Selasa, 08 Agustus 2023

Santa Maria Goretti, Pelindung Kemurnian dan Pengampunan

Shalom sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria…

Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa keberadaan para Santo dan Santa, yakni mereka yang menjalani hidupnya dengan kebajikan yang heroik atau suci dan telah melalui berbagai proses Kanonisasi bertahun-tahun, adalah untuk menjadi perantara kita kepada Bapa Putera dan Roh Kudus, serta Bunda Maria sebagai ibu Tuhan Yesus. Cara hidup mereka dicatat dan menjadi contoh bagi generasi berikut untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah Bapa.

Ada lebih dari 1000 Para Kudus yang tercatat dalam Gereja Katolik. Namun ingatlah bahwa sekuat apapun cara hidup mereka mempengaruhi kita, tetaplah tujuan utama adalah tiga pribadi dalam Tritunggal Mahakudus beserta sang Bunda. Jangan membiarkan kecintaan kita pada orang kudus merubah Devosi kita yang sesungguhnya ya… kerinduan terbesar saya dengan membuat Vlog dan Channel Youtube tentang para Kudus ini adalah agar semakin banyak orang percaya akan betapa Besar dan Mulia cara Allah bekerja dalam diri orang Beriman yang Taat dan hidup sesuai dengan Kehendak-Nya.

Masa Kecil. Kali ini saya akan menceritakan kisah tentang Santa Maria Goreti. Terlahir dengan nama Maria Theresia Goreti atau Marrieta, di Corinaldo Provinsi Ancona, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Ayahnya Bernama Luigi Goretti dan ibunya Assunta Carlini. Marietta lahir dalam sebuah keluarga petani, sebagai anak ke-3 dari 7 bersaudara.

Ketika usia Marietta menginjak 6 tahun, keluarganya jatuh miskin dan harus kehilangan pertanian mereka. Keluarga Luigi Goretti kemudian pindah ke Desa Nettuno, sebuah Desa berawa, lalu menetap disana dan bekerja bersama para petani lainnya. Di desa itu, keluarga Marietta tinggal di sebuah rumah pertanian dimana mereka tinggal berbagi dengan keluarga lain, yakni keluarga Serenelli. Dalam kehidupan sederhana yang keras dan berat, keluarga Marietta adalah keluarga yang periang, karena mereka adalah orang-orang beriman yang sungguh mempercayakan seluruh hidup mereka kepada Tuhan. Itulah yang membuat hubungan setiap anggota keluarga itu sangat erat satu sama lain.

Ayah Meninggal. Ketika Marietta berusia 9 tahun, ayahnya meninggal karena sakit Malaria. Sepeninggal sang ayah, hidup mereka semakin sulit. Untuk membantu keluarganya, setiap hari Marietta mengerjakan berbagai tugas rumah, seperti memasak, mencuci, menjahit serta menjaga adiknya, Theressa yang masih kecil. Sementara ibu dan saudaranya yang lain bekerja di ladang, Marietta dengan sabar dan telaten bekerja di rumah dan menjaga adiknya.

Gadis yang Saleh. Di Tengah berbagai kesulitan hidup, Marietta tumbuh menjadi gadis yang saleh, beriman dan tekun berdoa. Meskipun hidup semakin sulit, semangat iman keluarga Marietta tidak pernah luntur. Marietta tetap bersemangat dan penuh kerinduan menyambut Komuni Pertamanya. Walau setiap hari, ia harus berjalan kaki bermil-mil jauhnya ke kota untuk mengikuti Pelajaran agama. Ia menjalani hidupnya dengan doa dan kerja keras.

Dalam hatinya, Marietta berjanji untuk menjaga Kemurniannya, ia tidak akan pernah menghina dan menodai Yesus yang dicintainya dengan berbuat dosa. Ia berkata pada ibunya, “Lebih baik mati seribu kali dari pada berbuat dosa satu kali.”

Ujian Marietta. Ujian bagi kesucian hatinya, datang pada suatu siang, tanggal 5 Juli 1902, pada usianya yang ke-11 tahun. Saat itu, Marietta sedang menjaga adiknya yang sedang sakit, ibu dan saudara-saudaranya sedang berada di ladang. Putera keluarga Serenelli, yakni Alessandro, yang sudah sejak lama menaruh hati pada Marietta, berusaha memaksakan niat jahatnya pada gadis itu. Berkali-kali Marietta telah menolak dan mendorongnya, namun Alessandro tidak menyerah dan terus memaksa.

Melihat betapa gigihnya Marietta mempertahankan diri, Alessandro mengambil pisau dan mengancam. Namun ancaman itu tidak mempengaruhi Marietta. Dalam hatinya ia berdoa meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Karena kalut, Alessandro menusukkan pisau itu sebanyak 14 kali ke tubuh Marietta. Ketika melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Alessandro melarikan diri. Keluarga yang datang kemudian menemukan Marietta dalam kondisi buruk, segera membawanya ke rumah sakit. Karena luka-lukanya sangat parah, para dokter menyerah mengoperasinya.

Pengampunan. Keesokan hari, tanggal 6 Juli 1902, setelah menerima Sakramen Komuni dan mendapatkan pengampunan dosa, Maria Theresia Goretti meninggal dunia. Dalam Sakratul maut, ia memberikan pengampunannya kepada Alessandro dengan berkata, “aku ingin agar kelak ia berada di dekatku di surga.” Seorang Jurnalis Bernama Noel Crusz, mencatat semua kejadian itu secara rinci. Dalam tulisannya ia mengatakan: “Marietta ditikam menggunakan mata pisau sepanjang 10 inchi sebanyak 14 kali. Tikaman itu menembus tenggorokan, paru-paru dan diafragma. Para ahli bedah di Orsenigo terkejut karena Marietta masih hidup ketika tiba di rumah sakit.”

