Selasa, 17 November 2020

SANTO PETER JULIAN EYMARD, Pendiri Konggregasi Sakramen Mahakudus dan Konggregasi Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria..

Saat ini kita telah memasuki bulan ke-9 masa-masa menyebarnya Virus Corona di negara kita, bahkan di seluruh belahan dunia.

Melalui blog ini saya mengirimkan doa dan dukungan untuk sahabat semua, semoga kita tetap kuat bertahan dengan mengandalkan iman kita kepada Tuhan Yesus ya… Ingatlah, ketika semua terasa sulit bagi kita, bagi Tuhan Yesus semua hal sangatlah mudah.

Mazmur 119:50 “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.”

Nah, kisah kita di part ke-13 ini, tentang :

Santo Peter Julian Eymard

Atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Santo Petrus Yulianus Eymard. Ia dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1811 di La Mure, Prancis, sebuah wilayah Keuskupan Grenoble. Peter dibesarkan dalam keluarga miskin, ayahnya bekerja sebagai tukang memperbaiki pisau. 

Sejak awal hidupnya, sudah tertanam jelas cintanya yang besar dan gairah dalam hidupnya kepada Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Peter belajar bahasa Latin sendiri dan menerima bimbingan rohani dari seorang imam.

Suatu hari, Peter kecil yang baru berusia 5 tahun, ketika sedang dijaga kakak-kakak perempuannya, Peter tiba-tiba menghilang dari rumah. Dengan panik mereka mencarinya, dan akhirnya mereka menemukan Peter di Gereja Paroki, berdiri di atas sebuah bangku di depan Tabernakel, dan mendekatkan telinganya di pintu Tabernakel itu. 

Peter menanggapi pertanyaan cemas kakak-kakaknya dengan menjawab: “Saya disini untuk mendengarkan Yesus. Saya bisa mendengarkan-Nya lebih baik disini.”

Seperti remaja pada umumnya, Peter Julian Eymard dibesarkan oleh latar belakang keluarga dan budaya serta lingkungan sosial dan politik pada masanya. Sebelum menerima Komuni Pertama, pada usia 12 tahun, Peter menulis sebuah surat kepada Yesus yang akan dibacakannya setelah menerima Komuni Pertama.

Ia menulisnya sebagai berikut: Yesusku terkasih, aku berterima kasih atas rahmat yang Engkau berikan kepadaku, bahwa Engkau mau datang untuk tinggal di hatiku...’, doa yang singkat dan indah, bisa dijadikan doa setelah menerima komuni.

Kehidupan di Prancis selama masa awal abad ke-19 itu sangat sulit. Tahun-tahun sebelumnya, Revolusi Perancis telah secara radikal mengubah pandangan politik, sosial dan keagamaan di negara itu. Peter muda mengalami Revolusi Industri yang melanda Eropa dan menyaksikan terbitnya era romantisme dalam Seni, Musik dan Sastra.

Sejak masih muda, Peter sangat ingin menjadi seorang Pastor. Tapi ayahnya tidak setuju dengan pilihannya itu. Ayahnya tidak ingin putra satu-satunya yang ia miliki menjadi seorang Pastor. Setelah Peter akhirnya bisa masuk sekolah seminari di Grenoble, dia mengalami sakit keras dan itu memaksanya untuk meninggalkan kehidupan seminari. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, Peter sekali lagi mencoba masuk seminari. Dan pada 20 Juli 1834, Peter yang saat itu berusia 23 tahun, ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Grenoble. Ia melayani 2 paroki dan banyak umat menyadari bahwa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka semua.

Pada tanggal 20 Agustus 1839, Father Peter Julian Eymard mengikrarkan kaulnya bergabung menjadi Imam Kongregasi Serikat Maria (Marists). Pada tahun 1845 ia diangkat menjadi superior dan pembina rohani bagi seminaris Ordo Marists di Lyon, Perancis.

Meskipun terus menerus mengalami masalah gangguan kesehatan, Father Eymard adalah Pastor yang enerjik, pekerja keras dan saleh. Ia menjalanikehidupan kontemplasi dan melaksanakan berbagai tugas administrasi yang diberikan kepadanya. 

Dia adalah seorang pemimpin yang luar biasa, seorang pendidik yang bersemangat, seorang pengkotbah yang baik dan penuh persiapan, dan sosok yang sangat saleh di mata para muridnya dan bahkan atasannya.

Sepanjang hidupnya, Pastor Eymard memiliki Devosi yang dalam kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan. Dia menghormati penampakan Santa Maria di La Sette dan suka melakukan perjalanan ziarah ke berbagai tempat Penampakan Bunda Maria di Eropa. Itu merupakan karya kerasulan Pastor Eymard dalam Kongregasi Serikat Maria. 

Pastor Eymard sangat rajin memberitakan tentang devosi kepada Sakramen Mahakudus, ia memiliki cinta yang menyala-nyala pada Ekaristi Kudus. Ia amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka meluangkan waktu setiap hari melakukan adorasi kepada Sakramen Mahakudus.

Dalam suatu kesempatan, pada perayaan penghormatan pada Sakramen Mahakudus, tanggal 25 Mei 1845, Pastor Eymard mengalami kejadian rohani luar biasa yang kemudian mengubah jalan hidupnya. 

Ketika membawa Sakramen Mahakudus pada prosesi di gereja St. Paulus di Lyons, dia merasakan kehadiran Kristus yang kuat dalam Sakramen Ekaristi. Sakramen itu seolah diselubungi dengan kasih dan cahaya. 

