Rabu, 13 September 2023

Santa Maria Dominica Mazzarello

Santa Pendiri Konggregasi Suster Salesian (FMA)

Ada lebih dari 8.000 'Orang Kudus' dan 'Hamba Allah' dalam Gereja Katolik Roma. Mereka adalah orang-orang beriman pilihan Allah, yang hidupnya bermatiraga dan berdevosi sepenuhnya kepada Tuhan dan Bundanya, Maria. Sikap hidup merekapun terbukti 'Suci' dan penuh ketaatan pada kehendak Allah. 

Pada akhirnya, semua orang beriman yang sudah meninggal dan dipercaya telah masuk surga, diyakini oleh iman Katolik sebagai Orang Kudus Allah. Jadi kita tidak bisa memastikan jumlah mereka. Bagaimana proses sampai mereka mendapatkan gelar ini sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya, mungkin nanti akan saya jelaskan dalam topik tersendiri. 

Dari sekian banyak Orang Kudus Katolik, khususnya para Kudus Allah yang kisahnya sudah saya ceritakan dalam blog dan vlog saya, beberapa dari mereka adalah pendiri Konggregasi, Diantaranya ada Santa Clara (Ordo Santa Claris, OSCI), Santa Angela Merici (Ordo Santa Ursula, OSU), Santo Vincentius de Paul (Ordo Misi atau Lazarians dan Ordo Suster-suster Puteri Kasih bersama Santa Louise de Marillac), Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mass (Ordo Charmelite Sisters of Charity), Santo Peter Julian Eymard (Ordo Sakramen Mahakudus), Santo Yohanes Don Bosco (Ordo Salesian) dan Santo Luigi Orione (Ordo Penyelenggaraan Ilahi dan Susteran Misionaris). Orang Kudus yang akan saya kisahkan kali ini juga adalah seorang pendiri konggregasi Suster Salesian.

Masa Muda

Maria Dominica Mazzarelo lahir di Monesse, tempat ini sekarang menjadi provinsi Alessandria, Italia Utara. Pada tanggal 9 Mei 1837. Dia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara, dari sebuah keluarga petani anggur yang sangat bersahaja. Mary Mazzarello adalah seorang pekerja keras. 

Sampai masa remajanya, ia bekerja giat membantu keluarganya di ladang anggur dan selalu menjadi penolong bagi warga masyarakat desa yang membutuhkannya. Bahkan di saat teman-teman sebayanya memikirkan cinta dan pernikahan, Mary lebih memilih bekerja keras tanpa menyombongkan diri karena tidak berpikiran sesederhana teman-temannya. 

Mary Mazzarello merasa bahwa ia punya panggilan lain yang sedang ditunggunya dengan rindu dalam kehidupan rohaninya, sejak menerima Komuni Pertama. Dengan sabar ia menunggu dalam doa dan meditasi, berharap akan tiba waktunya Pastor Pestarino, Pastor Mornese, pembimbing rohaninya, menyampaikan kehendak Tuhan di waktu yang tepat. 

Ia telah berjanji pada Tuhan di hari Komuni Pertamanya, akan melayani sepenuh hati dengan pekerjaan dan hidup dalam kekudusan. Ia menghindari kemarahan, kesombongan dan semua hasrat duniawi dalam dirinya.

Kota Mornese adalah kota kecil dengan alam terbuka yang suram, dimana penduduknya sering terserang penyakit menular, rata-rata para wanita di kampungnya tidak mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak bisa membaca dan menulis. Apalagi memiliki pengetahuan tentang agama. Tapi berkat Pastur Pestarino, Mary bisa membaca dan tahu tentang katekismus. 

Malaikat Belas Kasih

Di suatu masa, desa kecilnya diserang penyakit Thipus. Dengan murah hati Mary mereka yang terkena sakit. Dia menginap di rumah mereka, menjaga anak-anak mereka yang masih kecil-kecil dan merawat langsung mereka yang menderita sakit. Setiap hari Mary membersihkan rumah, memandikan anak-anak mereka dan memasak makanan. Di waktu malam ia menidurkan anak-anak dengan bercerita tentang cinta kasih Tuhan.  

