Tampilkan postingan dengan label orang kudus Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang kudus Allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2023

Para Kudus Yang Digelar Mistikus dalam Gereja Katolik

Para Kudus yang Digelar Gereja Katolik sebagai Mistikus 

 

Dalam gereja Katolik, kita mengetahui bahwa beberapa Orang Kudus Allah atau Santo dan Santa yang hidup dan doa-doa mereka kita teladani, juga digelar sebagai Mistikus Gereja. Pada tulisan ini, kita akan mengenal mereka dan memahami kenapa para Kudus ini sampai digelar sebagai Mistikus Gereja.

Sebenarnya kalau kita bicara tentang Mistik, tentu saja pikiran kita akan terarah kepada hal-hal yang berbau gaib, praktek okultisme, ilmu sihir dan sebagainya. Sementara semua hal itu dilarang dalam Ajaran Gereja, tapi kenapa para Kudus ini bisa mendapat gelar itu?

Arti

Mistikus adalah orang yang mengalami atau memiliki pengalaman yang melampaui pemahaman atau pengalaman manusia pada umumnya. Dalam tulisan ini, ada delapan orang Kudus yang saya kenal tapi bisa jadi ada lebih banyak dari itu.

Mistikus berasal, dari kata Mistik dimana dalam bahasa Indonesia artinya; hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa. 

Sementara dalam Teologi Kristen, Mistisisme adalah tradisi, praktik, doktrin dan teologi dalam agama Kristen yang menekankan pada transformasi diri memiliki hubungan dengan Tuhan atau untuk menerima kehadiran Tuhan.

Hingga abad keenam Masehi, praktik yang sekarang disebut Mistisisme ini, dikenal dengan istilah teoria; yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno theoria; artinya Memandang Tuhan.

Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi Contemplatio, yang artinya Kontemplasi atau Permenungan. Kontemplasi ini merupakan permenungan jiwa akan kehadiran Tuhan di alam semesta, dan mengantarkan seseorang kepada pengudusan atau penyatuan mistik dengan Tuhan.

Dalam konteks Kristen Katolik, biasanya praktek Mistik atau Kontemplasi ini dilakukan melalui tiga disiplin: Doa (termasuk meditasi dan kontemplasi), Puasa (termasuk semua bentuk pantang dan penyangkalan diri) dan Sedekah sesuai ajaran Yesus dalam Kotbah di bukit (Matius 5-7).

Para Kudus

Menurut Alkitab; Kudus artinya bebas terhadap dunia dan  kemudian menjadi orang pilihan Allah (Yohanes 17:14-15). Orang Kudus Allah, adalah mereka yang selama hidupnya taat, setia dan berbakti pada penyelenggaraan Ilahi. 

Dan gereja Katolik meyakini orang-orang pilihan Allah yang telah meninggal dunia ini telah berada di surga karena cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan. Semua itu sudah terbukti dalam proses Kanonisasi.

Ada lebih dari seribu Santo dan Santa dalam Gereja Katolik Roma. Dari sekian banyak para Kudus ini, ada beberapa yang digelar sebagai Mistikus Gereja. Mereka adalah orang-orang yang terbukti menjalani hidup mereka dengan menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk berdoa, bermeditasi, berpuasa dan pantang, serta merenungkan kitab suci dan semua aktifitas spiritual secara mendalam untuk mengenal Tuhan.

Berikut profil dan jalan hidup mereka:

1. Santo Ignatius dari Loyola

Santo Ignatius dari Loyola adalah seorang mantan Ksatria Spanyol keturunan bangsawan Basque yang menjadi teolog dan imam Katolik pendiri Ordo Serikat Yesus (Yesuit) dan menjadi superior jenderal pertama ordo tersebut.

Lahir pada tanggal 23 Oktober 1491, di Azpeitia, Loyola, Provinsi Basque, Spanyol dan dibaptis dengan nama Inigo Lopez dan merupakan anak bungsu dari tiga belas bersaudara.

Ibunya meninggal tidak lama setelah Ignatius lahir, kemudian ia dibesarkan oleh istri seorang pandai besi di kotanya. Ignatius adalah seorang pemuda yang suka berjudi, sangat suka perempuan, gemar berkelahi dan pandai membela diri. 

Dalam sebuah perselisihan, bersama saudara-saudaranya ia menyerang beberapa kaum religius anggota keluarga lain. Ketika dibawa ke pengadilan karena perkara itu, Ignatius membela dirinya bahwa dia adalah seorang religius sejak masa muda agar terhindar dari hukuman.

Pada usia 30-an, Ignatius menjadi tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis. Pada sebuah pertempuran, sebuah bom kanon mengenai Ignatius dan membuat kedua kakinya patah. Tentara Perancis memulangkan Ignatius ke puri Loyola. Kondisinya memburuk dan para tabib mengingatkan dia untuk mempersiapkan diri akan kematian.

Secara tidak terduga, pada hari raya Santo Petrus dan Paulus, kondisinya membaik. Tapi ia harus menjalani hidupnya dengan pincang, karena kaki yang sebelah lebih panjang dan sebelahnya lebih pendek. 

Dalam proses pengobatannya, Ignatius yang merasa bosan mau tidak mau membaca dari buku-buku tentang hidup Kristus dan para Kudus yang ada di dalam kastil. Semakin banyak membaca, semakin ia merasa bahwa cara hidup para Kudus ini patut ditiru.

Pengalaman ini menjadi awal pertobatan Ignatius dan latihan spiritualnya. Ignatius mengalami pertobatan penuh dari keinginan-keinginan duniawi dan sembuh dari luka-lukanya. Ia memutuskan untuk pindah ke Yerusalem dan tinggal di tempat Tuhan menjalani hidup-Nya.

