Senin, 18 September 2023

Santa yang menjadi Bintang Tamu di The Nun II

Santa Lusia dari Syrakusa

Kalau kamu sudah nonton The Nun II, si suster Valak yang suka sekali cari masalah itu, kamu pasti sempat melihat gambar dan penjelasan singkat dari suster Irene, tentang Santa Lusia dari Syrakusa. Di Film ini, tentu saja, gambaran Santa Lusia dibuat lebih creepy. Saya suka melihat bagaimana tangguh dan beraninya suster Irene di film kedua ini.

Buat yang belum nonton, saya akan menjelaskan sedikit. Ceritanya, dalam kisah kali ini, suster Irene yang sudah selamat dari Biara Santa Carta, Rumania (The Nun I), menjalani kehidupannya sebagai biarawati Katolik di Prancis. Saat inilah ia berkenalan dengan suster Brenda. Ditemani sahabat barunya ini, suster Irene harus menghadapi keganasanValak. Berlatar belakang pedalaman Prancis yang mistik dan sangat indah, film garapan sutradara Michael Chaves ini berhasil menguasai Bioskop Holywood selama sepekan sejak dirilis. 

Tapi, suster Irene dan suster Brenda tidak sendirian, mereka juga ditemani oleh Kate dan Sophie. Keduanya adalah ibu dan anak yang tinggal di sebuah asrama Sekolah Perempuan, tempat Valak kali ini beraksi. Ternyata, si Valak memakai tubuh Maurice, teman suster Irene yang menyelamatkannya di Rumania, untuk bangkit kembali kedua kalinya.

Disini dijelaskan bahwa, senjata terbaik untuk menumbangkan Valak adalah, relikui dari Santa Lusia, yang ditinggalkan kepada keturunannya atau keluarganya yang masih hidup. Relikui dalam Gereja Katolik adalah sebuah peninggalan berupa tanda kasih dari para Kudus atau Santo dan Santa Katolik, untuk mendekatkan kita yang mengimani mereka sudah berkumpul di surga, kepada Tuhan.

Kisah Hidup

Menurut Wikipedia, Santa Lusia dilahirkan pada tahun 283 di Syrachusa, Sisilia, Italia. Orangtuanya adalah bangsawan kaya, yang sangat dihormati. Ayah Lusia meninggal ketika dia masih kecil, sehingga sebagian besar hidupnya bersama ibunya, Eutychia.


Lusia tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik dengan sepasang mata yang sangat indah. Hal itu membuat banyak pemuda bangsawan yang jatuh hati padanya. Namun sejak remaja, Lusia telah berikrar untuk hidup suci murni dan menjadi pengantin Kristus. Ketika ibunya memaksa Lusia untuk menikahi salah seorang pemuda bangsawan kafir, dengan tegas ia menolaknya.

Kala itu, Eutychia sedang menderita sakit pendarahan, berbagai pengobatan telah dilakukan namun kondisinya tidak kunjung membaik. Lusia kemudian membujuk ibunya untuk berziarah ke makam Santa Agatha di Kathania. Dalam ziarah itu, Lusia berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan ibunya, agar ia bisa melunakkan hati ibunya tentang niatnya untuk tetap teguh dan setia pada kaul kemurnian hidup yang sudah ia ikrarkan pada Kristus.

Tuhan mendengar doa Lusia, ibunya sembuh. Ia kemudian menceritakan pada ibunya tentang ikrar kemurniannya. Sebagai ungkapan rasa syukur, ibu Lusia mengijinkan anak gadisnya untuk memenuhi panggilan hidup menjadi pengantin Kristus.

Perawan dan Martir

Pemuda bangsawan yang ditolak menikahi Lusia, sangat marah akan hal itu. Di jaman itu, Kekaisaran Romawi diperintah oleh Diokletianus, seorang Kaisar bengis yang sangat membenci pengikut Kristus. Banyak umat Kristen yang mempertahankan imannya, dibunuh dan disiksa dengan keji. 