Dalam kondisi sekarat, Marietta menceritakan tentang kekerasan dan upaya pelecehan yang ternyata sudah beberapa kali ia alami. Ia tidak pernah berani menceritakan pada keluarganya, karena Alessandro mengancamnya. Alessandro kemudian ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1985, seorang sejarawan Italia Bernama Giordano Bruno Guerri melaporkan, bahwa ia bertemu Alessandro di penjara. Pemuda itu menceritakan padanya tentang serangan yang dilakukannya pada Marietta. Alessandro mengakui telah beberapa kali berusaha melecehkan dan mengancam membunuh Marietta. Ia bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah menuntaskan niat jahatnya pada Marietta, gadis itu meninggal sebagai seorang perawan.

Karena dianggap belum dewasa serta berasal dari keluarga miskin yang melalaikannya, Alessandro yang semula dihukum seumur hidup diringankan menjadi 3 tahun. Beberapa anggota keluarganya menderita gangguan jiwa dan ayahnya seorang pecandu alkohol. Setelah dibebaskan, Alessandro menemui Assunta, ibu Marietta dan mendapatkan pengampunan. Ia bertobat dari semua dosa-dosanya dan kemudian menjadi seorang bruder. Setiap hari ia berdoa memohon ampun atas perbuatannya kepada Marietta, yang ia sebut sebagai “Santa kecil-ku..”

Menjadi ORANG KUDUS. Santa Maria Goretti kemudian dibeatifikasi pada tanggal 27 April 1947 oleh Paus Pius XII, perayaan itu dihadiri ibu Assunta di Basilika Santo Petrus. Melihat kehadirannya, Paus mendekati ibu Assunta dan mengatakan: “Ibu yang berbahagia, ibu dari seorang yang terberkati.”

Tiga tahun setelah Dibeatifikasi, pada tanggal 24 Juni 1950, Paus Pius XII mengkanonisasi Maria Goretti sebagai Orang Kudus. Upacara itu dihadiri oleh ibu dan semua saudaranya yang masih hidup serta Alessandro. Santa Maria Goretti adalah seorang Martir perawan Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Jenasahnya disemayamkan di ruang bawah tanah Basilika Nostra Signora dele Gracia di Nettuno.

Pesta Peringatan Santa Maria Goretti dirayakan setiap tanggal 6 Juli. Dia menjadi Santa pelindung Kemurnian, pelindung Korban Perkosaan, pelindung anak-anak Perempuan, Kaum Muda, pelindung para Gadis Remaja, pelindung Kemiskinan dan Pengampunan. Santa Maria Goretti sering digambarkan sebagai seorang gadis muda berambut gelombang merah, memakai baju petani berwarna putih dan memegang bunga lili. Warna putih dan bunga lili sering dijadikan sebagai lambing kemurnian dan keperawanan.

Sebagai orang muda kesukaan Allah, Santa Maria Goretti berhasil menahan berbagai serangan terhadap kemurniannya dengan bantuan Rahmat Allah. Ia mengajarkan pada kita untuk taat pada perintahnya dan mengikuti apa yang sangat Allah kehendaki, yakni Mengampuni. Karena Mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita sesungguhnya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk membebaskan diri kita sendiri dari rasa benci, dendam, kemarahan dan kehancuran. Dan kemudian akan membawa kita kepada sukacita, kedamaian dan berkat yang berlimpah dari Allah Bapa. Kita diminta Tuhan Yesus sendiri untuk mengampuni 70 kali 7 kali (Matius 8:21-22), yang artinya tidak terhingga. Dengan Mengampuni kitapun akan diampuni.

Matius 6:14-15 berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Bayangkan jika Bapa di surga tidak mengampuni dosa kita, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat dan tetap tinggal dalam diri kita? Yesus mengajarkan kita untuk melihat dari cara pandang Allah melampaui ego dan kepentingan diri kita. Lukas 6:27-38 mengatakan: “Hendaklah kitapun bersikap murah hati, seperti Bapa kita di surga adalah murah hati.”

Tentang mengampuni saya punya pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya dan keluarga alami. Karena keegoisan dan ketidaksukaan beberapa orang, suami saya diturunkan dari jabatan dan adik-adik saya harus kehilangan pekerjaan. Sebagai bawahan atau pegawai biasa, tentu saja hal seperti ini wajar, kapan saja kedudukan ataupun jabatan bisa diambil dari kita. Tapi sebagai teman atau orang yang dipercaya hal ini sungguh menyakitkan, di saat mereka sebenarnya punya kesempatan untuk membantu, malah tidak perduli sama sekali dan lebih memilih untuk menyelamatkan diri dari pada harus berkorban dan kehilangan kesempatan mereka. Tapi saya dan keluarga lebih memilih untuk mengampuni serta melihat semua kesulitan ini sebagai proses untuk diangkat Tuhan lebih tinggi lagi, tentu saja tidak mudah tapi harus melalui berbagai drama dan air mata, hehehe…. Tapi kami berhasil melaluinya, tidak membenci dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

Biarlah DIA yang memutuskan apa yang terbaik buat kami dan mereka. Tuhan Yesus berkata, Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun mengasihi juga orang yang mengasihi mereka, (Lukas 6:32). Walaupun sulit, saya yakin kita semua mampu melakukannya. Butuh kemurnian dan keberanian seperti yang dimiliki oleh Santa Maria Goretti, seorang gadis kecil tapi memiliki hati yang sangat besar. Kata seorang teman, memelihara kemarahan, kebencian dan dendam sama seperti kita menerima menerima untuk minum racun yang diberikan oleh orang lain. Ketika kita menolak meminumnya, artinya kita terbebas dari semua itu. Karena pada dasarnya orang yang berbuat salah kepada kita sendiri sudah tersiksa dengan rasa bersalah dalam dirinya, biarlah dia menanggung semua itu sendiri tanpa kitapun harus terlibat di dalamnya.