Dalam hati Pastor Eymard memohon kerahiman dan belas kasih Tuhan Yesus menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri disentuh dalam Ekaristi dan ia memutuskan untuk “membawa seluruh dunia kepada pengetahuan dan cinta kepada Tuhan Yesus; untuk tidak mewartakan apapun selain Yesus Kristus dan Ekaristi Sakramen Mahakudus.”

Rahmat ini kemudian benar-benar menjadi pusat hidup dan energi Pastor Eymard selama beberapa tahun berikutnya. Ketika ia diberi tanggungjawab oleh Pastor Jean Claude Colin, Pendiri Kongregasi Serikat Maria, untuk menulis Regula Ordo Ketiga dari Kongregasi Serikat Maria, Pastor Eymard meminta ijin untuk menulis tentang aturan Ekaristi. 

Pastor Colin menjawab, bahwa itu bukanlah karisma dari Kongregasi Serikat Maria. Namun, ide untuk menulis aturan itu sudah tertulis di benak dan hati pastor Eymard, dan di tahun 1856, dia membuat keputusan menyakitkan, atas persetujuan dari para pembesarnya, Pastor Eymard meninggalkan Konggregasi Marists dan mendirikan sebuah konggregasi religius yang didedikasikan untuk Sakramen Ekaristi Mahakudus.

Mendirikan sebuah Kongregasi bukanlah tugas yang mudah. Kesetiaan mengikuti tuntunan Roh Kudus mendatangkan berbagai konflik dan masalahjuga kelelahan fisik. Berbagai rintangan harus dialaminya.

Ketika ia mendapatkan kesempatan bertemu Uskup Agung Paris, Marie Dominique Auguste Sibour, Pastor Eymard menceritakan Visinya. Dan Uskup Agung sangat tertarik dengan Visi Eymard tentang Mempersiapkan Komuni Pertama, khususnya bagi orang dewasa. 

Komunitas dan Organisasi Ekaristi banyak bermunculan di seluruh Perancis, banyak diantaranya hanya fokus pada berdoa dan penyembahan, tetapi Uskup Sibour meyakini bahwa Visi Pastor Eymard tidak terbatas pada Adorasi saja tapi juga untuk menjangkau semua mereka yang terasing dari gereja dan mengevangelisasi mereka.

Pastor Eymard mendapatkan persetujuan mendirikan kongregasi yang beranggotakan para imam yang beradorasi kepada Sakramen Mahakudus ini pada tanggal 13 Mei 1856. Tanggal ini kemudian dirayakan sebagai pesta berdirinya Kongregasi Sakramen Mahakudus (Congregation of the Blessed Sacrament; SSS).

Setelah pembentukan ordo para imam, pada tahun 1858,Pastor Eymard membentuk ordo para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus (Servants of The Blessed Sacrament; SJS). 

Para biarawati ini juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Karya kerasulan ini tidak berjalan baik pada awalnya. Bahkan Pastor Eymardharus berpindah dua kali karena tidak ada yang berminat pada kongregasinya.

Ia juga membentuk kelompok-kelompok dalam gereja bagi umatnya untuk mempersiapkan diri mereka menyambut Komuni Kudus Pertama. Ia menulis banyak buku mengenai Ekaristi yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Di masa pengabdiannya, pastor Eymard bersahabat dekat dengan Pastor Vianney yang kemudian menjadi Santo Yohanes Maria Vianney. Pastor Vianney bahkan mengatakan bahwa ia akan berdoa setiap hari bagi karya kerasulan pastor Eymard.

Santo Petrus Yulianus Eymard melewatkan 4 tahun terakhir hidupnya dalam penderitaan hebat. Selain karena kesehatan jasmani, juga karena berbagai masalah dan kecaman. Namun ia tetap setia dalam adorasinya kepada Sakramen Mahakudus. 

Kesaksian hidup dan pengorbanannya mendorong banyak orang menjawab panggilan hidup membiara dan bergabung dengan ordo-ordo religius.

Santo Petrus Yulianus Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 di usia 57 tahun. Ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dandikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus XXIII pada tanggal 9 Desember 1962.

Saya mendengar sebuah renungan tentang bagaimana menjadi Orang Kudus. Tentu saja selama ini kita berpikir bahwa menjadi Orang Kudus adalah sesuatu yang suci, rumit dan hanya mungkin bagi orang-orang pilihan Allah. 

Tapi renungan ini menyadarkan saya bahwa kita semua mempunyai moment atau kesempatan untuk menjadi Orang Kudus Allah. Bagaimana coba? Bukankah butuh orang yang seperti apa dulu untuk diangkat sebagai orang Kudus Allah?

Ketika kita merasakan ketenangan dan penghiburan Tuhan di tengah kesulitan hidup, ketika kita bersikap murah hati memaafkan orang lain di saat kita dikecewakan atau dikhianati, ketika kita merasa damai di tengah kekesalan, ketika kita dengan sukacita membantu orang lain tanpa memperhitungkan atau memandang apapun, 

ketika kita bahagia dalam kemiskinan, ketika kita mampu mengendalikan diri dalam kemarahan, ketika kita percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan dalam situasi apapun, moment-moment itu walau sedikit saja atau sebentar saja terasa, sebenarnya itu adalah moment dimana kita sudah menjadi Kudus.

Tinggal apakah kita mau berjuang memelihara moment seperti itu terus bertahan dalam seluruh pengalaman hidup kitadan memelihara Kekudusan sebagai tujuan hidup. Menjadi Kudus untuk lebih berbahagia dalam Tuhan.

