Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria….
Beberapa minggu terakhir, dunia dikejutkan dengan berita terpilihnya seorang pemuda milenial dari Asisi menjadi orang Kudus Allah, Beato Carlo Acutis. Sang Beato muda yang dibeatifikasi pada tanggal 10 Oktober 2020 ini ditampilkan dengan mengenakan baju kaos, celana jins, tas ransel, kamera dan laptop, khas orang muda milenial.
Seperti pemuda biasa pada umumnya, dia tetaplah seorang anak muda belasan tahun yang suka bermain bola dan berkumpul dengan teman2nya.
Dia adalah anak korban perceraian, korban bully di sekolahnya dan punya banyak teman-teman yang disabilitas. Ia mempersembahkan seluruh penderitaan yang dialaminya bagi gereja dan Paus Benediktus XVI.
Beato Carlo meninggal di
usia 15 tahun karena kanker Leukimia. Seluruh talenta yang diberikan Tuhan
padanya, ia gunakan untuk kemuliaan Tuhan.
Saya melihat banyak orang Kudus Allah yang berasal dari kalangan orang muda, ada Santa Bernadeta Soubirus, Santa Maria Goreti, Santa Theressa dari Lissieux dan masih banyak lagi. Betapa mulianya pilihan hidup mereka ya…
Di usia, dimana kebanyakan orang lebih memilih bersenang-senang dengan hoby dan pergaulan, mereka memilih mempertahankan kemurnian dan hidup hanya untuk kemuliaan Allah saja.
Kisah kita kali ini, tidak ada sangkut pautnya dengan orang muda ya,
malah ini adalah kisah seorang ibu dengan 9 orang anak yang kemudian menjadi
Orang Kudus Pilihan Allah.
Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas
Terlahir pada tanggal 16 April 1783 di Barcelona, Spanyol. Ayahnya bernama Don Lorenzo de Vedruna, adalah seorang yang bekerja pada kerajaan dan ibunya bernama Teresa Vidal.
Yoakima dibaptis pada tanggal kelahirannya di Gereja
Santa Maria del Pi. Santa Yoakima adalah Orang Kudus Spanyol dan pendiri Charmelite
Sisters of Charity atau Suster-suster Cinta Kasih Karmel.
Pada usia 12 tahun, Yoakima menyatakan keinginannya untuk menjadi biarawati Karmelit, tapi orangtuanya menolak karena merasa dia belum cukup dewasa untuk membuat keputusan seperti itu bagi masa depannya.
Ia menjalani
masa kecilnya dalam kesalehan, Yoakima menjalani Devosi khusus kepada bayi
Yesus dan sangat terobsesi menjaga kemurniannya. Yoakima menerima Komuni
Pertamanya pada usia 9 tahun di tahun 1792.
Sebagaimana kebiasaan para aristrokat bangsawan Spanyol di masa itu, Yoakima dijodohkan oleh orangtuanya dengan pemuda bangsawan. Diceritakan bahwa, Teodoro de Mas adalah seorang pengacara dan pemilik tanah yang juga sahabat dari Don Lorenzo.
Ia sebelumnya ragu-ragu memutuskan siapa dari ketiga putri Don Lorenzo yang harus dinikahinya. Teodoro menghadiahkan kepada ketiga putri sahabatnya ini masing-masing 1 kotak kacang almond.
Dua putri tertua menolak
dan mengatakan itu adalah hadiah yang kekanak-kanakan, namun Yoakima menerima
hadiah itu sambil berkata ‘Saya suka kacang almond’. Saat itulah Teodoro
menetapkan pilihannya pada Yoakima.
Pada tanggal 24 Maret 1799, Yoakima dan Teodora de Mas menikah dan diberkati dengan 9 orang anak. Pasangan suami istri ini terkenal sebagai pasangan Katolik yang saleh. Mereka menjadi anggota setia Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi dan senantiasa hidup sesuai regula ordo tersebut.
Inilah mengapa Yoakima dikenal
sebagai ‘Santa Yoakima dari Santo Fransiskus Asisi’. Kelak empat orang putri
mereka menjadi biarawati, 2 putra mereka menikah dan menjadi awam Katolik yang
saleh dan 3 anak yang lain meninggal dunia ketika masih kecil.