Seperti Santa Maria Goretti, kitapun pasti tidak ingin kesucian dan kemurnian cinta pada Allah ternoda oleh karena tidak bisa mengampuni orang yang bersalah pada kita. “Kita harus menolak semua kompromi terhadap kejahatan,” pesan Santa Maria Goretti. sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria, trima kasih karena sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga menjadi berkat untuk sahabat semua… Shalom, Tuhan memberkati….

Minggu, 18 April 2021

Santo Luigi Orione (Kisah Hidup Para Kudus Allah Part - 18)

Shalom Sahabat Tuhan Yesus…

Kembali lagi dengan kisah para Santo dan Santa yang Jasadnya masih utuh sampai saat ini. Kali ini, saya akan bercerita tentang Santo Luigi Orione dari Italia.

Sebelumnya, saya sangat ingin tahu, apakah sahabat sudah menyempatkan melihat atau membaca blog saya tentang Para Kudus Allah yang lainnya? Saya sangat ingin tahu, apa saja yang sudah sahabat renungi tentang cara hidup dan ketaatan mereka? Apakah ada yang berpengaruh dalam cara hidup atau menambah iman sahabat?

Kalau belum, kita mungkin bisa memulainya lagi ya kan…? Lahir baru dengan mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan Yesus memang bukanlah hal yang mudah, butuh banyak perjuangan dan kesetiaan menanti ‘Waktu Tuhan’ menemukan kita…

Ayo tetap semangat….

Santo Luigi Orione

Luigi Giovanni Orione adalah seorang imam Italia yang terkenal sangat aktif melakukan kegiatan sosial di negaranya, ketika Italia menghadapi pergolakan sosial di akhir abad ke-19. Untuk tujuan mulia itu, Santo Luigi mendirikan sebuah lembaga keagamaan untuk para pria.

Luigi Giovanni Orione dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1872  dalam sebuah keluarga miskin di Pontecurone, Provinsi Alessandria, di wilayah Piedmont Italia.

Ia dibabtis sehari kemudian dengan nama seturut nama dua orang kudus yang menjadi sumber devosi keluarganya; yaitu Santo Luigi Gonzaga (Aloysius Gonzaga) dan Santo Giovanni Batista (Yohanes Pembabtis).

Ayahnya, Vittorio Orione,  adalah seorang tukang batu  yang pendiam dan ibunya bernama Carolina adalah seorang ibu rumah tangga yang saleh dan selalu menanamkan semangat hidup rohani dalam diri  Luigi kecil.

Di usia tiga belas tahun  Luigi  masuk Seminari Fransiskan di Voghera (Pavia), namun setahun kemudian ia dikeluarkan karena kesehatannya yang buruk.  Ia kemudian melanjutkan studinya di Oratorium Valdocco di Turin yang di kelola oleh para Salesian Don Bosco yang kala itu masih dipimpin oleh Santo Yohannes Bosco



Pribadi Luigi Orione yang pendiam dan saleh, mendapat perhatian khusus dari Don Bosco dan merupakan salah seorang murid favoritnya.  

Pada tahun 1888 Don Bosco wafat.  Luigi bersama para siswa Oratorium dan ribuan masyarakat Turin hadir pada misa penguburan Don Bosco.

Pada saat berlutut dan memberikan penghormatan terakhir didepan Jenazah Don Bosco, sebuah mujizat terjadi pada Luigi Orione.  Berbagai penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun seketika itu juga sembuh secara ajaib.

Setahun setelah mujizat itu terjadi, Luigi lulus dari Oratorium Don Bosco dan melanjutkan pendidikannya ke Seminari Tinggi Diosesan di Tortona.  



Frater Luigi kemudian terlibat dalam banyak kegiatan amal dan menjadi relawan dari Komunitas Sukarelawan
San Marziano dan komunitas Relawan Santo  Vincent de Paul.  Bersama dua komunitas relawan ini, Frater Luigi banyak berkarya menolong dan memperhatikan orang lain.

Pada tahun 1892, terinspirasi oleh Oratorium Salesian Don Bosco, dimana ia pernah bersekolah, Frater  Luigi  yang saat itu baru berusia 20 tahun membuka sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak orang miskin di Tortona.

Tahun berikutnya ia memulai sebuah sekolah asrama dengan biaya murah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Orang tua para siswa hanya menyumbang bahan makanan sebanyak yang mampu mereka berikan dan Frater Luigi bersama beberapa orang frater akan mengajar anak-anak di sekolah itu dengan sukarela.

Ditengah kesibukkannya membantu anak-anak dari keluarga miskin,  Frater Luigi ditahbiskan menjadi seorang imam praja pada tanggal 13 April 1895.



Melihat perkembangan yang cukup baik pada lembaga yang didirikan oleh pater Luigi, Uskup Tortona lalu memperbolehkan sejumlah frater untuk turut membantu karya pelayanan pater Luigi.  

Inilah awal berdirinya Konggregasi FDP (Figli della Divina Providenza / Sons of Divine Provvidence) yakni Konggregasi Karya Penyelenggaraan Ilahi.