Tetap setia pada panggilan hidup seperti yang dilakukan oleh Santo Petrus Yulianus Eymard dan memelihara moment-moment kekudusan kita walaupun sederhana tapi penuh iman kepada Tuhan Yesus.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya yah... Syalom, Tuhan Yesus memberkati...

Rabu, 14 Oktober 2020

SANTA YOAKIMA VEDRUNA VIDAL DE MAS, Muder of Charmelite Sisters of Charity

 

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria….

Beberapa minggu terakhir, dunia dikejutkan dengan berita terpilihnya seorang pemuda milenial dari Asisi menjadi orang Kudus Allah, Beato Carlo Acutis. Sang Beato muda yang dibeatifikasi pada tanggal 10 Oktober 2020 ini ditampilkan dengan mengenakan baju kaos, celana jins, tas ransel, kamera dan laptop, khas orang muda milenial. 

Seperti pemuda biasa pada umumnya, dia tetaplah seorang anak muda belasan tahun yang suka  bermain bola dan berkumpul dengan teman2nya.

Dia adalah anak korban perceraian, korban bully di sekolahnya dan punya banyak teman-teman yang disabilitas. Ia mempersembahkan seluruh penderitaan yang dialaminya bagi gereja dan Paus Benediktus XVI. 

Beato Carlo meninggal di usia 15 tahun karena kanker Leukimia. Seluruh talenta yang diberikan Tuhan padanya, ia gunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Saya melihat banyak orang Kudus Allah yang berasal dari kalangan orang muda, ada Santa Bernadeta Soubirus, Santa Maria Goreti, Santa Theressa dari Lissieux dan masih banyak lagi. Betapa mulianya pilihan hidup mereka ya… 

Di usia, dimana kebanyakan orang lebih memilih bersenang-senang dengan hoby dan pergaulan, mereka memilih mempertahankan kemurnian dan hidup hanya untuk kemuliaan Allah saja.

Kisah kita kali ini, tidak ada sangkut pautnya dengan orang muda ya, malah ini adalah kisah seorang ibu dengan 9 orang anak yang kemudian menjadi Orang Kudus Pilihan Allah.

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Terlahir pada tanggal 16 April 1783 di Barcelona, Spanyol. Ayahnya bernama Don Lorenzo de Vedruna, adalah seorang yang bekerja pada kerajaan dan ibunya bernama Teresa Vidal. 

Yoakima dibaptis pada tanggal kelahirannya di Gereja Santa Maria del Pi. Santa Yoakima adalah Orang Kudus Spanyol dan pendiri Charmelite Sisters of Charity atau Suster-suster Cinta Kasih Karmel.

Pada usia 12 tahun, Yoakima menyatakan keinginannya untuk menjadi biarawati Karmelit, tapi orangtuanya menolak karena merasa dia belum cukup dewasa untuk membuat keputusan seperti itu bagi masa depannya. 

Ia menjalani masa kecilnya dalam kesalehan, Yoakima menjalani Devosi khusus kepada bayi Yesus dan sangat terobsesi menjaga kemurniannya. Yoakima menerima Komuni Pertamanya pada usia 9 tahun di tahun 1792.

Sebagaimana kebiasaan para aristrokat bangsawan Spanyol di masa itu, Yoakima dijodohkan oleh orangtuanya dengan pemuda bangsawan. Diceritakan bahwa, Teodoro de Mas adalah seorang pengacara dan pemilik tanah yang juga sahabat dari Don Lorenzo. 

Ia sebelumnya ragu-ragu memutuskan siapa dari ketiga putri Don Lorenzo yang harus dinikahinya. Teodoro menghadiahkan kepada ketiga putri sahabatnya ini masing-masing 1 kotak kacang almond. 

Dua putri tertua menolak dan mengatakan itu adalah hadiah yang kekanak-kanakan, namun Yoakima menerima hadiah itu sambil berkata ‘Saya suka kacang almond’. Saat itulah Teodoro menetapkan pilihannya pada Yoakima.

Pada tanggal 24 Maret 1799, Yoakima dan Teodora de Mas menikah dan diberkati dengan 9 orang anak. Pasangan suami istri ini terkenal sebagai pasangan Katolik yang saleh. Mereka menjadi anggota  setia Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi dan senantiasa hidup sesuai regula ordo tersebut. 

Inilah mengapa Yoakima dikenal sebagai ‘Santa Yoakima dari Santo Fransiskus Asisi’. Kelak empat orang putri mereka menjadi biarawati, 2 putra mereka menikah dan menjadi awam Katolik yang saleh dan 3 anak yang lain meninggal dunia ketika masih kecil.

Pada tahun 1808, Kaisar Napoleon Bonaparte menyerang kerajaan Spanyol. Invasi yang terkenal dengan nama ‘The Peninsula War’ ini menyebabkan Yoakima beserta keluarganya harus melarikan diri tapi suaminya berkeras tetap berjuang dalam perang sebagai relawan melawan tentara Perancis dan ia meninggal pada tanggal 6 Maret 1816 akibat luka-luka yang didapatnya dalam sebuah pertempuran.

Beberapa bulan kemudian, bersama anak-anaknya, Yoakima pindah dari Barcelona ke tanah milih keluarga de Vedruna yang disebut ‘Manso Escorial’ di kota Vic, sekitar 70 kilometer jauhnya dari Barcelona. Yoakima mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghabiskan waktunya dalam doa. 