Dalam perjalanan ziarahnya, Ignatius menerima sakramen tobat dan berlutut sepanjang malam di depan altar Bunda Maria. Ia menanggalkan semua atribut ksatria, memberikan pakaiannya yang indah kepada orang miskin, lalu mengenakan pakaian dari kain kasar dengan sendal dan tongkat.

Ignatius tinggal di gua-gua, berdoa berjam-jam, melakukan penitensi yang ekstrim dan bekerja di balai perawatan orang sakit. Pada usia 33 tahun, Ignatius masuk seminari. Masa ini adalah masa-masa yang berat karena berbagai halangan dan tantangan yang dialaminya.

Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus III memberikan persetujuan resminya kepada Ignatius dan teman-temannya atas terbentuknya tareket baru, Serikat Yesus. Dan dengan hasil pemungutan suara bulat, kecuali pilihan Ignatius sendiri tentunya, ia terpilih menjadi Superior Jenderal Pertama.

Ignatius mengabdikan diri sepenuhnya pada serikat barunya. Ia bekerja dari dalam kamarnya yang sempit dengan menuliskan Konstitusi Serikat serta ribuan surat ke seluruh penjuru dunia, menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kaum Yesuit dan memberikan pengarahan spiritual kepada kaum pria dan wanita. 

Santo Ignatius dari Loyola, Mistikus dan Pujangga Gereja ini wafat pada tanggal 30 Juli 1556. Jenasahnya disemayamkan dalam Gereja Gesu, Roma Italia.

Santo Ignatius dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada 27 Juli 1609 dan dikanonisasi pada tanggal 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 31 Juli dan dihormati sebagai Santo Pelindung para tentara atau prajurit.

2. Santa Theresia Avilla

Terlahir dari keluarga kaya di Avilla, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515, dan dibaptis dengan nama Theresa Sanchez de Cepeda y Ahumada. Ibunya mendidik mereka menjadi orang Kristen yang saleh, bersama kakaknya Rodrigo, Theresa suka membaca riwayat para Kudus dan Martir.

Pada usia remaja, ketertarikan Theresa beralih pada hal-hal dunia. Namun, setelah mengalami sakit berat, dan membaca buku tentang St. Hieronimus yang hebat, Theresa bertekad mempersembahkan hidupnya untuk Kristus.

Pada usia 20 tahun, Theresa meninggalkan rumah dan masuk biara karmel. Setelah mengucapkan Kaul pertama dan mengalami sakit berat yang kedua kalinya, Theresa mengalami penglihatan dan ekstase rohani. Sejak itu ia semakin bertekad hidup hanya bagi Yesus saja, tidak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus ia lakukan.

Teman-temannya mengatakan bahwa pengetahuan Theresa berasal dari setan. Ia menjalani penyiksaan diri dan mortifikasi fisik. Tapi bapa pengakuannya, Santo Francis Borgia serta imam Ordo Dominikan dan Serikat Yesus sepakat menyatakan bahwa semua penglihatan yang diterima suster Karmel Theresa adalah benar dan kudus.

Pada hari raya Santo Petrus, 1559, Yesus Kristus menampakkan diri secara fisik kepadanya, walau tak terlihat. Penglihatan itu berlangsung selama dua tahun tanpa putus. Theresa menulis bahwa, dalam penglihatan itu seorang Serafim menusukkan tombak emas berulang kali ke hatinya, yang menyebabkan sakit fisik dan batin yang luar biasa. 

Kejadian ini membuatnya semakin berhasrat untuk mengikuti penderitaan Yesus. Suster Theresa memelopori gerakan pembaharuan peraturan dalam biara Karmel, yang ia rasa terlalu longgar. Bersama Santo Yohanes dari Salib, mereka berjuang memperbaharui semangat spiritualitas Ordo Karmel  melalui kehidupan biara yang suci dalam doa, puasa dan pantang yang sangat ketat.

Santa Theresa dari Yesus wafat pada tanggal 4 Oktober 1582, pada usia 67 tahun. Santa Theresa dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tanggal 24 April 1614, dan dikanonisasi pada 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pestanya dirayakan setiap tanggal 15 Oktober.

3. Santo Padre Pio

Nama kecilnya Francesco Forgione, terlahir di Pietrelcina, Italia Selatan, pada tanggal 25 Mei 1887. Francesco adalah anak kelima dari delapan bersaudara dari sebuah keluarga petani sederhana. Ayahnya Grazio Forgione dan ibunya Maria Giuseppa de Nunzio.

Sejak usia 5 tahun, Francesco sering melihat penampakkan Yesus, Bunda Maria dan bahkan Malaikat jahat. Di usia 9 tahun ia mencambuk dirinya sendiri agar serupa dengan Kristus.

Pada usia 16 tahun, Francesco masuk biara Kapusin dari diberi nama Pio. Aturan ketat biara membuat Padre Pio sering sakit. Ia ditahbiskan dalam usia yang masih muda karena pertimbangan sakit yang mengancam nyawanya.

Pada suatu sore di tanggal 7 September 1911, Padre Pio telah mendapat karunia stigmata pertamanya. Namun karena takut, ia didoakan oleh pastor paroki Pietrelcina, dan luka-luka itu sembuh.

Pada tanggal 20 September 1918, ketika sedang sendirian di kapel tua, Padre Pio menerima stigmata yang sesungguhnya. Luka-luka itu terdiri dari luka pada tangan kiri dan kanan, kedua kakinya dan pada lambungnya. Luka itu tetap selama setengah abad hidupnya, segar dan berdarah.