Kongregasi diresmikan pada 21 Maret 1903 oleh Uskup Tortona Mgr. Igino Bandi dan berkembang pesat dari tahun ke tahun. Para imam Kongregasi ini berkarya untuk menghantar dan menyatukan semua orang, termasuk orang miskin, kepada Tuhan dan Gereja.

Pada tahun 1915 Luigi mendirikan klinik kesehatan murah di Turin dan Cottolengo untuk menolong orang-orang miskin. Para pasien yang datang akan digolongkan menurut jenis penyakitnya dan dirawat dengan penuh kekeluargaan.

Di tahun ini  juga Luigi mendirikan susteran Little Missionary Sisters of Charity atau Susteran Misionaris. Para biarawati ini  berkarya dalam bidang pendidikan kanak-kanak, panti asuhan, pastoral,  pendidikan untuk perempuan, pertolongan pada orang miskin dan sakit.  

Dengan demikian semakin banyak muda-mudi yang ingin bergabung mengikuti semangat  pater Luigi Orione.

Saat ini misi FDP telah menyebar ke seluruh dunia dan berkarya kurang lebih di 23 Negara di berbagai benua.

Pada musim dingin tahun 1940,  Don Luigi Orione menderita sakit jantung dan paru yang cukup parah. Ia lalu diminta pergi ke Sanremo untuk menjalani perawatan intensif. 

Pada malam keberangkatannya ke Sanremo,  Don Orione mengatakan kepada rekan-rekannya,  "Saya tidak ingin wafat di antara pohon-pohon palma”, katanya. “Saya ingin wafat diantara orang-orang miskin yang adalah Yesus".   

Empat hari kemudian, dengan dikelilingi oleh para imam FDP,  pater Luigi Orione menutup mata untuk selamanya.  Kata-kata terakhirnya adalah: 

"Yesus, Yesus! Yesus!  aku datang ..."

Pater Luigi Orione meninggal pada tanggal 12 Maret 1940 di Sanremo Italia karena sakit yang dideritanya.

Santo Luigi Orione Dibeatifikasi pada tanggal 26 Oktober 1980 oleh Paus Yohanes Paulus II dan Dikanonisasi oleh Paus yang sama pada tanggal 16 Mei 2004. 

Jasad utuh Santo Luigi Orione disemayamkan di Suaka Nostra Signora della Guardia, di Tortona , Italia.

Sekian kisah kita kali ini. Shalom…. Tuhan memberkati…




Senin, 15 Maret 2021

Santa Bernadette Soubirous (Part-17)

Santa Bernadette Soubirous

Shalom sahabat Tuhan Yesus… Kita telah sampai di bagian ke-17 kisah Para Santo dan Santa yang Jasadnya Masih Utuh sampai Saat ini. Ini adalah kisah kedua yang saya ceritakan tentang Orang Kudus yang mengalami Penampakan Bunda Allah, Ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kisah kita kali ini tentang :

Santa Bernadette Soubirous dari Lourdes

Santa Bernadette dilahirkan Pada tanggal 7 Januari 1844 di Lourdes, Hautes-Pyrénées, Perancis, dengan nama Marie Bernarde Soubirous. Ia terlahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Karena sejak kecil Bernarde memiliki perawakan yang mungil, ia dipanggil Bernadette yang artinya Bernarde kecil.

Ayahnya Francois Soubirous adalah seorang pengusaha penggilingan gandum yang bangkrut dan jatuh miskin, ibunya Louise Casterot adalah seorang tukang cuci.

Sejak bayi kesehatan Bernadette kurang baik. Ia menderita sakit kolera dan juga asma yang menyiksanya sepanjang hidupnya.  Bukannya mengeluh, tetapi Bernadette mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan, ia rajin berdoa Rosario dan memiliki prilaku yang luhur.

Bagi Bernadette, sakit juga bukan berarti bebas dari segala tugas dan kewajiban. Ia tetap harus membantu ibunya mengasuh kelima adiknya. Dan ketika Bernadette telah dianggap cukup umur, ia pun harus bekerja sebagai pembantu dan penggembala ternak.

Suatu hari, pada tanggal 11 Februari 1858, suatu peristiwa yang luar biasa terjadi. Ketika ia bersama seorang adik dan seorang temannya sedang mencari kayu bakar di padang, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya di sebuah gua yang disebut Massabielle (artinya Batu Besar), di tepi sungai Gave dekat kota Lourdes.

Bernadette tidak tahu siapa wanita cantik itu dan apa yang ia inginkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya sebanyak 18 kali. Pada tanggal 25 Maret 1858, pada penampakannya yang ke-16, Bunda Maria mengungkapkan siapa dirinya, "Akulah yang Dikandung Tanpa Dosa." ('Que Soy Era Immaculada Conceptiou' atau 'I Am The Immaculate Conception')

Dalam sebuah suratnya santa Bernadette menuliskan pengalamannya saat bunda maria menampakkan diri kepadanya : 

"Suatu hari saya dan dua gadis lain pergi ke pinggir sungai Gave. Tiba-tiba saya mendengar bunyi gemerisik. Saya mengarahkan pandangan ke arah padang yang terletak di sisi sungai, tetapi pepohonan di sana tampak tenang dan suara itu jelas bukan datang dari sana. 

Kemudian saya mendongak dan memandang ke arah gua di mana saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah dengan ikat pinggang berwarna terang. Di atas masing-masing kakinya ada bunga mawar berwarna kuning pucat, sama seperti warna biji-biji rosarionya.

Saya menggosok-gosok mata saya, kemudian saya tergerak untuk memasukkan tangan saya ke dalam lipatan baju saya di mana tersimpan rosario. Saya ingin membuat tanda salib, tetapi tidak bisa, tangan saya lemas dan jatuh kembali. Kemudian perempuan itu membuat tanda salib. Setelah usaha yang kedua saya berhasil membuat tanda salib meskipun tangan saya gemetar.