Ia juga merawat langsung mereka yang sakit, walaupun ia tahu pasti akan terjangkit penyakit itu. Semua ia lakukan dengan sukacita. Cara ia mengurus mereka sungguh memberikan ketenangan dan mempercepat kesembuhan. Mary merawat dengan penuh kelembutan dan belas kasih yang besar, sampai mereka sembuh dengan cepat. 

Pada akhirnya, setelah semua orang yang dirawatnya sembuh, Mary kembali ke rumah dengan tubuh yang hancur. Ia menanggung sakit Thipus dan kehilangan semua kekuatannya. Selama berhari-hari ia berjuang dengan sakitnya di rumah. Orang tuanya sangat khawatir. Pastor Pestarino setiap hari datang memberikan kekuatan melalui doa dan ekaristi. 

Ketika Mary sembuh, seluruh penduduk desa dengan antusias datang ke rumahnya untuk turut merasakan rahmat itu. Mereka merasa bahwa Mary adalah kekuatan baru bagi mereka dalam menghadapi wabah penyakit dan penderitaan.

Visi

Dalam sebuah penglihatan, di suatu siang bulan Oktober yang hangat, ketika ia sedang berjalan-jalan dalam masa pemulihan penyakitnya, sambil tetap berdoa dalam hati di jalanan desa yang diapit oleh hutan-hutan kecil, Mary tiba-tiba mengalami penglihatan. Ia melihat sebuah bangunan di tengah lapangan, serta para biarawati yang sedang bermain dengan gadis-gadis desanya. Ia sangat terkejut, apakah itu sebuah Visi? 

Selama masa bimbingan rohaninya dengan Pastur Pestarino, seorang pastur sederhana yang tidak begitu percaya pada penglihatan dan mimpi, Mary tidak pernah diajarkan hal seperti itu, rasanya itu terlalu besar bagi gadis petani sederhana sepertinya.

Sejak sembuh dari sakitnya, ia selalu mengalami penglihatan itu dan merasakan keterikatan kuat akan pendidikan dan pengajaran. Mary juga melihat anak-anak gadis desanya belajar menjahit. Ia segera belajar menjahit setelah sakitnya sembuh, agar kelak ia bisa membagikan keahliannya itu. Kemudian, 

Pastur Pestarino mengatakan kepada Mary tentang Yohanes Don Bosco, Pastur Agung Turin (https://anidela1980.blogspot.com/search/label/santo%20don%20bosco), yang akan mendirikan sekolah bagi anak-anak miskin serta sebuah kongregasi religius.

Mary menyadari, tentu saja Konggregasi Santo Yohanes Don Bosco adalah suatu hal yang luar biasa. Namun ia tidak ingin meninggalkan desanya. Ia ingin menjadi berguna dan memberikan manfaat bagi anak-anak di desanya. Ia merasa tidak ingin terikat oleh peraturan atau tatanan yang rumit. 

Sementara Pastur Pestarino terus mendesaknya untuk bergabung dengan Yohanes Don Bosco, ia meyakinkan bahwa visi dan misi Oratorium Don Bosco sama dengan penglihatan Maria selama ini. Mary membawa semua itu dalam doa Rosario, ia percaya Bunda Maria akan membantunya menemukan jawaban.

Membangun Konggregasi

Pada tahun 1870, dengan bantuan Pastur Pestarino, Mary bersama lima belas gadis desa sebayanya, membentuk sebuah kelompok kecil kaum puteri yang diberi nama Maria Immaculata. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang difasilitasi oleh Pastur Pestarino dan menerima anak-anak desa yang ingin belajar membaca, belajar agama dan belajar tentang tugas-tugas rumah tangga. 

Tuhan memberkati mereka dengan kehangatan dan makanan dari warga desa sekitar. Kelompok kecil yang hidup dalam kesederhanaan iman dan kasih Tuhan ini, memiliki banyak kesamaan visi dan misi dengan Oratorium Don Bosco di Turin. Mereka menjadi cahaya baru bagi masyarakat Desa Mornese. 