Padre Pio adalah imam pertama yang menerima karunia Stigmata. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, namun berita cepat sekali menyebar. Setiap hari ratusan orang datang ke biara terpencil itu.

Padre Pio tidur hanya dua jam sehari, ia bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan misa kudus, setelah misa ia menghabiskan harinya dengan berdoa dan menerima pengakuan dosa. Hidupnya penuh dengan karunia mistik, jamahan yang menyembuhkan dan membaca batin. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum bunga-bungaan.

Selama 50 tahun hidup imamatnya, ia tidak pernah mengambil cuti seharipun, ia menghabiskan waktunya untuk pelayanan imamat, mendirikan kelompok doa dan memprakarsai pembangunan sebuah rumah sakit moderen, yang ia beri nama "Wisma untuk meringankan penderitaan".

Selain oleh penderitaan fisik yang ia alami dari luka-lukanya, Padre Pio juga mengalami penderitaan dari sesama sejawatnya. Ia dianggap dikuasai iblis dan menipu saudara sekomunitas. Vatikan bahkan sempat mengeluarkan perintah keras melarang Padre Pio melakukan tugas Imamatnya. 

Santo Padre Pio wafat pada tanggal 23 September 1968 pada usia 81 tahun di San Giovanni Rotonda, Italia. Dibeatifikasi pada  tanggal 2 Mei 1999 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 16 Juni 2002. Pestanya dirayakan setiap tanggal 23 September.

4. Santa Brigita dari Swedia

Santa Brigita lahir pada tahun 1302 di Swedia. Keluarganya termasuk tuan tanah kaya dan saleh. Sejak remaja Brigita sudah menunjukkan kecenderungan yang teguh pada hal-hal rohani. 

Di usia 10 tahun Tuhan mengaruniakan penampakan Yang Tersalib pada Brigita. Dan hal itu sangat mempengaruhinya, sehingga ia sering menangis sambil merenungkan sengsara Kristus.

Karena kepatuhannya pada sang sayah, pada tahun 1316, Brigitta menikah dengan pangeran Ulf. Seorang penguasa saleh dan memiliki berbagai keutamaan hidup yang sama dengan Brigitta. Keduanya dikaruniai delapan orang anak yang dibesarkan dalam kesalehan dan takut akan Allah. Dari antara mereka nantinya akan dikenal sebagai Santa Katarina dari Swedia.

Brigitta dan suaminya hidup suci dalam pelayanan penuh dan kedermawanan kepada sesama yang miskin dan menderita. Hal ini membuat mereka sangat terkenal luas di daerah itu. Dalam sebuah perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, suami Brigitta menderita sakit keras, dan ketika sembuh ia memutuskan masuk biara.

Setelah kematian suaminya di biara Cistercians, Alvastra tahun 1344, Brigitta mengabdikan diri sepenuhnya pada kehidupan spiritual. Ia membagi-bagikan harta kekayaannya di antara anak-anaknya dan orang miskin. Brigitta mengenakan pakaian dari kain kasar dan tali di pinggang.

Brigitta menjalani hidup yang sangat keras dan mendirikan biara Ordo Sang Penebus di Vadstena. Pada tahun 1371, Brigitta berziarah ke Tanah Suci atas perintah Tuhan sendiri. Di sana ia memperoleh rahmat luar biasa dan anugerah pengetahuan perihal misteri-misteri-Nya yang Kudus.

Sekembalinya ke Italia, Brigitta mengalami sakit keras, dan menderita sepanjang tahun. Santa Brigitta meninggal karena sakit keras pada 23 Juli 1373, di usia 71 tahun. Jenasahnya dimakamkan di biara para Klaris di St Laurensius, Panisperna. 

Pada tahun 1373, makamnya dipindahkan oleh anaknya Santa Katarina, ke Vadstena Swedia. Santa Brigitta dikanonisasi oleh Sri Paus Bonivasius IX pada tahun 1391.

5. Santa Veronika Yuliani

Santa ini pernah saya ceritakan di Blog dan Vlog saya sebelumnya, tentang Santo dan Santa Katolik yang jasadnya masih utuh. Beliau adalah seorang Santa dan Mistikus terbesar abad ke-18 dari Italia. Lahir pada tanggal 27 Desember 1660 di wilayah Mercatello dan dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang terpilih oleh Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya, dibuat dalam bentuk buku diary, yang ia tulis dibawah bimbingan bapa pengakuannya; Pastor Gerollamo Bastianelli.

Di usia tiga tahun Ursula telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan simpati kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan pakaiannya untuk setiap orang miskin yang ditemuinya.

Ibunya adalah seorang wanita saleh yang selalu menceritakan sengsara Kristus dan kisah para Kudus padanya dan empat saudaranya. Semua itu membangkitkan rasa cintanya yang besar akan sengsara dan luka-luka Tuhan. Ia berkeinginan kuat melakukan penebusan dosa yang agak berat dan menderita demi cintanya kepada Yesus, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Pada usia 17 tahun, Ursula bergabung dengan biara Kontemplatif Kapusin di Citta, Castilo, Italia dan diberi nama Veronika. Pada tahun 1693, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan, yang melambangkan sengsara Kristus. Sejak saat itu suster Veronika mengalami penderitaan spiritual yang hebat.

Pada tahun 1694, suster Veronika mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri. Lukanya nyata dan sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, suster Veronika mendapatkan perawatan medis namun lukanya tidak kunjung sembuh.

Sejak awal suster Veronika sangat prihatin dengan nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. Ia juga banyak mendapat gangguan dari si jahat sejak awal masuk biara.