Kemudian saya mulai berdoa rosario sementara perempuan itu menggerakkan manik-manik di antara jari-jarinya tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. Setelah saya selesai mendaraskan Salam Maria, perempuan itu tiba-tiba menghilang.

Saya bertanya kepada kedua gadis yang lain apakah mereka melihat sesuatu, tetapi mereka mengatakan tidak. Tentu saja mereka ingin tahu apa yang telah terjadi. Saya katakan kepada mereka bahwa saya melihat seorang perempuan mengenakan gaun putih yang indah, namun saya tidak tahu siapa dia. 

Saya minta mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Mereka mengatakan saya bodoh karena memikirkan yang bukan-bukan. Saya katakan bahwa mereka salah, dan saya merasa terdorong untuk kembali lagi ke sana hari Minggu berikutnya.

Ketiga kalinya saya ke sana, perempuan itu berbicara kepada saya dan meminta saya untuk datang selama lima belas hari. Saya katakan saya bersedia datang. Kemudian perempuan itu meminta saya untuk menyampaikan kepada imam agar sebuah kapel dibangun di sana. Ia juga meminta saya minum dari sumber air. 

Saya pergi ke sungai Gave, satu-satunya sungai yang ada di sana. Tetapi perempuan itu menyadarkan saya bahwa bukan Gave yang ia maksudkan. Ia menunjuk ke sebuah aliran air kecil di dekat situ.

Ketika saya sampai di sana, saya hanya dapat menemukan beberapa tetes air dan banyak lumpur. Saya menadahkan tangan untuk mendapatkan lebih banyak air, tetapi tidak berhasil. Karenanya saya menggali tanah. Saya berhasil memperoleh beberapa tetes air, baru setelah usaha yang keempat saya mendapatkan cukup air untuk diminum. Kemudian perempuan itu menghilang dan pulanglah saya ke rumah.

Saya datang setiap hari selama lima belas hari, dan setiap kali, kecuali hari Senin dan Jum'at, perempuan itu menampakkan diri. Ia meminta saya mencari aliran sungai dan membersihkan diri di sana serta pergi kepada imam meminta agar sebuah kapel didirikan di sana. 

Saya juga harus berdoa, katanya, untuk pertobatan orang-orang berdosa. Berkali-kali saya bertanya kepadanya apa arti semua itu, tetapi perempuan itu hanya tersenyum. Akhirnya, dengan tangannya terentang dan matanya memandang ke langit, ia berkata bahwa dialah "Immaculate Conception" (Yang Dikandung Tanpa Dosa).

Selama lima belas hari itu, ia mengungkapkan tiga buah rahasia kepada saya, tetapi saya tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun juga, dan sejauh ini saya taat kepadanya."

Setelah peristiwa penampakan itu Bernadette semakin banyak menderita, baik karena kecurigaan orang-orang yang tidak mau percaya, oleh perhatian berlebihan dari mereka yang percaya serta ancaman dari penguasa setempat. Semuanya itu ditanggungnya dengan tabah dan sabar.

Pada usia 22 tahun, Bernadette menggabungkan diri dengan Suster-suster Karitas di Nevers, Perancis. Tiga belas tahun lamanya ia tinggal di biara dan sebagian besar dari waktu tersebut dihabiskannya di tempat tidur karena sakit yang dideritanya.

Bernadette seorang yang sangat rendah hati. Lebih dari apa pun, ia tidak ingin dipuji. Suatu ketika seorang suster bertanya kepadanya apakah ia merasa bangga karena dipilih oleh Bunda Maria. "Bagaimana mungkin," Bernadette cepat-cepat menjawab, "Bunda Maria memilih saya justru karena saya inilah yang paling hina." Suatu jawaban dari kerendahan hati yang paling dalam!

Bernadette wafat pada tanggal 16 April 1879 dalam usia 35 tahun karena penyakit tuberculosis. Pada tahun 1909, sehubungan dengan diajukannya permohonan beatifikasi, makam Bernadette kemudian digali dan jenazah diangkat dari dalam tanah. 

Uskup Gauthey dari Nevers, bersama dengan para wakil dan pejabat Gereja dan  semua yang hadir merasa takjub melihat jenazah Bernadette yang tampak persis sama seperti pada hari ia meninggal. Tubuhnya utuh sempurna, tak tercium bau busuk, pun tak didapati tanda-tanda kerusakan pada tubuh mungil yang terbaring dalam peti jenazah.

Pada tanggal 14 Juni 1925, Paus Pius XI memaklumkan Bernadette Soubirous sebagai `Beata', lalu pada tahun 1933 dikanonisasi  oleh Paus Pius XI. Pesta peringatannya dirayakan setiap tanggal 16 April dan tanggal 18 February di Perancis.

Jenazah Santa Bernadette yang sampai saat ini masih utuh tersebut kini disemayamkan di  The Marian shrine at Nevers (Bourgogne, France). Santa Bernadette Soubiros diangkat oleh Gereja Katolik menjadi Santa Pelindung Orang Sakit.

Saat ini Kapela yang dibangun atas permintaan Bunda Maria pada Santa Bernadette di Gua Massabielle, Lourdes, menjadi salah satu Tempat Ziarah terbesar di dunia. Setiap hari jutaan pengunjung dari seluruh dunia datang ke tempat itu dan diberitakan banyak terjadi mujizat disana.

Sahabat Tuhan Yesus, di Vlog sebelumnya saya telah bercerita tentang Santa Katharina Laboure yang didatangi Bunda Tuhan untuk menyampaikan tugas perutusannya dari Allah. Di Vlog ini, Santa Bernadette juga mengalami hal yang sama, bertemu Bunda Maria dan mendapatkan tugasnya.