Kelompok Maria Immaculata berhasil meyakinkan semua orang, bahkan yang paling skeptis sekalipun, tentang Kasih Tuhan di tengah penderitaan dan kekurangan. Yohanes Don Bosco yang berada di Turin, melihat semua itu dalam visinya. Ia melihat dirinya berada dalam kerumunan gadis di salah satu alun-alun besar di Turin. Tapi gadis-gadis itu berwajah kurus, terlihat miskin dengan pakaian compang camping dan penampilan berantakan. Mereka menarik jubahnya dan berkata, "Datanglah pada kami. Kami membutuhkanmu."

Melalui surat-suratnya, pastur Pestarino menceritakan kepada Yohanes Don Bosco tentang kelompok kecil gadis-gadis Mornese dibawah asuhan Mary Mazzarello. Hingga pada tanggal 31July 1872, atas permintaan dan dukungan Santo Yohanes Don Bosco, terbentuklah sebuah Konggregasi Suster Salesian. Maria Mazzarello bersama lima belas gadis dari Kelompok Maria Immaculata, mengucapkan kaul sebagai biarawati pertama Konggregasi Suster-suster Figlie di Maria Ausiliatrice (FMA). 

Konggregasi ini menjadi pelengkap bagi Konggregasi Saudara-saudara Salessian. Suster Maria Mazzarello ditunjuk oleh Don Bosco sebagai pemimpin konggregasi yang pertama. Walaupun hal itu ditolak oleh suster Maria Mazzarello, karena ia merasa ia hanya seorang gadis petani yang tidak berpengetahuan, Don Bosco meyakinkannya bahwa itu hanya bersifat sementara.  

Dua tahun kemudian Suster Mazzarello diangkat secara resmi menjadi pimpinan Konggregasi melalui suara bulat, kecuali satu suara yaitu dari Suster Mazzarello sendiri. Muder Mazzarello sangat menekankan akan pentingnya memiliki pendidikan yang baik. Ia mewajibkan semua anggota konggregasi belajar membaca dan menulis. Ia menjadi ibu yang perhatian dan penuh kasih kepada anak-anak didiknya bukan hanya dalam bidang pendidikan. 

Dengan kerendahan hati yang tulus dan sifat keibuan yang luar biasa, Muder Mazzarello menjadi ibu komunitas yang sangat dicintai bukan hanya oleh saudari-saudari konggregasinya tapi juga semua orang. 

Itulah sebabnya, sampai hari ini, Maria Mazzarelo juga dikenal sebagai "Madre Mazzarello" atau "Bunda Mazzarello". Ia menjadi pimpinan konggregasi sampai pada hari kematiannya. Begitu banyak peristiwa kecil dalam hidupnya yang kemudian dijadikan oleh para suster Salesian sebagai warisan berharga dalam komunitas mereka. 

Sakit

Pada awal tahun 1881, Madre Mazzarello yang kala itu dalam kondisi sakit, mengantar para suster Salesian yang akan pergi ke tanah misi di Amerika Selatan. Namun ketika tiba di Marseilles, kesehatannya semakin memburuk. Sehingga ia kembali ke Mornese. 

Memasuki bulan April, kondisi Madre Mazzarello semakin parah, ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. Dan pada tanggal 14 Mei 1881, setelah menerima sakramen minyak suci, Mazzarello berkata: "Selamat tinggal, saya akan pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di surga."

Santa Maria Mazzarelo

Santa Maria Mazzarelo dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tanggal 20 November 1938, dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 24 Juni 1951. Jasadnya yang masih utuh disemayamkan di Basilica of our Lady Help of Christian. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Mei.

Contoh hidup Santa Maria Dominica Mazzarello adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia terus menerus mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah seorang gadis petani yang diberkati dengan belas kasih Tuhan, untuk menyatakan cinta kasih tulus yang mendalam kepada sesamanya. 

Ia menjalani hidupnya dengan doa Rosario yang tak putus-putus dan pelayanan penuh kepada para saudari Salesian dan warga masyarakat yang membutuhkannya. Sampai saat ini contoh hidupnya diwariskan turun temurun oleh Konggregasi Suster-suste Salesian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...