Suster Veronika menjalani hidupnya di biara dengan penderitaan hebat karena penyakit dan gangguan yang dialaminya. Namun ia tetap sepenuh hati menghidupi kaul dan ketaatannya pada konggregasi.

Santa Veronika Yuliani wafat pada tanggal 9 Juli 1727 di Citta, Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII, dan dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVI. Pestanya dirayakan setiap tanggal 9 Juli. 

6. Santa Faustina Kowalska

Terlahir dengan nama Helena Kowalska, di Glogowiec, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905. Helena adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, dalam sebuah keluarga petani sederhana yang hidup miskin dan menderita pada masa penjajahan Rusia di Polandia. Ayahnya adalah yang seorang petani dan juga merangkap tukang kayu, bernama Stanislau Kowalski dan Ibunya bernama Mariana Babel.

Helena adalah anak yang rajin, taat, rendah hati dan sangat lembut. Setiap hari ia menggembalakan sapi sambil membaca cerita Santo dan Santa. Kemudian ia akan mengumpulkan teman-temannya untuk menceritakan riwayat Orang Kudus yang sudah dibacanya.

Sejak kecil Helena suka berdoa, ia sering terbangun di malam hari dan berdoa selama berjam-jam.  Jika ibunya menegur, ia berkata malaikat pelindungnya membangunkannya untuk berdoa.

Helena bergabung menjadi biarawati Konggregasi Bunda Allah Kerahiman di Warszawa, dengan nama Suster Maria Faustina. Ia menjalankan tugasnya sebagai biarawati di dapur, kebun ataupun sebagai penerima tamu di pintu biara, dengan penuh kerendahan hati. 

Pada tanggal 22 Februari 1931, Santa Faustina menerima pesan Kerahiman Ilahi dari Kristus yang harus disebar luaskan ke seluruh dunia. Santa Faustina dengan rela mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam persatuan dengan Kristus, sebagai silih atas dosa-dosa manusia.

Dalam hidup sehari-hari ia menjadi pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai bagi sesama. Santa Faustina, selama empat tahun, mencatat wahyu-wahyu Ilahi, pengalaman-pengalaman mistik juga pemikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman serta doa-doanya dalam buku hariannya yang berjudul "Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku".

Buku itu menunjukkan contoh luar biasa dalam menanggapi belas kasih Allah dan mewujudkannya dalam relasi dengan sesama. Devosinya yang besar kepada Santa Perawan Maria Tak Bercela, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, memberikan Santa Faustina kekuatan untuk menanggung penderitaan yang dipersembahkannya kepada Tuhan atas nama Gereja, bagi pertobatan para pendosa berat dan mereka yang berada di ambang maut.

Santa Maria Faustina Kowolska dari Sakramen Mahakudus, Rasul Kerahiman Ilahi, Mistikus dan Pujangga Gereja, wafat pada 5 Oktober 1938 di Krakow, dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya dimakamkan di Kapela Konggregasi Bunda Maria Berbelaskasih yang kemudian dijadikan Sanctuarium Reliqui Abdi Allah Suster Faustina Kowolska oleh Uskup Agung Krakow, yang kelak menjadi Santo Yohanes Paulus II.

Santa Faustina Kowolska dibeatifikasi pada Pesta Kerahiman Ilahi, 18 April 1993 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada tanggal 30 April 2000 oleh Paus yang sama. Pestanya dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.   

7. Santa Katarina dari Siena

Santa Katarina dilahirkan di Siena, pada tanggal 24 Maret 1347. Katarina adalah anak ke-24 dari 25 bersaudara, ayahnya Giacomo di Benincasa, seorang pewarna baju dan ibunya Lapa.

Santa Katarina bergabung menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan. Ia menghidupi kesederhanaan, berpuasa dan menahan diri dari keduniawian.

Pada tahun 1366, Katarina mengalami apa yang digambarkan dalam suratnya sebagai 'pernikahan mistik' dengan Yesus. Pada tahun 1370 segera setelah Katarina menerima anugerah penglihatan tentang neraka, purgatorium dan surga, ia meninggalkan kehidupan doanya. 

Katarina mulai menulis surat kepada raja dan ratu, serta menemui para penguasa untuk meminta berdamai dengan Paus agar mencegah peperangan. Di masa itu Gereja mengalami banyak sekali masalah, banyak pertikaian yang terjadi di seluruh Italia.

Katarina meminta Paus kembali ke Roma untuk memimpin gereja, karena itulah yang dikehendaki Allah. Sri Paus mendengarkan nasihat Katarina dan melakukannya. Melalui Katarina, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit yang dirawatnya dan menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara.

Santa Katarina wafat di Roma pada tanggal 29 April 1380 dan dikanonisasi oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pestanya dirayakan setiap tanggal 29 April. 

8. Santo Yohanes dari Salib

Lahir di Fontiveros, sebuah desa kecil dekat Avilla, Spanyol pada tanggal 24 Juni 1542, dengan nama Juan de La Cruz. Yohanes belajar di sebuah sekolah Yesuit pada masa mudanya, kemudian di usia 21 tahun ia bergabung dengan Ordo Karmel dan mengambil nama Br. Juan de Santo Matia.

Disana Yohanes hidup dengan saleh dan taat. Ia tekun berdoa dan bermatiraga. Karena kecerdasannya, pemimpin biara menyekolahkan Yohanes di Universitas Salamanca Spanyol. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1567 dalam usia 25 tahun.

Yohanes menjadi prior pertama susteran Karmelit dan mengambil nama resmi, Yohanes dari Salib. Namun usahanya untuk membaharui spiritualitas ordo dianggap gangguan oleh rekan-rekan se-ordo, sehingga ia dikurung dalam sel biara selama sembilan bulan dan diperlakukan semena-mena.

Pengalaman dalam sel biara itu justru memberinya pemahaman akan Salib Penderitaan Tuhan Yesus. Yohanes sering mengalami ekstase, ia mampu menggubah kidung-kidung rohani, mengalami banyak peristiwa mistik, dan semakin memahami secara mendalam teologi dan ajaran-ajaran iman Kristiani.

Santo Yohanes terkenal atas kerjasama dengan Santa Theresa de Jesus dalam mereformasi Ordo Karmel dan juga tulisannya-tulisannya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan membiara. Penderitaan dan pergumulan rohaninya tercermin dalam tulisan-tulisan yang ia buat semasa hidupnya.

Santo Yohanes dari Salib wafat pada tanggal 14 Desember 1591, di usia 49 tahun. Santo Yohanes dibeatifikasi pada 25 Januari 1675 oleh Paus Klemens X dan dikanonisasi pada tanggal 27 Desember 1726 oleh Paus Bendiktus XIII. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Desember.



Nah, sahabat Kristus, mungkin ada lebih banyak Santo dan Santa Mistikus Gereja Katolik, dari yang sudah saya ceritakan dalam tulisan ini. Tapi untuk sekarang, hanya 8 pribadi inilah yang saya ketahui dengan pasti. Salah satu alasan kenapa saya menulis tentang ini adalah karena saya juga sangat penasaran tentang cara hidup dan warisan yang mereka tinggalkan, sehingga Gereja menggelar mereka sebagai Mistikus.

Pada akhirnya, kembali lagi, bahwa hanya kekaguman dan pujian bagi Allah, Tuhan kita Semesta Alam, yang memungkinkan semua itu bisa terjadi. Betapa mengagumkan cara Allah bekerja dalam diri umat pilihannya.

Bulan November ini adalah bulan yang dikhususkan oleh Gereja Katolik untuk menghormati Orang Kudus dan juga menjadi bulan devosi bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Saya berharap, dengan membaca kisah hidup para Kudus Allah ini, kita mau mengikuti jejak mereka untuk mendoakan sesama baik yang masih hidup, yakni mereka yang belum bertobat, maupun yang sudah meninggal yakni jiwa-jiwa di api penyucian.

Agar kita semakin diilhami oleh Roh Kudus untuk hidup benar di hadapan Allah dan mewartakan belas kasih-Nya yang besar. Salve.... Semoga Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan...  

Selasa, 17 November 2020

SANTO PETER JULIAN EYMARD, Pendiri Konggregasi Sakramen Mahakudus dan Konggregasi Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria..

Saat ini kita telah memasuki bulan ke-9 masa-masa menyebarnya Virus Corona di negara kita, bahkan di seluruh belahan dunia.

Melalui blog ini saya mengirimkan doa dan dukungan untuk sahabat semua, semoga kita tetap kuat bertahan dengan mengandalkan iman kita kepada Tuhan Yesus ya… Ingatlah, ketika semua terasa sulit bagi kita, bagi Tuhan Yesus semua hal sangatlah mudah.

Mazmur 119:50 “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.”

Nah, kisah kita di part ke-13 ini, tentang :

Santo Peter Julian Eymard

Atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Santo Petrus Yulianus Eymard. Ia dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1811 di La Mure, Prancis, sebuah wilayah Keuskupan Grenoble. Peter dibesarkan dalam keluarga miskin, ayahnya bekerja sebagai tukang memperbaiki pisau. 

Sejak awal hidupnya, sudah tertanam jelas cintanya yang besar dan gairah dalam hidupnya kepada Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Peter belajar bahasa Latin sendiri dan menerima bimbingan rohani dari seorang imam.

Suatu hari, Peter kecil yang baru berusia 5 tahun, ketika sedang dijaga kakak-kakak perempuannya, Peter tiba-tiba menghilang dari rumah. Dengan panik mereka mencarinya, dan akhirnya mereka menemukan Peter di Gereja Paroki, berdiri di atas sebuah bangku di depan Tabernakel, dan mendekatkan telinganya di pintu Tabernakel itu. 

Peter menanggapi pertanyaan cemas kakak-kakaknya dengan menjawab: “Saya disini untuk mendengarkan Yesus. Saya bisa mendengarkan-Nya lebih baik disini.”

Seperti remaja pada umumnya, Peter Julian Eymard dibesarkan oleh latar belakang keluarga dan budaya serta lingkungan sosial dan politik pada masanya. Sebelum menerima Komuni Pertama, pada usia 12 tahun, Peter menulis sebuah surat kepada Yesus yang akan dibacakannya setelah menerima Komuni Pertama.

Ia menulisnya sebagai berikut: Yesusku terkasih, aku berterima kasih atas rahmat yang Engkau berikan kepadaku, bahwa Engkau mau datang untuk tinggal di hatiku...’, doa yang singkat dan indah, bisa dijadikan doa setelah menerima komuni.

Kehidupan di Prancis selama masa awal abad ke-19 itu sangat sulit. Tahun-tahun sebelumnya, Revolusi Perancis telah secara radikal mengubah pandangan politik, sosial dan keagamaan di negara itu. Peter muda mengalami Revolusi Industri yang melanda Eropa dan menyaksikan terbitnya era romantisme dalam Seni, Musik dan Sastra.

Sejak masih muda, Peter sangat ingin menjadi seorang Pastor. Tapi ayahnya tidak setuju dengan pilihannya itu. Ayahnya tidak ingin putra satu-satunya yang ia miliki menjadi seorang Pastor. Setelah Peter akhirnya bisa masuk sekolah seminari di Grenoble, dia mengalami sakit keras dan itu memaksanya untuk meninggalkan kehidupan seminari. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, Peter sekali lagi mencoba masuk seminari. Dan pada 20 Juli 1834, Peter yang saat itu berusia 23 tahun, ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Grenoble. Ia melayani 2 paroki dan banyak umat menyadari bahwa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka semua.

Pada tanggal 20 Agustus 1839, Father Peter Julian Eymard mengikrarkan kaulnya bergabung menjadi Imam Kongregasi Serikat Maria (Marists). Pada tahun 1845 ia diangkat menjadi superior dan pembina rohani bagi seminaris Ordo Marists di Lyon, Perancis.

Meskipun terus menerus mengalami masalah gangguan kesehatan, Father Eymard adalah Pastor yang enerjik, pekerja keras dan saleh. Ia menjalanikehidupan kontemplasi dan melaksanakan berbagai tugas administrasi yang diberikan kepadanya. 

Dia adalah seorang pemimpin yang luar biasa, seorang pendidik yang bersemangat, seorang pengkotbah yang baik dan penuh persiapan, dan sosok yang sangat saleh di mata para muridnya dan bahkan atasannya.

Sepanjang hidupnya, Pastor Eymard memiliki Devosi yang dalam kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan. Dia menghormati penampakan Santa Maria di La Sette dan suka melakukan perjalanan ziarah ke berbagai tempat Penampakan Bunda Maria di Eropa. Itu merupakan karya kerasulan Pastor Eymard dalam Kongregasi Serikat Maria. 

Pastor Eymard sangat rajin memberitakan tentang devosi kepada Sakramen Mahakudus, ia memiliki cinta yang menyala-nyala pada Ekaristi Kudus. Ia amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka meluangkan waktu setiap hari melakukan adorasi kepada Sakramen Mahakudus.

Dalam suatu kesempatan, pada perayaan penghormatan pada Sakramen Mahakudus, tanggal 25 Mei 1845, Pastor Eymard mengalami kejadian rohani luar biasa yang kemudian mengubah jalan hidupnya. 

Ketika membawa Sakramen Mahakudus pada prosesi di gereja St. Paulus di Lyons, dia merasakan kehadiran Kristus yang kuat dalam Sakramen Ekaristi. Sakramen itu seolah diselubungi dengan kasih dan cahaya. 

Dalam hati Pastor Eymard memohon kerahiman dan belas kasih Tuhan Yesus menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri disentuh dalam Ekaristi dan ia memutuskan untuk “membawa seluruh dunia kepada pengetahuan dan cinta kepada Tuhan Yesus; untuk tidak mewartakan apapun selain Yesus Kristus dan Ekaristi Sakramen Mahakudus.”

Rahmat ini kemudian benar-benar menjadi pusat hidup dan energi Pastor Eymard selama beberapa tahun berikutnya. Ketika ia diberi tanggungjawab oleh Pastor Jean Claude Colin, Pendiri Kongregasi Serikat Maria, untuk menulis Regula Ordo Ketiga dari Kongregasi Serikat Maria, Pastor Eymard meminta ijin untuk menulis tentang aturan Ekaristi. 

Pastor Colin menjawab, bahwa itu bukanlah karisma dari Kongregasi Serikat Maria. Namun, ide untuk menulis aturan itu sudah tertulis di benak dan hati pastor Eymard, dan di tahun 1856, dia membuat keputusan menyakitkan, atas persetujuan dari para pembesarnya, Pastor Eymard meninggalkan Konggregasi Marists dan mendirikan sebuah konggregasi religius yang didedikasikan untuk Sakramen Ekaristi Mahakudus.

Mendirikan sebuah Kongregasi bukanlah tugas yang mudah. Kesetiaan mengikuti tuntunan Roh Kudus mendatangkan berbagai konflik dan masalahjuga kelelahan fisik. Berbagai rintangan harus dialaminya.

Ketika ia mendapatkan kesempatan bertemu Uskup Agung Paris, Marie Dominique Auguste Sibour, Pastor Eymard menceritakan Visinya. Dan Uskup Agung sangat tertarik dengan Visi Eymard tentang Mempersiapkan Komuni Pertama, khususnya bagi orang dewasa. 

Komunitas dan Organisasi Ekaristi banyak bermunculan di seluruh Perancis, banyak diantaranya hanya fokus pada berdoa dan penyembahan, tetapi Uskup Sibour meyakini bahwa Visi Pastor Eymard tidak terbatas pada Adorasi saja tapi juga untuk menjangkau semua mereka yang terasing dari gereja dan mengevangelisasi mereka.

Pastor Eymard mendapatkan persetujuan mendirikan kongregasi yang beranggotakan para imam yang beradorasi kepada Sakramen Mahakudus ini pada tanggal 13 Mei 1856. Tanggal ini kemudian dirayakan sebagai pesta berdirinya Kongregasi Sakramen Mahakudus (Congregation of the Blessed Sacrament; SSS).

Setelah pembentukan ordo para imam, pada tahun 1858,Pastor Eymard membentuk ordo para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus (Servants of The Blessed Sacrament; SJS). 

Para biarawati ini juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Karya kerasulan ini tidak berjalan baik pada awalnya. Bahkan Pastor Eymardharus berpindah dua kali karena tidak ada yang berminat pada kongregasinya.

Ia juga membentuk kelompok-kelompok dalam gereja bagi umatnya untuk mempersiapkan diri mereka menyambut Komuni Kudus Pertama. Ia menulis banyak buku mengenai Ekaristi yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Di masa pengabdiannya, pastor Eymard bersahabat dekat dengan Pastor Vianney yang kemudian menjadi Santo Yohanes Maria Vianney. Pastor Vianney bahkan mengatakan bahwa ia akan berdoa setiap hari bagi karya kerasulan pastor Eymard.

Santo Petrus Yulianus Eymard melewatkan 4 tahun terakhir hidupnya dalam penderitaan hebat. Selain karena kesehatan jasmani, juga karena berbagai masalah dan kecaman. Namun ia tetap setia dalam adorasinya kepada Sakramen Mahakudus. 

Kesaksian hidup dan pengorbanannya mendorong banyak orang menjawab panggilan hidup membiara dan bergabung dengan ordo-ordo religius.

Santo Petrus Yulianus Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 di usia 57 tahun. Ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dandikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus XXIII pada tanggal 9 Desember 1962.

Saya mendengar sebuah renungan tentang bagaimana menjadi Orang Kudus. Tentu saja selama ini kita berpikir bahwa menjadi Orang Kudus adalah sesuatu yang suci, rumit dan hanya mungkin bagi orang-orang pilihan Allah. 

Tapi renungan ini menyadarkan saya bahwa kita semua mempunyai moment atau kesempatan untuk menjadi Orang Kudus Allah. Bagaimana coba? Bukankah butuh orang yang seperti apa dulu untuk diangkat sebagai orang Kudus Allah?

Ketika kita merasakan ketenangan dan penghiburan Tuhan di tengah kesulitan hidup, ketika kita bersikap murah hati memaafkan orang lain di saat kita dikecewakan atau dikhianati, ketika kita merasa damai di tengah kekesalan, ketika kita dengan sukacita membantu orang lain tanpa memperhitungkan atau memandang apapun, 

ketika kita bahagia dalam kemiskinan, ketika kita mampu mengendalikan diri dalam kemarahan, ketika kita percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan dalam situasi apapun, moment-moment itu walau sedikit saja atau sebentar saja terasa, sebenarnya itu adalah moment dimana kita sudah menjadi Kudus.

Tinggal apakah kita mau berjuang memelihara moment seperti itu terus bertahan dalam seluruh pengalaman hidup kitadan memelihara Kekudusan sebagai tujuan hidup. Menjadi Kudus untuk lebih berbahagia dalam Tuhan.

Tetap setia pada panggilan hidup seperti yang dilakukan oleh Santo Petrus Yulianus Eymard dan memelihara moment-moment kekudusan kita walaupun sederhana tapi penuh iman kepada Tuhan Yesus.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya yah... Syalom, Tuhan Yesus memberkati...

Rabu, 14 Oktober 2020

SANTA YOAKIMA VEDRUNA VIDAL DE MAS, Muder of Charmelite Sisters of Charity

 

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria….

Beberapa minggu terakhir, dunia dikejutkan dengan berita terpilihnya seorang pemuda milenial dari Asisi menjadi orang Kudus Allah, Beato Carlo Acutis. Sang Beato muda yang dibeatifikasi pada tanggal 10 Oktober 2020 ini ditampilkan dengan mengenakan baju kaos, celana jins, tas ransel, kamera dan laptop, khas orang muda milenial. 

Seperti pemuda biasa pada umumnya, dia tetaplah seorang anak muda belasan tahun yang suka  bermain bola dan berkumpul dengan teman2nya.

Dia adalah anak korban perceraian, korban bully di sekolahnya dan punya banyak teman-teman yang disabilitas. Ia mempersembahkan seluruh penderitaan yang dialaminya bagi gereja dan Paus Benediktus XVI. 

Beato Carlo meninggal di usia 15 tahun karena kanker Leukimia. Seluruh talenta yang diberikan Tuhan padanya, ia gunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Saya melihat banyak orang Kudus Allah yang berasal dari kalangan orang muda, ada Santa Bernadeta Soubirus, Santa Maria Goreti, Santa Theressa dari Lissieux dan masih banyak lagi. Betapa mulianya pilihan hidup mereka ya… 

Di usia, dimana kebanyakan orang lebih memilih bersenang-senang dengan hoby dan pergaulan, mereka memilih mempertahankan kemurnian dan hidup hanya untuk kemuliaan Allah saja.

Kisah kita kali ini, tidak ada sangkut pautnya dengan orang muda ya, malah ini adalah kisah seorang ibu dengan 9 orang anak yang kemudian menjadi Orang Kudus Pilihan Allah.

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas

Terlahir pada tanggal 16 April 1783 di Barcelona, Spanyol. Ayahnya bernama Don Lorenzo de Vedruna, adalah seorang yang bekerja pada kerajaan dan ibunya bernama Teresa Vidal. 

Yoakima dibaptis pada tanggal kelahirannya di Gereja Santa Maria del Pi. Santa Yoakima adalah Orang Kudus Spanyol dan pendiri Charmelite Sisters of Charity atau Suster-suster Cinta Kasih Karmel.

Pada usia 12 tahun, Yoakima menyatakan keinginannya untuk menjadi biarawati Karmelit, tapi orangtuanya menolak karena merasa dia belum cukup dewasa untuk membuat keputusan seperti itu bagi masa depannya. 

Ia menjalani masa kecilnya dalam kesalehan, Yoakima menjalani Devosi khusus kepada bayi Yesus dan sangat terobsesi menjaga kemurniannya. Yoakima menerima Komuni Pertamanya pada usia 9 tahun di tahun 1792.