Ia selalu mengenakan jubah ordo ketiga Fransiskan dan mulai melakukan karya amal merawat orang-rang sakit. Pembimbing rohaninya, seorang imam Kapusin bernama Esteban de Olot, mengagumi semangat pengabdian Yoakima dan menyarankan dia untuk mendirikan sebuah Kongregasi Apostolik yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.

Hal ini mendapat dukungan penuh dari Uskup Vic, Pablo Jesus Corcuera, yang kemudian menyarankan agar kongregasinya mengadopsi regula ordo Karmel. Yoakima mengangkat sumpahnya di hadapan Uskup Pablo pada tanggal 6 Januari 1826. Uskup ini juga kemudian merumuskan dan menulis regula bagi konggregasi tersebut.

Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity resmi berdiri pada tanggal 6 Februari 1826. Dan di pagi hari 26 Februari, Yoakima bersama 8 orang wanita mengucapkan Kaul sebagai biarawati perdana di Konggregasi tersebut. 

Upacara tersebut berlangsung dalam misa pagi di Gereja biara Kapusin. Kemudian para biarawati perdana itu kembali ke ‘Manso Escorial’ dan memulai biara baru mereka.

Pada tahun-tahun awal berdiri, Muder Yoakima sering berkonsultasi dengan Santo Antonio Maria Claret, tentang cara hidup membiara dan pengelolaan konggregasi apostolik. 

Ketika perang Carlist terjadi yaitu serangkaian perang saudara di Spanyol, pada tahun 1836 Muder Yoakima pindah ke Roussilon, Perancis dan menetap disana selama 6 tahun sampai tahun 1842.

Kongregasi Karmel Suster-suster Amal ini secara resmi mendapat persetujuan dari Paus Leo XIII pada 20 Juli 1880. Ordo ini mulai menyebar ke seluruh wilayah Spanyol di Iberia dan berbagai belahan dunia. 

Para biarawati berkarya dengan mendirikan banyak rumah sakit, panti jompo dan sekolah-sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu.

Di awal tahun 1850, Muder Yoakima harus beristirahat dari tugas-tugasnya sebagai superior karena kondisi kesehatan yang memburuk.  Pada tanggal 28 Agustus 1854, Muder Yoakima meninggal dunia karena wabah Kolera yang menyerang Catalonia. Muder Yoakima dimakamkan di biara yang didirikannya di Vic, Osona, Barcelona.

Santa Yoakima dibeatifikasi pada 19 Mei 1940 di Basilika Santo Petrus, Roma, Vatikan oleh Paus Pius XII. Dan kemudian dikanonisasi oleh Paus Yohanes XXIII pada 12 April 1959.

Pada tahun 2008 Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity tercatat telah berkarya di berbagai Negara di benua Eropa, Asia, Afrika dan Amerika; mereka memiliki 280 biara dan 2012 orang biarawati.

Jesus Christ

Nah, sampai disini kisahnya ya… Ingatlah, bahwa para Kudus ini adalah contoh hidup yang layak kita teladani karena Allah telah menyatakan Kemuliaannya pada mereka. 

Berdoalah kepada Allah dengan perantaraan Orang Kudus yang kita teladani dalam hidup kita, dan tetaplah menjadikan Tuhan Yesus sendiri sebagai jalan satu-satunya bagi kita untuk sampai kepada Allah Bapa.

Minggu, 16 Agustus 2020

Santa Veronika Yuliani, Penerima Karunia Stigmata

Syalom sahabat Tuhan Yesus…

Seperti janji saya sewaktu mengawali menceritakan kisah para Kudus Allah dalam blog ini. Bahwa saya akan menceritakan tentang para Santo dan Santa yang jasadnya tetap utuh puluhan tahun kemudian ketika makam para kudus ini dibuka kembali untuk proses kanonisasi.

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, saya akan menceritakan kisah hidup 25 Santo dan santa diantaranya. Nah, menyatakan bahwa mereka menjadi Orang Kudus Allah memerlukan proses yang panjang dan rumit, yang saya sebut sebelumnya sebagai proses Kanonisasi. 

Butuh banyak sekali saksi, data dan prosedur yang panjang untuk mendapatkan pengakuan dari Gereja Katolik. Karena kita juga percaya bahwa Tuhan Allah menyatakan kebesaran-Nya dengan menginjinkan tubuh para Kudus-Nya tidak binasa juga bukanlah hal yang main-main (Ingat Mazmur 16:10).

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya bagi kita orang-orang yang percaya.

 

Santa Veronika Yuliani (Veronica de Julianis)


Santa Veronika Yuliani atau juga disebut Santa Veronika Giuliani, adalah seorang mistikus Italia terbesar abad ke-18. Mistikus adalah orang yang membersihkan batinnya agar memperoleh pengetahuan dan kenikmatan rohaniah. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha untuk menghindari kenikmatan duniawi. 

Setiap tindakan dan pikiran mereka didasarkan kepada hati nurani. Santa Veronika terlahir di Mercatello di daerah Duchy of Urbino pada tanggal 27 Desember 1660. Orangtuanya adalah Francesco Giuliana dan Benedetta ManciniVeronika dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang telah dipilih Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya selama hidupnya, ia tinggalkan dalam bentuk buku diary yang ditulisnya dibawah bimbingan rohani Bapa Pengakuannya; pastor Gerolamo Bastianelli

Yang saya akan ceritakan disini hanya sebagian kecil saja dari kisah besar yang ditulis oleh St. Veronika sendiri dalam buku diarynya. 

