Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria..
Saat ini kita telah memasuki bulan ke-9 masa-masa menyebarnya
Virus Corona di negara kita, bahkan di seluruh belahan dunia.
Melalui
blog ini saya mengirimkan doa dan dukungan untuk sahabat semua, semoga kita
tetap kuat bertahan dengan mengandalkan iman kita kepada Tuhan Yesus ya…
Ingatlah, ketika semua terasa sulit bagi kita, bagi Tuhan Yesus semua hal
sangatlah mudah.
Mazmur
119:50 “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.”
Nah, kisah kita
di part ke-13 ini, tentang :
Santo Peter Julian Eymard
Atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Santo Petrus Yulianus Eymard. Ia dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1811 di La Mure, Prancis, sebuah wilayah Keuskupan Grenoble. Peter dibesarkan dalam keluarga miskin, ayahnya bekerja sebagai tukang memperbaiki pisau.
Sejak awal hidupnya, sudah tertanam jelas cintanya
yang besar dan gairah dalam hidupnya kepada Yesus Kristus dalam Sakramen
Mahakudus. Peter belajar bahasa Latin sendiri dan menerima bimbingan rohani
dari seorang imam.
Suatu hari, Peter kecil yang baru berusia 5 tahun, ketika sedang dijaga kakak-kakak perempuannya, Peter tiba-tiba menghilang dari rumah. Dengan panik mereka mencarinya, dan akhirnya mereka menemukan Peter di Gereja Paroki, berdiri di atas sebuah bangku di depan Tabernakel, dan mendekatkan telinganya di pintu Tabernakel itu.
Peter menanggapi pertanyaan cemas kakak-kakaknya dengan menjawab: “Saya disini
untuk mendengarkan Yesus. Saya bisa mendengarkan-Nya lebih baik disini.”
Seperti remaja pada umumnya, Peter Julian Eymard dibesarkan oleh latar belakang keluarga dan budaya serta lingkungan sosial dan politik pada masanya. Sebelum menerima Komuni Pertama, pada usia 12 tahun, Peter menulis sebuah surat kepada Yesus yang akan dibacakannya setelah menerima Komuni Pertama.
Ia
menulisnya sebagai berikut: Yesusku
terkasih, aku berterima kasih atas rahmat yang Engkau berikan kepadaku, bahwa
Engkau mau datang untuk tinggal di hatiku...’, doa yang singkat dan
indah, bisa dijadikan doa setelah menerima komuni.
Kehidupan di
Prancis selama masa awal abad ke-19 itu sangat sulit. Tahun-tahun sebelumnya,
Revolusi Perancis telah secara radikal mengubah pandangan politik, sosial dan
keagamaan di negara itu. Peter muda mengalami Revolusi Industri yang melanda
Eropa dan menyaksikan terbitnya era romantisme dalam Seni, Musik dan Sastra.
Sejak masih muda, Peter sangat ingin menjadi seorang Pastor. Tapi ayahnya tidak setuju dengan pilihannya itu. Ayahnya tidak ingin putra satu-satunya yang ia miliki menjadi seorang Pastor. Setelah Peter akhirnya bisa masuk sekolah seminari di Grenoble, dia mengalami sakit keras dan itu memaksanya untuk meninggalkan kehidupan seminari.
Setelah ayahnya meninggal dunia, Peter sekali lagi mencoba masuk seminari. Dan pada 20 Juli 1834, Peter yang saat itu berusia 23 tahun, ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Grenoble. Ia melayani 2 paroki dan banyak umat menyadari bahwa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka semua.
Pada tanggal
20 Agustus 1839, Father Peter Julian Eymard mengikrarkan kaulnya bergabung menjadi Imam Kongregasi
Serikat Maria (Marists). Pada tahun 1845 ia diangkat menjadi superior dan
pembina rohani bagi seminaris Ordo Marists di Lyon, Perancis.
Meskipun terus menerus mengalami masalah gangguan kesehatan, Father Eymard adalah Pastor yang enerjik, pekerja keras dan saleh. Ia menjalanikehidupan kontemplasi dan melaksanakan berbagai tugas administrasi yang diberikan kepadanya.
Dia adalah seorang pemimpin
yang luar biasa, seorang pendidik yang bersemangat, seorang pengkotbah yang baik
dan penuh persiapan, dan sosok yang sangat saleh di mata para muridnya dan bahkan
atasannya.
Sepanjang hidupnya, Pastor Eymard memiliki Devosi yang dalam kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan. Dia menghormati penampakan Santa Maria di La Sette dan suka melakukan perjalanan ziarah ke berbagai tempat Penampakan Bunda Maria di Eropa. Itu merupakan karya kerasulan Pastor Eymard dalam Kongregasi Serikat Maria.
Pastor Eymard sangat rajin memberitakan tentang devosi kepada Sakramen Mahakudus, ia memiliki cinta yang menyala-nyala pada Ekaristi Kudus. Ia amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka meluangkan waktu setiap hari melakukan adorasi kepada Sakramen Mahakudus.
Dalam suatu kesempatan, pada perayaan penghormatan pada Sakramen Mahakudus, tanggal 25 Mei 1845, Pastor Eymard mengalami kejadian rohani luar biasa yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
Ketika membawa Sakramen Mahakudus pada prosesi di gereja St. Paulus di Lyons, dia merasakan kehadiran Kristus yang kuat dalam Sakramen Ekaristi. Sakramen itu seolah diselubungi dengan kasih dan cahaya.
Dalam hati Pastor Eymard memohon kerahiman
dan belas kasih Tuhan Yesus menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri
disentuh dalam Ekaristi dan ia memutuskan untuk “membawa seluruh dunia kepada
pengetahuan dan cinta kepada Tuhan Yesus; untuk tidak mewartakan apapun selain Yesus
Kristus dan Ekaristi Sakramen Mahakudus.”