Pemuda bangsawan ini memanfaatkan hal itu dengan melaporkan identitas keluarga Lusia kepada Kaisar. Lusia kemudian ditangkap. Ia diancam akan dibutakan kedua matanya, tapi Lusia lebih rela kehilangan matanya dari pada tidak menjadi pengantin Kristus.

Berbagai cara mereka lakukan agar Lusia kehilangan kemurniannya, namun Santa Lusia tidak terkalahkan. Usaha mereka untuk membakarnya juga gagal. Lusia direncanakan akan dibawa ke rumah para wanita pendosa, agar ia kehilangan kemurniannya, namun hal itu tidak terjadi karena badannya sangat berat ketika akan diangkat. 

Kedua matanya dicongkel keluar ketika disiksa, Tuhan Yesus membalas cintanya dengan menggantikan kedua mata itu menjadi lebih indah. Kemudian seorang algojo menikam lehernya. Santa Lusia wafat pada tanggal 13 Desember 304 M, sebagai martir Kristus.

Santa Lusia dihormati sebagai Perawan dan Martir yang sangat terkenal di Italia, terutama Sisilia. Banyak doa dan permohonan terkabul melalui perantaraannya, terutama kesembuhan penyakit mata. Hal itulah yang membuat di kemudian hari Santa Sisilia sering digambarkan sedang memegang sepasang mata di telapak tangannya. Ia diangkat sebagai Santa pelindung para penderita penyakit mata. 

Bagi kita orang Katolik, cara hidup Santa Lusia bisa menjadi pedoman untuk lebih mencintai Kristus yang telah wafat disalib dan disiksa demikian keji untuk menyelamatkan kita dari dosa. Terutama bagi para remaja perempuan di jaman ini. Mungkin menurut sebagian dari kita, pilihan hidup Santa Lusia ini terlalu ekstrim, not our style.

Tapi lihatlah bagaimana cara Tuhan Yesus membalas cinta Santa Lusia, yang juga seorang manusia biasa seperti kita. Menjadi suci dan murni sebagai pengantin Kristus, bukan hanya untuk menjadi seorang biarawati. Kita bisa melakukan hal itu sebagai ungkapan untuk menghormati bait Kudus Allah yang ada dalam diri kita.

Menjaga kemurnian selama masa muda bahkan setelah menikah dan berkeluarga dengan hidup taat kepada perintah Tuhan. Menjauhi pergaulan bebas, pesta pora, alkohol, narkoba, hedonisme, materialisme, iri hati, dengki, kikir, kemalasan dan aliran-aliran yang menyesatkan. 

Semua itu bukan hanya sekedar menghormati tubuh pribadi kita sebagai pemberian Tuhan, tapi juga demi menghormati sengsara Tuhan yang pedih, disiksa, dirajam, dilecehkan, dihina dengan kejam, sampai Ia wafat di kayu salib.

Jadi jika kita mengorbankan diri seperti Santa Lusia, menghadapi setiap pencobaan dunia untuk tetap hidup dalam kemurnian, ingatlah bahwa ada seseorang yang jauh lebih besar, yang telah melakukan semua itu, mengorbankan darah dan tubuhnya yang mulia untuk kita orang berdosa. Dialah sang Penyelamat kita, Raja segala Raja, Tuhan Yesus Kristus, yang Kudus dan Mulia.

Rabu, 13 September 2023

Santa Maria Dominica Mazzarello

Santa Pendiri Konggregasi Suster Salesian (FMA)

Ada lebih dari 8.000 'Orang Kudus' dan 'Hamba Allah' dalam Gereja Katolik Roma. Mereka adalah orang-orang beriman pilihan Allah, yang hidupnya bermatiraga dan berdevosi sepenuhnya kepada Tuhan dan Bundanya, Maria. Sikap hidup merekapun terbukti 'Suci' dan penuh ketaatan pada kehendak Allah. 

Pada akhirnya, semua orang beriman yang sudah meninggal dan dipercaya telah masuk surga, diyakini oleh iman Katolik sebagai Orang Kudus Allah. Jadi kita tidak bisa memastikan jumlah mereka. Bagaimana proses sampai mereka mendapatkan gelar ini sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya, mungkin nanti akan saya jelaskan dalam topik tersendiri. 