Kedua Santa ini memiliki pribadi yang mirip, sama2 bersahaja dan sangat rendah hati, malah Santa Bernadette berkata bahwa Bunda Maria memilihnya karena ia adalah orang yang paling hina. Dalam ketenangan dan kesederhanaan, mereka menghidupi Firman Tuhan, bermatiraga dan tetap bersukacita dalam penderitaan. Kemudian dipercayakan Tuhan untuk melakukan Tugas Mulia.

Roma 5:3-5 Dan bukan itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekukan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Saya merasa, Allah Bapa kita tidak memandang siapapun kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Semua yang kita banggakan di dunia ini, status, pendidikan, jabatan, kekayaan, ketenaran, semua itu hanyalah untuk dunia, tidak ada artinya di hadapan Allah.

Sebaliknya, harusnya kita menjadikan hubungan kita yang akrab dan intim dengan Allah melalui Putera-Nya yakni Tuhan Yesus dan Bunda Maria sebagai kebanggaan dalam hidup kita. Jangan takut menanggung penderitaan sebesar apapun, jangan pernah merasa bahwa menjadi sederhana dan rendah hati adalah hal yang hina, tetaplah percaya dan milikilah iman yang teguh kepada Allah Bapa seperti yang dimiliki para Kudus Allah ini.

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus, Putera Allah yang tidak berdosa, bahkan pernah mengalami penderitaan serta penghinaan yang lebih berat dan kejam hanya demi cinta-Nya pada kita, yang tak akan mungkin mampu kita tanggung. 

Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. (Ibrani 12:6)

Sampai bertemu di Vlog yang berikutnya… Shalom, Tuhan Yesus memberkati…



jangan Lupa kunjungi Vlog saya di Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCDOdlk6kRi8eJtulUF_SKiQ

Kamis, 04 Februari 2021

SANTA KATARINA LABOURE (16)

 

Salve sahabat Tuhan Yesus dan Bunda Maria… 

Ini adalah kisah ke enam belas, dari para Kudus Allah atau Santo dan Santa Katolik yang saya kisahkan dalam Blog saya. Mereka adalah umat beriman Katolik yang sudah meninggal, diyakini telah masuk surga dan telah melalui proses Penyelidikan atau Kanonisasi oleh Vatikan untuk disebut sebagai umat pilihan Allah, Orang Kudus.

Dimana, para Kudus yang saya ceritakan ini adalah mereka yang setelah bertahun-tahun, bahkan ratusan tahun meninggal dunia, ketika proses Kanonisasi dan kubur mereka dibongkar, jasad para Kudus ini masih utuh, bahkan sampai dengan saat ini. 

Untuk dipahami, Jasad yang masih utuh disini maksudnya adalah, didapati tubuh fisiknya masih baik dan utuh. Karena sewajarnya orang yang telah meninggal bertahun-tahun lamanya, tubuh fisiknya akan hancur. 

Sesuai tradisi Katolik, awalnya setelah meninggal para Kudus ini dimakamkan sebagaimana biasanya. Ketika pembongkaran makam oleh para penyelidik dan jenasah didapati  masih utuh, inilah mujizat yang sudah selayaknya dinyatakan.

Sehingga mereka telah mendapatkan anugerah Allah, menjadi Orang Kudus pilihan-Nya, tubuh fisik mereka akan dirawat dengan proses yang lebih baik, kemudian dipindahkan ke peti kaca agar bisa menjadi bukti Kemuliaan Allah bagi umat beriman yang lain. 

Itulah kenapa, kebanyakan dari para Kudus Allah yang tubuh fisiknya masih utuh, disemayamkan di tempat yang bisa terlihat atau dijadikan tempat berziarah oleh umat beriman Katolik. 

Sebagai orang percaya, melalui ini, kita semakin diyakinkan akan kebesaran dan kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Bukan berarti tanpa semua itu kita menjadi tidak percaya, tapi biarlah itu menjadi cara Tuhan menyatakan kebesaran dan kemuliaan-Nya yang kekal. 

Dalam Mazmur 16:10 dikatakan : sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

Santa Katarina Laboure

Santa Katarina Laboure, dilahirkan dengan nama Zoe Laboure. Ia lahir di desa Fainles Mautiers, Prancis pada tanggal 2 Mei 1806. Zoe adalah anak dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Pierre Laboure, seorang petani yang sangat bersahaja dan saleh. Ibunya, Louise Madeleine Gontard, juga adalah seorang katolik yang sangat taat.

Louise Madeleine meninggal ketika Zoe masih berusia sembilan tahun. Dikisahkan setelah pemakaman ibunya, Zoe mengambil patung Santa Perawan Maria kemudian menciumnya dan berbisik; "Sekarang engkaulah ibuku."  

Sepeninggal sang ibu, Zoe bekerja sebagai pelayan dan tinggal dengan bibinya  di Saint-Rémy. Karena tertarik dengan kehidupan religius; Zoe kemudian memutuskan untuk  masuk biara Suster-suster “Puteri Kasih”  yang didirikan oleh Santo Vincentius de Paul

Setelah mengucapkan Kaul, Zoe diberi nama yang baru, yakni “Katarina”. Suster Katarina adalah seorang biarawati sederhana, saleh, rajin serta penuh pengabdian pada konggregasinya. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah belajar membaca dan menulis.

Beberapa hari setelah menjadi postulan di biara Rue de Bac, Paris, Bunda Maria menampakkan diri kepada Katarina.  Pada tengah malam tanggal 18/19 Juli 1830, suster Katarina terjaga dari tidurnya karena sebuah suara ajaib yang memanggil namanya, sebanyak tiga kali.  