Sejak usia 3 tahun ia telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan menunjukkan simpatinya kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan berbagi pakaian kepada setiap orang miskin yang dijumpainya terutama anak-anak. Keluhuran dan Kasihnya yang mendalam ini semakin bertumbuh seiring bertambahnya usia. 

Ibunya, Benedetta, adalah seorang wanita saleh yang suka menceritakan kisah para Kudus Allah dan para martir kepada Ursula dan 4 saudaranya. Kisah-kisah itu membangkitkan cintanya yang besar kepada Salib dan luka-luka yang dialami Tuhan dalam penderitaan-Nya dan membuat Ursula mulai melakukan beberapa penebusan dosa yang agak berat dan berkeinginan untuk menderita karena cintanya kepada Yesus di usia yang masih sangat kecil, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Ketika Ursula berusia 7 tahun, ibunya meninggal dunia. Ursula dan 4 saudaranya menemani sang ibu menerima sakramen terakhir. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Benedetta menguduskan kelima anaknya masing-masing pada lima luka suci Yesus. 

Ursula dikuduskan dengan luka pada lambung Yesus. Di dalam buku diary yang ditulisnya, terlihat jelas bahwa Ursula memiliki ketaatan dan penghormatan yang besar pada luka-luka suci itu.

Pada usia 10 tahun, tanggal 2 Februari 1670, Ursula menerima Komuni Suci pertamanya. Ia menggambarkan sukacitanya dalam buku diary: “Sungguh menyenangkan. Saya tidak dapat menceritakan apa yang saya rasakan saat ini. 

Saya hanya merasa bahwa saat ini saya dihinggapi keinginan yang sangat kuat untuk menjadi seorang biarawati dan saya tidak dapat menahan lebih lama lagi kerinduan itu”.

Setelah memperoleh ijin dari ayahnya, pada usia 17 tahun, 28 Oktober 1677, ia bergabung dengan biara kontemplatif Kapusin di Citta di Castillo Umbria, Italia dan memakai nama Veronika. Uskup Sebastiani, yang melakukan upacara penerimaan para biarawati baru, mengatakan pada biarawati yang lain tentang Ursula; 

"Jaga gadis ini sebagai harta yang berharga karena dia akan menjadi orang suci yang agung."  Uskup ini juga yang memilih nama religiusnya, “Mulai sekarang namamu adalah Sister Veronica, yang artinya benar dan unik, yaitu, kamu dan Tuhan saja.”

Selama di dalam biara, Suster Veronika sangat taat pada atasannya. Dia juga mulai menulis buku Diarynya pada bulan April 1693 dan selesai menulisnya tiga puluh empat tahun kemudian pada tahun 1727. Dia menulis total dua puluh dua ribu halaman. 

Di tahun 1693 ini, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan (piala anggur) yang melambangkan Sengsara Ilahi. Sejak saat itu, suster Veronika mulai mengalami penderitaan spiritual yang hebat. 

“Pada saat itu saya pikir saya memiliki penglihatan tentang Tuhan, yang memimpin saya;  Saya pikir dia memegang tangan saya.  Saya bisa mendengar suara yang harmonis dan nyanyian malaikat - sebenarnya saya pikir saya berada di surga. 

Saya ingat saya dapat melihat banyak hal, tetapi semuanya tampak seperti kesenangan surgawi.  Kemudian saya melihat banyak orang suci pria dan wanita.  Saya pikir saya juga melihat Perawan Terberkati. Saya ingat bahwa Tuhan menyambut saya dengan baik.  

Dia berkata kepada semua orang: 'Ini adalah milik kita sekarang', dan kemudian Dia menoleh kepadaku dan berkata: 'Katakan apa yang kamu inginkan'.  Saya meminta rahmat-Nya untuk mencintai-Nya dan dia sepertinya mengomunikasikan cinta-Nya kepada saya saat itu juga.

Pada tahun 1694 ia mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri, lukanya nyata dan rasa sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, ia memperoleh penanganan medis, namun luka-luka itu tidak tersembuhkan. Sejak awal Suster Veronika sangat prihatin pada nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. 

Dalam salah satu tulisannya ia mengatakan: “Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu dengan menangis, tetapi saya tidak tahu apa yang saya tangisi.  Tampaknya memikirkan tentang pelanggaran yang dilakukan terhadap Tuhan dan memikirkan tentang Sengsara-Nya membuat saya menangis;  tapi saya tidak ingat dengan baik alasan untuk menangis begitu sering. 

Sepertinya saya ingat bahwa saya merasa bahwa ada orang berdosa yang keras kepala yang tidak ingin bertobat kepada Tuhan dan ini sangat menyakiti saya sehingga saya tidak dapat beristirahat siang atau malam, dan saya akan berkata kepada Tuhan, 'Ya Tuhan, di sini saya.  Saya siap untuk penderitaan apa pun selama Engkau mempertobatkan semua orang yang menyinggung Engkau. 

Ia menceritakan, terkadang ketika ia akan beristirahat, Suster Veronika mendengar seperti suara nyata yang mengatakan: 'Ini bukan waktu untuk beristirahat tetapi untuk menderita.' Iapun akan segera bangun dan berlutut di depan salib dan mulai berdoa.

Dia memiliki penglihatan tentang jiwa-jiwa yang akan jatuh ke dalam dosa dan ini membuatnya menderita dan meningkatkan penebusan dosa.  Kadang-kadang sebagai hadiah, Yesus akan memberi tahu dia tentang jiwa-jiwa tertentu yang telah bertobat dan kembali kepada-Nya.  