Dari sekian banyak Orang Kudus Katolik, khususnya para Kudus Allah yang kisahnya sudah saya ceritakan dalam blog dan vlog saya, beberapa dari mereka adalah pendiri Konggregasi, Diantaranya ada Santa Clara (Ordo Santa Claris, OSCI), Santa Angela Merici (Ordo Santa Ursula, OSU), Santo Vincentius de Paul (Ordo Misi atau Lazarians dan Ordo Suster-suster Puteri Kasih bersama Santa Louise de Marillac), Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mass (Ordo Charmelite Sisters of Charity), Santo Peter Julian Eymard (Ordo Sakramen Mahakudus), Santo Yohanes Don Bosco (Ordo Salesian) dan Santo Luigi Orione (Ordo Penyelenggaraan Ilahi dan Susteran Misionaris). Orang Kudus yang akan saya kisahkan kali ini juga adalah seorang pendiri konggregasi Suster Salesian.

Masa Muda

Maria Dominica Mazzarelo lahir di Monesse, tempat ini sekarang menjadi provinsi Alessandria, Italia Utara. Pada tanggal 9 Mei 1837. Dia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara, dari sebuah keluarga petani anggur yang sangat bersahaja. Mary Mazzarello adalah seorang pekerja keras. 

Sampai masa remajanya, ia bekerja giat membantu keluarganya di ladang anggur dan selalu menjadi penolong bagi warga masyarakat desa yang membutuhkannya. Bahkan di saat teman-teman sebayanya memikirkan cinta dan pernikahan, Mary lebih memilih bekerja keras tanpa menyombongkan diri karena tidak berpikiran sesederhana teman-temannya. 

Mary Mazzarello merasa bahwa ia punya panggilan lain yang sedang ditunggunya dengan rindu dalam kehidupan rohaninya, sejak menerima Komuni Pertama. Dengan sabar ia menunggu dalam doa dan meditasi, berharap akan tiba waktunya Pastor Pestarino, Pastor Mornese, pembimbing rohaninya, menyampaikan kehendak Tuhan di waktu yang tepat. 

Ia telah berjanji pada Tuhan di hari Komuni Pertamanya, akan melayani sepenuh hati dengan pekerjaan dan hidup dalam kekudusan. Ia menghindari kemarahan, kesombongan dan semua hasrat duniawi dalam dirinya.

Kota Mornese adalah kota kecil dengan alam terbuka yang suram, dimana penduduknya sering terserang penyakit menular, rata-rata para wanita di kampungnya tidak mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak bisa membaca dan menulis. Apalagi memiliki pengetahuan tentang agama. Tapi berkat Pastur Pestarino, Mary bisa membaca dan tahu tentang katekismus. 

Malaikat Belas Kasih

Di suatu masa, desa kecilnya diserang penyakit Thipus. Dengan murah hati Mary mereka yang terkena sakit. Dia menginap di rumah mereka, menjaga anak-anak mereka yang masih kecil-kecil dan merawat langsung mereka yang menderita sakit. Setiap hari Mary membersihkan rumah, memandikan anak-anak mereka dan memasak makanan. Di waktu malam ia menidurkan anak-anak dengan bercerita tentang cinta kasih Tuhan.  

Ia juga merawat langsung mereka yang sakit, walaupun ia tahu pasti akan terjangkit penyakit itu. Semua ia lakukan dengan sukacita. Cara ia mengurus mereka sungguh memberikan ketenangan dan mempercepat kesembuhan. Mary merawat dengan penuh kelembutan dan belas kasih yang besar, sampai mereka sembuh dengan cepat. 

Pada akhirnya, setelah semua orang yang dirawatnya sembuh, Mary kembali ke rumah dengan tubuh yang hancur. Ia menanggung sakit Thipus dan kehilangan semua kekuatannya. Selama berhari-hari ia berjuang dengan sakitnya di rumah. Orang tuanya sangat khawatir. Pastor Pestarino setiap hari datang memberikan kekuatan melalui doa dan ekaristi. 

