyak sekali musuh. Dia juga sangat kasar, sering menganiaya dan memaki Rita. Tapi Santa Rita tetap setia menjalani hidupnya dengan sabar dalam penderitaan. 

Berkat doa-doa dan ketabahannya, suaminya bertobat dan menyesali kajahatannya. Ia berusaha memperbaiki hidupnya kembali ke jalan Tuhan. Tentu saja ini sangat membahagiakan Rita.

Namun, karena permusuhan turun-temurun (La Vendetta; hal ini sering terjadi di Italia) antara keluarga sang suami dan keluarga Chiqui yang memanas, Paolo ditikam sampai mati oleh keluarga Chiqui. 

Rita sangat terpukul, tapi dengan tegas ia memaafkan pelaku dan berusaha agar kedua putranya juga mengampuni pembunuh ayah mereka. Tapi dendam membara telah membakar keduanya. 

Santa Rita berdoa kepada Tuhan memohon agar kedua putranya terbebas dari dendam dan tidak melakukan pembunuhan. Dalam beberapa bulan, kedua putranya sakit parah. 

Rita merawat mereka dengan penuh cinta dan berusaha meyakinkan mereka untuk melupakan dendamnya. Sebelum meninggal kedua putra Rita memaafkan pembunuh ayah mereka dan meninggal dalam kedamaian.

Kisahnya tidak berakhir disini ya gengs, setelah menjadi janda dan ditinggal anak-anaknya, Santa Rita ingin sekali memenuhi kerinduannya dari dahulu untuk menjadi biarawati biara Santa Maria Magdaleda di Cascia. 

Namun niatnya tidak diterima pihak biara, walaupun sebenarnya mereka sangat mengagumi semangat religius dan kesalehan hidup Santa Rita. 

Karena mereka mempertimbangkan masa lalu Rita dimana ada ‘La Vendetta’ dan pembunuhan terhadap sang suami. Apalagi ternyata, dalam biara tersebut ada beberapa wanita dari keluarga Chiqui.

Pihak otoritas biara kemudian memberikan syarat, Rita boleh masuk biara kalau dia berhasil mendamaikan La Vendetta antara keluarga suaminya dan keluarga Chiqui. Tugas yang mustahil kan beb, sama saja dengan menolak Rita masuk biara. 

Rita tidak menyerah, ia berdoa dengan sungguh-sungguh memohon bantuan para kudus dan doanya dikabulkan. santa Rita berhasil mendamaikan konflik berdarah antara keluarga yang sudah berlangsung beberapa dekade.

Santa Rita kemudian diterima, ia tinggal selama 40 tahun dalam biara, mengabdikan dirinya dalam doa kontemplasi dan bekerja untuk perdamaian di wilayah itu. 

Ia memiliki devosi yang amat mendalam kepada Yesus tersalib. Suat hari, ketika sedang berdoa, Santa Rita memohon kepada Tuhan Yesus agar ia diijinkan merasakan penderitaan-Nya. 

Tiba-tiba sebuah cahaya memancar dari mahkota duri di kepala Yesus, menusuk keningnya dan menimbulkan luka yang tidak tersembuhkan. 

Selama 15 tahun luka ini mengalami pendarahan dan tidak tersembuhkan. Karunia ini sangat membahagiakan Santa Rita, karena ia diperkenankan Tuhan Yesus merasakan penderitaan-Nya.

Santa Rita wafat pada 22 Mei 1457, di usia 76 tahun. Jenasahnya yang sampai sekarang masih utuh disemayamkan di Basilika St. Rita de Cascia. Santa Rita adalah Santa pelindung perkawinan dan kasus yang mustahil.

Pesta perayaannya diperingati setiap tanggal 22 Mei. Santa Rita dikanonisasi oleh Paus Leo XIII pada tanggal 24 Mei 1900.

Referensi: katakombe.org

Sabtu, 16 November 2019

Santa Imelda Lambertini, Pelindung Anak Calon Komuni I

Salve sahabat Kristus.... Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Kisah hidup Santo dan Santa yang Jasadnya masih utuh sampai sekarang. Sebelumnya kamu harus tahu, saya mengambil kisah-kisah ini dengan referensi dari beberapa web rohani. 

Seperti apapun proses kehidupan dan kematian para santo dan santa ini, mereka telah mengalami sukacita besar di Surga bersama Allah Bapa dan Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi kita yang membaca kisah mereka harus bersukacita juga. 