Di lain waktu, Yesus akan memberi tahu dia tentang orang berdosa tertentu yang perlu dia doakan. Kerinduannya untuk menjadi perantara bagi Tuhan dan orang berdosa membuatnya sering melakukan Doa dan puasa yang berat. Suster Veronika juga sering melakukan Jalan Salib pribadi dengan membawa salib yang berat mengelilingi taman di tengah segala macam cuaca buruk.

Sama seperti yang dialami jiwa-jiwa lain yang dekat dengan Tuhan, St. Veronikapun melewati banyak sekali gangguan dan godaan dari si jahat, ia menyebutnya ‘si penggoda’. Semua gangguan itu ia rasakan sejak ia masuk biara dan terutama yang terberat adalah selama ia menulis buku diarynya. 

Terkadang gangguan itu bahkan nyata dalam bentuk serangan fisik. Ia menulis: “Ketika saya melakukan penebusan dosa, tampaknya neraka terpecah.  Saya mendengar suara-suara, jeritan, desisan seolah-olah dari ular.  Pada akhirnya saya sepertinya mendengar banyak suara kebingungan, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan.  

Saya hanya ingat bahwa pada akhirnya mereka berkata, 'Terkutuklah kamu.  Kami akan membuatmu membayarnya. 'Seperti yang mereka katakan ini, ruangan saya dibakar, tapi hanya sesaat."

‘Si Penggoda’ bahkan menunjukkan padanya tentang neraka. “Sepertinya saat itu saya mendengar jeritan dan suara ratapan.  Saya hanya melihat monster neraka, banyak ular, banyak binatang buas, dan bau busuk dan api yang sangat panas, yang begitu besar sehingga tinggi mereka tidak dapat diukur.  

Saya hanya bisa membandingkannya dengan jarak antara langit dan bumi.  Sejauh ukuran tempat itu, orang tidak bisa melihat awal atau akhirnya.  Saya bisa mendengar banyak hujatan dan kutukan terhadap Tuhan.

Visi ini membuat Veronika menawarkan dirinya sebagai korban Keadilan Ilahi: "Tuhanku, aku menawarkan diriku untuk berdiri di sini sebagai pintu masuk, sehingga tidak ada jiwa yang bisa masuk ke sana dan kehilangan Engkau."  

Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Selama saya berdiri di ambang pintu ini, tidak ada yang akan masuk.  O jiwa-jiwa, kembalilah!  Tuhanku, aku tidak meminta apapun selain keselamatan orang-orang berdosa kepadaMu.  Kirimkan aku lebih banyak rasa sakit, lebih banyak siksaan, lebih banyak salib!”

Selama lima belas tahun terakhir hidupnya, Suster Veronika sakit parah. Sebuah lukisan Our Lady of Sorrows’ yang tergantung di kamarnya menjadi hidup, dan Santa Perawan Maria sendiri mendiktekan kepadanya bab-bab terakhir dari Diary yang ditulisnya

Ia dikaruniai berbagai rahmat yang tidak dimiliki orang lain pada umumnya, seperti: penglihatan-penglihatan dan kemampuan bernubuat. Di masa-masa terakhir hidupnya ia menulis tentang rahmat yang diperolehnya dari Tuhan Yesus: “Tiga kali Dia memelukku dengan menyenangkan, dengan melepaskan tangan-Nya dari salib dan memelukku di sisi-Nya;  5 kali Dia memberi saya minum dari air yang mengalir dari lambung-Nya itu;  

15 kali Dia membasuh hatiku dengan Darah-Nya yang mahal, yang keluar dari lambung-Nya seperti sinar dan menyentuh hatiku; 12 kali Dia menyelidiki hatiku dan memberi saya rahmat untuk memurnikannya dan membuang semua kotoran, kebusukan, ketidaksempurnaan dan sisa dosa saya;  

9 kali Dia menyuruhku menyentuh luka-luka Kudus-Nya;  200 kali dia memeluk jiwaku sangat menyenangkan dengan cara yang khusus, tidak termasuk yang lain yang Dia berikan terus-menerus;  dan 100 luka penuh kasih yang Dia buat dalam hatiku, secara rahasia."

Sekitar tahun 1714-1715, karena memiliki devosi yang begitu besar pada ‘Santa Perawan Maria Terberkati’, bapa pengakuannya memintanya untuk melakukan perjalanan ke ‘Gua Maria Perawan Terberkati di Loreto’ dengan bantuan Tuhan.  

Pastor Mario Cursoni, salah satu pastor yang memberinya pengakuan dosa, menceritakan, bahwa saat itu suster Veronika berdoa kepada Tuhan dan meminta untuk memberinya perjalanan ziarah mistis ke Tempat Suci Loreto dan ia sungguh-sungguh memperoleh perjalanan mistis itu. 

Bahkan, suster Veronika mampir di pertapaan Monte Corona, di mana pada saat itu  pastor  Crivelli sedang melakukan latihan spiritualnya; dari sana suster Veronika dibawa ke gereja Perawan Suci Maria para Malaikat, ke Gereja St. Nicholas dari Tolentino, dan akhirnya sampai ke Tempat Suci Loreto untuk mengambil Komuni Suci.  