Ia terbangun dan melihat di hadapannya, seorang anak kecil berusia kira-kira 4 atau 5 tahun. Anak kecil ini mengajaknya berjalan ke kapela biara.  


Anak kecil itu mengatakan bahwa Bunda Maria menunggunya di Kapela. Dengan ragu-ragu dan takut, Suster Katarina mengikutinya itu ke kapel. Seketika suster Katarina melihat bahwa semua pintu kapel terbuka dengan sendirinya, lilin-lilin dan lampu-lampu di dalam kapel itu menyala dengan ajaib tanpa ada yang menyalakannya.

Lalu anak kecil itu menunjuk Bunda Maria yang datang dan berlutut menyembah Sakramen Mahakudus. Suster Katarina segera mendekatinya dan meletakkan tangannya di atas pangkuan Bunda Maria. Lebih dari dua jam lamanya Bunda Maria berbicara dengan Katarina perihal tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Pada tanggal 27 November 1830, jam setengah enam malam, sekali lagi Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah gambar. Bunda Maria tampak sedang berdiri di atas bola bumi dengan berkas-berkas cahaya ajaib memancar dari tangannya.

Bola bumi itu dikelilingi sebuah tulisan yang berbunyi : "Oh Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu!". Gambar itu lalu membalik dan menampakkan huruf "M"; di atasnya terdapat sebuah hati dan salib yang saling berhubungan.


Terdengar suara Bunda Maria yang memintanya membuat sebuah medali, berbentuk bulat lonjong seperti yang tergambar dalam penampakan itu. Bunda Maria berjanji bahwa semua orang yang mengenakan medali ini pada akan memperoleh karunia khusus.

Katarina, meneruskan pesan tersebut kepada pimpinan biara. Lalu dibuatlah medali tersebut dan segera disebarluaskan kepada umat. Banyak permohonan yang terkabul karena medali tersebut, misalnya penyembuhan, pertobatan dan masih banyak lagi.

Penampakan itu terus berlanjut, sampai bulan September 1881. Dengan bimbingan Pastor Aladel, Bapa Pengakuannya, juga penyelidikan dari keuskupan tentang keabsahan penampakan itu, Uskup Agung de Quelen di Paris memberikan restu dan izin bagi pembuatan medali tersebut. Medali inilah yang sekarang disebut 'Medali Wasiat'. Kata 'wasiat' me


Katarina melanjutkan cara hidupnya dalam kesederhanaan dan kerendahan hati dengan melakukan tugasnya sebagai penjaga pintu dan tukang masak di biara Enghien-Reuilly. 

Rahasia penampakan Bunda Maria yang dialaminya, tidak diketahui oleh rekan-rekannya sebiara. Delapan bulan sebelum kematiannya, barulah ia menceritakan beberapa penampakan yang dialaminya kepada Suster Dufes, Superiornya.

Suster Katarina Laboure meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 1876 dalam usia 70 tahun. Pada tahun 1933 makamnya digali kembali untuk proses beatifikasi dan tubuhnya ditemukan tetap utuh.


Saat ini tubuh Santa Katarina yang masih utuh tersebut disemayamkan dalam sebuah peti mati kaca di samping altar Kapela Santa Maria dari Medali Ajaib, Paris;  tempat di mana Bunda Maria pernah menampakkan diri kepadanya.

Santa Katarina Laboure dibeatifikasi pada tanggal 28 Mei 1933 oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tanggal 27 Juli 1947. Pesta peringatannya dirayakan setiap tanggal 28 November.

Sahabat, Tuhan membutuhkan seorang yang saleh dan sederhana, untuk mengirimkan ibu-Nya datang berkunjung. Seringkali kita memikirkan hal yang rumit, padahal yang dibutuhkan Tuhan hanyalah kesalehan, ketaatan dan kesederhanaan.


Ketika saya memulai Vlog yang berkisah tentang para Kudus ini, yang saya rasakan hanyalah kekaguman. Kagum pada cara Tuhan menyatakan Kemuliaan dan Belas Kasihnya pada manusia, dan kagum pada kekuatan iman, harapan, cinta serta pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang pilihan-Nya.

Santo Silvan. Kita mulai dari Santo Silvan. Bersama saudara-saudara dan ibunya, Silvanus mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Sekalipun pilihan itu akhirnya harus mereka bayar dengan nyawa dan dengan cara yang keji. 

Santo Silvan dan 6 orang saudaranya, beserta ibu mereka, Santa Felisitas, dibunuh dengan bengis pada masa pemerintahan Kaisar Antonius Pius di Roma Italia. Silvanus kemudian diangkat oleh Gereja menjadi Santo Pelindung Para Pelayan dan Pembantu Rumah Tangga.

Santa Klara dari Asisi. Clara yang terpesona dengan kotbah Santo Fransiskus, merasa hatinya berkobar-kobar untuk memenuhi panggilan Tuhan, menjadi biarawati. Clara berhasrat hidup miskin dalam kerendahan hati demi Tuhan Yesus. 

Seorang putri bangsawan Asisi, yang hidup dalam kemewahan, meninggalkan kehidupan lamanya dan di kemudian hari menjadi pendiri Serikat Klaris dan Santa Pelindung bagi Para Penderita Penyakit Mata.

Santa Imelda Lambertini. Seorang gadis kecil putri tunggal keluarga bangsawan dari Bologna Italia berusia 9 tahun, yang penuh kerinduan pada Ekaristi Kudus. Santa yang murni dan lembut ini memperoleh karunia istimewah, ia menerima Komuni Kudus langsung dari Tuhan Yesus sendiri.