Sekali lagi, tentu saja fenomena tidak hancurnya jasad para Kudus ini tidaklah diterima begitu saja atau selalu menjadi pro kontra bagi sebagian orang. Tapi itu bukanlah masalah kita ya bebs, biarlah itu menjadi masalah mereka dengan Tuhan. 

Bagi kita umat Katolik yang percaya, ini hanyalah satu dari sekian banyak cara Allah Bapa menunjukkan mujizat dan kuasa-Nya kepada umat yang dikasihi-Nya. 

Santa Imelda Lambertini

Imelda lahir di Bologna, Italia pada tahun 1322. Ayahnya Count Egano Lambertini adalah bangsawan militer di Bologna. Terlahir sebagai puteri tunggal dari keluarga bangsawan membuat Imelda dididik layaknya puteri-puteri bangsawan pada jamannya, tapi dengan berpegang pada iman Katolik. 

Keluarga Lambertini sangat taat pada ajaran Katolik. Imelda kecil sudah diajarkan membuatkan makanan dan pakaian untuk orang miskin.

Di usia 5 tahun, Imelda secara mendadak memohon kepada ayahnya agar ia diijinkan menerima Komuni Suci. Tentu saja hal ini tidak boleh, karena pada masa itu menerima Komuni Suci hanya jika sudah berusia 14 tahun. Imelda sangat kecewa, tapi ia tetap percaya bahwa waktunya untuk menerima Komuni Suci sudah dekat.

Nah di usia 9 tahun, meski sangat sedih ayahnya mengijinkan Imelda menjadi calon biarawati di Biara Dominikan, Val di Pietra, dekat Bologna. Imelda sangat senang menerima jubah biara, dia berpikir dengan begitu pasti akan diijinkan menerima Komuni Suci. 

Imelda sangat suka membaca tentang kisah para Kudus, terutama Santa Agnes, ia merasa Santa Agnes tidak jauh berbeda dari dirinya. Karena kekaguman dan kerinduannya, Santa Agnes berkenan menampakkan diri pada Imelda dan memberikan dia pemahaman tentang rahasia-rahasia surgawi. Imelda sangat bersukacita.

Santa Imelda tidak pernah berhenti memohon agar segera diijinkan menerima Komuni Suci. Di tahun 1333, di usinya yang ke-11 tahun, Tuhan Yesus secara ajaib menjawab kerinduannya. 

Saat itu perayaan misa Kenaikan Tuhan Yesus. Imelda memohon kepada para suster agar dia boleh menerima Komuni, tapi dengan lembut para suster menolak. 

Setelah misa selesai, karena sedih, Imelda berlutut di pojok tempat doa dan dia menangis. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi aroma surgawi, sebuah Hosti Kudus keluar dari Tabernakel, melayang-layang di atas kepala Imelda. 

Saat itu semua orang menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri berkenan mengantar tubuhnya secara luar biasa kepada Imelda.

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalag-halangi mereka.” Lukas 18:16

Kata-kata Yesus itu bergema dalam hati sang Imam pemimpin misa, ia segera menganggukkan kepala dan memberi ijin. Santa Imelda tersenyum dengan penuh sukacita menyambut tubuh Tuhan. 

Saat itu juga ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Tuhan Yesus yang selama ini dirindukannya tidak hanya mengantar tubuh-Nya yang mulia tapi juga menjemput Imelda pulang ke surga.

Santa Imelda dimakamkan di Gereja St. Sigimundo, Bologna. Ia dibeatifikasi pada tahun 1826 oleh Paus Leo XII dan dimaklumkan menjadi Santa Pelindung anak-anak Calon Penerima Komuni Suci Pertama. 

Sahabat Kristus yang punya anggota keluarga yang akan menerima Sakramen Komuni Pertama, bisa menceritakan kisah ini pada mereka, serta bersama-sama berdoa kepada Yesus melalui perantaraan Santa Imelda Lambertini. Pesta Santa Imelda Lambertini dirayakan pada tanggal 12 Mei.


Referensi: katakombe.org


Santa Clara dari Asisi


Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa fenomena tidak hancur atau membusuknya jasad Orang Kudus, yang telah meninggal puluhan tahun lalu, merupakan satu dari sekian banyak cara Allah Bapa menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya. Dan Santa Clara dari  Asisi adalah salah satunya.

St. Clara dilahirkan pada tahun 1193 di Asisi, Italia. Dilahirkan sebagai puteri keluarga bangsawan tentu saja Clara menerima pendidikan yang layak kala itu sebagai seorang puteri. Pendidikan agama, bahasa, berbagai ketrampilan dan menulis. 