Rahmat ini kemudian benar-benar menjadi pusat hidup dan energi Pastor Eymard selama beberapa tahun berikutnya. Ketika ia diberi tanggungjawab oleh Pastor Jean Claude Colin, Pendiri Kongregasi Serikat Maria, untuk menulis Regula Ordo Ketiga dari Kongregasi Serikat Maria, Pastor Eymard meminta ijin untuk menulis tentang aturan Ekaristi.
Pastor Colin menjawab, bahwa itu bukanlah karisma dari Kongregasi Serikat Maria. Namun, ide untuk menulis aturan itu sudah tertulis di benak dan hati pastor Eymard, dan di tahun 1856, dia membuat keputusan menyakitkan, atas persetujuan dari para pembesarnya, Pastor Eymard meninggalkan Konggregasi Marists dan mendirikan sebuah konggregasi religius yang didedikasikan untuk Sakramen Ekaristi Mahakudus.
Mendirikan sebuah
Kongregasi bukanlah tugas yang mudah. Kesetiaan mengikuti tuntunan Roh Kudus
mendatangkan berbagai konflik dan masalahjuga kelelahan fisik. Berbagai
rintangan harus dialaminya.
Ketika ia mendapatkan kesempatan bertemu Uskup Agung Paris, Marie Dominique Auguste Sibour, Pastor Eymard menceritakan Visinya. Dan Uskup Agung sangat tertarik dengan Visi Eymard tentang Mempersiapkan Komuni Pertama, khususnya bagi orang dewasa.
Komunitas dan Organisasi Ekaristi banyak bermunculan di seluruh
Perancis, banyak diantaranya hanya fokus pada berdoa dan penyembahan, tetapi
Uskup Sibour meyakini bahwa Visi Pastor Eymard tidak terbatas pada Adorasi saja
tapi juga untuk menjangkau semua mereka yang terasing dari gereja dan
mengevangelisasi mereka.
Pastor Eymard mendapatkan persetujuan mendirikan kongregasi yang beranggotakan para imam yang beradorasi kepada Sakramen Mahakudus ini pada tanggal 13 Mei 1856. Tanggal ini kemudian dirayakan sebagai pesta berdirinya Kongregasi Sakramen Mahakudus (Congregation of the Blessed Sacrament; SSS).
Setelah pembentukan ordo para imam, pada tahun 1858,Pastor Eymard membentuk ordo para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus (Servants of The Blessed Sacrament; SJS).
Para biarawati ini juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus
dalam Sakramen Mahakudus. Karya kerasulan ini tidak berjalan baik pada awalnya.
Bahkan Pastor Eymardharus berpindah dua kali karena tidak ada yang berminat
pada kongregasinya.
Ia juga
membentuk kelompok-kelompok dalam gereja bagi umatnya untuk mempersiapkan diri
mereka menyambut Komuni Kudus Pertama. Ia menulis banyak buku mengenai Ekaristi
yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Di masa pengabdiannya, pastor Eymard bersahabat dekat dengan Pastor Vianney yang kemudian menjadi Santo Yohanes Maria Vianney. Pastor Vianney bahkan mengatakan bahwa ia akan berdoa setiap hari bagi karya kerasulan pastor Eymard.
Santo Petrus Yulianus Eymard melewatkan 4 tahun terakhir hidupnya dalam penderitaan hebat. Selain karena kesehatan jasmani, juga karena berbagai masalah dan kecaman. Namun ia tetap setia dalam adorasinya kepada Sakramen Mahakudus.
Kesaksian
hidup dan pengorbanannya mendorong banyak orang menjawab panggilan hidup
membiara dan bergabung dengan ordo-ordo religius.
Santo Petrus
Yulianus Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 di usia 57 tahun. Ia
dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dandikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus XXIII
pada tanggal 9 Desember 1962.
Saya mendengar sebuah renungan tentang bagaimana menjadi Orang Kudus. Tentu saja selama ini kita berpikir bahwa menjadi Orang Kudus adalah sesuatu yang suci, rumit dan hanya mungkin bagi orang-orang pilihan Allah.
Tapi renungan ini
menyadarkan saya bahwa kita semua mempunyai moment atau kesempatan untuk
menjadi Orang Kudus Allah. Bagaimana coba? Bukankah butuh orang yang seperti
apa dulu untuk diangkat sebagai orang Kudus Allah?
Ketika kita merasakan ketenangan dan penghiburan Tuhan di tengah kesulitan hidup, ketika kita bersikap murah hati memaafkan orang lain di saat kita dikecewakan atau dikhianati, ketika kita merasa damai di tengah kekesalan, ketika kita dengan sukacita membantu orang lain tanpa memperhitungkan atau memandang apapun,
ketika kita bahagia dalam kemiskinan, ketika kita mampu mengendalikan diri dalam kemarahan, ketika kita percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan dalam situasi apapun, moment-moment itu walau sedikit saja atau sebentar saja terasa, sebenarnya itu adalah moment dimana kita sudah menjadi Kudus.
Tinggal
apakah kita mau berjuang memelihara moment seperti itu terus bertahan dalam
seluruh pengalaman hidup kitadan memelihara Kekudusan sebagai tujuan hidup.
Menjadi Kudus untuk lebih berbahagia dalam Tuhan.
Tetap setia pada panggilan hidup
seperti yang dilakukan oleh Santo Petrus Yulianus Eymard dan memelihara
moment-moment kekudusan kita walaupun sederhana tapi penuh iman kepada Tuhan
Yesus.
Sampai bertemu di kisah yang berikutnya yah... Syalom, Tuhan Yesus memberkati...








Tidak ada komentar:
Posting Komentar