Santa Imelda kemudian diangkat oleh Gereja Katolik menjadi Santa Pelindung anak-anak calon Penerima Komuni Pertama.

Santa Rita de Cascia. Seorang ibu bersahaja, yang dengan kesabaran dan doa-doanya berhasil mempertobatkan suaminya, seorang mafia besar serta dua putranya, sebelum mereka meninggal. 

Di kemudian hari, Santa Rita menjadi pendamai bagi banyak konflik yang terjadi di wilayahnya. Ia memperoleh anugerah Stigmata pada keningnya. Dan menjadi Santa Pelindung Perkawinan dan Kasus yang Mustahil.

Santa Angela Merici. Seorang gadis bangsawan dari Descenzano Italia. Dalam usia yang masih sangat muda, Angela harus menanggung penderitaan kehilangan kakak dan kedua orangtuanya. Angela kemudian hidup dalam pengasuhan pamannya. 

Santa Angela beralih dari kehidupan yang mewah, dan hidup dalam kemiskinan dan ketaatan pada Tuhan. Ia mendirikan Serikat Santa Ursula dan hidup dalam pengabdian penuh pada konggregasinya sampai akhir hayat.

Santo Fransiskus Xaverius. Pemuda bangsawan cerdas dari Spanyol yang meninggalkan kesenangan hidupnya, ia menjadi Abdi Allah perintis Agama Salib di Asia. 

Santo Fransiskus disebut sebagai Santo Terbesar setelah Santo Paulus. Ia diangkat oleh gereja Katolik menjadi Santo Pelindung Karya Misi. Ia mempertobatkan dan mempermandikan banyak orang di berbagai benua termasuk Asia.

Santo Pius V. Seorang anak gembala miskin dari Bosko, Italia, yang kemudian menjadi Paus, Pemimpin Gereja Katolik Dunia. Kepercayaan dan cintanya yang sangat besar kepada Salib Suci Kristus dan Bunda Maria Ratu Rosario, membuatnya mampu melewati berbagai persoalan. 

Santo Pius V, terkenal dalam kisahnya yang mendukung armada perang Kristen memenangkan perang Leponto. Ia membuka banyak seminari, mendirikan yayasan dan rumah sakit, dan dengan wewenangnya sebagai seorang Paus, ia menggunakan dana kepausan untuk membantu orang miskin.

Santo Robertus Belarminus. lahir di Tuscany Italia, seorang penulis, pengkotbah dan pengajar yang sangat berbakat. Salah seorang figure dalam gereja Katolik yang cerdas dan sangat menonjol di masa pontifikat Sri Paus Klemens VIII.

Santo Vinsensius de Paul, anak petani miskin dari Prancis yang cerdas dan berambisi mengubah hidupnya, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan hidupnya dan menjadi Bapak bagi Orang Miskin.

Santo Karolus de Sezze, seorang bruder dari Italia penjaga pintu biara yang menjadi mistikus Fransiskan dan pembuat mujizat. Ia hidup dalam kerendahan hati  dan ketaatan penuh pada regula ordo Fransiskan.

Santa Veronika Yuliani, Mistikus Italia terbesar abad ke-18. Santa Veronika memiliki kerinduan besar untuk menderita bersama Tuhan Yesus agar bisa memperoleh penebusan bagi pertobatan orang-orang berdosa dan kemudian menerima karunia Stigmata dari Tuhan Yesus berupa tanda mahkota duri di kepala dan hatinya.

Santa Maria Goreti, seorang Martir Perawan dari Italia dan merupakan salah satu dari orang-orang Kudus termuda yang telah dikanonisasi. Santa Maria Goreti menjadi Santa Pelindung Kemurnian, Korban Perkosaan, anak-anak perempuan, Kaum Muda, Gadis Remaja, Kemiskinan dan Pengampunan.

Santa Yoakima Vedruna Vidal de Mas, seorang ibu 9 anak dari Spanyol yang kemudian mendirikan Ordo Suster-suster Cinta Kasih Karmel yang didedikasikan bagi pendidikan dan karya-karya amal.

Santo Petrus Yulianus Eymard, seorang anak dari keluarga miskin Prancis yang kemudian menjadi pendiri Konggerasi Sakramen Mahakudus dan Konggregasi Abdi Allah dari Sakramen Mahakudus karena kecintaan dan penghormatannya yang besar pada Sakramen Mahakudus.

Santo Yohanes Maria Vianney dari Perancis Selatan, seorang pribadi yang lamban dan lemah tapi pantang menyerah dan penuh ketulusan. Ia hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Santo Yohanes Maria Vianney adalah Pelindung Surgawi bagi Para Imam dan Pastor Paroki.

Santo Yohanes Bosco, seorang anak petani miskin Italia yang bersemangat membantu orang muda menjadi pribadi yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama. Ia menjadi Santo Pelindung Kaum Muda yang memiliki banyak pengikut dari orang muda, beberapa di antaranya sedang dalam proses dan sudah diakui oleh Gereja sebagai Orang Kudus.

Belajar dari cara hidup para Kudus ini sangat perlu kita lakukan untuk mengetahui lebih dalam keinginan Tuhan dalam hidup kita, dan tetap beriman bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan kita untuk sampai kepada Allah Bapa.

Sampai bertemu di kisah yang selanjutnya, Shalom.. Tuhan Yesus Memberkati…

Paus Yohanes Paulus II

Santo Paus Yohanes Paulus II Salve sahabat Kristus, kalau kita seusia, sahabat pasti mengenal dengan baik siapa Paus Yohanes Paulus II yang ...