Sebagaimana kebiasaan para aristrokat bangsawan Spanyol di masa itu, Yoakima dijodohkan oleh orangtuanya dengan pemuda bangsawan. Diceritakan bahwa, Teodoro de Mas adalah seorang pengacara dan pemilik tanah yang juga sahabat dari Don Lorenzo. 

Ia sebelumnya ragu-ragu memutuskan siapa dari ketiga putri Don Lorenzo yang harus dinikahinya. Teodoro menghadiahkan kepada ketiga putri sahabatnya ini masing-masing 1 kotak kacang almond. 

Dua putri tertua menolak dan mengatakan itu adalah hadiah yang kekanak-kanakan, namun Yoakima menerima hadiah itu sambil berkata ‘Saya suka kacang almond’. Saat itulah Teodoro menetapkan pilihannya pada Yoakima.

Pada tanggal 24 Maret 1799, Yoakima dan Teodora de Mas menikah dan diberkati dengan 9 orang anak. Pasangan suami istri ini terkenal sebagai pasangan Katolik yang saleh. Mereka menjadi anggota  setia Ordo Ketiga Santo Fransiskus Asisi dan senantiasa hidup sesuai regula ordo tersebut. 

Inilah mengapa Yoakima dikenal sebagai ‘Santa Yoakima dari Santo Fransiskus Asisi’. Kelak empat orang putri mereka menjadi biarawati, 2 putra mereka menikah dan menjadi awam Katolik yang saleh dan 3 anak yang lain meninggal dunia ketika masih kecil.

Pada tahun 1808, Kaisar Napoleon Bonaparte menyerang kerajaan Spanyol. Invasi yang terkenal dengan nama ‘The Peninsula War’ ini menyebabkan Yoakima beserta keluarganya harus melarikan diri tapi suaminya berkeras tetap berjuang dalam perang sebagai relawan melawan tentara Perancis dan ia meninggal pada tanggal 6 Maret 1816 akibat luka-luka yang didapatnya dalam sebuah pertempuran.

Beberapa bulan kemudian, bersama anak-anaknya, Yoakima pindah dari Barcelona ke tanah milih keluarga de Vedruna yang disebut ‘Manso Escorial’ di kota Vic, sekitar 70 kilometer jauhnya dari Barcelona. Yoakima mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghabiskan waktunya dalam doa. 

Ia selalu mengenakan jubah ordo ketiga Fransiskan dan mulai melakukan karya amal merawat orang-rang sakit. Pembimbing rohaninya, seorang imam Kapusin bernama Esteban de Olot, mengagumi semangat pengabdian Yoakima dan menyarankan dia untuk mendirikan sebuah Kongregasi Apostolik yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.

Hal ini mendapat dukungan penuh dari Uskup Vic, Pablo Jesus Corcuera, yang kemudian menyarankan agar kongregasinya mengadopsi regula ordo Karmel. Yoakima mengangkat sumpahnya di hadapan Uskup Pablo pada tanggal 6 Januari 1826. Uskup ini juga kemudian merumuskan dan menulis regula bagi konggregasi tersebut.

Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity resmi berdiri pada tanggal 6 Februari 1826. Dan di pagi hari 26 Februari, Yoakima bersama 8 orang wanita mengucapkan Kaul sebagai biarawati perdana di Konggregasi tersebut. 

Upacara tersebut berlangsung dalam misa pagi di Gereja biara Kapusin. Kemudian para biarawati perdana itu kembali ke ‘Manso Escorial’ dan memulai biara baru mereka.

Pada tahun-tahun awal berdiri, Muder Yoakima sering berkonsultasi dengan Santo Antonio Maria Claret, tentang cara hidup membiara dan pengelolaan konggregasi apostolik. 

Ketika perang Carlist terjadi yaitu serangkaian perang saudara di Spanyol, pada tahun 1836 Muder Yoakima pindah ke Roussilon, Perancis dan menetap disana selama 6 tahun sampai tahun 1842.

Kongregasi Karmel Suster-suster Amal ini secara resmi mendapat persetujuan dari Paus Leo XIII pada 20 Juli 1880. Ordo ini mulai menyebar ke seluruh wilayah Spanyol di Iberia dan berbagai belahan dunia. 

Para biarawati berkarya dengan mendirikan banyak rumah sakit, panti jompo dan sekolah-sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu.

Di awal tahun 1850, Muder Yoakima harus beristirahat dari tugas-tugasnya sebagai superior karena kondisi kesehatan yang memburuk.  Pada tanggal 28 Agustus 1854, Muder Yoakima meninggal dunia karena wabah Kolera yang menyerang Catalonia. Muder Yoakima dimakamkan di biara yang didirikannya di Vic, Osona, Barcelona.

Santa Yoakima dibeatifikasi pada 19 Mei 1940 di Basilika Santo Petrus, Roma, Vatikan oleh Paus Pius XII. Dan kemudian dikanonisasi oleh Paus Yohanes XXIII pada 12 April 1959.

Pada tahun 2008 Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel atau Charmelite Sisters of Charity tercatat telah berkarya di berbagai Negara di benua Eropa, Asia, Afrika dan Amerika; mereka memiliki 280 biara dan 2012 orang biarawati.

Jesus Christ

Nah, sampai disini kisahnya ya… Ingatlah, bahwa para Kudus ini adalah contoh hidup yang layak kita teladani karena Allah telah menyatakan Kemuliaannya pada mereka. 

Berdoalah kepada Allah dengan perantaraan Orang Kudus yang kita teladani dalam hidup kita, dan tetaplah menjadikan Tuhan Yesus sendiri sebagai jalan satu-satunya bagi kita untuk sampai kepada Allah Bapa.

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...