Clara sangat cerdas dan terampil. Hal ini diketahui dalam kesaksian proses kanonisasi, Clara sering membuat Colporal, kain penutup altar, sepatu dan sendal. Dia juga orang yang tegas, ia menolak dijodohkan seperti layaknya para wanita muda di jaman itu.

Di usia 18 tahun, Clara terpesona dengan kotbah St. Fransiskus dan hatinya berkobar untuk meneladani cara hidupnya. Ia ingin hidup miskin dan rendah hati demi Tuhan Yesus. 

Setelah merencanakan dengan matang selama 1 tahun lamanya dan mendapat restu dari Uskup Asisi kala itu, Uskup Guido, suatu malam St. Clara melarikan diri dari rumahnya. 

Pada malam itu juga, di sebuah Kapel kecil Partiuncula, Clara menerima jubah coklat seperti yang dikenakan St. Fransiskus dan pengikutnya. St. Fransiskus sendiri memotong rambut Clara dan memberikan kerudung kepadanya.

Tentu saja ayah Clara berusaha berbagai cara untuk membawanya pulang. Tapi ia tetap teguh pada cita-citanya. Untuk sementara waktu, Clara tinggal bersama biarawati Benediktin. 

Sampai jumlah mereka sudah lebih banyak dan mendapat hadiah sebuah kompleks kecil dari Uskup Guido tidak jauh dari kota Asisi, St. Clara membentuk sebuah komunitas biarawati yang berpedoman pada pola hidup St. Fransiskus yakni Ordo Santa Klara (Klaris) OSCI.

Tidak lama setelah itu, adiknya, Agnes yang berusia 15 tahun bergabung dengannya. St. Clara dan para biarawatinya menjalani pola hidup asketis yang ketat. 

Mereka tidak mengenakan sepatu, tidak makan daging, tinggal di rumah sederhana dan tidak berbicara hampir sepanjang waktu. Namun demikian mereka sangat berbahagia karena merasa sangat dekat dengan Tuhan Yesus.

Suatu ketika, kota Asisi diserang pasukan prajurit beringas dan kejam. Mereka sudah merencanakan menyerang biara terlebih dahulu. Kala itu, St. Clara sedang sakit parah tapi beliau meminta dibopong ke altar kapela. Ia berlutut dan menempatkan Sakramen Mahakudus di tempat yang terlihat oleh para prajurit. 

Kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi”. Terdengarlah sebuah suara dari dalam hatinya: “Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku”. Bersamaan dengan itu suatu kegentaran meliputi para prajurit dan mereka lari pontang-panting.

St. Clara menjadi pemimpin di biaranya selama 40 tahun, 29 tahun dalam masa itu dilewatkannya dalam kondisi sakit parah. Meski demikian, ia menyatakan bahwa ia penuh sukacita karena melayani Tuhan.

“Kata mereka kita ini terlalu miskin. Tapi dapatkah satu hati yang memiliki Allah yang Mahakuasa sungguh-sungguh miskin?” St. Clara.

St. Clara wafat pada 11 Agustus 1253, 2 tahun setelah itu dinyatakan Kudus oleh Paus Alexander IV.

Menurut cerita, St. Clara memiliki visi mampu melihat kejadian yang akan menimpah seseorang meskipun orang tersebut tinggal sangat jauh darinya. Itu sebabnya St. Clara dijadikan sebagai Santa pelindung bagi para penderita penyakit atau kelainan pada mata. 

Jika ada di antara sahabat Kristus punya keluhan seperti itu, berdoalah kepada Tuhan dengan perantaraan St. Clara. Tentu saja harus diikuti dengan keyakinan dan iman yang teguh. Berdoalah tanpa jemu, sampai Tuhan mengabulkan doamu. Seperti kisah janda miskin dan hakim yang lalim dalam Injil Lukas. 

Bukankah Allah akan membenarkan orang pilihannya yang siang malam berseru kepadanya. Lukas 18:7

Sampai sekarang jasad St. Clara tetap utuh dan disemayamkan di ruang bawah tanah St. Chiara, Italia. 
Pesta St. Clara dirayakan setiap tanggal 11 Agustus. St. Clara dari Asisi dikanonisasi oleh Paus Alexander IV pada 26 September 1255.

Referensi: katakombe.org, ofm.or.id

Kisah Hidup Santo Silvanus, Martir Kristus

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, dalam blog ini saya ingin menceritakan kisah hidup 25 orang Santo dan santa yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah meninggal berpuluh2 bahkan ratusan tahun yang lalu. 

Mungkin kisahnya tidak mendetail ya, karena ada yang hidup di zaman yang sama sekali belum ada alat atau apapun yang menunjang orang untuk mencatat sejarah. 

Tapi banyak sekali contoh hidup mereka yang bisa kita ikuti ya geng’s... betapa mereka sangat taat dan mencintai Allah lebih dari hidup mereka sendiri. Banyak orang menyangsikan hal ini dengan mengatakan bahwa jasad mereka memang sengaja diawetkan. 


Tetapi kalau ditelurusuri secara nalar hal itu juga tidak mungkin, fenomena ini juga tidak serta merta diterima oleh para pembesar Gereja Katolik ya gengs... Butuh penyelidikan bertahun-tahun dengan proses yang rumit dan panjang.



Para santo dan santa ini sudah wafat dan dikuburkan tapi kuburnya digali kembali bertahun-tahun kemudian. Saya rasa alasan penggalian adalah untuk proses Kanonisasi dan disaksikan oleh pejabat gereja yang menyelidiki proses tersebut. 


Tuhan mengijinkan tubuh para orang Kudus-Nya tidak binasa untuk menunjukan kebesaran kasih dan rahmat-Nya yang mampu mengatasi maut dan kebinasaan. Soal ini, sebagai orang Katolik, kita juga diyakinkan dalam 


Mazmur 16:10 "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan"

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya. Bagi orang yang percaya hal ini bukanlah yang utama, tapi bagi yang tidak percaya tanda sebesar apapun tidaklah cukup.


Santo Silvanus

Santo Silvanus berasal dari Roma Italia, merupakan salah seorang dari 7 putra Santa Felisitas yang menjadi martir pada masa penganiayaan Kaisar Antonius Pius di Kota Roma. Ayah dan Ibunya adalah keluarga bangsawan Romawi yang telah dibaptis menjadi Kristen. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya, Santa Felisitas, mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan dengan berdoa dan berkarya bagi orang-orang miskin. Teladan baik keluarga ini menghantarkan banyak orang menjadi Kristen pula.

Tentu saja hal ini membuat banyak imam-imam kafir menjadi marah dan melaporkan keluarga ini kepada Kaisar Antonius Pius. Mereka mengatakan bahwa Felisitas dan anak-anaknya adalah musuh negara dan membuat dewa-dewa murka. Maka Kaisar memerintahkan agar Felisitas dan 7 putranya ditangkap. 


Santa Felisitas tetap tenang ketika dibawa ke hadapan Gubernur. Sia-sia saja membujuk mereka untuk menyangkal imannya kepada Tuhan dengan mempersembahkan korban kepada para dewa. 


Akhirnya sang Gubernur dengan marah berseru: "Perempuan celaka! Jika engkau ingin mati, matilah! Tetapi janganlah engkau membinasakan anak-anakmu pula."

Jawab Santa Felisitas: "Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya, jika mereka seperti saya, mengutuk dewa-dewa berhala dan mati bagi Tuhan." Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan putera-puteranya dihukum mati dengan keji. 


Seorang mati dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas ditenggelamkan. Tujuh orang martir putera-putera Santa Felisitas yang gagah berani itu adalah: St. Alexander, St. Vitalis, St. Martialis, St. Januarius, St. Felix, St. Filipus dan St. Silvanus.

Empat bulan kemudian ibu mereka, St. Felisitas, juga menerima mahkota kemartirannya dengan dihukum pancung. Kisah keluarga martir ini mengingatkan saya akan cerita di Kitab 2 Makabe bab 7, tentang seorang ibu bersama tujuh orang puteranya yang dibunuh secara keji pada jaman pemerintahan Raja Antiokhus karena berani membela imannya kepada Tuhan. 


Mereka tetap taat memegang perintah Allah semesta alam yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Saya tidak tahu apakah ini kisah yang sama, tapi dari cara kematian mereka sangat berbeda.

Santo Silvan adalah pelindung bari para pelayan dan pembantu rumah tangga. Jika pekerjaanmu adalah pelayan dan membantu di rumah tangga, kamu bisa berdoa pada Tuhan dengan perantaraan St. Silvanus ketika kamu menemui kesulitan dalam pekerjaanmu. 


Jasad St. Silvan sampai sekarang masih utuh dan ditempatkan di Gereja St. Blaise di Dubrovnik, Kroasia. Pesta St. Silvan dirayakan setiap tanggal 10 Juli.

Referensi : Katakombe.org, Katolisitas.org

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...