Pada tahun 1808, Kaisar Napoleon Bonaparte menyerang kerajaan Spanyol.
Invasi yang terkenal dengan nama ‘The Peninsula War’ ini menyebabkan Yoakima
beserta keluarganya harus melarikan diri tapi suaminya berkeras tetap berjuang
dalam perang sebagai relawan melawan tentara Perancis dan ia meninggal pada
tanggal 6 Maret 1816 akibat luka-luka yang didapatnya dalam sebuah pertempuran.
Beberapa bulan kemudian, bersama anak-anaknya, Yoakima pindah dari Barcelona ke tanah milih keluarga de Vedruna yang disebut ‘Manso Escorial’ di kota Vic, sekitar 70 kilometer jauhnya dari Barcelona. Yoakima mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghabiskan waktunya dalam doa.
Ia selalu mengenakan
jubah ordo ketiga Fransiskan dan mulai melakukan karya amal merawat orang-rang sakit.
Pembimbing rohaninya, seorang imam Kapusin bernama Esteban de Olot, mengagumi
semangat pengabdian Yoakima dan menyarankan dia untuk mendirikan sebuah
Kongregasi Apostolik yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.
Hal ini mendapat dukungan penuh dari Uskup Vic, Pablo Jesus Corcuera, yang
kemudian menyarankan agar kongregasinya mengadopsi regula ordo Karmel. Yoakima
mengangkat sumpahnya di hadapan Uskup Pablo pada tanggal 6 Januari 1826. Uskup
ini juga kemudian merumuskan dan menulis regula bagi konggregasi tersebut.
Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity resmi berdiri pada tanggal 6 Februari 1826. Dan di pagi hari 26 Februari, Yoakima bersama 8 orang wanita mengucapkan Kaul sebagai biarawati perdana di Konggregasi tersebut.
Upacara tersebut berlangsung dalam misa pagi di Gereja
biara Kapusin. Kemudian para biarawati perdana itu kembali ke ‘Manso Escorial’
dan memulai biara baru mereka.
Pada tahun-tahun awal berdiri, Muder Yoakima sering berkonsultasi dengan Santo Antonio Maria Claret, tentang cara hidup membiara dan pengelolaan konggregasi apostolik.
Ketika perang Carlist terjadi yaitu serangkaian perang
saudara di Spanyol, pada tahun 1836 Muder Yoakima pindah ke Roussilon, Perancis
dan menetap disana selama 6 tahun sampai tahun 1842.
Kongregasi Karmel Suster-suster Amal ini secara resmi mendapat persetujuan dari Paus Leo XIII pada 20 Juli 1880. Ordo ini mulai menyebar ke seluruh wilayah Spanyol di Iberia dan berbagai belahan dunia.
Para biarawati
berkarya dengan mendirikan banyak rumah sakit, panti jompo dan sekolah-sekolah
bagi anak-anak yang tidak mampu.
Di awal tahun 1850, Muder Yoakima harus beristirahat dari tugas-tugasnya
sebagai superior karena kondisi kesehatan yang memburuk. Pada tanggal 28 Agustus 1854, Muder Yoakima
meninggal dunia karena wabah Kolera yang menyerang Catalonia. Muder Yoakima
dimakamkan di biara yang didirikannya di Vic, Osona, Barcelona.
Santa Yoakima dibeatifikasi pada 19 Mei 1940 di Basilika Santo Petrus,
Roma, Vatikan oleh Paus Pius XII. Dan kemudian dikanonisasi oleh Paus Yohanes
XXIII pada 12 April 1959.
Pada tahun 2008 Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite
Sisters of Charity tercatat telah berkarya di berbagai Negara di benua Eropa,
Asia, Afrika dan Amerika; mereka memiliki 280 biara dan 2012 orang biarawati.
Nah, sampai disini kisahnya ya… Ingatlah, bahwa para Kudus ini adalah contoh hidup yang layak kita teladani karena Allah telah menyatakan Kemuliaannya pada mereka.
Berdoalah kepada Allah dengan perantaraan Orang Kudus
yang kita teladani dalam hidup kita, dan tetaplah menjadikan Tuhan Yesus
sendiri sebagai jalan satu-satunya bagi kita untuk sampai kepada Allah Bapa.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar