Tampilkan postingan dengan label orang kudus yang jasadnya masih utuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang kudus yang jasadnya masih utuh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2020

Santa Veronika Yuliani, Penerima Karunia Stigmata

Syalom sahabat Tuhan Yesus…

Seperti janji saya sewaktu mengawali menceritakan kisah para Kudus Allah dalam blog ini. Bahwa saya akan menceritakan tentang para Santo dan Santa yang jasadnya tetap utuh puluhan tahun kemudian ketika makam para kudus ini dibuka kembali untuk proses kanonisasi.

Terdapat sekitar 250 tubuh santo dan santa yang masih utuh, saya akan menceritakan kisah hidup 25 Santo dan santa diantaranya. Nah, menyatakan bahwa mereka menjadi Orang Kudus Allah memerlukan proses yang panjang dan rumit, yang saya sebut sebelumnya sebagai proses Kanonisasi. 

Butuh banyak sekali saksi, data dan prosedur yang panjang untuk mendapatkan pengakuan dari Gereja Katolik. Karena kita juga percaya bahwa Tuhan Allah menyatakan kebesaran-Nya dengan menginjinkan tubuh para Kudus-Nya tidak binasa juga bukanlah hal yang main-main (Ingat Mazmur 16:10).

Memang bahwa tubuh adalah fana, yang kekal adalah Roh, tapi terkadang Tuhan Allah melakukan mujizat untuk menunjukan kuasa-Nya bagi kita orang-orang yang percaya.

 

Santa Veronika Yuliani (Veronica de Julianis)


Santa Veronika Yuliani atau juga disebut Santa Veronika Giuliani, adalah seorang mistikus Italia terbesar abad ke-18. Mistikus adalah orang yang membersihkan batinnya agar memperoleh pengetahuan dan kenikmatan rohaniah. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha untuk menghindari kenikmatan duniawi. 

Setiap tindakan dan pikiran mereka didasarkan kepada hati nurani. Santa Veronika terlahir di Mercatello di daerah Duchy of Urbino pada tanggal 27 Desember 1660. Orangtuanya adalah Francesco Giuliana dan Benedetta ManciniVeronika dibaptis dengan nama Ursula.

Santa Veronika adalah jiwa yang telah dipilih Tuhan sejak masa kecilnya untuk mencapai rahmat mistik tertinggi. Seluruh harta surgawi yang diperolehnya selama hidupnya, ia tinggalkan dalam bentuk buku diary yang ditulisnya dibawah bimbingan rohani Bapa Pengakuannya; pastor Gerolamo Bastianelli

Yang saya akan ceritakan disini hanya sebagian kecil saja dari kisah besar yang ditulis oleh St. Veronika sendiri dalam buku diarynya. 

Sejak usia 3 tahun ia telah menunjukkan nilai-nilai keluhuran, ketertarikan besar pada komunikasi Ilahi dan menunjukkan simpatinya kepada orang miskin. Ia menyisihkan makanan dan berbagi pakaian kepada setiap orang miskin yang dijumpainya terutama anak-anak. Keluhuran dan Kasihnya yang mendalam ini semakin bertumbuh seiring bertambahnya usia. 

Ibunya, Benedetta, adalah seorang wanita saleh yang suka menceritakan kisah para Kudus Allah dan para martir kepada Ursula dan 4 saudaranya. Kisah-kisah itu membangkitkan cintanya yang besar kepada Salib dan luka-luka yang dialami Tuhan dalam penderitaan-Nya dan membuat Ursula mulai melakukan beberapa penebusan dosa yang agak berat dan berkeinginan untuk menderita karena cintanya kepada Yesus di usia yang masih sangat kecil, mengikuti teladan Santa Rosa dari Lima.

Ketika Ursula berusia 7 tahun, ibunya meninggal dunia. Ursula dan 4 saudaranya menemani sang ibu menerima sakramen terakhir. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Benedetta menguduskan kelima anaknya masing-masing pada lima luka suci Yesus. 

Ursula dikuduskan dengan luka pada lambung Yesus. Di dalam buku diary yang ditulisnya, terlihat jelas bahwa Ursula memiliki ketaatan dan penghormatan yang besar pada luka-luka suci itu.

Pada usia 10 tahun, tanggal 2 Februari 1670, Ursula menerima Komuni Suci pertamanya. Ia menggambarkan sukacitanya dalam buku diary: “Sungguh menyenangkan. Saya tidak dapat menceritakan apa yang saya rasakan saat ini. 

Saya hanya merasa bahwa saat ini saya dihinggapi keinginan yang sangat kuat untuk menjadi seorang biarawati dan saya tidak dapat menahan lebih lama lagi kerinduan itu”.

Setelah memperoleh ijin dari ayahnya, pada usia 17 tahun, 28 Oktober 1677, ia bergabung dengan biara kontemplatif Kapusin di Citta di Castillo Umbria, Italia dan memakai nama Veronika. Uskup Sebastiani, yang melakukan upacara penerimaan para biarawati baru, mengatakan pada biarawati yang lain tentang Ursula; 

"Jaga gadis ini sebagai harta yang berharga karena dia akan menjadi orang suci yang agung."  Uskup ini juga yang memilih nama religiusnya, “Mulai sekarang namamu adalah Sister Veronica, yang artinya benar dan unik, yaitu, kamu dan Tuhan saja.”

Selama di dalam biara, Suster Veronika sangat taat pada atasannya. Dia juga mulai menulis buku Diarynya pada bulan April 1693 dan selesai menulisnya tiga puluh empat tahun kemudian pada tahun 1727. Dia menulis total dua puluh dua ribu halaman. 

Di tahun 1693 ini, ia memasuki tahapan baru dalam kehidupan spiritual setelah mendapat penglihatan tentang Cawan (piala anggur) yang melambangkan Sengsara Ilahi. Sejak saat itu, suster Veronika mulai mengalami penderitaan spiritual yang hebat. 

“Pada saat itu saya pikir saya memiliki penglihatan tentang Tuhan, yang memimpin saya;  Saya pikir dia memegang tangan saya.  Saya bisa mendengar suara yang harmonis dan nyanyian malaikat - sebenarnya saya pikir saya berada di surga. 

Saya ingat saya dapat melihat banyak hal, tetapi semuanya tampak seperti kesenangan surgawi.  Kemudian saya melihat banyak orang suci pria dan wanita.  Saya pikir saya juga melihat Perawan Terberkati. Saya ingat bahwa Tuhan menyambut saya dengan baik.  

Dia berkata kepada semua orang: 'Ini adalah milik kita sekarang', dan kemudian Dia menoleh kepadaku dan berkata: 'Katakan apa yang kamu inginkan'.  Saya meminta rahmat-Nya untuk mencintai-Nya dan dia sepertinya mengomunikasikan cinta-Nya kepada saya saat itu juga.

Pada tahun 1694 ia mendapat stigmata berupa tanda mahkota duri, lukanya nyata dan rasa sakitnya tetap tanpa henti. Berdasarkan perintah uskup, ia memperoleh penanganan medis, namun luka-luka itu tidak tersembuhkan. Sejak awal Suster Veronika sangat prihatin pada nasib orang berdosa dan melakukan penebusan dosa besar-besaran untuk mendapatkan pertobatan mereka. 

Dalam salah satu tulisannya ia mengatakan: “Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu dengan menangis, tetapi saya tidak tahu apa yang saya tangisi.  Tampaknya memikirkan tentang pelanggaran yang dilakukan terhadap Tuhan dan memikirkan tentang Sengsara-Nya membuat saya menangis;  tapi saya tidak ingat dengan baik alasan untuk menangis begitu sering. 

Sepertinya saya ingat bahwa saya merasa bahwa ada orang berdosa yang keras kepala yang tidak ingin bertobat kepada Tuhan dan ini sangat menyakiti saya sehingga saya tidak dapat beristirahat siang atau malam, dan saya akan berkata kepada Tuhan, 'Ya Tuhan, di sini saya.  Saya siap untuk penderitaan apa pun selama Engkau mempertobatkan semua orang yang menyinggung Engkau. 

Ia menceritakan, terkadang ketika ia akan beristirahat, Suster Veronika mendengar seperti suara nyata yang mengatakan: 'Ini bukan waktu untuk beristirahat tetapi untuk menderita.' Iapun akan segera bangun dan berlutut di depan salib dan mulai berdoa.

Dia memiliki penglihatan tentang jiwa-jiwa yang akan jatuh ke dalam dosa dan ini membuatnya menderita dan meningkatkan penebusan dosa.  Kadang-kadang sebagai hadiah, Yesus akan memberi tahu dia tentang jiwa-jiwa tertentu yang telah bertobat dan kembali kepada-Nya.  

Di lain waktu, Yesus akan memberi tahu dia tentang orang berdosa tertentu yang perlu dia doakan. Kerinduannya untuk menjadi perantara bagi Tuhan dan orang berdosa membuatnya sering melakukan Doa dan puasa yang berat. Suster Veronika juga sering melakukan Jalan Salib pribadi dengan membawa salib yang berat mengelilingi taman di tengah segala macam cuaca buruk.

Sama seperti yang dialami jiwa-jiwa lain yang dekat dengan Tuhan, St. Veronikapun melewati banyak sekali gangguan dan godaan dari si jahat, ia menyebutnya ‘si penggoda’. Semua gangguan itu ia rasakan sejak ia masuk biara dan terutama yang terberat adalah selama ia menulis buku diarynya. 

Terkadang gangguan itu bahkan nyata dalam bentuk serangan fisik. Ia menulis: “Ketika saya melakukan penebusan dosa, tampaknya neraka terpecah.  Saya mendengar suara-suara, jeritan, desisan seolah-olah dari ular.  Pada akhirnya saya sepertinya mendengar banyak suara kebingungan, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan.  

Saya hanya ingat bahwa pada akhirnya mereka berkata, 'Terkutuklah kamu.  Kami akan membuatmu membayarnya. 'Seperti yang mereka katakan ini, ruangan saya dibakar, tapi hanya sesaat."

‘Si Penggoda’ bahkan menunjukkan padanya tentang neraka. “Sepertinya saat itu saya mendengar jeritan dan suara ratapan.  Saya hanya melihat monster neraka, banyak ular, banyak binatang buas, dan bau busuk dan api yang sangat panas, yang begitu besar sehingga tinggi mereka tidak dapat diukur.  

Saya hanya bisa membandingkannya dengan jarak antara langit dan bumi.  Sejauh ukuran tempat itu, orang tidak bisa melihat awal atau akhirnya.  Saya bisa mendengar banyak hujatan dan kutukan terhadap Tuhan.

Visi ini membuat Veronika menawarkan dirinya sebagai korban Keadilan Ilahi: "Tuhanku, aku menawarkan diriku untuk berdiri di sini sebagai pintu masuk, sehingga tidak ada jiwa yang bisa masuk ke sana dan kehilangan Engkau."  

Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Selama saya berdiri di ambang pintu ini, tidak ada yang akan masuk.  O jiwa-jiwa, kembalilah!  Tuhanku, aku tidak meminta apapun selain keselamatan orang-orang berdosa kepadaMu.  Kirimkan aku lebih banyak rasa sakit, lebih banyak siksaan, lebih banyak salib!”

Selama lima belas tahun terakhir hidupnya, Suster Veronika sakit parah. Sebuah lukisan Our Lady of Sorrows’ yang tergantung di kamarnya menjadi hidup, dan Santa Perawan Maria sendiri mendiktekan kepadanya bab-bab terakhir dari Diary yang ditulisnya

Ia dikaruniai berbagai rahmat yang tidak dimiliki orang lain pada umumnya, seperti: penglihatan-penglihatan dan kemampuan bernubuat. Di masa-masa terakhir hidupnya ia menulis tentang rahmat yang diperolehnya dari Tuhan Yesus: “Tiga kali Dia memelukku dengan menyenangkan, dengan melepaskan tangan-Nya dari salib dan memelukku di sisi-Nya;  5 kali Dia memberi saya minum dari air yang mengalir dari lambung-Nya itu;  

15 kali Dia membasuh hatiku dengan Darah-Nya yang mahal, yang keluar dari lambung-Nya seperti sinar dan menyentuh hatiku; 12 kali Dia menyelidiki hatiku dan memberi saya rahmat untuk memurnikannya dan membuang semua kotoran, kebusukan, ketidaksempurnaan dan sisa dosa saya;  

9 kali Dia menyuruhku menyentuh luka-luka Kudus-Nya;  200 kali dia memeluk jiwaku sangat menyenangkan dengan cara yang khusus, tidak termasuk yang lain yang Dia berikan terus-menerus;  dan 100 luka penuh kasih yang Dia buat dalam hatiku, secara rahasia."

Sekitar tahun 1714-1715, karena memiliki devosi yang begitu besar pada ‘Santa Perawan Maria Terberkati’, bapa pengakuannya memintanya untuk melakukan perjalanan ke ‘Gua Maria Perawan Terberkati di Loreto’ dengan bantuan Tuhan.  

Pastor Mario Cursoni, salah satu pastor yang memberinya pengakuan dosa, menceritakan, bahwa saat itu suster Veronika berdoa kepada Tuhan dan meminta untuk memberinya perjalanan ziarah mistis ke Tempat Suci Loreto dan ia sungguh-sungguh memperoleh perjalanan mistis itu. 

Bahkan, suster Veronika mampir di pertapaan Monte Corona, di mana pada saat itu  pastor  Crivelli sedang melakukan latihan spiritualnya; dari sana suster Veronika dibawa ke gereja Perawan Suci Maria para Malaikat, ke Gereja St. Nicholas dari Tolentino, dan akhirnya sampai ke Tempat Suci Loreto untuk mengambil Komuni Suci.  

Suster Veronica dibawa ke tempat-tempat itu dalam penglihatan oleh seorang malaikat. Pastor Mario Cursoni mengatakan: “Ketika saya menanyainya tentang perjalanan ini, dia menjawab bahwa Tuhan telah menganugerahkannya kesempatan untuk berziarah ke tempat-tempat itu dalam suatu penglihatan. 

Dan suster Veronika menggambarkan tempat-tempat suci itu dengan detail yang akurat, bahkan saya yang telah mengunjunginya beberapa kali tidak dapat melakukan yang lebih baik."

Mulai tahun 1700 adalah tahun-tahun terberat dalam hidup suster Veronika, karena di tahun-tahun inilah ia sangat menderita karena sakitnya dan stigmata yang dialaminya. Meski menjalani kehidupan mistis supernatural ini, suster Veronika tetap menjalankan tugas kehidupan nyatanya. Suster Veronika menjadi pemimpin biara dan membimbing para novis Ordo Kapusin di Italia. 

Ia menempatkan Perawan Maria sebagai pusat dari seluruh hidupnya dan menyerahkan kunci biara itu kepada Perawan Maria Terberkati. Suatu ketika, ketika ia sedang melakukan kewajibannya ke neraka dalam rangka penebusan dosa, Suster Maria Biovanna Maggio datang bertemu dan hendak berbicara dengan Suster Veronica

Dia mengisahkan bahwa ia melihat "ekspresi agung dan luar biasa dari wajah susterVeronika."  Suster Maggio merasa terhibur oleh kata-kata dari sang kepala biara.  Kemudian ia pergi menceritakan pengalamannya itu kepada suster Florida yang di kemudian hari menjadi Beata Florida. 

Suster Florida tersenyum dan berkata, “Ingatlah bahwa hari ini suster Veronica berada di neraka berkorban untuk pertobatan para pendosa.  Orang yang bersamamu adalah Perawan Suci yang muncul menggantikan suster Veronica."  

Beata Florida (yang dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 16 Mei 1993) mengetahui dengan baik semua detail kehidupan Veronica, karena para bapa pengakuan Veronica telah meminta Veronika untuk memberi tahu Suster Florida tentang segala sesuatu dalam kehidupan rohaninya.

Santa Veronika meninggal dunia pada 9 Juli 1727 di Citta di Castello karena sakit. Ia dibeatifikasi pada tanggal 17 Juni 1804 oleh Paus Pius VII dan ditetapkan menjadi orang kudus atau dikanonisasi pada 26 Mei 1839 oleh Paus Gregory XVIPesta perayaannya diperingati setiap tanggal 9 Juli.

Kepada Beata Florida, selama hidupnya Santa Veronika telah memberitahu bahwa di hatinya terukir simbol-simbol tertentu dari hasrat dan itu telah tertulis dalam diarynya. Beata Florida kemudian membuat sketsa hati Santa Veronika dengan semua tanda yang dijelaskannya. Ketika jantungnya dibedah selama proses otopsi, terungkap adanya sayatan misterius yang berbentuk seperti garis peralatan kisah Sengsara, tujuh pedang Bunda Maria, dan sejumlah huruf.

Santa Veronica sering digambarkan memakai mahkota duri dan memegang hati yang terbakar. Selama hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk berdoa, berpuasa dan bermati raga bagi penebusan dan pertobatan orang-orang berdosa. Ia juga memperoleh luka mistik dan stigmata.

Wahhh, banyak sekali sebenarnya yang ingin saya bagikan tentang Santa Veronika  Yuliani. Betapa ia tetap rendah hati di tengah banyak anugerah dan berkat Tuhan dalam hidupnya. 

Saya melihat ia selalu memakai kata ‘saya pikir..’ atau ‘sepertinya..’, seolah ia mengatakan bahwa ia tidak layak mendapatkan semua karunia itu. Semoga kita semua memperoleh rahmat Keselamatan dan Pertobatan melalui doa kepada Santa Veronika Yuliani.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya ya… Syalom… Tuhan Yesus memberkati…

Minggu, 05 Januari 2020

Santo Robert Bellarminus, Paus yang Cerdas dan Berbakat

Salve Sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, wellcome to 2020. Sudah punya resolusi untuk tahun ini? Saya meniatkan menyelesaikan Vlog dan Blog 25 kisah para Santo dan Santa yang sudah saya mulai dari tahun 2019 kemarin. Serta bersekutu lebih dalam lagi dengan Bapa di surga, Tuhan Yesus dan Roh Kudus. Amin.