Ketika Mary sembuh, seluruh penduduk desa dengan antusias datang ke rumahnya untuk turut merasakan rahmat itu. Mereka merasa bahwa Mary adalah kekuatan baru bagi mereka dalam menghadapi wabah penyakit dan penderitaan.

Visi

Dalam sebuah penglihatan, di suatu siang bulan Oktober yang hangat, ketika ia sedang berjalan-jalan dalam masa pemulihan penyakitnya, sambil tetap berdoa dalam hati di jalanan desa yang diapit oleh hutan-hutan kecil, Mary tiba-tiba mengalami penglihatan. Ia melihat sebuah bangunan di tengah lapangan, serta para biarawati yang sedang bermain dengan gadis-gadis desanya. Ia sangat terkejut, apakah itu sebuah Visi? 

Selama masa bimbingan rohaninya dengan Pastur Pestarino, seorang pastur sederhana yang tidak begitu percaya pada penglihatan dan mimpi, Mary tidak pernah diajarkan hal seperti itu, rasanya itu terlalu besar bagi gadis petani sederhana sepertinya.

Sejak sembuh dari sakitnya, ia selalu mengalami penglihatan itu dan merasakan keterikatan kuat akan pendidikan dan pengajaran. Mary juga melihat anak-anak gadis desanya belajar menjahit. Ia segera belajar menjahit setelah sakitnya sembuh, agar kelak ia bisa membagikan keahliannya itu. Kemudian, 

Pastur Pestarino mengatakan kepada Mary tentang Yohanes Don Bosco, Pastur Agung Turin (https://anidela1980.blogspot.com/search/label/santo%20don%20bosco), yang akan mendirikan sekolah bagi anak-anak miskin serta sebuah kongregasi religius.

Mary menyadari, tentu saja Konggregasi Santo Yohanes Don Bosco adalah suatu hal yang luar biasa. Namun ia tidak ingin meninggalkan desanya. Ia ingin menjadi berguna dan memberikan manfaat bagi anak-anak di desanya. Ia merasa tidak ingin terikat oleh peraturan atau tatanan yang rumit. 

Sementara Pastur Pestarino terus mendesaknya untuk bergabung dengan Yohanes Don Bosco, ia meyakinkan bahwa visi dan misi Oratorium Don Bosco sama dengan penglihatan Maria selama ini. Mary membawa semua itu dalam doa Rosario, ia percaya Bunda Maria akan membantunya menemukan jawaban.

Membangun Konggregasi

Pada tahun 1870, dengan bantuan Pastur Pestarino, Mary bersama lima belas gadis desa sebayanya, membentuk sebuah kelompok kecil kaum puteri yang diberi nama Maria Immaculata. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang difasilitasi oleh Pastur Pestarino dan menerima anak-anak desa yang ingin belajar membaca, belajar agama dan belajar tentang tugas-tugas rumah tangga. 

Tuhan memberkati mereka dengan kehangatan dan makanan dari warga desa sekitar. Kelompok kecil yang hidup dalam kesederhanaan iman dan kasih Tuhan ini, memiliki banyak kesamaan visi dan misi dengan Oratorium Don Bosco di Turin. Mereka menjadi cahaya baru bagi masyarakat Desa Mornese. 

Kelompok Maria Immaculata berhasil meyakinkan semua orang, bahkan yang paling skeptis sekalipun, tentang Kasih Tuhan di tengah penderitaan dan kekurangan. Yohanes Don Bosco yang berada di Turin, melihat semua itu dalam visinya. Ia melihat dirinya berada dalam kerumunan gadis di salah satu alun-alun besar di Turin. Tapi gadis-gadis itu berwajah kurus, terlihat miskin dengan pakaian compang camping dan penampilan berantakan. Mereka menarik jubahnya dan berkata, "Datanglah pada kami. Kami membutuhkanmu."

Melalui surat-suratnya, pastur Pestarino menceritakan kepada Yohanes Don Bosco tentang kelompok kecil gadis-gadis Mornese dibawah asuhan Mary Mazzarello. Hingga pada tanggal 31July 1872, atas permintaan dan dukungan Santo Yohanes Don Bosco, terbentuklah sebuah Konggregasi Suster Salesian. Maria Mazzarello bersama lima belas gadis dari Kelompok Maria Immaculata, mengucapkan kaul sebagai biarawati pertama Konggregasi Suster-suster Figlie di Maria Ausiliatrice (FMA). 

Konggregasi ini menjadi pelengkap bagi Konggregasi Saudara-saudara Salessian. Suster Maria Mazzarello ditunjuk oleh Don Bosco sebagai pemimpin konggregasi yang pertama. Walaupun hal itu ditolak oleh suster Maria Mazzarello, karena ia merasa ia hanya seorang gadis petani yang tidak berpengetahuan, Don Bosco meyakinkannya bahwa itu hanya bersifat sementara.  

Dua tahun kemudian Suster Mazzarello diangkat secara resmi menjadi pimpinan Konggregasi melalui suara bulat, kecuali satu suara yaitu dari Suster Mazzarello sendiri. Muder Mazzarello sangat menekankan akan pentingnya memiliki pendidikan yang baik. Ia mewajibkan semua anggota konggregasi belajar membaca dan menulis. Ia menjadi ibu yang perhatian dan penuh kasih kepada anak-anak didiknya bukan hanya dalam bidang pendidikan. 

Dengan kerendahan hati yang tulus dan sifat keibuan yang luar biasa, Muder Mazzarello menjadi ibu komunitas yang sangat dicintai bukan hanya oleh saudari-saudari konggregasinya tapi juga semua orang. 

Itulah sebabnya, sampai hari ini, Maria Mazzarelo juga dikenal sebagai "Madre Mazzarello" atau "Bunda Mazzarello". Ia menjadi pimpinan konggregasi sampai pada hari kematiannya. Begitu banyak peristiwa kecil dalam hidupnya yang kemudian dijadikan oleh para suster Salesian sebagai warisan berharga dalam komunitas mereka. 

Sakit

Pada awal tahun 1881, Madre Mazzarello yang kala itu dalam kondisi sakit, mengantar para suster Salesian yang akan pergi ke tanah misi di Amerika Selatan. Namun ketika tiba di Marseilles, kesehatannya semakin memburuk. Sehingga ia kembali ke Mornese. 

Memasuki bulan April, kondisi Madre Mazzarello semakin parah, ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. Dan pada tanggal 14 Mei 1881, setelah menerima sakramen minyak suci, Mazzarello berkata: "Selamat tinggal, saya akan pergi sekarang. Sampai bertemu lagi di surga."

Santa Maria Mazzarelo

Santa Maria Mazzarelo dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tanggal 20 November 1938, dan dikanonisasi oleh paus yang sama pada tanggal 24 Juni 1951. Jasadnya yang masih utuh disemayamkan di Basilica of our Lady Help of Christian. Pestanya dirayakan setiap tanggal 14 Mei.

Contoh hidup Santa Maria Dominica Mazzarello adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia terus menerus mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah seorang gadis petani yang diberkati dengan belas kasih Tuhan, untuk menyatakan cinta kasih tulus yang mendalam kepada sesamanya. 

Ia menjalani hidupnya dengan doa Rosario yang tak putus-putus dan pelayanan penuh kepada para saudari Salesian dan warga masyarakat yang membutuhkannya. Sampai saat ini contoh hidupnya diwariskan turun temurun oleh Konggregasi Suster-suste Salesian.



Senin, 04 September 2023

Santa 'Kecil' Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Bagi orang Katolik, Para Kudus Allah adalah orang beriman yang telah meninggal dan sikap hidup mereka adalah contoh keteladanan, ketaatan serta pengharapan penuh pada kasih Allah Bapa yang sudah mencapai titik heroik. 

Dalam iman Katolik, orang Kudus dipercaya telah dikaruniai kehidupan kekal bersama Allah Bapa di surga, sehingga mereka sering dijadikan sebagai perantara doa kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, tanpa mengabaikan peran Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan. Para Kudus ini diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik melalui beberapa fase.

Fase pertama, diberikan waktu 5 tahun bagi ketenangan jiwa setelah meninggal. Fase kedua, adalah waktu penyelidikan gereja terhadap cara hidup mereka, hal ini merupakan tanggapan bagi permohonan kaum beriman atas diri calon orang kudus tersebut. 

Proses ini dibuat untuk menyatakan apakah yang bersangkutan sudah benar-benar memenuhi kriteria hidup suci dan penuh kebajikan. 

Dalam fase ini ada sebuah proses Bernama Declaration “non-cultus” atau pernyataan bahwa tidak ada pemujaan berhala pada orang kudus tersebut. 

Semua saksi akan dikumpulkan dan dibuat penyelidikan. Jika pada fase ini semua hal tersebut sudah bisa diterima, uskup akan membuat rekomendasi kepada paus, sehingga yang bersangkutan akan disebut ‘Hamba Allah.”

Fase selanjutnya, adalah meyakinkan akan mujizat-mujizat yang terjadi melalui Hamba Allah ini. Jika tahap ini dapat dibuktikan dan diakui oleh Paus, calon Santo atau Santa ini akan disebut “Terberkati”. Fase terakhir adalah Proses Kanonisasi yaitu pernyataan bahwa orang tersebut diangkat menjadi Santo atau Santa. 

Banyak proses yang harus dilewati untuk mencapai fase ini, termasuk akan diadakan misa untuk membacakan Sejarah hidup yang bersangkutan, serta mujizat yang sudah terjadi dengan perantaraan doa kepadanya. 

Tentu saja keseluruhan proses ini memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan banyak orang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa Allah sungguh berkenan mengangkat hambanya menjadi orang Kudus pilihannya. 

Dalam kasus tertentu, tahap-tahap ini bisa dipercepat oleh Paus apabila semua informasi dan penyelidikan yang diperlukan sudah lengkap. Seperti yang terjadi pada Santa Theresa dari Calcuta dan Paus Yohanes Paulus II.

Masa Kecil. Santa Theresse de Lisseux atau yang biasa disebut juga Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, terlahir di Alencon, Perancis pada tanggal 2 Januari 1873, dengan nama kecil Marie Francoise Therese Martin. Ayahnya seorang pembuat jam yang sukses, bernama Louis Martin dan ibunya Marie Azelie Guerin, seorang pembuat renda. 

Theresia adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Kakak Pertamanya, Marie menjadi suster Marie Hati Kudus Karmelit di Lisieux. Kakaknya yang kedua, Pauline, juga menjadi suster dan ibu Agnes dari Yesus, dari Karmelit di Lisieux. Kakak Theresia yang nomor 3, Leonie, tidak diterima di Karmelit Lisieux, ia kemudian menjadi suster Klaris dan Visitasi di Caen, dengan nama suster Francoise Theresia.

Kakak-kakak Theresia yang berikutnya, Marie Helene, Marie Joseph Louis dan Marie Joseph Jean Baptiste, meninggal di usia yang masih balita. Kemudian putri yang ketujuh, Celine, menjadi suster Karmelit Lisieux, dengan nama suster Genevieve dari Wajah Kudus. Kakak yang kedelapan di atas Theresia, yaitu Marie Melanie Theresia, meninggal pada usia 7 minggu.

Theresia terlahir sebagai anak yang manja, kesayangan ayahnya. Ia biasa dipanggil ratu kecil. Karena kasih sayang dan dimanja dalam keluarga, Theresia menjadi pribadi yang tidak bisa bergaul, cepat merajuk dan marah. Saat Theresia berusia 4 tahun, ibunya meninggal karena sakit kanker payudara, Louis Martin kemudian memutuskan pindah ke Kota Lisieux dimana banyak keluarganya tinggal. 

Theresia kemudian belajar di sekolah Benediktin Notre Dame Du Pre. Di usia 10 tahun, Theresia juga harus melepas kakaknya Pauline, yang selama ini mengurus dan merawatnya sepeninggal sang ibu. 

Hal ini semakin membuatnya sangat kesepian dan sedih, ia kemudian jatuh sakit yang sangat parah. Namun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Ayah dan kakak-kakaknya berdoa di sekeliling tempat tidurnya, hingga suatu hari Theresia melihat Bunda Maria tersenyum padanya, dan seketika sakitnya sembuh.

Theresia kemudian berusaha memaksa masuk ke ordo Karmelit, tempat Pauline berada, namun ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Theresia sangat menderita karena sedih dan depresi. Untuk menghiburnya, ayahnya mengajaknya berziarah ke Roma. 

Pada saat itu, ia berkesempatan bertemu dengan Paus Leo XIII. Theresia kecil meminta pada Paus untuk mengijinkannya masuk biara, namun Paus mengatakan, anakku, ikutilah keputusan pastur pemimpin.

Diterima menjadi Biarawati. Pada April 1888, Theresia diterima menjadi postulant karmelit di Lisieux, oleh Uskup Bayeux. Pada tahun 1889, ayahnya menderita stroke dan dibawa ke sanatorium Bon Sauveur di Caen. 

Ia tinggal selama 3 tahun disana kemudian kembali ke Lisieux. Ayah Theresia meninggal pada tahun 1894, pada tahun itu juga Celine masuk biara karmelit di Lisieux dan menjadi suster Genevieve dari Wajah Kudus. 

Theresia sangat mencintai Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Itu sebabnya ia memilih biara karmel, agar seluruh harinya dihabiskan hanya untuk berdoa dan bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat dan belum mengenal Tuhan Yesus. 

Ia berkata: “Tuhan tidak ingin kita melakukan apapun, ia hanya ingin kita mencintai-Nya.” Ia melakukan segala sesuatu dengan senyum dan kesabaran. 

Ia melayani suster-suster tua yang sakit dan suka mengeluh tentang sakit mereka, ia mengurus dan melayani mereka seolah ia melayani Tuhan Yesus. Ia percaya bahwa mencintai sesama berarti mencintai Tuhan Yesus. Menurut Theresia, mencari kesucian diri tidak perlu dengan melakukan tindakan kepahlawanan atau jasa besar, cukuplah dengan mencintai Tuhan.

Setelah 9 tahun menjadi biarawati, Theresia menderita penyakit TBC. Di masa itu, TBC belum ada obatnya. Sehingga penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada 30 September 1897, di usia 24 tahun. Theresia meninggal dengan penuh cinta kepada Tuhan Yesus. 

Pada 29 April 1923, Santa Theresia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 2 tahun kemudian yakni pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasi Theresia menjadi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Theresia si Bunga Kecil. 

Ia mengajarkan kepada kita bahwa mencapai kesucian tidaklah terlalu rumit, cukuplah hidup dengan penuh cinta kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, seperti yang dicontohkannya dalam cara hidupnya. 

Hal ini juga tergambar dalam doa-doanya. Santa Theresia mengatakan: “Bagiku, doa berasal dari hati. Ini merupakan tatapan sederhana ke surga. Doa adalah permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan dalam satu kata, yang kemudian menyatukannya dengan Tuhan. 

Aku tidak ingin mencari doa-doa dengan kata-kata yang indah. Aku melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca. Aku menceritakan semuanya pada Tuhan yang aku inginkan dan Dia mengerti.”

Autobiografi. Theresia menuangkan semua dalam buku Autobiografinya yang berjudul “Story of a Soul”, “Percakapan Terakhir” dan “Puisi dari Santa Theresia”. Ia menulis semua itu dalam pengawasan kakaknya Pauline, atau ibu Agnes dari Yesus dan juga pemimpin biara. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi pelindung para Penderita AIDS, pelindung penerbang, Toko Bunga, Pelindung Penyakit dan Karya Misi. 

Bahkan ia diangkat menjadi pelindung Rusia. Ayah dan ibu Theresia juga menjadi Beato dan Beata karena cara hidup dan ketaatan mereka. saat ini tubuh Santa Theresia yang masih utuh itu disemayamkan di Carmel of Lisseux Perancis. Pada Oktober 1997, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi wanita ke-3 yang mendapat gelar Doktor Gereja.



Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...