Suster Veronica dibawa ke tempat-tempat itu dalam penglihatan oleh seorang malaikat. Pastor Mario Cursoni mengatakan: “Ketika saya menanyainya tentang perjalanan ini, dia menjawab bahwa Tuhan telah menganugerahkannya kesempatan untuk berziarah ke tempat-tempat itu dalam suatu penglihatan. 

Dan suster Veronika menggambarkan tempat-tempat suci itu dengan detail yang akurat, bahkan saya yang telah mengunjunginya beberapa kali tidak dapat melakukan yang lebih baik."

Mulai tahun 1700 adalah tahun-tahun terberat dalam hidup suster Veronika, karena di tahun-tahun inilah ia sangat menderita karena sakitnya dan stigmata yang dialaminya. Meski menjalani kehidupan mistis supernatural ini, suster Veronika tetap menjalankan tugas kehidupan nyatanya. Suster Veronika menjadi pemimpin biara dan membimbing para novis Ordo Kapusin di Italia. 

Ia menempatkan Perawan Maria sebagai pusat dari seluruh hidupnya dan menyerahkan kunci biara itu kepada Perawan Maria Terberkati. Suatu ketika, ketika ia sedang melakukan kewajibannya ke neraka dalam rangka penebusan dosa, Suster Maria Biovanna Maggio datang bertemu dan hendak berbicara dengan Suster Veronica

Dia mengisahkan bahwa ia melihat "ekspresi agung dan luar biasa dari wajah susterVeronika."  Suster Maggio merasa terhibur oleh kata-kata dari sang kepala biara.  Kemudian ia pergi menceritakan pengalamannya itu kepada suster Florida yang di kemudian hari menjadi Beata Florida. 

Suster Florida tersenyum dan berkata, “Ingatlah bahwa hari ini suster Veronica berada di neraka berkorban untuk pertobatan para pendosa.  Orang yang bersamamu adalah Perawan Suci yang muncul menggantikan suster Veronica."  

Beata Florida (yang dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 16 Mei 1993) mengetahui dengan baik semua detail kehidupan Veronica, karena para bapa pengakuan Veronica telah meminta Veronika untuk memberi tahu Suster Florida tentang segala sesuatu dalam kehidupan rohaninya.

Santa Veronika meninggal dunia pada 9 Juli 1727 di Citta di Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII dan ditetapkan menjadi orang kudus atau dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVIPesta perayaannya diperingati setiap tanggal 9 Juli.

Kepada Beata Florida, selama hidupnya Santa Veronika telah memberitahu bahwa di hatinya terukir simbol-simbol tertentu dari hasrat dan itu telah tertulis dalam diarynya. Beata Florida kemudian membuat sketsa hati Santa Veronika dengan semua tanda yang dijelaskannya. Ketika jantungnya dibedah selama proses otopsi, terungkap adanya sayatan misterius yang berbentuk seperti garis peralatan kisah Sengsara, tujuh pedang Bunda Maria, dan sejumlah huruf.

Santa Veronica sering digambarkan memakai mahkota duri dan memegang hati yang terbakar. Selama hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk berdoa, berpuasa dan bermati raga bagi penebusan dan pertobatan orang-orang berdosa. Ia juga memperoleh luka mistik dan stigmata.

Wahhh, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bagikan tentang Santa Veronika  Yuliani. Betapa ia tetap rendah hati di tengah banyak anugerah dan berkat Tuhan dalam hidupnya. 

Saya melihat ia selalu memakai kata ‘saya pikir..’ atau ‘sepertinya..’, seolah ia mengatakan bahwa ia tidak layak mendapatkan semua karunia itu. Semoga kita semua memperoleh rahmat Keselamatan dan Pertobatan melalui doa kepada Santa Veronika Yuliani.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya ya… Syalom… Tuhan Yesus memberkati…

Kamis, 11 Juni 2020

Santo Karolus Marchioni de Sezze, Seorang Bruder yang menjadi Santo

Salve... 

Ini adalah kisah ke-sepuluh yang saya ceritakan, tentang para Kudus Allah yang jasadnya tetap utuh selama bertahun-tahun setelah kematian mereka dan ketika dibongkar saat proses Kanonisasi jasad mereka masih utuh dan segar. Menunjukkan betapa dahsyat karya Tuhan dalam diri umat kecintaannya.

Santo Yohanes Karolus Marchioni (Charles) dari Sezze

Nah, ada berbagai nama atau sebutan untuk santo yang satu ini: Carlo of Sezze, Giancarlo Marchioni, John Charles Marchioni, Yohanes Karolus Marchioni atau Santo Karolus dari Seze (secara lidah Indonesia). 

Untuk pertama kalinya saya membaca kisah tentang Santo yang bukan berasal dari kalangan para imam melainkan seorang bruder. Bruder adalah sebutan bagi seorang Rohaniwan Katolik awam yang menjalani kaul kemiskinan, selibat dan ketaatan.

Santo Karolus Marchioni lahir di Seze, sebuah kota kecil di provinsi Latina - Italia tengah, pada tanggal  19 Oktober 1613. Ia dibabtis 3 hari kemudian dan diberi nama Giancarlo Marchioni (Yohanes Karolus Marchioni). 

Kedua orang tuanya, Ruggero dan Antonia Marchioni, adalah umat katolik yang saleh. Yang walaupun bekerja sebagai petani penggarap dan hidup penuh dengan kekurangan, namun tetap berupaya untuk menanamkan nilai-nilai rohani dalam diri Giancarlo sejak ia masih kecil.   