Ijinkan saya menceritakan sedikit kegiatan saya menjelang Natal. Biasanya di bulan Desember Komunitas Persekutuan Doa kami punya retret pembaharuan Hidup Baru dalam Roh. Dan Retret itu sudah berjalan dengan baik dan lancar, Terpujialh Tuhan.

Sebagai anggota PD kami wajib ikut menjadi panitia dan peserta. Nah, setelah retret ini berakhir, saya harus bergabung bersama teman-teman Tim ‘SM Peduli’, berbagi Sembako untuk para penderita ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), para Janda dan anak2 penyandang Disabilitas yang kehidupan ekonomi mereka sangat sulit.

Sebenarnya pembagian Sembako ini kami jalankan setiap bulan, tapi di edisi Natal jumlahnya lebih banyak dan tersebar di beberapa tempat dengan jarak cukup jauh, itulah sebabnya sangat menguras tenaga dan waktu. 

Tapi demi mereka yang membutuhkan kunjungan dan hiburan, kami tetap bersemangat. Akan ada vlog khusus untuk kegiatan ini, supaya teman2 semua bisa ikut merasakan sukacita yang kami rasakan ketika bertemu dengan mereka.

Well, di bagian ke-8 ini, kita akan bercerita tentang Santo Robert Belarmino. Terlahir dari keluarga miskin keturunan bangsawan, di Montepulciano, Tuscany, Italia pada tanggal 4 Oktober 1542 beliau adalah imam Yesuit dan seorang Kardinal Gereja Katolik Roma. 

Sebenarnya Robert Belarmino adalah keponakan dari Paus Marsellus II atau Marcelo Cervini, yang menjabat singkat di tahun 1555. Tapi kenaikannya menjadi Kardinal bukan karena nepotisme tapi karena semangat baja dan kemampuan intelektualnya yang luar biasa.

Robert Belarmino masuk serikat Yesus pada tahun 1560 dan melanjutkan studi di Roma, Paduadan Louvain. Pada tahun 1570 ditahbiskan menjadi imam dan mengajar di Louvain sampai tahun 1576. Di tahun 1576 Belarmino dipanggil kembali ke Roma menjabat posisi baru ‘Teologi Kontroversial’ di Collegium Romanus milik Serikat Yesuit yang didirikan oleh Santo Ignatius Loyola.

Belarmino mulai memberikan kuliah kepada calon2 imam baik Yesuit maupun tarekat lainnya untuk menjawab tantangan dari Teologi Protestanisme. Publikasi sistem pengajaran Belarmino menandai era baru dalam perdebatan teologis antara Gereja Katolik dan Kristen Reformasi. Belarmino bukanlah seorang pendebat yang emosional. Tetapi seorang yang terpelajar dan sistematis yang tidak dapat diabaikan oleh para teolog Protestan. 

Ia sangat terlatih dalam berargumen dan menggunakan banyak riset historis.
Pada tahun 1592, Bellarminus diangkat menjadi Rektor Akademi Roma dan berkat kerja kerasnya berhasil menerbitkan versi ‘Sixtus-Klemens’ dari Alkitab Vulgata. 

Setelah tahun 1599, kehidupannya diisi oleh gabungan antara kepintarannya sebagai pendebat dan kesibukannya sehari-hari dalam hirarki Gereja.

Pada tanggal 3 Maret 1599, Sri Paus Klemens VIII mengangkat Robert Belarmino menjadi Kardinal di gereja Katolik Roma. Sri Paus Klemens ini dikenal suka mengangkat figur-figur menonjol dalam Gereja Katolik kala itu untuk menjadi Kardinal pada masa pontifikatnya selama tahun 1592-1605. 

Diantaranya ada Sejarawan Gereja Cesare Boronio. Ketika mengangkat Robert Belarmino menjadi Kardinal, Sri Paus berkata: “kami mengangkat orang ini karena Gereja Allah tidak memiliki orang pintar yang setara dengannya.”

Serikat Yesuit dan Belarmino sendiri berusaha memprotes bahkan menolak pengangkatan ini, namun Sri Paus malah mengancam akan melakukan ekskomunikasi. 

Sesungguhnya, pengangkatan ini tidak hanya menunjukkan kejelian Sri Paus Klemens VIII dalam memilih figur cerdas dan berbakat, tapi juga sebuah tindakan kristisme terang-terangan terhadap pendahulunya, Paus Sixtus V (1585-1590), yang nyaris saja memasukan karya terbesar Kardinal Belarmino berjudul ‘Perdebatan tentang Kontroversi Iman Kristen terhadap Bidaah masa kini’ ke dalam daftar Buku Terlarang. 

Hal ini tidak terjadi lantaran sang Paus keburu wafat dan digantikan oleh Sri Paus Klemens VIII. 

Kemarahan Paus Sixtus V dikarenakan dalam buku tersebut Belarmino berargumentasi bahwa Kepausan hanya memiliki kuasa tak langsung terhadap masalah-masalah sipil (non-gerejawi).

Pada tahun 1602 Bellarminus sempat menjadi Uskup Capoa. Ia menjalankan jabatan pastoralnya dengan sangat baik sampai tahun 1605 dan dipanggil kembali ke Roma untuk pengangkatan Paus yang kemudian terpilihlah Paus Paulus V. 

Sejak itu Paus Paulus V mempertahankan Bellarminus tetap berada disisinya di Roma. Ia membantu Paus Paulus dalam banyak hal. Baik itu urusan intern di Roma maupun masalah2 dengan hubungan antara kepausan dan raja2 yang berkuasa di kala itu.


Di dekade terakhir masa hidupnya, Bellarminus lebih banyak berkarya dalam bidang spiritual. Ia mempublikasikan ‘Komentar Mazmur’ yang besar dan menerbitkan tulisan2 devosional yang terkenal.

Bellarminus wafat di usia 78 tahun, pada tanggal 17 September 1621 di Roma, Italia. Ia dikanonisasi pada tahun 1930 oleh Paus Pius XI dan menjadi seorang Santo dan Doktor Gereja dalam Gereja Katolik Roma. Jasadnya yang awet dan tidak hancur disemayamkan di Chiesa di Sant’Ignazio Roma, Italia.

Nah, segala kisah dan penjelasan tentang Santo Robert Bellarminus ini buat saya sangatlah rumit dan tidak saya pahami benar, semasa hidupnya beliau adalah pejabat tinggi dalam Gereja Katolik Roma.

Banyak lagi penjelasan tentang Santo yang cerdas ini di web Katolik. Terima kasih sudah membaca sampai selesai, semoga menginspirasi dan menjadi berkat.

Sabtu, 30 November 2019

Santo Pius V, Sang Penggembala Domba yang Menjadi Paus

 

Salve... Untuk semua pembaca blog ini, mohon kebijakannya dalam membaca dan mencerna kisah-kisah yang saya ceritakan. Kamu tidak harus mengamini keyakinan saya, tapi kamu bisa menambah wawasan kamu dengan membaca blog ini ketimbang membaca kisah cinta yang jelas2 rekayasa penulis dan sutradara semata.

Nah, setelah beberapa waktu berlalu setelah kisah Santo Fansiskus Xaverius, saya tiba-tiba menjadi pesimis dengan vlog ini, tiba-tiba kayak malas nulis lagi. Tapi kemudian saya memutuskan untuk meneruskan, tidak peduli apakah ada yang membaca atau bahkan sekedar melihat isi blog saya. 

Tidak masalah. Pada dasarnya saya ingin mengerjakan sesuatu yang bisa membawa aura positif dalam hidup saya sendiri atau orang lain yang mungkin kebetulan membaca ini. Dan saya juga sudah berjanji akan menyelesaikan 25 Orang Kudus yang disebut Santo dan Santa dalam gereja Katolik.

Santo Pius V (Paus)

Nah, kisah kali ini adalah tentang Santo Pius V yang juga adalah Paus atau pemimpin Gereja Katolik sedunia. Santo Pius V terlahir di Bosko, Italia pada tahun 1504 dan dibaptis dengan nama Antonius Ghislieri

Antonius sungguh berkeinginan menjadi imam, namun karena keluarganya miskin, ia tidak bisa bersekolah dengan baik. Setiap hari Antonius membantu orang tuanya menggembalakan domba-domba.

Atas bantuan seorang dermawan, Antonius disekolahkan di bawah bimbingan imam-imam Ordo Dominikan. Pada usia 14 tahun Antonius bergabung dengan ordo Dominikan dan memilih nama Michael. Ia menyelesaikan studi dengan gemilang dan ditahbiskan menjadi imam. 

Antonius menjadi biarawan yang pandai dan bijaksana. Taat pada aturan-aturan biara, taat pada pimpinan, suka akan kemiskinan dan kemurnian.

Antonius menjadi mahaguru filsafat dan theologi. Pada usia 52 tahun, Antonius ditahbiskan menjadi uskup. 1 tahun kemudian ia menjadi Kardinal. Dengan gagah berani, Antonius mempertahankan ajaran-ajaran Gereja dari orang-orang yang menentangnya. 

Ia hidup bermatiraga serta saleh dan suci. Ia tidak takut menentang Paus Pius IV dan sempat dipecat dari Istana Vatikan.

Konklaf

Setelah Paus Pius IV wafat, para Kardinal berkumpul dalam Konklaf (Pertemuan para Kardinal Gereja Katolik yang dilakukan untuk Pemilihan Paus baru. Konklaf juga adalah nama ruangan tempat pertemuan itu berlangsung). 

Pemilihan ini sangat sulit, setelah 3 minggu berlalu tetap tidak membuahkan hasil. Atas nasehat Karolus Borromeus yang hadir dalam Konklaf dan mendapat dukungan dari Raja Philip II, Antonius Ghislieri terpilih menjadi Paus menggantikan Paus Pius IV, di usianya yang ke 61 tahun. 

Ia kemudian memakai nama Paus Pius V. Dulu ia hanyalah seorang bocah miskin penggembala domba, kini ia menjadi pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia.

Namun demikian ia tetaplah pribadi yang sederhana dan rendah hati serta hidup bermatiraga. Paus Pius V tetap memakai jubah Dominikan putihnya yang sudah tua dan tidak ada orang yang bisa membuatnya mengganti jubah itu. Tempat tidurnya dialasi dengan jerami kasar sebagai tanda matiraga.

Paus Pius V menghadapi banyak masalah dalam menjalankan tugasnya. Ia menimbah kekuatannya dari Salib Suci Kristus. Baginya, Doa adalah senjata ampuh. Setiap hari ia berdoa Rosario dan merenungkan sengsara Yesus Kristus. Ia membuka banyak Seminari baru, merevisi Brevir dan menerbitkan buku Katekismus baru. 

Ia mendirikan yayasan-yayasan untuk menyebarkan Iman dan ajaran Gereja. Ia membangun rumah sakit dan memperhatikan orang miskin dengan menggunakan dana dari Kas Kepausan. 

Ia adalah Paus yang mengucilkan Ratu Elizabet I, karena dalam masa pemerintahannya Ratu ini membenarkan ajaran sesat dan penganiayaan terhadap orang Kristen.

Pada masa itu, Gereja Kristus sedang dilanda ancaman besar dari bangsa Muslim Turki yang ingin menguasai Eropa dan memusnahkan ajaran Kristen. Paus Pius V sudah memperingatkan para penguasa Eropa kala itu, namun peringatan bahaya itu tidak dipedulikan. 

Paus kemudian membantu Jenderal La Valette mempertahankan Malta, dengan mengirimkan uang dari Kas Vatikan, ketika tidak ada seorangpun yang mau membantu jenderal itu untuk berjuang mempertahankan Malta dari bangsa Turki. Jenderal La Valette berhasil memukul mundur tentara Turki.

        Raja Selim II

Menghadapi kekalahan itu, Raja Turki, Selim II mempersalahkan Paus dan menyatakan perang terhadap Italia. Ia mengancam akan membinasakan setiap kota di Italia. Menghadapi ancaman itu, Paus Pius V memerintahkan setiap gereja di kota-kota Italia mengadakan Novena selama 40 jam. 

Mendengar hal itu, Raja Selim II menertawakan cara Paus menghadapi ancamannya. Namun, 3 hari kemudian, karena banyaknya tertawa, Raja Selim II wafat secara mendadak.

Kematian Selim II tidak menghentikan serangan bangsa Turki ke Italia. Para panglima Turki: Müezzinzade Ali Pasha, Suluc Mehmed Pasha dan Uluc Ali Reis tetap bergerak menuju Italia bersama armada perang. Atas permohonan Paus Pius V, para penguasa Eropa membentuk aliansi untuk menghadapi ancaman. 

Terbentuklah armada Perang Kristen dipimpin oleh Don Luis Requesens dan Don Àlvaro de Bazàn dari Kerajaan Spanyol, dan Gianandrea Doria dari GenoaIkut dalam rombongan itu adik tiri Raja Spanyol, Don John of Austria

      Don John of Austria

Ia belum berpengalaman sama sekali dalam peperangan besar dan masih sangat muda. Tapi Paus Pius V mengangkatnya menjadi panglima armada perang. Kata Paus: “pergilah anakku, karena aku tahu Tuhan akan memberimu kemenangan. Rosario akan menjadi keselamatan kita”.

Paus Pius V memberkati setiap kapal dan seluruh armada diserahkan dalam perlindungan Bunda Maria Ratu Rosario. Semua orang yang ada dalam kapal setiap hari menerima Komuni Kudus dan berdoa Rosario berkali-kali dalam sehari. 

Sejak Armada Kristen berangkat menyambut musuh, lonceng-lonceng Gereja di seluruh Italia dibunyikan tanpa henti di jam-jam tertentu. Para imam mengumpulkan umatnya berdoa Rosario. 

Bapa Paus tinggal dalam kapel pribadinya dan terus berdoa Rosario. Dalam perangpun, Don John tetap menyuruh anak buahnya tidak berhenti berdoa Rosario.

Pada Oktober 1571, armada perang Turki yang luar biasa besar bergerak menuju Italia. Sasaran mereka adalah menghancurkan setiap kota di Italia, menduduki Kota Roma dan menghancurkan Kekristenan. 

Don John beserta armadanya segera menyongsong. Kedua armada perang ini bertemu di dekat Yunani, suatu wilayah yang disebut Leponto. Terjadilah pertempuran laut yang sangat dahsyat, yang dikenang dengan nama “Pertempuran Leponto”.

Kekuatan armada keduanya sangat tidak seimbang, armada Turki jauh lebih unggul. Mereka memiliki 251 kapal perang dan 31.490 orang tentara. Sedangkan armada kristen hanya memiliki 212 kapal perang dan 28.500 orang tentara. 

Dalam pandangan manusia, kemenangan bagi armada Kristen adalah hal yang mustahil. Pertempuran itu tampak mustahil dan tidak seimbang bagi armada Kristen. Armada Kristen yang kecil sepertinya gampang saja disapu bersih oleh musuh yang sangat besar. 

Namun selama pertempuran itu berlangsung, Bapa Suci Paus Pius V bersama seluruh orang Katolik Italia terus menerus menggempur Surga dengan Rosario yang tanpa henti.

Namun tiba-tiba bertiuplah angin kencang yang membawa gelombang laut yang sangat besar  ke arah armada Turki. Satu persatu kapal perang Turki pecah dan tenggelam ditelan gelombang dahsyat yang datang bersama angin kencang itu. 

Menyadari armada perang Kristen dilindungi kekuatan tidak terlihat, para panglima Turki lari pontang-panting meninggalkan armada mereka yang porak poranda. 

Dalam pertempuran itu tercatat dari pihak armada perang Turki; 20.000 orang meninggal, 137 kapal direbut, 50 kapal tenggelam dan 10.000 orang Kristen yang ditawan Turki dan dijadikan para pendayung, dibebaskan. Sementara dari pihak armada Kristen; 7.500 orang wafat dan 17 kapal hilang.

Pertempuran itu terjadi pada siang hari, Minggu 7 Oktober 1571, seharusnya berita kemenangan baru tiba di Roma beberapa hari kemudian. Namun, pada siang itu juga di Italia, Bapa Suci Paus Pius V tiba-tiba menghentikan doa Rosario dan keluar dari Kapel Pribadinya dengan wajah penuh syukur. 

Ia memanggil semua orang dan berseru: “Cepat kemari, ini bukan waktunya untuk bekerja. Mari kita bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena armada laut kita telah memperoleh kemenangan besar!”

Dua minggu kemudian Panglima Don John tiba di Italia dan membawa berita kemenangan itu. Tapi ia sangat terkejut karena diberitahu bahwa Bapa Suci telah mengumumkan berita kemenangan itu sejak hari Minggu tanggal 7 Oktober 1571. 

Sebagai ungkapan syukur atas doa-doa Bunda Maria, Bapa Suci Paus Pius V menetapkan Pesta Maria Ratu Rosario yang dirayakan setiap tanggal 7 Oktober.

Dalam masa kepemimpinannya Paus Pius V menyederhanakan cara hidup Kepausan di Vatikan, menginstruksikan pembaharuan cara hidup ordo-ordo dan imam projo, memberantas korupsi yang terjadi di Roma dan negara Kepausan Vatikan dan menginstruksikan pembangunan seminari-seminari di setiap keuskupan.

Paus Pius V wafat pada tanggal 1 Mei 1572 di Roma Italia setelah 6 tahun menjadi pemimpin Gereja Katolik. Dinyatakan Kudus oleh Paus Klemens XI pada 22 Mei 1712. Jasadnya dimakamkan di Chapel of San Andrea, Saint Peter’s Basilica, Vatican City. Dan tetap utuh ketika digali kembali untuk proses kanonisasi ratusan tahun kemudian.

Wah, panjang ya kisahnya. Tapi menakjubkan betapa besar kuasa Allah Bapa kita yang dinyatakan pada umat pilihan yang sungguh dikasihi-Nya. Kisah ini semakin meyakinkan saya betapa besar kuasa Doa. Ketika kita percaya dan tidak berhenti berdoa juga berserah pada kehendak-Nya, Allah Yang Maha Kuasa menjawab doa-doa kita secara ajaib.

Sampai bertemu di kisah yang berikutnya ya...

Referensi: katakombe.org, imankatolik.or.id, wikipedia.org


Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...