Giancarlo terpaksa meninggalkan sekolah lebih awal karena harus membantu orangtuanya di pertanian dan menggembalakan ternak. Namun demikian, ia tetap menjaga dan mengembangkan kehidupan rohaninya. Pada tahun 1630 Giancarlo mengucapkan kaul pribadi untuk hidup kudus dan mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan.  

Suatu saat di tahun 1633, Giancarlo sakit parah dan hampir meninggal. Ia lalu berkaul bahwa jika ia disembuhkan, ia akan menjadi seorang biarawan. Demikianlah, setelah sembuh dari penyakitnya,  Giancarlo Marchioni masuk biara Fransiskan di Nazzano pada tanggal 18 Mei 1635. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Bruder Carlo (Karolus).

Karolus senantiasa taat pada setiap perintah atasannya. Dia menjalankan tugas-tugas religiusnya dengan penuh kepatuhan di biara-biara tempat ia bertugas. Di biara Fransiskan Morlupo, Ponticelli, Palestrina, Carpineto, Santo Petrus di Montorio, dan biara Santo Fransiskus di Ripa, ia menjalaninya dengan kerendahan hati dan ketaatan penuh pada regula ordo Fransiskan.

Suatu pagi, sewaktu bruder Karolus ikut merayakan misa kudus di Gereja Santo Yoseph di Capo le Case, tepat saat konsekrasi, Ekaristi Kudus terangkat ke udara dan memancarlah sinar terang dari Hosti Kudus itu. Cahaya surgawi tersebut menerpa tubuh Karolus, melukai hati nya dan meninggalkan luka yang dalam.  

“Seperti berada diantara dua ujung : antara rasa nyeri dan berkat yang manis. Bagaikan roh yang mau meninggalkan tubuh. Tapi, saya mau bertahan kendati rasa nyeri atau pun penderitaan yang bagaimana pun, karena berkat yang indah ini.” ungkap Bruder Karolus tentang perasaannya saat menerima karunia Stigmata.

Bruder Carlo adalah seorang mistikus dan pembuat mujizat.  Ia membuat banyak sekali mukjizat penyembuhan dan beberapa kali mujizat penggandaan makanan. Bruder penjaga pintu biara ini juga mendapat karunia rohani untuk melihat ke masa depan (Visioner). 

Selama hidupnya, ia telah meramalkan akan terpilihnya tiga orang kardinal menjadi Paus. Yaitu Kardinal Giovanni Battista yang kemudian terpilih sebagai Paus Innosensius X dan Kardinal Fabio Chigi yang terpilih menjadi Paus Alexander VII.  

Karolus juga meramalkan bahwa Kardinal Emilio Altieri kelak akan menjadi Paus. Ramalan ini menjadi kenyataan tiga bulan setelah kematian Karolus pada 6 Januari 1670 (Kardinal Emilio Altieri terpilih menjadi paus Klemens X di bulan April 1670).

Paus Innosensius X, Paus Alexander VII, Paus Klemens XI

Meski bukan seorang imam, banyak orang yang datang menemui bruder Karolus untuk meminta bimbingan rohani. Bahkan, Paus Innosensius X dan Paus Alexander VII selalu meminta saran dari mistikus Fransiskan yang rendah hati ini.

Bruder Karolus dari Seze wafat dengan tenang di biara Santo Fransiskus di Ripa, pada tanggal 6 Januari 1670. Pada saat kematiannya, dari tempat dimana Tuhan telah menerpanya dengan luka cinta-Nya, muncul sebuah tanda yang berbentuk salib. 

Gejala ini merupakan salah satu mujizat yang diakui oleh Gereja. Ia di beatifikasi oleh Paus Leo XIII pada 22 Januari 1882 dan dikanonisasi pada tanggal 12 April 1959 oleh Paus Pius XII. Pesta perayaan Santo Karolus de Seze dirayakan tiap tanggal 6 Januari. 

Nah, sahabat Tuhan Yesus.. Dari masing-masing kisah para Kudus Allah yang saya bagikan di channel saya ini, selalu ada cerita istimewah dari pengalaman pribadi mereka bersama Allah. Entah itu pengalaman spiritual yang tidak mampu kita pahami dengan akal manusia atau pengalaman hidup dari pengabdian mereka kepada Allah dan sesama. 

Dari kisah Santo Karolus Marchioni kita bisa melihat misteri kedahsyatan kuasa Allah yang melampaui akal dan pikiran kita sebagai manusia. Betapa kecilnya kemampuan akal kita untuk memahami karya Allah yang besar dan ajaib. Itulah mengapa kita membutuhkan Iman.

Mari kita bersyukur atas rahmat Iman yang Tuhan berikan kepada kita orang-orang percaya, yang dengan segala kelemahan mau membalas kasih Allah kita. Saya pribadi merasa sangat bersyukur karena diberikan rahmat Iman dan kepercayaan penuh pada kasih Allah. Tidak ada yang bisa menggantikan betapa indah dan nyamannya hidup di dalam-Nya.

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 20:29 “Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Berbahagialah kita, karena kita diberikan Iman untuk percaya dan menanti-nantikan Dia.

Kisah para Kudus ini adalah misteri Allah yang mungkin tidak bisa dipahami dengan akal. Tapi karena iman dan kepercayaan akan kuasa Allah Bapa, maka bagi orang Katolik kisah-kisah ini semakin meyakinkan bahwa Allah yang kita Imani sungguh dahsyat dan mampu melakukan lebih dari apa yang bisa kita pahami.

Sampai ketemu di kisah yang berikutnya ya... Tuhan Yesus memberkati...

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...